Abul Ata Jalandhari

D.E.B.A.T  K.A.I.R.O
- I
SLAM VERSUS KRISTEN -
 

dabelyudabelyudabelyupakdenonodotkom

back

home next

 

MENELITI RIWAYAT INJIL TENTANG KISAH SALIB
(1/1)

Sekarang yang masih perlu saya kemukakan ialah hasil penelitian terhadap cerita-cerita Injil itu. Harus diingat bahwa tidak satupun di antara penulis-penulis keempat Injil itu yang menyaksikan sendiri apa yang terjadi pada peristiwa salib itu. Sebab, murid-murid Yesus dalam situasi yang gawat itu lari meninggalkan Yesus di tangan musuhnya (Matius 26:56). Bahkan sangat boleh jadi bahwa penulis-penulis Injil itu bukan murid-murid Yesus. Oleh karena itu keterangan-keterangan yang mereka berikan hanya semata-mata berdasarkan cerita-cerita yang mereka dengar dari orang lain. Kesaksian mereka didasarkan pada riwayat yang didengar dari orang-orang lain itu.

Selain itu dalam mengenai satu kejadian saja terdapat lebih dari dua puluh perbedaan yang cukup untuk tidak mempercayai cerita-cerita itu sendiri. Saya minta dengan hormat kepada sidang pembaca untuk menganggap dirinya sebagai hakim mengadili perkara pembunuhan salah seorang nabi besar. Perkara ini sangat penting karena apabila pembunuhan itu benar-benar terjadi sesuai dengan kepercayaan orang-orang Yahudi dan Kristen, maka nabi itu terkutuk. Umat Kristen yang mengaku Yesus telah dibunuh tidak punya saksi mata yang menyaksikan peristiwa itu. Mereka hanya percaya pada cerita-cerita keempat penulis Injil yang menulis berdasarkan cerita-cerita dan perkiraan-perkiraan semata dengan memberi kesaksian yang berbeda-beda pula. Saya ingin membuktikan bahwa cerita-cerita mereka itu bertentangan satu dengan yang lain. Menjadi undang-undang pengadilan-pengadilan di seluruh dunia, apabila berbagai kesaksian itu bertentangan satu dengan lainnya kesaksian itu dinyatakan gugur.

Sekarang saya kemukakan pertentangan-pertentangan itu sebagai berikut:

Pertama: Siapa yang memanggul salib ke Golgota, Yesuskah atau Simonkah? Markus menulis:

“Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus. Mereka membawa Yesus ke tempat yang bernama Golgota, yang berarti: Tempat Tengkorak” (Markus 15:21-22).

Lukas menulis:

“Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, lalu diletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus” (Lukas 23:26).

Matius menulis:

“Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukannya?” Namun mereka makin keras berteriak: “Ia harus disalibkan!” (Matius 27:23).

Yohanes memberikan keterangan yang berbeda sekali dengan ketiga keterangan di atas, dia menulis:

“Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan” (Yohanes 19:16).

Kedua: Apakah Yesus mengecap atau tidak anggur campur atau cuka sebelum digantung di kayu salib?

Matius menulis:

“Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat tengkorak. Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya” (Matius 27:33-34).

Markus menulis:

“Lalu mereka memberi anggur bercampur mur kepadaNya, tetapi Ia menolaknya.” (Markus 15:23).

Dalam keterangan Matius dikatakan bahwa Yesus telah “minum anggur bercampur empedu setelah dikecapnya, maka tiadalah Ia mau meminumnya. Sedangkan dalam keterangan kedua (Markus) dikatakan: “tidak menerimanya”. Akan tetapi dua saksi lainnya (Yohanes dan Lukas) tidak menyebutkan peristiwa itu sama sekali.

Ketiga: Cerita cuka di kayu salib.

Lukas tidak menyebut apa pun tentang peristiwa itu.

Yohanes mengatakan:

“Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia – supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci : “Aku haus!” Di situ ada suatu bekas penuh anggur masam. Maka mereka mencucurkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur masam, pada sebatang hisop lalu menunjukkan ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur masam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepadaNya dan menyerahkan nyawaNya” (Yohanes 19:28-30).

Markus mengatakan:

“Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi lama sabakhtani?” yang berarti: AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau tinggalkan Aku? Mendengar itu, beberapa orang berdiri di situ berkata: “Lihat, Ia memanggil Elia.” Maka datanglah seorang dengan bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam itu dan mencucurkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum serta berkata: “Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia” (Markus 15:34-36).

Matius mengatakan:

“Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: “Ia memanggil Elia.” Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucurkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum. Tetapi orang-orang lain berkata: “Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia” (Matius 27:47-49).

Ketiga kesaksian ini bertentangan. Yohanes mengatakan Yesus berkata: “Aku haus”, dia sendiri menyatakan keinginannya untuk minum. Tetapi dua saksi lagi mengatakan dia tidak minta air dan tidak pula mengatakan “Aku haus”. Lalu Yohanes mengatakan bahwa “mereka” mengenakan lumut pada mulut Yesus. Matius dan Markus mengubah kata “mereka” menjadi “seorang”. Antara Markus dan Matius juga terjadi beda pendapat. Markus mengatakan, seorang yang memberi lumut, dia mengatakan: “Janganlah, kita lihat: kalau-kalau Elias datang menyelamatkan Dia”. Matius tidak mengatakan seorang, melainkan “mereka yang lain” yang mengatakannya.

Keempat: Kapan Almasih dipantek di kayu salib?

Matius dan Lukas tidak menerangkan secara jelas tentang waktu dinaikkan di atas kayu salib. Tetapi Yahya (Yohanes) mengatakan:

“Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam enam. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: ‘Inilah rajamu!’ Maka berteriaklah mereka: ‘Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Saliblah Dia!’ Kata Pilatus kepada mereka: ‘Haruskah aku menyalibkan rajamu?’ Jawab imam-imam kepala: ‘Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!’ Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan” (Yohanes 19:14-16).

Riwayat-riwayat ini mengungkapkan bahwa Yesus disalibkan sesudah pukul enam, yaitu tengahari. Tetapi Markus menerangkan yang sebaliknya.

“Hari jam tiga ketika ia disalibkan” (Markus 15:25).

Dalam Injil bahasa Arab di sini kata-kata itu bunyinya adalah:

{Tulisan arab}

Artinya: “Waktu itu pukul tiga ketika Yesus disalibkan.” Jadi, seorang saksi mengatakan pukul enam dan seorang saksi yang lain mengatakan pukul tiga. Dapatkah kesaksian-kesaksian ini dipercayai?

Kelima: Apakah kedua-dua penyamun itu menyindir Yesus? Atau cuma satu?

Matius mengatakan:

“Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga” (Matius 24:44).

Markus mengatakan:

“Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga.” (Markus 15:32).

Saksi ketiga, Lukas membantah dua saksi itu, mengatakan:

“Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya: ‘Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah dirimu dan kami! Tetapi yang seorang menegur Dia, katanya: ‘Tidakkah Engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang Engkau menerima hukuman yang sama?” (Lukas 23:39-40).

Keterangan ketiga orang saksi ini bertentangan secara mencolok. Dua saksi pertama mengatakan, yang mencela Yesus adalah kedua orang yang digantung bersama dia. Saksi ketiga mengatakan, tidak, yang mencela Yesus cuma satu orang, yang satu lagi malah membelanya. Saksi keempat yaitu Yohanes, diam sama sekali.

Keenam: Di mana dan berapa wanita hadir pada peristiwa itu?

Yohanes mengatakan:

“Dan dekat salib Yesus berdiri ibuNya dan saudara ibuNya, Maria, isteri kepada Klopas dan Maria Magdalena” (Yohanes 19:25).

Lukas mengatakan:

“Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu” (Lukas 23;49).

Markus mengatakan:

“Ada juga beberapa perempuan yang melihat dari jauh, diantaranya Maria Magdalena, Maria Ibu Yakobus Muda dan Yoses, serta Salome” (Markus 15:40).

Matius mengatakan:

“Dan ada di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh, yaitu perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk melayani Dia. Di antara mereka terdapat Maria Magdalena, dan Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus” (Matius 27:55-56).

Dari keterangan Yohanes jelas bahwa wanita-wanita itu berada dekat “dekat kayu salib” sedangkan keterangan lainnya mengatakan, “berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya.” Anehnya Bunda Maria disebut hanya oleh Yohanes, lainnya semua tidak ada yang mengatakan apa-apa. Maria Magdalena menurut keterangan Yohanes, berada di dekat kayu salib. Menurut yang lain-lainnya, melihat dari jauh. Perbedaan keterangan-keterangan ini seperti perbedaan antara langit dan bumi.

Mengenai bilangan wanita yang berada di situ juga sangat berbeda: Apakah tiga atau empat, atau banyak?

Ketujuh: Apakah saat itu dunia seluruhnya diliputi kegelapan?

Matius menerangkan:

“Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga.” (Matius 27:45).

Kata Markus:

“Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga.” (Markus 15:33).

Lukas mengatakan:

“Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga” (Lukas 23:44).

Inilah kesaksian tiga saksi ini dan saksi keempat yaitu Yohanes tidak menyebutkan apapun tentang kejadian ini. Diamnya Yohanes sungguh mengherankan. Tidak masuk akal sama sekali bahwa Yohanes sebagai seorang yang suka melebih-lebihkan itu akan diam total, tidak bercerita tentang sesuatu mukjizat yang begitu besar. Hal ini juga menarik untuk direnungkan bahwa siapa dia yang menceritakan kepada ketiga-tiga saksi yang begitu polos itu bahwa dunia seluruhnya diliputi oleh suasana gelap. Keterangan mereka ini menunjukkan jelas-jelas bahwa orang-orang ini luar biasa polosnya dan sangat lugu, sampai-sampai mereka mengira bahwa desa mereka itulah “dunia seluruhnya”. Hal ini juga tidak dapat dipastikan bahwa Yerusalem waktu itu diliputi kegelapan. Namun sayang sekali sejarah tidak pernah menerangkan sesuatu yang membenarkan cerita itu.

Kedelapan: Hakikat seruan Yesus dan cariknya Bait Allah.

Matius mengatakan:

“Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: ‘Ia memanggil Elia.’ Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum. Tetapi orang-orang lain berkata: ‘Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia.’ Yesus berseru pula dengan dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawaNya. Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit” (Matius 27:46-52).

Matius mengatakan:

“Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eloi, Eloi, lama sabakhtani?’, yang berarti: Allahku, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: ‘Lihat, Ia memanggil Elia.’ Maka datanglah seorang dengan bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum serta berkata: ‘baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia.’ Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawaNya. Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah” (Markus 15:34-38).

Lukas mengatakan:

“Sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir bait suci terbelah dua. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: Ya Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaKu.’ Dan sesudah berkata demikianIah menyerahkan nyawaNya” (Lukas 23:45-46).

Tetapi Yohanes tidak menyebutkan apapun tentang hal-hal yang fantastis ini. Dengan tidak menceritakan apa-apa tentang peristiwa-peristiwa yang begitu penting saat terjadinya, tentu saja sikap ini menggugurkan kesaksian-kesaksian lainnya, selain cerita ketiga orang itu juga bertentangan. Markus hanya menceritakan berserunya Yesus dengan suara nyaring dan tentang cariknya tirai Bait Allah di tengah, bukan dari atas ke bawah. Matius bercerita tidak sampai di situ saja melainkan berkata bahwa bumi pun gempa dan batu-batu gunung terbelah-belah, kubur-kubur terbuka dan mayat-mayat yang sudah wafat telah bangkit dan pulang ke rumahnya. Saya tegaskan kalau apa yang diterangkan oleh Matius itu benar, maka saksi-saksi lainnya telah melakukan perbuatan benar-benar tercela karena mereka tidak menceritakan peristiwa bersejarah yang begitu penting. Akan tetapi, kalau keterangan-keterangan mereka itu benar, maka keterangan yang diberikan oleh Matius berarti satu cerita tidak lebih dari pada hikayat, cerita fantasi, dan khayalan semata lagi tidak pernah ada dalam kenyataan. Berdasarkan sejarah yang tersebut kebelakangan itulah yang benar. Dalam pada itu bertentangan antara satu dengan yang lain, disebabkan keterangan-keterangan yang salah, ketiga kesaksian adalah sia-sia.

 

back home next