Abul Ata Jalandhari

D.E.B.A.T  K.A.I.R.O
- I
SLAM VERSUS KRISTEN -
 

dabelyudabelyudabelyupakdenonodotkom

back

home next

 

MASALAH KETUHANAN ALMASIH
(TUKAR PIKIRAN KEDUA) (1/2)

 

Tukar pikiran ini berlangsung di tempat Dr. Philips, sebuah gedung yang luas American mission. Kami berbahas selama dua jam lebih. Sebelum saya menguraikan dalil-dalil yang saya kemukakan dalam perdebatan ini, ketika satu dalil pun tak dapat dibantah oleh Dr. Philips, baiklah lebih dulu akan saya utarakan ringkasan pembicaraan yang terjadi di antara kami.

Kristen: Almasih adalah Tuhan dan Anak Allah karena dia dilahirkan tanpa bapak.

Ahmadi: Hadhrat Adam dilahirkan tanpa ibu dan bapak. Apakah ini berarti dia lebih besar, baik dari Tuhan sendiri maupun anak-Nya? Begitu pula mengenai Melkisedek, raja Salem, kita baca dalam Bibel: “Ia tidak berbapak, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya” (Ibrani 7:3).

Kristen: Dalam Injil, tentang Yesus, banyak sekali disebutkan kata “Anak Tuhan” (Dr. Philips membacakan kutipan-kutipan mengenai ini).

Ahmadi: Ayat-ayat ini tidak dapat kita artikan secara harfiah, melainkan harus diartikan sebagai kata-kata kiasan. Ada dua alasan tentang ini:

  1. Yesus sendiri menafsirkan istilah “Anak Tuhan”. Dalam rangka tafsirnya ini tingkat kedudukannya tidak melebihi nabi-nabi lainnya, malahan tampak lebih rendah disbanding dengan beberapa nabi yang lain. Dikatakan: “Aku dan Bapa adalah satu.” Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapaku yang kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melemparkan Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah.” Kata Yesus kepada mereka: “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah Allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut Allah – sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan, masihkah kamu berkata kepada Dia yang telah dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutusNya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?” (Yohanes 10:30-36). Adalah jelas bahwa orang Yahudi memandang Yesus sebagai seorang manusia yang berbohong karena mengaku dirinya sebagai Tuhan. Sekiranya dia sebenarnya Tuhan, dia tentunya mengaku terus terang bahwa dia memang Tuhan. Namun, dia menjawab bahwa tentang para nabi-nabi dan orang-orang suci di masa lalu dikatakan: Kamu tuhan.” Karena itu apa salahnya kalau dia mengatakan dia “Anak Tuhan” dalam artian, sebagaimana halnya nabi-nabi masa lalu disebut Tuhan. Dalam artian seperti itulah Yesus juga disebut anak tuhan, secara kiasan, bukan harfiah, bukan dalam arti hakiki.

  2. Kata “Anak Tuhan” banyak sekali digunakan oleh Bibel untuk orang-orang lain. Kita cantumkan di sini:

  1. “Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anakku, anakKu yang sulung” (Keluaran 4:22).

  2. “Kamulah anak-anak TUHAN, Allahmu” (Ulangan 14:1).

  3. “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediamanNya yang kudus” (Mazmur 68:6).

  4. “Dialah yang akan mendirikan rumah bagi namaKu dan dialah yang akan menjadi anakKu dan Aku akan menjadi bapaNya; Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya atas Israel sampai selama-lamanya”. (II Samuel 7:13,14).

  5. “Aku telah memilih dia menjadi anakKu dan Aku akan menjadi bapanya” (I Tawarikh 28:6 dan 22:10).

  6. “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Matius 5:19).

  7. “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Matius 5:45).

  8. “Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapa, yaitu Dia yang di sorga.” (Matius 23:9).

  9. “Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari padaNya” (I Yohanes 5:1).

  10. “Anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah.” (Lukas 3:38).

  11. “Kita ini dari keturunan Allah juga” (Kisah Rasul-Rasul 17:28).

  12. “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah” (Roma 8:14).

  13. “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Roma 8:14)

  14. “Dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai berai” (Yohanes 11:52)

  15. “Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukannya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya ia, Anaknya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Roma 8:29)

  16. “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (I Korintus 3:16)

  17. “Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anakKu laki-laki dan anak-anakKu perempuan” (II Korintus 6:18)

  18. “Anak-anak Allah yang hidup” (Hosea 1:10)

  19. “Aku telah menjadi bapa Israel, Efrain adalah anak sulungKu” (Yeremia 31:9)

 

Dari kutipan di atas adalah jelas bagaikan terangnya siang bolong bahwa

Bibel menyebutkan kata “Anak” dalam artian kasih dan sayang semata. Dan tidak diragukan bahwa status Hadhrat Almasih atau Yesus adalah seorang nabi yang dikasihi Tuhan.

Kristen: Perjanjian Lama juga dengan jelas mengatakan, bahwa Almasih adalah Tuhan dan Rab (Lord).

Ahmadi: Ini tidak benar. Coba lihat tafsir Injil Matius yang diterbitkan oleh “The Nile Publishing House”, halaman 178, di sana ditulis: “LAM YULIN ‘AN NAFSIHI MAN HUWA WALAM TAKUN NUBUWAAT AL’AHDIL QADIMI MUWADDHIHAH LAHUTAHU JALIYAN.” Artinya: Tentang diri sendiri Almasih tidak mengemukakan siapa, begitu pula nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama tidak menunjukkan secara jelas tentang ketuhanannya…’

Kristen: Telah diutarakan oleh Yesaya: “sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu petanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik” (Yesaya 7:14, 15).

Ahmadi: Mari kita andaikan nubuatan ini cocok untuk Almasih. Meskipun demikian tidak membuktikan bahwa dia adalah Tuhan atau anak Tuhan. Tetapi, sebenarnya ialah, nubuatan ini tidak kena kepada Almasih. Sebabnya ialah:

  1. Ibundanya sendiri tak memberikan nama “Imanuel”, melainkan “Yasoo.” Kata ini secara maknawi tidak dapat diterapkan pada Almasih karena arti Imanuel ialah: “Tuhan bersama kita.” Yesus berkata: “Eloi, Eloi. Lama sabakhtani?” yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Markus 15:34). Jadi jelas, kata Imanuel, dalam kata maupun makna, tidak dapat dikenakan kepada Almasih. Ini hanya cocok untuk Nabi Muhammad s.a.w., secara maknawi kata ini tepat untuknya. Pada saat sangat gawat penuh bahaya, di saat orang gagah berani pun jantungya akan berdebar-debar, Nabi Muhammad s.a.w. menyatakan dengan penuh keberanian dan keyakinan kepada Abu Bakar Siddiq: “La Tahzan Innalaha Ma’ana (Artinya: jangan khawatir, Dia pasti bersama kita).

  2. Hal ini juga tidak dapat Anda buktikan bahwa Yesus Almasih telah makan dadih susu dan madu. Karena itu tidak layak Anda menyebut sesuatu yang tidak didukung oleh dalil yang kuat.

 

Kristen: Dalam ayat ini ada kata anak dara dan selain Maryam, bunda Almasih, tak ada anak dara yang melahirkan anak.

Ahmadi: Memang, kami juga beriktikad bahwa Almasih karena Qudrat Illahi yang tak mengenal batas itu dilahirkan tanpa perantaraan bapak. Tetapi, bagaimanapun dalam kitab Yesaya dikatakan, dalam bahasa Ibrani, kata itu tidak diuntukkan bagi anak dara (gadis) saja, melainkan digunakan juga untuk wanita-wanita muda yang bukan gadis lagi atau yang sudah bersuami.

Kristen: Saya mengetahui bahwa orang-orang Ahmadiyah dalam hal ini menggunakan dalil orang-orang Jerman atheis.

Ahmadi: Saya tidak tahu bahwa para ilmuwan dan peneliti Jerman sepaham dengan kami. Apa yang saya katakan ialah didukung oleh bahasa Ibrani. Silahkan periksa kamus Ibrani yang mendukung uraian saya. Selain itu kata tersebut juga terdapat dalam kitab Amsal 30:19, Bibel yang diterjemahkan oleh golongan Anda sendiri ke dalam bahasa Arab “Fataah” (wanita muda).

>>

 

back home next