V. KITAB SUCI
Kenapa kalian mengingkari

ayat-ayat Allah...?

 

KEBIASAAN MERUBAH
 

Dalam pembahasan agama-agama samawi maka keberadaan wahyu adalah mutlak. Nabi Musa yang ajarannya kemudian menjadi agama Yahudi juga mendapatkan wahyu dari Allah. Hanya saja umat Yahudi lebih mengunggulkan komentar atas wahyu-wahyu tersebut ketimbang wahyu itu sendiri. Maka tidak heran jika umat Yahudi sekarang lebih menyukai Talmud dengan meninggalkan Taurat. Sedangkan Talmud tersusun berdasarkan dua komentar atas Taurat yang terkenal yaitu Mishnah dan Gemara.1 Taurat sendiri yang kini dipegang umat Kristen banyak berisikan hal-hal yang sangat mustahil jika dikatakan sebagai ayat-ayat Allah. Sebagai contoh dalam Yehezkie123 :1-21, berisi ayat-ayat jorok tentang seksual. Diceritakan di dalamnya penyimpangan seksual yang sangat berbahaya bagi perkembangan psikologis bila dibaca oleh anak-anak di bawah umur. Ada kalimat-kalimat yang sangat cabul dengan menyebut (maaf) buah dada, buah zakar, menjamah-jamah, birahi, dan lain-lain, contohnya :
 

(ayat.3) "Mereka bersundal pada masa mudanya; di sana susunya dijamah jamah dan dada keperawanannya dipegang -pegang".
 

Ayat yang selanjutnya 5, 8, 11, 18, 20, 21 dalam kitab yang sama lebih jorok lagi yang tidak sepantasnya ditulis bahkan di dalam buku ini. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan adanya perubahan atas ayat-ayat yang diturunkan pertama kali. Kembali pada Taurat, setelah kepunahannya, kitab ini pertama kali ditulis antara tahun 536-456 SM. oleh pendeta Ezra yang masuk dalam Perjanjian Lama sebagai "The book of Ezra".2 Kitab Perjanjian Lama tertulis dalam bahasa Ibrani, walaupun ada beberapa yang tertulis dalam bahasa Aramaik seperti pada Jeremiah 10:2, Daniel 2:4-7:28, Ezra 4:8-6:16 dan 7:12-26. Penyalinan ke dalam bahasa Yunani (Aleksandria) dilakukan sejak abad III SM. namun pengerjaannya secara lengkap baru selesai sekitar abad I M. inilah yang dikenal sebagai "Septuagint" yaitu kitab Perjanjian Lama tertua dan paling umum. Selain ini ada penyalinan lain seperti versi Siriak yang dikerjakan dari abad II SM hingga abad II M. juga versi Coptik dan Ghotik yang bersumber dari Septuagint. Baru pada tahun 382-405 M, St. Jerome menyalin ke dalam bahasa Latin yang bersumber dari versi Ibrani dan Yunani yang kemudian dikenal sebagai "Vulgate”.3  Kini naskah tertua kitab Taurat (Perjanjian lama) yang dimiliki oleh Gereja adalah yang tertulis sekitar tahun 1005. maka Kitab Perjanjian Lama yang paling modern berdasarkan salinan yang dikeijakan oleh para Masoret (yaitu kelompok penulis kitab suci Yahudi) ini.4 Penyalinan dari satu bahasa Re bahasa lain tidak menutup kemungkinan adanya perubahan. Hal ini semakin jelas dengan ditemukannya gulungan naskah kitab suci di Gua Qumran del:at.laut mati (The Dead Sea Scrolls). Jeffery L. Sheller & Joannie M. Schorf dalam komentarnya tentang The Dead Sea Scrolls menyatakan:

 

"Satu gulungan secara dramatis menunjukkan minimal satu kitab Perjanjian Lama telah berrrbah melalui abad-abad penyalinan Naskah gulungan kitab Yesaya pasal 66 - diantaranya tersimpan lerrgkap di perpustakaart Qumran-ditemukan 13 perbedaan minor dari teks modern". 5

 

Injil yang masuk dalam kitab Perjanjian Baru, tidaklah mengalami nasib yang lebih baik. Akibat pemaksaan doktrin trinitas pemakaian kosa kata dalam injil berubah, berikut ayat-ayat sisipan yang dapat merancukan paham monoteisme sebagai ajaran asli Yesus. Menurut Theodore Zahn, sebagaimana dikutip oleh E.J. Goodspeed di dalam The Apostolic Fathers, menjelaskan bahwa sampai sekitar tahun 250 M Kalimat keimanan itu masih berbunyi: “Saya percaya kepada Allah yang Maha Kuasa”. Antara tahun tahun 180 M sampai dengan tahun 210 M ada yang menambah kata "Bapa" di depan kata "Yang Maha Kuasa": Tindakan ini dikecam keras oleh beberapa tokoh-tokoh gereja. Uskup Victor dan Zephysius mengutuk penambahan yang mencemari kemurnian kitab suci dan menentang pendapat yang mengatakan bahwa Yesus itu adalah oknum Tuhan.6 Penambahan tersebut adalah konsekwensi dari penerapan pendapat bahwa Yesus adalah ‘anak tuhan'.

Seperti pendahulunya, kitab Perjanjian Lama yang diguncang badai penemuan arkeologi berupa gulungan kitab ­kitab suci di Gua Qumran (1947), akhir-akhir ini kitab Perjanjian Baru juga mengalami nasib yang sama, para sarjana Bibel yang terdidik di universitas terbaik di Amerika dan Eropa berkumpul bersama dalam sebuah kajian panjang selama 6 tahun untuk menjawab pertanyaan bersama ‘Apa sebenarnya yang dikatakan oleh Yesus?".7 Pertanyaan ini akhirnya terjawab dengan suatu hasil penelitian yang menggemparkan dunia Kristen bahwa perkataan yang diperkirakan asli dari Yesus hanya 18 %, dan sisanya?.8 Suatu hasil kajian panjang dari para sarjana Bible terkemuka yang tidak bisa begitu saja terabaikan. Namun demikian apa tanggapan mereka-mereka yang sudah mengeras hatinya? Beberapa tokoh Kristen Indonesia menyatakan bahwa kajian tersebut tidak valid karena menggunakan metodologi skeptisme?.

 

Pada awal buku ini kami pernah menyinggung tentang janji Allah dalam al-Qur'an:

 

"...Perhatikan bagaimana Kami Menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu) (Al-Maidah 75).

 

Tanda-tanda kebesaran Allah telah dipertontonkan dengan penemuan arkeologi di Qumran dan seminar 6 tahun para pakar Alkitab. Satu bukti yang tidak bisa begitu saja dianggap remeh. Dan seperti yang diperingatkan Allah kita dapat menyaksikan bagaiamana mereka berpaling. Maha benar Allah dengan segala firmannya.
 

Kebiasaan yang mendarah daging

 

Penetapan pendapat bahwa seorang manusia menjadi ‘anak tuhan'  yang kemudian mewujudkan doktrin Trinitas mengharuskan adanya sekian banyak kebohongan yang terus­menerus berjalan berabad-abad. Hal ini telah menjadikan hat para pelakunya semakin mengeras. Peringatan Allah melalui para Nazaren (bahasa al-Qur'an Nashoro) mereka tanggapi dengan amat kejam, banyak dari mereka yang terbunuh.

Kekerasan hati itu menyebabkan mereka berbuat apa saja termasuk mengganti ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada nabi Musa As. kemudian nabi Isa As. Tidak puas dengan merubah ayat-ayat yang diturunkan kepada kedua nabi tersebut mereka berusaha merubah ayat-ayat yang diturunkan kepada nabi terakhir Muhammad Saw. Upaya pengaburan Al-Qur'an mereka lakukan sejak dulu dengan mengeluarkan hadits-hadits Israiliyat, juga upaya merubah ayat-ayat Al-Qur'an. Di Indonesia sendiri umat Kristen baru-baru ini dengan sangat berani memunculkan sebuah buku dengan judul "Al-Haqiqah al-Makhfiah daakhil al-Quran al-Karim" yang mereka samarkan sebagai hasil terbitan pemerintah Saudi Arabia dan diterjemahkan menjadi "Kebenaran tersembunyi dalam al-Qur'an". Di dalamnya termuat ayat-ayat yang dipotong-potong serta penerjemahan yang dimanipulasl dengan mencatut nama para penerjemah yang dikenal di Barat yaitu Yusuf Ali dan Pickthal untuk tujuan tertentu. Sebagai contoh, mereka memotong-motong satu ayat dalam surat Yunus: 94, sebagai berikut :
 

 
Diartikan :
 

Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang mernbaca kitab sebelum kamu, Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadarrtu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.

 

Padahal ayat yang sebenarnya adalah :

 


 

 

Maka jika kamu (Muhammad) dalam keragu-raguan tentang apa yang kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang yang membaca kitab sebelum karnu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS.Yunus: 94).
 

Ayat di atas dipakai alasan Dr. Robert Morey untuk menyatakan bahwa ajaran al-Qur'an berasal dari injil apokrit (terlarang/bid'ah). Menurut Ibnu Katsir ayat tersebut adalah merupakan sugesti bagi umat, bahwa sifat nabi mereka tercantum dalam kitab-kitab terdahulu. Seperti yang diriwayatkan oleh Qotadah, Ibnu 'Abbas, Sa'id bin Jubair, serta Hasan al-Bashri bahwa Rasulullah mengomentari perihal ayat tersebut dengan mengatakan: "Aku tidak ragu dan tidak bertanya".9

Upaya-upaya lain amatlah banyak termasuk apa yang ditulis oleh Dr. Robert Morey yang sedang kita bahas dalam buku ini.

 

Poin hujatan atas Al-Qur'an

 

Poin-poin hujatan Dr. Robert Morey terhadap al-Qur'an meliputi masalah:

  1. Masalah proses pewahyuan dan mujizat

  2. Sejarah penulisan al-Qur'an

  3. Redaksi dan bahasa al-Qur'an

  4. Beberapa kandungan al-Qur'an.

Hanya saja cara menghujatnya sangat tidak menunjukkan citra seorang akademis. Secara umum cara yang dilakukan sangat memalukan diantaranya:

  1. Memanipulasi riwayat hadits tentang sejarah penulisan al-Qur'an.

  2. Memanipulasi penerjemahan ayat-ayat Qur'an.

  3. Menggunakan logika "Yang lama mencocokkan yang baru" sebagai dasar untuk menilai keabsahan kandungan al-Qur'an (sudah kita bahas pada awal buku ini).

  4. Serta ungkapan-ungkapan kebencian yang tidak berdasar sama sekali.

Oleh sebab itu dalam menjawabnya kami tidak mengikuti alur penulisan Dr. Robert Morey yang acak-acakan. Kaml membuat alur penulisan sendiri sedang pokok-pokok hujatan kami masukkan dalam alur bahasan yang sesuai.

 

NOTES
 

1. Dr. Fuad Muhammad Shibel, Masalah Jahudi Internasional (terjemah dari judul asli `Al-Musykilah al Yahudiyah Al-Alamiyah", oleh Prof. H. Bustami A. Gani dan Drs. Chatibul Umam), Bulan Bintang, Jakarta, Cetakan pertama 1970, Hal. 16.

2. The World University Encyclopedia, Publishers Company Ync., Washington D.C., Th. 1963, Vol. 4, hal. 1824.

3. Ibid, Vol. 2, hal. 663-665.

4. Jeffery L. Sheller&Joannie M. Schorf, Rahasia Bibel yang terakhir, dalam "Misteri Yesus dalam sejarah" (Dr. Muhammad Ataur Rahim), Pustaka Dai, 1994, hal XIII.

5. Ibid, hal XII.

6. Ibid, ha136.

7. THE FIVE GOSPELS The search for the Authentic Words of Jescrs, Harper San Francisco, hal. IX.

8. THE FIVE GOSPELS The search for the Authentic Words of Jesus, Harper San Francisco, hal. 5.

9. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-Adzim, Daar al-Kutub al-`Ilmiyah, Beirut, Cet. III, th. 2003, jilid II, hal. 445.


 

BACK

UP

NEXT

.