V. KITAB SUCI
Kenapa kalian mengingkari

ayat-ayat Allah...?
 

BAHASA AL -QUR'AN

 

Nasakh Dalam al-Qur'an

 

Kata nasakh memiliki makna : penghapusan, penggantian, pengalihan, atau penyalinan. dalam pengertian agama: “penghapusan hukum syar'i dengan dalil-dalil syar'i", (syar'i yang dimaksud adalah yang bersumber dari Qur'an dan hadits sebagian membolehkan dari Qiyas dan Ijma'), devinisi yang banyak dipakai oleh ulama. 57

Nasakh dalam al-Qur'an berarti : Penghapusan ayat baik tulisan maupun hukumnya, atau hukumnya saja; karena datangnya ayat yang kemudian. Kenyataan ini ditegaskan oleh al-Qur'an sendiri juga hadits Rasulullah.

 

Dan apabila kami letakkan suatu ayat di tempat ayat lain sebagai penggantinya, padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mengada-ada saja". Bahkan, kebanyakan mereka itu tidak mengetahui  (QS. An-Nahl 101).

 

..berkata Abu al-'ala' bin asy-Syikhkhir: "Hadits Rasuslullah me-nasakh sebagian atas sebagian yang lain, sebagaimana ayat Qur'an yang me-nasakh sebagian atas sebagian lainnya " (HR. Muslim).

 

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, bahwa al-Qur'an diturunkan ayat per-ayat, surat per-surat hingga akhir masa kenabian. Ini berarti masing-masing ayat atau surat yang diturunkan memiliki perannya sendiri dalam perjalanan dakwah Rasulullah, baik dalam dakwah utamanya mengajak kepada Tauhid maupun dalam usaha pembenahan kehidupan sosial masyarakatnya. Mengubah suatu tatanan masyarakat tentulah tidak mudah. Itulah sebabnya maka adanya nasakh memberi hikmah yang sangat sesuai dengan metode pentahapan yang dilakukanan oleh Rasulullah dalam dakwahnya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Qur'an -yang artinya-:

 

Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan, atau Kami jadikan manusia lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik dari padanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 106).

 

Ketika suatu tahapan sudah terlampaui maka diturunkan ayat lain untuk masuk dalam tahapan berikutnya. Dan terbukti Rasulullah Saw telah berhasil melakukan suatu perubahan yang sangat mendasar dalam kehidupan umatnya, dalam waktu 23 tahun. Sebagai contoh -dalam penanganan penyakit sosial berupa perzinaan- dalam surat an-Nisa' ayat 15 yang menjelaskan tentang hukuman kurungan kepada istri-istri yang selingkuh. Ketetapan ini kemudian dinasakh dengan ketentuan hukuman yang lebih berat, yakni hukuman cambuk 100 kali (QS. Al-Nur:2). Setidaknya ini adalah salah satu hikmah dari adanya nasakh. Dengan tetap ditulisnya kedua ayat -dalam contoh di atas- di dalam Qur'an setidaknya membuktikan kejujuran Rasulullah clan para sahabatnya untuk tetap menyajikan apa adanya dari semua wahyu yang diturunkan. Jika benar tuduhan Robert Morey bahwa sahabat Utsman menghilangkan 127 ayat demi alasan politik48, mengapa tidak dihilangkan salah satu dari kedua ayat di atas, dengan mengambil ketetapan hukuman yang ringan atau yang berat sesuai kondisi sosial politik masa itu. Toh ternyata hal itu tidak dilakukan oleh mereka.

Nasakh yang ada dalam tradisi Islam khususnya dalam penyikapan terhadap al-Qur'an sangat berbeda dengan tradisi Kristen dalam menyikapi Injil. Nasakh yang ada dalam al-Qur'an tidak sampai ditambahi atau dikurangi oleh para pengikutnya seperti yang dilakukan oleh umat kristen. Lihat contoh dalam bahasan masalah variasi bacaan di atas, pihak Gereja terpaksa menambah kata dalam suatu ayat demi memaksakan suatu doktrin yang tidak masuk akal, atau untuk menghalalkan sesuatu yang disukai oleh umatnya untuk mempertahankan jumlah jema'at.

 

Terjemah al-Qur'an.

 

Menerjemahkan al-Qur'an atau teks apapun kedalam bahasa lain tanpa mengurangi makna yang terkandung di dalamnya adalah mustahil, belum lagi masalah estetikanya. Karena setiap bahasa memiliki ciri khas pengungkapan tersendiri. Sebagai contoh masyarakat Arab memiliki sekian banyak perbendaharaan kata dalam masalah unta karena memang tempatnya. Bahasa Indonesia kaya dengan kosa kata untuk menunjukkan makna padi karena memang berbudaya agraris. Bahasa Arab tidak memiliki satu persatu padan kata untuk kata : gabah, padi, beras, nasi; yang ada hanya ar-ruzuntuk keempat kata dalam bahasa Indonesia di atas. Begitu juga sebaliknya.

Sebagian ulama menempatkan terjemah al-Qur'an sebagai tafsir (interpretasi). Tapi mayoritas sepakat bahwa otoritas tetap Pada teks dengan bahasa aslinya. Sebab ketika seorang penerjemah mengartikan suatu kalimat, secara tidak langsung dia telah menetapkan bahwa itu adalah makna dari kalimat dalam teks aslinya. Sedang penerjemah lain bisa saja menulis makna lain sesuai pemahamannya. Oleh sebab itu al-Qur'an terjemah tidak seotoritatif al-Qur'an dengan bahasa aslinya. Maka dalam setiap terjemah al-Qur'an selalu disertakan teks aslinya sehingga pembacanya bisa langsung merujuk kepada teks asli tersebut. Upaya tersebut bukanlah pengekangan atau klaim bahwa al-Qur'an tidak dapat diterjemahkan, namun lebih merupakan kebijakan yang jenius dan sesuai dengan semangat penjagaan al-Qur'an yang telah dilakukan selama empat belas abad. Lain dari pada itu ritual ibadah dalam Islam juga menggunakan al-Qur'an dan bahasa Arab.

Buku Islamic Invasion seringkali menampilkan terjemahan dari ayat-ayat al-Qur'an yang kemudian dengan membandingkan hasil penerjemahan tersebut ia mengambil kesimpulan adanya pertentangan internal dalam al-Qur'an.58 Pandangan semacam ini tentu saja tidak lepas dari tradisi dikalangan Kristen yang tidak memandang adanya perbedaan antara teks asli dan terjemahan sebab mereka tidak memiliki teks yang asli ditulis pada masa kenabian. Umat Kristiani mengambil sepenuhnya dari Injil dalam bahasa apapun tanpa langsung merujuk kepada teks yang tertua. Teks tertua Bibel tidak pernah dimuat bersamaan dengan terjemahnya, seperti yang dilakukan umat Muslim ketika menerjemahkan al-Qur'an. Oleh sebab itu ketika terjadi perbedaan makna terjemahan umat Muslim dapat langsung merujuk kepada teks aslinya. Dengan demikian otoritas utama tetap pada teks aslinya, dan terjemah hanya berperan menjelaskan tanpa mempunyai otoritas seperti aslinya.

Sebagai perbandingan agaknya kita perlu menyimak pernyataan J.J.G. Jansen, dalam disertasi doktornya di Rijk suniversitiet Leiden tahun 1972, seorang yang memiliki otoritas dalam bidang al-Qur'an dikalangan Orientais, ia mengatakan :

 

Dibandingkan dengan kalangan Kristen, khotbah­khotbah -yang kadang-kadang mendatangkan perbaikan luar biasa-, yang didasarkan pada pengembangan yang cerdas dan kebetulan terhadap penyusunan terjemahan Injil, kadang sangat berlawanan dengan makna teks aslinya. Seseorang tidak bisa tidak kecuali memuji sikap Muslim terhadap masalah ini.59

 

Berdasar pernyataan di atas tradisi penyikapan wahyu dikalangan Muslim sangat berbeda dengan penyikapan umat Kristen. Pengembangan yang tentunya memuat perubahan yang bahkan sampai berlawanan dengan makna teks aslinya, dianggap sebagai kreatifitas yang cerdas. Sementara tradisi Islam sejak masa Rasulullah hingga saat ini melarang perubahan dalam bentuk apapun terhadap teks al-Qur'an. Sebab umat Muslim tidak perlu menyesuaikan teks al-Qur'an dengan perkembangan zaman karena memang tidak bertentangan.

Itulah sebabnya sangat sulit diterima jika ada ungkapan bernada mempertanyakan keaslian teks al-Qur'an sementara pernyataan itu keluar dari mereka yang dengan bangga telah merubah kitabnya sendiri. Pihak Gereja -yang berwenang atas terjemah Injil- boleh saja berkilah bahwa itu tidak merubah, tapi menerjemahkan. Tapi siapapun maklum bahwa ketika teks terjemah tidak disertai teks aslinya, maka umat yang memakainya tentu menjadikan terjemah tersebut sebagai satu­satunya sumber. Ketika otoritas terjemah dianggap sama dengan aslinya, maka perubahan terjemah akan merubah hukum ajaran yang dianut. Jika pada tahun 1976 umat kristen, dilarang makan babi. Maka setelah tahun 1999 mereka boleh memakannya, karena yang dilarang adalah babi hutan. Bagaimana jika pada tahun mendatang kecendrungan masyarakat akan konsumsi makanan berubah lagi. Semacam inilah yang termasuk dalam peringatan al-Qur'an, agar manusia tidak merubah ayat-ayat yang diturunkan kepada mereka.

 

Keindahan Bahasa AI-Qur'an

 

Masyarakat Arab pada masa turunnya wahyu adalah Inasyarakat yang sangat mengagungkan bahasa. Syair-syair yang muncul dikalangan mereka selalu membawa pengaruh sosial dan politik pada masa itu. Kemunculan Rasulullah Saw dengan ajaran yang baru dan sangat bertentangan dengan paham yang ada tentulah mengundang penentangan yang hebat, bahkan mengancam nyawa beliau. Sebagaimana Nabi-nabi lain yang telah terdahulu, setiap nabi dibekali dengan mukjizat yang dapat menaklukkan penentangan kaumnya sehingga mereka mempercayai risalah yang dibawanya. Jika Nabi Musa yang berhadapan dengan Fir'aun dan bala tentaranya - yang terkenal dengan kehebatan magic - dibekali dengan mukjizat yang dapat menandingi sihir, maka Rasulullah Muhammad Saw. yang berhadapan dengan masyarakat yang sangat mengagumi keindahan bahasa dibekali oleh dengan Mukjizat al-Qur'an yang disampaikan dengan keindahan bahasa yang dapat menandingi kemampuan masyarakat Arab saat itu.

Keindahan gaya bahasa al-Qur'an terbukti telah menunjukkan keampuhan perannya sebagai mukjizat bagi keberhasilan dakwah Rasulullah Saw. Banyak sekali riwayat yang menyatakan bagaimana sebagian masyarakat Arab pada awal dakwah Islam dengan serta merta mengakui kenabian Muhammad Saw hanya setelah mendengar ayat-ayat Qur'an. Berikut ini kami kemukakan riwayat Umar bin Khattab yang masuk Islam setelah mendengar ayat yang dibaca oleh Rasulullah Saw.

 

...berkata Umar bin Khattab : "Saya keluar untuk menemui Rasulullah Saw. (saat itu) saya belum masuk Islam. Saya mendapatkannya telah mendahului masuk masjid maka saya berdiri dibelakangnya, kemudian (Rasulullah) memembaca surat al-haqah maka saya terkagum-kagum dengan susunan (gaya bahasa) al-Qur'an ". (Umar) berkata : Maka saya mengatakan : "Ini adalah penyair seperti yang dikatakan oleh (kaum) Qurays". (kemudian Umar) mengatakan : "Maka (Rasulullah Saw.) membaca (ayat yang artinya) (Sesungguhnya al-Qur'an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia. dan al-Qur'an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.]. Umar berkata: "Saya mengatakan (ini perkataan) peramal. Rasulullah mengatakan (menyebut ayat yang artinya) [Dan hukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. la adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. ] hingga akhir surat. Umar berkata : "maka menetaplah Islam dalam hatiku sedalarn-dalamnya. (HR. Imam Ahmad).

 

Sahabat Umar bukanlah seorang yang bodoh. Beliau adalah seorang yang sangat berani dan kritis dengan kemampuan berbahasa yang tinggi.  Masih banyak lagi riwayat keislaman masyarakat Arab karena kekaguman mereka terhadap gaya bahasa al-Qur'an.

Keindahan bahasa al-Qur'an baik dalam pemakaian kata maupun penyusunannya, diakui oleh masyarakat Arab sendiri sejak awal mula diturunkan hingga saat ini. Gaya bahasa yang sangat indah dari AI-Qur'an sekaligus menafikan adanya campur tangan manusia di dalamnya termasuk Rasulullah Saw. Pernyataan Robert Morey seperti berikut ini :

 

Ceceran sidik-jari tangan Muhammad dapat dilihat pada setiap halaman al-Qur'an sebagai saksi bahwa asal al-Qur'an tidak murni dari Allah. 60

 

Adalah pernyataan tanpa dasar. Setidaknya ada dua hal Yang perlu kita perhatikan dalam masalah ini yaitu :

Dalam al-Qur'an banyak sekali ayat-ayat yang turun secara spontan. Dan tidak dapat disangkal bahwa redaksi yang disusun seseorang secara spontan, pasti mutunya lebih rendah dari yang disusun dengan berpikir lebih dahulu. Tetapi para kritikus bahasa - setelah membandingkan ucapan Nabi Muhammad Saw dengan ayat-ayat Qur'an - mengakui bahwa keindahan bahasa Al-Qur'an lauh melebihi keindahan bahasa Nabi Muhammad Saw. Kalau bukan dari Allah mana mungkin yang spontan lebih baik dari yang dipikir lebih dahulu (lihat riwayat di atas).61

Pakar-pakar bahasa mengakui bahwa setiap orang mempunyai gaya bahasa tersendiri yang merupakan ciri khas masing-masing. Amat sulit bagi seseorang -kalau enggan berkata mustahil- untuk memiliki dua gaya bahasa yang berbeda. Jika anda membandingkan gaya bahasa al-Qur'an dengan gaya bahasa hadits maka anda akan menemukan suatu perbedaan yang menonjol.62

 

 

NOTES
 

57 Zarqani, Manahil al-`Irfan fi Ulum al-Qur'an, Isa al-baby al­halaby wa syurakah, II/175-176.

58 Robert Morey, op. cit., hall42

59 J.J.G Jansen, The Interpretation of the Qoran in Modern Egypt. Terjemah. Diskursus Tafsir Al-Qur'an Modern, Hairussalim, Syarif Hidayatullah. PT. Tiara Wacana, Jogja, tahun :1997, hal.l7.

60. Robert Morey, op. cit., hal. 54

61 M. Quraish Shihab, Mukjizat al-Qur'an, Penerbit Mizan, Bandung, 2003, hal. 85

62 ibid. 85-86


 

BACK

UP

NEXT

.