Reproduksi Manusia (1/2)

| Indeks Bucaille | Indeks Artikel | Tentang Penulis

REPRODUKSI MANUSIA DALAM QUR-AN                        (1/2)
 
Adalah  tidak  mudah  untuk mendapatkan ide reproduksi dalam
Qur-an. Kesulitan pertama  adalah  ayat-ayat  yang  mengenai
soal  ini tersebar di seluruh Qur-an seperti yang kita lihat
dalam  soal-soal  lain.  Tetapi  soal  ini  tidak  merupakan
kesulitan  besar.  Yang dapat menyesatkan seorang penyelidik
adalah soal arti kata (vocabulary).
 
Pada  waktu  sekarang  terdapat  terjemahan-terjemahan   dan
tafsiran  tentang  beberapa ayat yang memberi gambaran salah
tentang wahyu Qur-an  mengenai  hal-hal  ilmiah.  Kebanyakan
terjemahan  Qur-an  menyebutkan  pembentukan  manusia  mulai
dengan   "segumpal   darah"   dan   adherence   (rangkaian).
Penjelasan  semacam  itu  sangat  tak  dapat  diterima  oleh
seorang spesialis. Manusia bukan begitu asal mulanya.  Dalam
ayat-ayat  yang  membicarakan  menetapnya telur dalam uterus
(rahim) wanita, kita akan  melihat  kesalahan  ahli-ahli  ke
Islaman yang tidak mengetahui soal-soal ilmiah.
 
Keadaan  semacam  tersebut  meyakinkan  kita akan pentingnya
perpaduan antara pengetahuan bahasa dan  pengetahuan  ilmiah
agar  dapat  mengerti  makna  ayat  Qur-an yang membicarakan
reproduksi.
 
Pertama Qur-an menandaskan transformasi terus  menerus  yang
dialami oleh embriyo dalam uterus (rahim) si ibu.
 
Surat 82 ayat 6 dan 7.
                                              [Tulisan Arab]
 
 
Artinya: "Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu
          (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha
          Pemurah, yang telah menciptakan kamu lalu
          menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan
          tubuh)mu seimbang.
 
Surat 71 ayat 1 14
                                              [Tulisan Arab]
 
 
Artinya: "Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?
          Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu
          dalam beberapa tingkatan kejadian."
 
Di samping pernyataan yang sangat umum, teks Qur-an  menarik
perhatian  kita  mengenai  soal-soal  teks  reproduksi, yang
dapat kita kelompokkan sebagai benkut:
 
    1) Pembuahan (fecondation) terjadi karena kadar
       yang sangat sedikit daripada cair.
    2) Watak dan zat cair yang membuahi.
    3) Menetapnya telor yang sudah dibuahi.
    4) Perkembangan embnyo.
 
1. PEMBUAHAN TERJADI KARENA KADAR
   YANG SANGAT SEDIKIT DARIPADA CAIR
 
Qur-an menyebutkan soal  ini  sebelas  kali  dengan  memakai
kata-kata yang kita dapatkan dalam surat 16 ayat 4.
 
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba
          ia menjadi pembantah yang nyata."
 
Kita harus menterjemahkan kata  bahasa  Arab  Nutfah  dengan
kata  "setetes  sperma,"  kecuali jika nanti ada kata bahasa
Prancis yang lebih cocok. Perlu diterangkan  bahwa  "Nutfah"
berasal  dan akar kata yang berarti: mengalir; kata tersebut
dipakai untuk menunjukkan air yang ingin tetap dalam  wadah,
sesudah  wadah  itu  dikosongkan.  Jadi kata itu menunjukkan
setetes kecil, dan  di  sini  berarti  setetes  air  sperma,
karena  dalam ayat lain diterangkan bahwa setetes itu adalah
setetes sperma.
 
Surat 75 ayat 37.
                                              [Tulisan Arab]
 
 
Artinya: "Bukankah ia dahulu sctetes mani yangditumpahkan?"
 
Kata bahasa Arab Maniy berarti Sperma.
 
Suatu ayat lain menunjukkan bahwa setetes air itu ditaruh di
tempat yang tetap (Qarar) yang berarti alat kelamin.
 
Surat 23 ayat 13.
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani
          (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)."
 
Perlu ditambahkan di sini bahwa kata sifat "makin" tak dapat
saya   terjemahkan  dalam  bahasa  Perancis.  Kata  tersebut
menunjukkan  tempat  yang  terhormat,  tinggi   dan   kokoh.
Bagaimanapun,  maksudnya  adalah  tempat membesarnya manusia
dalam organisme ibu. Tetapi yang lebih penting  ialah  bahwa
ide  tentang  setitik  cair yang diperlukan untuk pembuahan,
sesuai tepat dengan Sains yang kita ketahui sekarang.
 
2. WATAK ZAT CAIR YANG MEMBUAHI
 
Qur-an menyebutkan cair yang memungkinkan  pembuahan  dengan
sifat-sifat yang perlu kita selidiki.
 
a. Sperma, seperti yang baru saja kita
   terangkan (surat 75 ayat 37).
 
b. Cairan terpancar, (surat 86 ayat 6).
                                              [Tulisan Arab]
 
   Artinya: "Ia diciptakan dari air yang terpancar."
 
c. Cairan yang hina (surat 77 ayat 20).
                                              [Tulisan Arab]
 
 
   Artinya: "Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina."
 
   Sifat "hina" (mahin) dapat diartikan, bukannya sifatnya
   cairan itu sendiri, akan tetapi karena hubungannya dengan
   fakta bahwa cairan itu dikeluarkan dari tempat keluarnya air
   kencing dan memakai saluran yang dilewati air kencing.
 
d. Camparan atau dicampur (amsyaj).
 
   Surat 76 ayat 2:
                                              [Tulisan Arab]
 
 
   Artinya: "Sesunggahnya Kami telah menciptakan manusia
             dan setetes mani yang bercampur ..."
 
Banyak ahli tafsir seperti Hamidullah mengira bahwa campuran
itu  adalah  campuran  unsur  lelaki.  Begitu juga ahli-ahli
tafsir kuno  yang  tidak  memiliki  ide  sedikitpun  tentang
fisiologi   pembuahan,   khususnya  kondisi-kondisi  biologi
wanita-wanita. Mereka  itu  mengira  bahwa  kata  "campuran"
hanya menunjukkan bertemunya unsur lelaki dan wanita.
 
Tetapi  ahli  tafsir  modern  seperti penulis Muntakhab yang
diterbitkan oleh Majlis Tertinggi Soal-soal Islam  di  Cairo
mengoreksi  cara para ahli tafsir kuno dan menerangkan bahwa
setetes  sperma  mengandung  banyak  unsur-unsur.  Ahli-ahli
tafsir Muntakhab tidak memberikan perincian tetapi saya rasa
keterangannya sangat tepat.
 
Apakah unsur-unsur sperma yang  bermacam-macam  itu?  Cairan
sperma  dibikin  oleh pengeluaran-pengeluaran bermacam-macam
yang berasal dari kelenjar-kelenjar seperti berikut :
 
 a) Testicule, pengeluaran kelenjar kelamin lelaki yang
    mengandung spermatozoide yakni sel panjang yang berekor dan
    berenang dalam cairan serolite
    
 b) Kantong-kantong benih (vesicules seminates); organ ini
    merupakan tempat menyimpan spermatozoide, tempatnya dekat
    prostrate, organ ini juga mengeluarkan cairan tetapi cairan
    itu tidak membuahi.
    
 c) Prostrate, mengeluarkan cairan yang memberi sifat krem
    serta bau khusus kepada sperma.
    
 d) Kelenjar yang tertempel kepada jalan air kencing.
    Kelenjar Cooper atau Mery mengeluarkan cairan yang melekat,
    dan kelenjar Lettre mengeluarkan semacam lendir.
 
Itulah unsur-unsur campuran yang tersebut dalam Qur-an.
 
Tetapi  ada  lagi  suatu  hal  yang  penting.  Jika   Qur-an
berbicara tentang cairan yang membuahi dan yang terdiri dari
bermacam-macam unsur, ia  memberi  tahu  kepada  kita  bahwa
terjadinya   manusia   adalah   karena  sesuatu  yang  dapat
dikeluarkan dari cairan tersebut. Ini adalah arti  surat  32
ayat 8.
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati
          air yang hina (air mani)."
 
Kata bahasa Arab yang diterjemahkan  di  sini  sebagai  sari
(Quint  essence)  berarti  suatu bahan yang dikeluarkan atau
keluar dari bahan lain dan  merupakan  bagian  yang  terbaik
daripada  bahan  itu.  Bagaimanapun  cara menterjemahkannya,
maksudnya adalah satu bagian daripada suatu keseluruhan.
 
Yang   menyebabkan   pembuahan   telor   atau   memungkinkan
reproduksi  adalah sebuah sel panjang yang besarnya 1/10.000
(sepersepuluh ribu) milimeter. Satu daripada  beberapa  juta
sel yang dikeluarkan oleh manusia dalam keadaan normal dapat
masuk dalam telor wanita (ovule). Sejumlah yang sangat besar
tetap  dijalan dan tidak sampai ke trayek yang menuntun dari
kelamin wanita sampai ke telor  (ovule)  di  dalam  rendahan
rahim  (uterus  dan trompe). Dengan begitu maka hanya bagian
sangat kecil  daripada  cairan  yang  menunjukkan  aktivitas
sangat komplit.
 
Bagaimana  kita  tidak terpukau oleh persesuaian antara teks
Qur-an dengan pengetahuan ilmiah yang kita miliki sekarang.
 
                                            (bersambung 2/2)


BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern Dr. Maurice Bucaille   Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi Penerbit Bulan Bintang, 1979 Kramat Kwitang I/8 Jakarta

 

| Indeks Bucaille | Indeks Artikel | Tentang Penulis