Asal Manusia (3/5)

| Indeks Bucaille | Indeks Artikel | Tentang Penulis

** Tulisan Arab & terjemahan berlatar belakang warna putih,
ditambahkan dari Al-Quran Digital **  pakdenono

   Transformasi-Transformasi Manusia Sepanjang Berabad-Abad
------------------------------------------------------------
                                                       (3/5)
 
Bertentangan   dengan   di  atas,  komentar  yang  diberikan
terhadap beberapa ayat Al-Quran, yang  akan  saya  kutip  di
bawah   ini,   terutama   mengandung   pengertian-pengertian
material.  Kita  di  sini   berada   di   dalam   lingkungan
transformasi-transformasi   morfologis  tulen  yang  terjadi
dalam cara yang selaras dan  seimbang  berkat  adanya  suatu
organisasi  yang amat terencana, mengingat fenomena-fenomena
tersebut terjadi dalam tahap-tahap yang  berturutan.  Dengan
demikian,  kehendak  Tuhan yang terus-menerus memimpin nasib
masyarakat manusia, ditampakkan dalam  keseluruhan  kekuatan
dan keagungan-Nya melalui peristiwa-peristiwa ini.
 
Al-Quran,    pertama    kali,    berbicara   tentang   suatu
'penciptaan', tetapi ia meneruskan dengan menguraikan  suatu
tahap kedua, yang di dalamnya Tuhan memberikan bentuk kepada
manusia. Tak syak lagi, penciptaan dan organisasi morfologis
manusia dilihat sebagai peristiwa-peristiwa yang berturutan.
 
Tuhan berbicara kepada manusia (perujukan nomor 13):

"Sesungguhnya  Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami
memberimu  bentuk,  kemudian  Kami   katakan   kepada   para
Malaikat: 'Bersujudlah kamu kepada Adam'." (QS 7:11)


Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.
(QS 7:11)
 
 
Karenanya,  adalah  mungkin  untuk membedakan tiga peristiwa
berturutan yang dua di antaranya penting  bagi  studi  kita:
Tuhan  menciptakan  manusia  dan  kemudian  memberinya suatu
bentuk (Shawwara dalam bahasa Arab).
 
Di bagian-bagian lain dinyatakan bahwa bentuk  manusia  akan
bersifat selaras (perujukan nomor 14):

"Ketika  Tuhan  mereka  berfirman  kepada para malaikat: Aku
hendak membentuk seorang manusia dari lempung,  dari  lumpur
yang  diacu;  bila Aku telah membentuknya secara selaras dan
meniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka sujudlah kepadanya."  (QS
16 :28-29)



(yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); "Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatanpun." (Malaikat menjawab): "Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan." (QS 16 :28)
Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu.
(QS 16 :29)
Ungkapan  'membentuk dengan selaras' (sawwai) diulangi dalam
surah 38 ayat 72.
 
Ayat  lain  menguraikan  bagaimana  bentuk  selaras  manusia
didapat   melalui   adanya   keseimbangan  dan  kompleksitas
struktur. Kata  kerja  rakkaba  dalam  bahasa  Arab  berarti
'membuat  sesuatu  dari  komponen-komponen' (perujukan nomor
16):

"(Tuhanlah) yang telah  menciptakan  kamu  lalu  membentukmu
secara  selaras  dan dalam proporsi yang tepat, dalam bentuk
apa  saja   yang   Dia   kehendaki,   Dia   membuatmu   dari
komponen-komponen." (QS 82 :7-8)




 
Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang,  (QS 82 :7)
dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.
(QS 82 :8)

 
Manusia   diciptakan   dalam   bentuk  apa  pun  yang  Tuhan
kehendaki. Ini adalah suatu hal yang amat penting.
 
Tuhan berbicara kepada manusia (perujukan nomor 16):

"Sesungguhnya Kami telah membentuk manusia  menurut  rencana
organisasional yang sebaik-baiknya." (QS 95 :4)


 
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . (QS 95 :4)
 
Kata  bahasa  Arab taqwim berarti 'mengorganisasikan sesuatu
dengan cara terencana' yang, oleh karena itu, berarti  suatu
susunan  kemajuan  yang  telah  lebih  dahulu  didefinisikan
secara cermat.  Kebetulan  sekali  para  spesialis  evolusi,
ketika  menguraikan  transformasi-transformasi  yang terjadi
sepanjang waktu, menggunakan ungkapan itu pula:  perencanaan
organisasional   itu   sudah   benar-benar   terbukti   dari
studi-studi saintifik mengenai masalah ini.
 
Konteks surah 95, yang darinya ayat di atas diambil,  adalah
penciptaan   manusia   secara  umum  dengan  merujuk  kepada
kenyataan bahwa begitu  manusia  telah  diberi  bentuk  yang
sedemikian terorganisasikan oleh kehendak Tuhan, ia terbenam
ke dalam kondisi yang amat buruk (yang berarti  jompo  dalam
usia  tua). Surah tersebut sama sekali tidak menyebut-nyebut
perkembangan   embrionik   melainkan    hanya    menguraikan
penciptaan  makhluk  manusia  secara  umum.  Dalam  kerangka
struktur, perencanaan organisasional tersebut jelas  merujuk
kepada spesies manusia sebagai suatu keseluruhan.
 
Penafsiran   yang   telah   saya   berikan   atas  ayat  ini
mencerminkan  pentingnya  konteks   sebagai   sarana   untuk
menyampaikan  apa  yang  dirujuk  oleh  suatu  kata tertentu
(perujukan nomor 17):

"Dia  sesungguhnya  telah  membentukmu   dalam   tahap-tahap
(tingkat-tingkat)." (QS 71:14)


 
Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian (QS 71:14)
Kata   bahasa   Arab  yang  diterjemahkan  di  sini  sebagai
'tahap-tahap' atau 'tingkat-tingkat',  adalah  athwar  (kata
tunggalnya   thaur).   Inilah  satu-satunya  ayat  di  dalam
Al-Quran yang di dalamnya kata tersebut muncul dalam  bentuk
majemuknya.  Tidak  mungkinlah  untuk mencari-cari di tempat
lain  di  dalam  teks  tersebut  kepastian  mengenai  apakah
'tahap-tahap' atau 'tingkat-tingkat' itu -yang jelas merujuk
kepada manusia- berkenaan  dengan  perkembangan  manusia  di
dalam  rahim  (yakni, seperti yang diduga oleh para pengulas
terdahulu dan yang juga merupakan anggapan saya  sendiri  di
dalam  buku saya terdahulu), ataukah kesemuanya itu menunjuk
kepada transformasi-transformasi yang dialami  oleh  spesies
manusia  di  sepanjang  waktu.  Ini adalah satu masalah yang
patut direnungkan.
 
Untuk memperoleh jawabannya, sudah pasti pertama sekali kita
mesti  membahas tema tersebut sebagaimana diuraikan di dalam
Al-Quran. Demikianlah kita  melihat  bahwa  surah  7l,  yang
darinya ayat di atas kita ambil, terutama berhubungan dengan
tanda-tanda  ke-Mahakuasaan  dan  Kekuasaan  Tuhan   sebagai
Pencipta secara umum. Bagian di dalam Al-Quran yang mencakup
ayat 14 (satu bagian yang merujuk pada  khutbah  Nuh  kepada
kaumnya)  secara  esensial  tertanam  di dalam rahmat Tuhan,
kerahiman-Nya di dalam memberi  manusia  karunia-karunia-Nya
dan ke-Mahakuasaan-Nya di dalam menciptakan manusia, langit,
matahari,  bulan,  dan  bumi.   Berkenaan   dengan   masalah
penciptaan,  Al-Quran  menyebut  aspek  spiritual penciptaan
manusia dari tanah (perujukan nomor  1  di  dalam  ayat-ayat
yang dikutip di atas).
 
Sama  sekali  tak  ada penunjukan, di dalam surah 71, kepada
perkembangan bayi yang belum  lahir,  suatu  persoalan  yang
oleh para pengulas terdahulu diduga sebagai ditunjukkan oleh
kata    'tahap-tahap.'   Meskipun   kata   tersebut    tidak
dipergunakan  di  tempat  lain  dalam  teks  tersebut, namun
Al-Quran tak syak lagi menunjuk secara terinci  pada  banyak
surat   lain  berkenaan  dengan  'tahap-tahap'  perkembangan
embrionik ini (lihat bab  selanjutnya).  Meskipun  demikian,
tak  ada  perujukan  di  dalam surah ini. Meskipun demikian,
kita tidak bisa menyingkirkan kemungkinan bahwa bagian  dari
Al-Quran   yang   kita  perbincangkan  di  sini  boleh  jadi
benar-benar menambahkan perkembangan ber-'tahap'  embrio  di
dalam rahim kepada topik-topik lain yang disebutkan di atas:
tak ada satu isyarat pun yang menunjukkan bahwa hal tersebut
boleh diabaikan.
 
Kenyataannya, perkembangan individu dan spesies-spesies yang
memilikinya, berkesesuaian dengan faktor-faktor penentu  itu
juga   sepanjang  waktu;  faktor-faktor  tersebut  merupakan
gen-gen yang memainkan peran yang amat menentukan  di  dalam
pengelompokan   warisan   keayahan  atau  keibuan  di  dalam
tingkatan mula reproduksi. Apakah kita memilih menghubungkan
fase-fase    ini   dengan   perkembangan   individual   atau
spesies-spesies   itu,   konsep   yang   diungkapkan   tetap
sepenuhnya  selaras  dengan  data  saintifik modern mengenai
masalah ini.
 
Kemudian ayat-ayat yang mendahului perujukan nomor 17 secara
memadai   menyatakan   dengan  jelas  bahwa  bentuk  manusia
mengalami  transformasi-transformasi   sedemikian   sehingga
sekalipun  jika  kita menghilangkan perujukan nomor 17 makna
umumnya tidak akan terpengaruh.
 
Dua  ayat  berikut  ini  menunjuk  pada  penggantian   suatu
masyarakat   manusia   oleh   masyarakat   manusia   lainnya
(perujukan nomor 18)

"Kami telah menciptakan mereka dan  menguatkan  mereka,  dan
apabila   Kami   kehendaki,   maka   Kami  mengganti  mereka
sepenuhnya dengan orang-orang yang  serupa  dengan  mereka."
(QS 76:28)


Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. (QS 76:28)
 
Amatlah  mungkin  bahwa 'penguatan' yang disebutkan di dalam
ayat  di  atas  menunjuk  kepada  susunan   fisik   manusia.
(perujukan nomor 19):

"Jika  (Dia)  menghendaki,  niscaya  Dia  musnahkan kamu dan
menggantimu  dengan  yang   dikehendaki-Nya   setelah   kamu
(musnah),   sebagaimana   Dia  telah  menjadikan  kamu  dari
keturunan orang-orang lain." (QS 6:133)

Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain. (QS 6:133)
 
Kedua     ayat     di     atas     menekankan      kesirnaan
masyarakat-masyarakat  manusia  tertentu  dan penggantiannya
oleh masyarakat-masyarakat lainnya, sesuai  dengan  kehendak
Tuhan, sepanjang waktu tertentu.
 
Para pengulas terdahulu, terlebih-lebih, memandang ayat-ayat
ini  sebagai  hukuman  yang  ditimpakan  oleh   Tuhan   atas
masyarakat-masyarakat  yang  penuh  dosa. Secara umum, aspek
religiuslah yang terutama ditekankan. Meskipun demikian,  di
sana  pun  ada  fakta material dan hal ini jelas diungkapkan
dalam bentuk sirnanya berbagai  masyarakat  (yang  ukurannya
tidak  disebutkan) dan penggantian pada kurun waktu tertentu
dari    suatu    masyarakat-masyarakat     tertentu     oleh
keturunan-keturunan bangsa-bangsa launnya.
 
Oleh karena itu, kesimpulannya ialah bahwa kelompok-kelompok
manusia yang telah maujud sepanjang waktu kiranya  mempunyai
morfologi  yang  beragam,  tetapi  modifikasi-modifikasi ini
telah berlangsung sesuai dengan rencana organisasional  yang
ditetapkan oleh Tuhan; masyarakat musnah dan digantikan oleh
kelompok-kelompok  lainnya:  inilah  yang  dengan   berbagai
ungkapan harus disampaikan oleh Al-Quran kepada kita. Adalah
sia-sia  untuk  mencari  kesenjangan-kesenjangan  di  antara
Al-Quran  dan  data  palentologi  atau dengan informasi yang
memungkinkan kita untuk membayangkan  adanya  suatu  evolusi
kreatif, karena tidak ada hal demikian.
                                            (bersambung 4/5)


Asal Manusia Menurut Bibel, Al-Quran, Sains oleh Dr. Maurice Bucaille Penerbit Mizan, Cetakan VII, 1994

| Indeks Bucaille | Indeks Artikel | Tentang Penulis