Abul Ata Jalandhari

D.E.B.A.T  K.A.I.R.O
- I
SLAM VERSUS KRISTEN -
 

dabelyudabelyudabelyupakdenonodotkom

back

home next

 

MENELITI RIWAYAT INJIL TENTANG KISAH SALIB
(1/2)

Kesembilan: Mana yang lebih dahulu, seruan keras Yesus atau cariknya tirai?

Dari keterangan-keterangan yang tersebut di atas tampak bahwa Matius dan Markus menceritakan Yesus ketika di tiang salib berseru dua kali, tetapi Lukas mengatakan, hanya satu kali. Dua yang tersebut duluan mengatakan, Yesus mengatakan “Eloi, Eloi, lama sabakhtani” waktu di tiang salib. Lukas tidak menyebut apa-apa, sedang Yohanes meninggalkan seluruh cerita. Lalu para saksi ketiga-tiganya menceritakan Yesus berseru untuk kedua kalinya, sedang Lukas mengatakan bahwa Yesus mengatakan saat itu: “Ya Bapa, ke dalam tanganmu Kuserahkan nyawaKu,” namun yang lainnya, dua saksi, tidak menyebutkannya. Selain itu para perawi (penutur) itu berselisih pendapat, apakah seruan nyaring Yesus yang kedua kali penyerahan nyawanya itu terjadi lebih dahulu ataukah tercariknya tirai Bait Suci yang terjadi lebih dulu? Dari keterangan Lukas tampak jelas bahwa cariknya tirai bait Suci lebih dahulu, baru seruan nyraing Yesus terjadi. Matius dan Markus mengatakan bahwa tirai Bait Suci terjadi sesudah Yesus berseru, bahkan dia menyerahkan nyawanya sesudah terjadi.

Kesepuluh: Kisah kesaksian kepala pasukan.

Lukas, setelah menyebut cariknya tirai Bait Suci, mengatakan:

“Ketika kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat matiNya demikian, berkatalah ia: ‘Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Markus 15:39).

Matius mengatakan:

“Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang terjadi, lalu berkata: “Sungguh, Ia adalah Anak Allah.” (Matius 27:54).

Ini keterangan-keterangan ketiga orang saksi tentang kesaksian kepada pasukan. Kesaksian keempat yaitu Yohanes menanggap seluruh kesaksian ini tidak benar sehingga dia anggap sepi.

Pertama, sikap Yohanes yang tidak menyinggung sama sekali masalah ini sangat mengherankan.

Kedua, keterangan-keterangan tersebut mengandung pertentangan satu dengan yang lainnya. Markus mengatakan bahwa kepala pasukan memberikan keterangan itu ketika ia melihat Yesus telah menghembuskan napas yang penghabisan.

Lukas pertama-tama memuji Tuhan, kemudian baru memberikan keterangan. Matius menceritakan adanya orang-orang lain bersama kepala pasukan. Mereka melihat gempa yang sangat mengerikan dan kemudian berseru. Selain itu kesaksian-kesaksian mereka bertentangan satu sama lain. Matius mengatakan, kepala pasukan berkata: “Sungguh orang ini benar”. Markus mengatakan, kepala pasukan mengatakan: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah.” Menurut Matius kepada pasukan mengatakan: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Tuhan.” Markus menyebutkan bahwa kepala pasukan mengatakan, “Sungguh orang ini adalah Anak Tuhan.” Lukas mengatakan bahwa kepala pasukan berkata, “Sungguh orang ini adalah orang benar.” Ini semuanya merupakan perbedaan-perbedaan bertahap yang amat menarik.

Di sini muncul kesulitan di hadapah orang-orang Kristen. Kalau kesaksian satu saksi dikatakan tidak benar, maka kesaksian-kesaksian yang lainnya tentu tidak dapat dipercaya. Kalau semuanya dinyatakan benar, seperti yang dipercayai oleh orang-orang Kristen sekarang, maka harus diakui bahwa “Anak Tuhan” dan “Orang Benar” adalah kata sinonim, yaitu sama artinya. Para penulis Injil pun memakai kata “Anak Tuhan” dalam arti “Orang Benar” pula. Dengan demikian masalah “Anak Tuhan” (sonship) dengan mudah terpecahkan.

Kesebelas: Apakah ketika Yesus berseru keras, orang-orang Yahudi tahu Yesus telah wafat?

Dua saksi, Matius dan Markus, tidak memberikan keterangan apa-apa tentang masalah ini. Lukas dan Yohanes memberikan kesaksian seperti di bawah ini.

Lukas, setelah Yesus wafat dan setelah kesaksian yang diberikan kepada pasukan, menyatakan:

“Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri. Semua orang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu” (Lukas 23:48-49).

“Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib – sebab hari Sabat itu adalah hari yang besar – maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan” (Yohanes 19:31).

Dari keterangan Yohanes ini tampak jelas bahwa orang-orang Yahudi meminta supaya kaki-kaki dipatahkan, karena mereka mengerti bahwa sampai saat-saat akhir itu Yesus belum wafat. Kalau tidak, permintaan orang-orang Yahudi itu tak ada artinya. Permintaan orang Yahudi yang begitu biadab dan brutal pada saat-saat akhir meledaklah mitos (hikayat) gempa, cariknya Bait Suci, terbukanya kubur-kubur, dan hidupnya orang-orang yang sudah mati. Dalam suasana serupa itu tidak mungkin orang-orang Yahudi mengajukan permintaan tersebut, melainkan mereka yang beriman kepada Yesus. Atau paling tidak, Pilatus akan menyesali mereka: “Kendatipun kamu sudah menyaksikan mukjizat yang begitu dahsyat, kamu malah meminta supaya kaki Yesus dipatahkan.” Dia pun akan mengatakan kepada mereka: “Takutlah kamu kepada Tuhan.”

Singkatnya, keterangan Yohanes tentang permintaan orang Yahudi tersebut menunjukkan bahwa sampai saat-saat akhir Yesus tidak mati. Tapi Lukas mengatakan, semua orang setelah menyaksikan tragedi itu pulang sambil memukul-mukul dada mereka. Semua orang ini bersama-sama perempuan-perempuan berdiri jauh-jauh menyaksikan semua kejadian itu. Di sini kami ingin mengajukan satu pertanyaan penting, yaitu: Kalau ini benar bahwa “gelaplah seluruh tanah itu” dari pukul dua belas tengah hari hingga pukul tiga petang” “cahaya matahari pun hilanglah,” “gempa bumi” pun terjadi, batu terbelah, maka bagaimana pula orang-orang yang “berdiri dari jauh” itu dapat melihat kejadian tersebut? Ini berarti bahwa “mereka menyaksikan” itu cerita yang dibuat-buat atau “gelapnya seluruh tanah” itu cerita bohong. Apabila kita teliti secara seksama, kedua cerita ini salah. Bungkamnya Matius dan Markus tentang hal ini dan Yohanes tidak menyebut-nyebut tentang kegelapan yang meliputi negeri mendukung pandangan kami.

Keduabelas: Apakah kaki Yesus dipatahkan?

Tiga saksi yang pertama tidak menyebut apa-apa tentang perkara ini; semua diam. Hanya Yohanes, setelah menceritakan tuntutan orang-orang Yahudi, mengatakan:

“Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kakiNya” (Yohanes 19:32-33).

Berarti, karena orang-orang Yahudi harus mengadakan persiapan-persiapan hari Sabat, mereka tidak dapat menunggu lebih lama. Yesus saat itu belum wafat. Mereka, pada bagian akhir pada hari yang sama, meminta kepada Pilatus untuk mematahkan kaki Yesus dan Pilatus mengabulkan permintaan mereka. Lalu orang-orang Yahudi pulang. Sekarang perkara mematahkan kaki Yesus seluruhnya berada di tangan Pilatus. Seperti telah kami terangkan, Pilatus di dalam hatinya ingin menyelamatkan nyawa Yesus. Karena itu, adalah sangat mungkin ketika mengirimkan pasukannya dia memberitahukan kepada kepala pasukan tersebut akan maksudnya agar kaki Yesus jangan dipatahkan. Kaki kedua penyamun dipatahkan, sedangkan kaki Yesus tidak. Yohanes menggambarkan mengapa tidak dipatahkan kaki Yesus:

“Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya.” (Yohanes 19:32-33).

Interpretasi ini hanya oleh Yohanes dikemukakan. Dia sendiri tidak berada di tempat tersebut ketika peristiwa itu terjadi. Karena itu kesaksiannya hanya merupakan cerita burung, tak mengandung arti apa-apa. Apa lagi saksi lainnya tidak tahu menahu tentang hal tersebut. Taruhlah kata-kata itu diucapkan oleh beberapa prajurit, tidak jarang orang yang pingsan dikira mati. Ini kesalahannya sendiri. Yang sebenarnya adalah, kalau ada seorang telah mengatakan yang demikian, mungkin dia adalah kepada pasukan yang secara rahsia dibisiki oleh Pilatus untuk mengalihkan perhatian prajurit-prajurit. Hal demikian ialah supaya orang yang kurang mukhlis tidak jadi curiga lalu membuka rahasia. Bila kita merenungkan cerita-cerita Injil secara seksama akan tampak dengan jelas bahwa Pilatus membuat satu rencana yang matang untuk menyelamatkan Yesus. Pada kesempatan itu dia dengan anak buahnya terpaksa melakukan satu gerak tipu. Bagaimanapun, sesuai kesaksian Yohanes, kaki Yesus tidak dipatahkan. Tiga saksi lainnya tidak mengatakan apa-apa tentang kisah ini.

Ketiga belas: Masalah keluarnya darah dan air dari pinggang/lambung Yesus.

Tiga orang saksi tidakmengatakan apapun tentang kejadian ini. Tetapi Yohanes mengatakan:

“Tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambungnya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.” (Yohanes 19:34).

Dari perbuatan prajurit ini tampak jelas bahwa dia meragukan kematian Yesus dan dia, pada hakikatnya, tidak mengerti tentang tindakan kebijaksanaan dan taktik Pilatus. Oleh karena itu ketika dia menikam lambung Yesus maka keluarlah darah dan air. Adalah jelas keluarnya darah dan air dengan segera itu menunjukkan adanya tanda hidup dan kuatnya degupan jantung. Bagaimanapun, perbuatan prajurit itu menunjukkan bahwa Yesus sebenarnya dalam keadaan pingsan, bukan mati. Inilah yang sebenarnya.

Keempat belas: Siapa yang mengangkat tubuh Yesus dan siapa yang meletakkannya di dalam kubur?

1. Matius mengatakan:

“Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengafaninya dengan kain lenan yang putih bersih, lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia” (Matius 27:59-60).

2. Markus mengatakan:

“Sesudah didengarnya keterangan kepala pasukan, ia berkenan memberikan mayat itu kepada Yusuf. Yusuf pun membeli kain kafan, kemudian ia menurunkan mayat Yesus dari Salib dan mengafaninya dengan kain lenan itu. Lali ia membaringkan Dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu”. (Markus 15:45-46).
 

3. Lukas mengatakan:

“Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengafaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat” (Lukas 23:53).

4. Yohanes mengatakan:

“Yusuf dari Arimatea - ia murid tetapi sembunyi-sembunyi…lalu menurunkan mayat itu, juga Nikodemus datang ke situ, dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, lebih kurang lima puluh kati beratnya. Mereka mengambil mayat Yesus, mengafaninya dengan kain linen dan membubuhkannya dengan rempah-rempah…karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ” (Yohanes 19:38-42).

 

Tiga saksi pertama menyatakan, hanya Yusuf Arimatea seorang diri tampak mengangkat jenazahnya, mengafaninya, dan meletakkan ke dalam kubur. Saksi paling belakang, Yohanes mengatakan, Nikodemus juga ikut mengangkat jenazah, mengafani, dan meletakkannya dalam kubur.

Kelima belas: Siapakah Yusuf Arimatea itu?

1. Matius mengatakan tentang ini:
 

“Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga” (Matius 27:57).

 

2. Markus mengatakan:
 

“Karena itu Yusuf, orang Arimatea, seorang anggota Majelis Besar yang terkemuka, yang juga menanti-nantikan kerajaan Allah, memberanikan diri menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus” (Markus 15:43).

 

3. Lukas mengatakan:
 

“Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar. Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah” (Lukas 23:50-51).

 

4. Yohanes mengatakan:
 

“Sesudah itu Yusuf dari Arimatea ia murid Yesus tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi” (Yohanes 19:38).

 

Menurut Markus dan Lukas, Yusuf adalah anggota Majelis Musyarah (Sanhedrin Yahudi) yang baik lagi adil. Menurut Yohanes, Yusuf adalah murid Yesus juga, tetapi sembunyi-sembunyi, oleh sebab takutnya akan orang Yahudi. Matius mengatakan dia adalah murid Yesus juga dan terang-terangan. Bagaimanapun bentuknya, pertanyaan yang timbul ialah, Yusuf Arimatea, seorang yang karena takut dari orang-orang Yahudi tidak sanggup memperlihatkan imannya. Dalam saat-saat gawat seperti itu, ketika semua murid Yesus tidak mampu memperlihatkan kesetiaannya, bagaimana mungkin dia berani mendatangi Pilatus dan meminta kepadanya supaya menyerahkan mayat Yesus. Keterangan ini tampaknya tidak masuk akal. Cukup mengherankan bahwa Pilatus tidak bertanya, apa hubungannya dengan Yesus dan mengapa meminta mayatnya, malahan segera menyerahkan mayat kepadanya. Cukup dari satu kejadian ini saja orang-orang Kristen, kalau mau berpikir, akan mengetahui bahwa segalanya ini adalah hasil dan buah dari rencana matang dan rancangan rapi yang diciptakan oleh Pilatus. Adalah pilihan yang tepat menyerahkan jasad Yesus kepada seorang pengikut Yesus yang tak dikenal. Dengan dorongan dari Pilatus dia berani mengambil tindakan tepat dan cepat melaksanakan rencana itu.

 

back home next