VI. RASULLULLAH DAN HADITS
Kenapa kalian membunuh

para utusan Allah...?
 

KEHIDUPAN NABI MUHAMMAD

 

Mulai berdakwah

 

Setelah turun ayat dari wahyu pertama, mengawali kenabian beliau, wahyu itu mengalami masa vakum selama hampir dua tahun. Itulah waktu kesedihannya yang luar biasa, dan beberapa penulis Muslim menganggap masa ini adalah masa beliau ingin melakukan bunuh diri. Apakah beliau telah ditipu selama ini? Atau Tuhan mendapati dirinya sangat ingin menjadi pembawa wahyu lalu malah meninggalkannya? Kefakuman (ketenangan) itu tampak menghancurkan, sampai kemudian datang Surat al-Fajr dengan keyakinan yang melimpah.

 

"Demi terangrrya siang dan kesedihan malam! Tuhanmu tidak rnengabaikan atau membencimu dan yang Terakhir pasti lebih baik bagimu dari pada yang Pertama. Tuhanrnu senantiasa memberi, dan hendaknya engkau puas. Tidakkah Dia temukan dirirnu bersalah, dan membimbingmu? Tidakkah Dia rnenemukanrnu sangat membutuhkan, lalu rnencukupirnu?Karena untuk anak yatim, jangan kau tekan dia, untuk para pengemis, jangan  kau hardik dia; dan  untuk berkah Tuhan, muliakanlah!.

 

Nabi Muhammad memulai misinya. Beliau telah belajar mempercayai, bahwa pengalaman-pengalamannya datang langsung dari Allah. Keyakinan ini membutuhkan keberanian, namun beliau telah berketatapan untuk melangkah. Beliau menerima interprestasi Waraqah atas pengalaman­pengalamannya: Bahwa beliau dipilih sebagai Nabi orang Quraisy. Kini beliau harus memulai dakwahnya pada rakyatnya. Waraqah memperingatkan bahwa ini bukan hal yang mudah. Dia sudah tua dan mengkin hidup tak lama lagi, katanya pada Nabi Muhammad, namun dia berharap dapat terus hidup untuk menolong beliau bila orang-orang menolak seruan beliau. Nabi Muhammad ketakutan mendengar hal ini. Apakah benar-benar akan menolaknya tanyanya setengah putus asa. Waraqah dengan sedih mengatakan bahwa seorang Nabi selalu tidak mendapat penghargaan yang sepantasnya di negerinya sendiri. Akan kita lihat, bahwa Nabi Muhammad sangat berhati-hati ketika beliau mulai menyebarkan wahyu Allah. Beliau tahu apa yang diajarkannya akan dianggap aneh. Tetapi bagaimanapun juga Nabi Muhammad harus siap menerima misi berbahaya ini. Hal lni akan membawa beliau ke arah yang tak pernah beliau bayangkan sebelumnya.9

Pada tahun-tahun awal misinya, Nabi Muhammad hanya berbicara pada orang-orang tertentu, terutama pada keluarganya. Khadijah menerima kenabian beliau sejak awal dan semua anggota keluarga beliau mengikutinya: Ali, Zaid, dan empat anak perumpuan Nabi. Namun kekecewaan beliau yang paling besar adalah bahwa paman-pamannya Abu Thalib, Abbas clan Hamzah, tidak tertarik. Abu Thalib mengatakan pada Nabi Muhammad bahwa tak mungkin baginya meninggalkan agama kakek moyangnya, sebuah alasan umum suku Quraisy untuk menolak ajaran Nabi. Beliau menyadari bahwa, meskipun berakar pada tradisi penyembahan berhala kuno, wahyu Allah lebih mengancam suku Quraisy yang konservatif, salah satu alasan mengapa beliau tetap berdakwah secara sembunyi­sembunyi selama tiga tahun menjalankan misinya. Namun Abu Thalib menghormati Nabi Muhammad secara pribadi, meskipun kemudian menjadi semakin sulit, dia tetap bertindak sebagai pelindung resmi Nabi Muhammad. Sebagai kepala klan Hasyim, dukungan Abu Thalib sangat penting bagi beliau.

Namun anggota lain dalam keluarga Nabi benar-benar menerimanya sebagai Nabi, termasuk anak Abu Thalib, Ja'far teman dekat dan sepupunya Abdullah bin Jahsy, dan saudara perempuannya Zainab, serta saudara lelakinya Ubaidullah. Ubaidullah adalah seorang hanif yang telah lama mencari bentuk alternatif monoteisme. Para istri Abbas dan Hamzah tidak sabar dengan keragu-raguan para suami mereka: Ummu Fadhl dan Salamah segera menjadi Muslim, begitu pula istri Ja'far, Asma', dan bibi Nabi, Shafiyah binti Abdul Muthalib. Ummu Aiman, perempuan yang dibebaskan oleh Nabi, juga bergabung dengan kelompok ini: dulu dia budak perempuan kecil yang diberikan ayah Nabi Muhammad, Abdullah, kepada Aminah bersama lima ekor unta.

Di masa-masa awal ini, Rasulullah mendapat pengikut yang sangat penting dari luar lingkup keluarganya, yaitu ketika temannya Attiq bin Utsman, yang lebih dikenal sebagai Abu Bakar, masuk Islam. Abu bakar membawa banyak orang muda di Mekkah ke agama Allah, termasuk dari klan-klan yang lebih berkuasa. Antara lain; Khalid bin Sa'id, putra seorang pemodal yang penting, Abdi Syams. Saudagar clan bangsawan muda Utsman bin Affan, clan Thalhah bin Ubaidullah dari klan Taim, yang adalah sepupu Abu Bakar.

Sejarawan Mekkah Ibnu Syihan az-Zuhri, yang lahir 40 tahun setelah kematian Rasulullah clan mengabdikan hidupnya melakukan penelitian tentang periode Muslim awal, mengatakan bahwa Rasulullah mencapai keberhasilan dalam waktu singkat.10

 

Dakwah secara terang-terangan

 

Setelah kurang lebih tiga tahun lamanya Rasulullah melakukan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi, sampai orang yang telah beriman dan mengikuti seruan beliau berjumlah 39 orang. Semuanya taat clan patuh kepada agama yang dibawa oleh Rasulullah saw., Beliau menerima wahyu yang berbunyi:

 

"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokan (kamu). (al Hijr: 94-95).

 

Kemudian diterima lagi wahyu yang berbunyi:

 

"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah, "sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan. " (asy Syu'ara' : 214-216).

 

Setelah menerima ayat-ayat tersebut, Nabi saw senantiasa tinggal di rumah satu bulan lamanya. Sepertinya beliau berpikir agak panjang, merasa belum kuat atau sangat berat mengerjakan perintah-perintah itu. Sehingga beliau disangka sedang sakit oleh famili (sanak saudara, terutama oleh paman beliau Abu Thalib) karena setiap hari selama satu bulan beliau tidak pernah keluar dari rumahnya. Oleh sebab itu, pada suatu hari beliau didatangi oleh pamannya yang tercinta, Abu Thalib dengan istrinya dan saudara-saudara dekatnya. Oleh pamannya, beliau ditanya tentang sakitnya. Beliau terperanjat setelah mendengar pertanyaan tersebut. Beliau lalu menerangkan apa yang sedang dihadapinya sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut, yaitu bahwa dirinya tidak sakit. Penyebab beliau tidak keluar rumah adalah karena beliau menerima wahyu dari Allah yang berisi perintah agar beliau menyeru famili (sanak saudara yang terdekat) supaya beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan mempercayai seruan beliau. Oleh paman-paman beliau, laki­laki dan perempuan, beliau diizinkan dan diberi kesempatan menjalankan kewajiban beliau dengan seluas-luasnya. Hanya saja mereka berpesan kepada beliau, jika berdakwah kepada famili, hendaklah Abdul Uzza (Abu Lahab) jangan sampai diberi kabar dan jangan pula sampai diikutkan agar dia tidak mendengar seruan beliau.

Sesudah beliau diizinkan dan mendapatkan kesempatan seluas-luasnya dari paman-pamannya, keesokan harinya beliau keluar dari rumah dan pergi ke kampung-kampung yang didiami oleh famili beliau yang terdekat. Beliau memanggil sekalian sanak saudara untuk berkumpul di kaki Gunung Shafa. Ketika itu Abu Lahab ikut beliau panggil, karena dia masih termasuk famili dekat. Beliau memahami bahwa wahyu yang telah diterimanya itu harus disampaikan kepada siapa saja.

Kemudian setelah mereka berkumpul di kaki bukit Shafa, termasuk Abu Lahab, beliau membuka pertemuan dan berbicara di muka yang hadir. Adapun permulaan pembicaraan beliau adalah demikian:

 

"Bagaimana menurut pendapat kalian jika aku mernberitahukan kepada kalian bahwa ada seekor kuda kelrrar dari dalam gunung irri, lalu ia berkehendak mengubah kamu sekalian, adakah kalian membenarkan aku?."

 

Sekalian yang hadir menjawab:

 

"Ya, kami percaya, kami tidak pernah mengetahui engkau (Muhamnrad) bahwa engkau itu dusta. "

 

Tetapi kemudian pertemuan itu dikacaukan oleh Abu lahab. Oleh sebab itu, Nabi saw. membubarkan pertemuan itu. Sesudah hadirin bubar, sebagian dari mereka menyesalkan perbuatan Abu Lahab. Mereka kemudian meminta Nabi saw. untuk mengadakan pertemuan kedua pada hari yang lain, dengan catatan Abdul Uzza (Abu Lahab) tidak dipanggil dan tidak diberi tahu karena jika dikabari sudah tentu dia akan datang dan selanjutnya akan mengacaukan pertemuan lagi.

Pertemuan kedua pun diadakan, tetapi Nabi tetap saja mengundang Abu Lahab. Dan pertemuan kedua inipun juga dikacaukan oleh Abu Lahab, dan oleh Nabi pertemuan pun dibubarkan. Meskipun demikian pada saat itu beliau mendapat banyak dukungan, terutama dari Abu Thalib.

 

Keteguhan Hati

 

Setelah Nabi Muhammad berdakwah secara terang­terangan, kepada kerabat dan kaum Quraisy, meskipun ada penentangan dari Abu Lahab, Abu Jahal, dan beberapa pemuka kafir Quraisy yang lain, tetapi banyak juga yang mulai mengikuti seruan beliau, sehingga tampak keberhasilan beliau pada tahun­tahun awal misinya. sampai pada tahap ini, Rasulullah belum melakukan penyebutan resmi atas dewa-dewa Arab Quraisy, mungkin mereka menduga bahwa mereka dapat terus memuliakan al Lata, al Uzza dan Manat. Sampai pada akhirnya wahyu yang secara tegas menekankan unsure monoteisme disampaikan oleh beliau. Ketika beliau melarang pengikutnya untuk memuja banat Allah, beliau kehilangan banyak pendukungnya dalam semalam, dan kaum Quraisy menjadi terpecah belah karenanya.

Atas dasar itulah kemudian pemuka-pemuka bangsawan Quraisy pergi menemui Abu Thalib. "Abu Talib" kata mereka, "Kemenakanmu itu sudah memaki berhala-berhala kita, mencela agama kita, tidak menghargai harapan-harapan kita dan menganggap sesat nenek moyang kita. Sekarang, harus kau hentikan dia; atau biarlah kami sendiri yang menghadapinya. Oleh karena engkau juga seperti kami tidak sejalan, maka cukuplah engkau dari pihak kami menghadapi mereka." Sampai tiga kali mereka mendatangi Abu Talib, dan mendesaknya untuk menghentikan dakwah Muhammad.

Meskipun dengan berat hati, akan bermusuhan atau berpisah dengan masyarakatnya, juga tidak sampai hati ia menyerahkan atau membuat kemenakannya itu kecewa. Akhirnya dimintanya kemenakannya datang dan diceritakannya maksud dari pemuka Quraisy. Lalu katanya: ‘Jagalah aku, begitu juga dirimu. Jangan aku dibebani hal-hal yang tak dapat kupikul.

Terdiam sejenak Rasulullah mendengar pernyataan pamannya. Kemudian, dengan jiwa yang penuh kekuatan dan kemauan, ia menoleh kepada pamannya seraya berkata:

 

"Wahai paman, demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan, sampai Allah Yang akan membuktikan kemenangan itu ditanganku, atau aku binasa karenanya. "

 

Demikian besarnya kebenaran itu, demikian dahsyatnya iman itu! Gemetar oran.g tua ini mendengar jawaban Muhammad, tertegun ia. Rasulullah berdiri, air matanya tersumbat karena sikap pamannya yang tiba-tiba itu, sekalipun tak terlintas kesangsian dalam hatinya sedikitpun akan jalan yang ditempuhnya itu. Setelah lama terpesona akan sikap keponakannya tersebut, kemudian dimintanya Rasulullah datang lagi, seraya berkata: `Anakku, katakanlah sekehendakmu. Aku tidak akan menyerahkan engkau bagaimanapun juga!."

Setelah hal ini, kaum Quraisy semakin menjadi-jadi mengganggu Rasulullah dan menyiksa para pengikut-pengikut beliau. Periode ini adalah periode yang paling dahsyat yang pernah dialami sejarah umat Islam. Baik Rasulullah atau mereka yang menjadi pengikutnya, bukanlah orang-orang yang menuntut harta kekayaan, kedudukan atau kekuasaan; melainkan orang-orang yang menuntut kebenaran serta keyakinannya akan kebenaran itu.

Karena dahsyatnya siksaan kaum kafir Quraisy kepada para pengikut Rasulullah, kemudian mereka memutuskan untuk Hijrah ke Abisinia. Meskipun demikian Rasulullah juga sempat terhibur dengan masuknya paman beliau Hamzah, dan Umar ibn'l Khattab.

 

Gharaniq (Ayat-Ayat Setan)

 

Kaum Muslimin tinggal disana hanya tiga bulan lamanya, setelah dilihat bahwa gangguan dari kaum Quraisy agak surut, mereka kembali lagi ke Mekkah. Tetapi sesampainya mereka di Mekkah, ternyata pihak Quraisy kembali menyiksa kaum Muslimin.

Setelah Rasulullah melihat pihak Quraisy menjauhinya dan sahabat-sahabatnya disiksa. Pada keadaan yang demikian ini timbullah cerita gharaniq -yang dikarang-karang oleh Dr. Robert Morey dan para Orientalis, mereka yang ingin memasukkan racun ke dalam kaum Muslimin, tentang nabi-nabi, al Quran, dan ajaran-ajaran Islam -. Dia mengatakan" Untuk menenangkan para anggota keluarganya yang menyembah berhala dan juga para anggota suku Quraisy, dia memutuskan bahwa hal yang terbaik yang dapat dilakukannya adalah mengakui bahwa adalah pantas-pantas saja jika orang-orang bersembahyang dan menyembah ketiga puteri Allah: Al Lata, Al Uzza, dan Manat. Diceritakan bahwa Rasulullah berharap-harap sambil mengatakan : Coba aku tidak mendapat perintah apa-apa yang kiranya akan menjauhkan mereka dari aku. la mengumpulkan golongannya dan mereka bersama-sama pada suatu hari duduk­duduk dalam sebuah tempat pertemuan di sekitar Mekah. Kepada mereka dibacakan Surat an Najm sampai pada firman Allah :

 

“Adakah kamu perhatikan Lat dan `Uzza. Dan itu Manat ketiga, yang terakhir?"

 

Sesudah itu dibacakan pula: 'Itu gharaniq yang luhur, perantaraanya sungguh dapat diharapkan': Secara penyelidikan ilmiah ternyata ini tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Yang pertama sekali sebagai bukti ialah adanya bebarapa sumber yang beraneka ragam. Pernah diceritakan bahwa ungkapan itu ialah "Itu gharaniq yang luhur, perantaraannya sungguh dapat diharapkan". Sumber lain menyebutkan: "Gharaniqa yang luhur, perantaraannya dapat diharapkan". Sumber selanjutnya menyebutkan: "Perantaraannya dapat dlharapkan", ; tanpa menyebutkan gharaniqa atau gharaniq. Sumber keempat mengatakan: ‘Dan sebenarnya itulah gharanaiq yang luhur". Sumber kelima menyebutkan: ‘Dan sebenanya mereka itulah gharaniq yang luhur, dan perantaraan mereka bagi mereka yang diharapkan': Dalam beberapa buku hadits disebutkan adanya sumber-sumber lain di samping yang lima tadi. Adanya keaneka­ragaman dalam sumber-sumber tersebut menunjukkan, bahwa hadist itu palsu adanya, dan bikinan golongan atheis, seperti kata Ibn Ishaq, dan tujuannya ialah hendak menanamkan kesangsian tentang kebenaran ajakan Nabi Muhammad clan risalah Tuhan itu.

 

a. Segi Semantik

 

Argumen yang dikemukakan oleh Syaikh Muhammad Abduh membantah cerita ini, yaitu bahwa belum pernah ada orang Arab menamakan dewa-dewa mereka dengan gharaniq, baik dalam sajak-sajak atau dalam pidato-pidato mereka. Juga tak ada berita yang dibawa orang mengatakan bahwa nama demikian itu pernah dipakai dalam percakaan mereka. Tetapi yang ada ialah sebutan ghurnuq dan ghirniq sebagai nama sejenis burung air, entah hitam atau putih, clan sebutan untuk pemuda yang putih dan tampan. Dari semua itu, tak ada yang cocok untuk diberi arti dewa, juga orang-orang Arab dahulu tak ada yang menamakannya demikian

 

b. Konteks surat an-Najm

 

Bukti lain yang lebih kuat dan pasti, ialah konteks atau susunan Surah an-Najm yang sama sekali tidak menyinggung soal gharaniq ini. Konteks itu seperti dalam firman Allah surat an­ Najm, 53:18-23,11 menggambarkan jelas sekali bahwa Lat dan "Uzaa adalah nama-nama yang dibuat oleh kaum musyrik, mereka dan nenek moyang mereka, sedang Allah tidak memberikan kekuasaan untuk itu. Bagamaina mungkin susunan itu akan berjalan sebagai berikut: Adakah kamu perhatikanh Lat dan ‘Uzza. Dan Manat yang ketiga, yang terakhir. Itu gharaniq yang luhur, perantaraannya dapat diharapkan. Adakah untuk kamu itu yang laki-laki dan untuk Dia yang perempuan ? kalau begit! u ini adalah pembagian yang tak seimbang. Ini hanyalah nama-nama yang kamu buat sendiri, kamu dan nenek-moyang kamu. Allah tidak memberikan kekuasaan karenanya."

Susunan ini rusak, kacau dan bertentangan satu sama lain. Dari pujian kepada Lat, ‘Uzza dan Manat ketiga yang terakhir dan celaan dalam empat ayat berturut-turut tak dapat diterima akal dan tak ada orang yang akan berpendapat begitu.

Yang demikian ini sudah tak dapat diragukan lagi, dan bahwa hadis tentang gharaniq itu adalah palsu dan bikinan golongan atheis dengan maksud-maksud tertentu. Orang yang suka pada yang aneh-aneh dan berpikir logis, tentu percaya akan hadis ini.

 

c. Kejujuran Nabi Muhammad

 

Masih ada lagi sebuah argumen yang dapat kita kemukakan sebagai bukti bahwa cerita gharaniq ini mustahil akan ada dalam sejarah hidaup Nabi Muhammad sendiri. Sejak kecilnya, semasa anak-anak dan semasa mudanya, belum pernah terbukti ia berdusta, sehingga ia diberi gelar Al Amin, « yang dapat dipercaya, » pada waktu usianya belum lagi mencapai dua puluh lima tahun. Kejujurannya sudah merupakan hal yang tak perlu diperbantahkan lagi di kalangan umum, sehingga ketika suatu hari sesudah kerasulannya ia bertanya kepada Quraisy:

 

“Bagaimana pendapatmu sekallan kalau kukatakan, bahwa Pada permukaan bukit ini ada pasukan berkuda. Percayakah kamu ? "Jawab mereka: "Ya engkau tidak pernah disangsikan. Belum pernah kami melihatkau berdusta. "

 

Jadi orang yang sudah dikenal sejak kecil hingga tuanya begitu jujur, bagaimana orang akan percaya bahwa ia mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan oleh Allah, ia akan takut kepada orang dan bukan kepada Allah ! hal ini tidak mungkin. Mereka yang sudah mempelajari jiwanya yang bergitu kuat, begitu cemerlang, jiwa yang begitu membentang mempertahankan kebenaran dan tidak pula pernah mencari mukadalam soal apa pun, akan mengetahui ketidakmungkinan cerita ini. Betapa kita meliha Nabi Muhammad berkata: Kalau Quraisy meletakkan matahari di sebelah kanannya, dan meletakkan bulan di sebelah kirinya dengan maksud supaya ia melepaskan tugasnya, akan mati sekalipun dia tidak akan melakukan hal itu - bagaimana pula akan mengatakan sesuatu yang tidak diwahyukan Allah kepadanya, dan mengatakan itu untuk meruntuhkan sendi agama yang oleh karenanya ia diutus Allah sebagai petunjuk dan berita gembira bagi seluruh umat manusia !

Dan mengapa pula ia kembali kepada Quraisy guna memuji-muji dewa dewa mereka ? ataukah sesudah sepuluh tahun atau sekian tahun dari kerasulannya, demi tugas yang besar itu ia sanggup memikul pelbagai macam siksaan, berupa­rupa pengorbanan, sesudah Allah memperkuat Islam dengan Hamzah dan Umar dan sesudah kaum Muslimin mulai menjadi kuat di Mekah, dengan berita yang sudah meluas pula ke seluruh jazirah, ke Abisinia dan semua penjuru ?!

Mereka yang menciptakan cerita ini sebenarnya sudah merasakan bahwa hal ini akan mudah terbongkar. Mereka lalu berusaha menutupinyadengan mengatakan, bahwa begitu Nabi Muhammad mendengar kata-kata Quraisy bahwa dewa-dewa mereka sudah mendapat tempat segai perantara, hal itu berat sekali dirasanya, sehingga ia kembali kepada Tuhan bertobat, dan begitu ia pulang ke rumah sore itu Jibril pun datang. Tetapi tabir ini akan terbuka juga kiranya. Kalau hal itu oleh Nabi Muhammad sudah sangat luar biasa, ketika ia mendengar kata­kata Quraisy itu, apalagi ia sampai akan mengoreksi wahyu pada waktu itu juga.

Jadi masalah ayat-ayat setan ini memang samasekali tidak punya dasar, dan samasekali tak ada hubungannya pula dengan kembalinya Muslimin dari Abisinia. Seperti disebutkan di atas, mereka kembali karena Umar sudah masuk Islam dan dengan semangatnya yang sama seperti sebelum itu ia membela Islam, sampai menyebabkan Quraisy terpaksa mengadakan perjanjian perdamaian dengan Muslimin. Juga mereka kembali pulang ketika di Abisinia sedang berkecamuk pemberontakan. Mereka kuatir akan akibatnya. Tetapi setelah Quraisy mengetahui mereka kembali, kekuatirannya makin bertambah akan besarnya pengaruh Nabi Muhammad di kalangan mereka. Quraisy pun lalu membuat rencana mengatur langkah berikutnya, yang berakhir dengan dibuatnya piagam yang menetukan di antaranya tidak akan saling mengawinkan, berjual beli dan bergaul dengan Banu Hasyim, dan yang juga sudah sepakat di antara mereka, akan membunuh Nabi Muhammad jika dapat.

Jadi sasaran mereka yang telah melakukan pemalsuan terhadap masalah yang begitu teguh menjadi pegangan Nabi Muhammad yang tak ada taranya itu, hanya menunjukkan suatu kecerobohan yang tidak rasional, dan yang sekaligus menunjukkan pula, bahwa mereka yang masih cenderung mau mempercayainya ternyata telah tertipu

 

 

NOTES
 

9. Karen Amstrong, Muhammad Sang Nabi, terj. Sirikit Syah, Risalah Gusti, Surabaya, 2003, hal 108.

10. lihat Karen Amstrong, ibid., hal 130.

11. Sungguh dia telah melihat keterangan-keterangan yang amat besar dari Tuhan. Adakah kamu perhatikan Lat dan `Uzza? Dan Manat ketiga, yang terakhir? Adakah untuk kamu itu yang laki-laki dan untuk Dia yang perempuan? Kalau begitu ini adalah pembagian yang tak seimbang. Ini hanyalah nama-nama yang kamu buat sendiri, kamu dan nenek moyang kamu. Allah tidak memberikan kekuasaan karenanya ; yang mereka turuti hanyalah prasangka dan kehndak nafsu belaka. Dan pada mereka pimpinan yang benar dari Tuhan sudah pernah ada.


 

BACK

UP

NEXT

.