VI. RASULLULLAH DAN HADITS
Kenapa kalian membunuh

para utusan Allah...?
 

KEHIDUPAN NABI MUHAMMAD

 

Hijrah ke Thaif

 

Pada tahun ke -10 kenabian Muhammad, beliau kedatangan dua puluh orang utusan dari kaum Nasrani Najran. Mereka memerlukan datang ke Mekkah untuk menghadap Rasulullah, dengan tujuan hendak membuktikan dengan kepala sendiri, betulkah beliau seorang nabi dan Rasul Allah.

Mereka datang karena di Najran mereka mendengar berita yang disiarkan oleh umat Islam yang hijrah ke negeri Habasyah bahwa nabi atau rasul Allah yang pernah diberitakan (dinubuatkan) dalam kitab suci mereka (Injil) telah dibangkitkan di kota Mekkah dan telah menyiarkan seruannya di tengah­tengah bangsanya.

Setibanya mereka di kota Mekah, dengan diam-diam mereka mencari-cari Rasulullah. Tidak berselang beberapa hari, bertemulah mereka dengan Rasulullah di Ka'bah. Kemudian mereka duduk bersama-sama di depan Rasulullah dan bercakap-­cakap serta menyampaikan beberapa pertanyaan kepada Nabi saw. Para pembesar Quraisy menyaksikan dari tempat pertemuan mereka di kanan-kiri Ka'bah. Utusan dari Najran meneliti clan memperhatikan benar-benar sifat-sifat dan pribadi Nabi. Mereka mencocokkan sifat-sifat Rasulullah dengan apa yang telah mereka ketahui di dalam Kitab Suci (Injil) mereka.

Setelah mereka memperhatikan sifat-sifat dan pribadi Nabi dan selesai membicarakan segala sesuatu yang mereka kehendaki dari beliau, kepada mereka disampaikan agar mau mengikuti seruannya dan dibacakan beberapa ayat al Quran. Setelah mereka mendengar ayat-ayat al Quran yang beliau baca, mengalirlah air mata mereka. Dengan tulus ikhlas, mereka lalu mengikuti seruan Nabi saw. clan beriman kepada beliau. Mereka sadar bahwa sifat-sifat yang ada pada diri Nabi sebagaimana yang mereka lihat sesuai dengan apa yang tertera dalam Injil.12

Pada tahun itu juga, dua orang yang dicintai beliau dan mendukung segala dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah meninggal dunia, Istri tercinta beliau Khadijah clan paman beliau Abu Talib. Sebagai seorang manusia, Rasulullah pun merasa sedih dan susah tatkala ditinggal oleh mereka, yang seakan-akan menjadi tulang punggung beliau selama ini, beliau sangat berduka dan pedih hatinya. Tidak ada kepedihan dan kedukaan yang lebih besar yang beliau rasakan selama sepuluh tahun kenabian kecuali pada saat itu. Sehingga tahun ini banyak disebut orang dengan "'aam al Huzni" tahun kesedihan.

Ketika para ketua dan pembesar musyrikin Quraisy menyadari bahwa Rasulullah tidak lagi mempunyai tulang punggung yang dapat melindungi beliau apabila disakiti clan dianiaya atau diperlakukan dengan kejam, mereka makin menjadi-jadi untuk menghalangi dan memusuhi beliau. Terpikir oleh beliau untuk pergi ke Taif, ada seorang yang masih keluarga dekat beliau dari keturunan Tsaqif. Di kota Thaif, merekalah yang memegang kekuasaan. Ketika itu mereka itu tinggal tiga orang, yaitu: Kinanah yang bergelar Abdu Jaffi, Mas'ud yang bergelar Abdu Kulal, dan Habib. Ketiganya adalah anak dari Amr bin Umair bin Auf Ats-Tsaqafi dan masing-masing memegang kekuasaan di kota Thaif.

'Thaif adalah kota perdagangan seperti Mekkah, dan Inesl:ipun tidak seramai Mekkah, kota itu terletak di daerah yang lebih subur. Ketika Rasulullah mendekati kota yang dikelilingi tembok di atas bukit itu, dia harus berjalan melalui kebun-kebun yang indah, kebun buah-buahan clan kebun jagung. Namun memasuki kota itu melalui jalan umum merupakan resiko karena keluarga Tsaqif, yang menjaga kuil kuno itu, tentu telah tersinggung dengan sikap beliau yang mengutuk kultus al Lata. Beliau mengunjungi tiga bersaudara Tsaqif dan meminta mereka menerima agamanya serta memberinya perlindungan. Namun permintaannya ditolak dengan penuh penghinaan. Bahkan tiga bersaudara itu begitu marahnya akan kelancangan beliau mengajukan permintaan semacam itu, sehingga mereka menyuruh budak-budak mereka mengejar Rasulullah.

Untuk menghindari kejaran itu, Rasulullah berlindung di sebuah kebun buah milik Utbah bin Rabi'ah dan saudara lelakinya Syaihah. Pada saat itu keduanya tengah duduk-duduk di kebun dan menyaksikan pengejaran itu. Di Mekah mereka berada di garis terdepan dalam menentang Rasulullah, namun mereka adalah laki-laki yang cukup adil dan merasa tertekan juga melihat kaumnya, Quraisy, dalam pelarian yang memalukan. Mereka mengirim seorang budak muda dengan sepiring anggur. Gemetar ketakutan di dalam kebun, sehingga beliau telah merasa sampai pada akhir dayanya.

 

Kemudian beliau berdoa kepada Allah:

 

"Ya Allah, pada-Mu aku mengeluh atas kelemahanku, miskin dayaku dan kerendahanku di hadapan manusia lain. Yang Maha Perrgasih, Kaulah Tuhan bagi kaum lemah dan Kaulah Tuhanku. Kepada siapa Kau akan mempercayakanku? Kepada seorang yang jauh yang akan menyalah gunakan aku? Atau kepada musuh yang Kau beri kekuatan melebihi kekuatanku? Jika Kau tidak murka padaku, aku tak peduli. Pilihan-Mu jauh lebih luas daripada pilihanku. Aku mohon perlindungan dalam cahaya-Mu jauh lebih luas daripada pilihanku. Aku mohon perlindungan dalam cahaya-Mu yang menerangi kegelapan dan benda-benda di dunia ini, dan sesudahnya yang telah disusun dengan tertib. Asalkan kemurkaan-Mu tidak turun kepadaku atau kemarahan-Mu membakarku. Segalanya hanya untuk Kepuasan-Mu dan semoga Engkau puas. Tak ada kekuatan yang dapat selamat di hadapan-Mu. 13

 

Hampir seketika Allah menjawab doa Rasulullah dengan sebuah "tanda" ketika Addas, sang budak muda, tiba dengan sepiring anggur. Dia seorang Kristen dari Ninifeh di Iraq modern terkesima ketika melihat Rasulullah berdo'a "dengan nama tuhan" sebelum makan. Sebaliknya, Rasulullah juga terkesima dan gembira mendengar Addas datang dari Niniveh, kota asal Nabi Yunus, dan dikatakannya kepada Addas bahwa dia juga seorang Nabi sehingga dia adalah "saudara" Yunus. Addas begitu terhanyut sehingga dia mencium kepala Nabi Muhammad, tangan dan kakinya, sementara Utbah dan Syaibah memperhatikan insiden itu dari kejauhan. Rasulullah tak lagi merasa sendirian setelah kontaknya dengan salah seorang Ahli Kitab dan pengingat bagi seluruh masyarakat di dunia di luar Arab. Selanjutnya, Rasulullah dan Zaid melanjutkan perjalanan menuju Mekkah dengan susah dan lelah.

Kepergian beliau ke Thaif tanpa sepengetahuan para pemuka Quraisy di Mekah yang bertujuan untuk mendapat pertolongan dari pembesar-pembesar Thaif, akhirnya terdengar oleh para pemuka musyrikin Quraisy. Oleh sebab itu, para pemuka Quraisy telah memutuskan dengan suara bulat dalam musyawarah mereka bahwa Nabi tidak diperkenankan pulang clan berdiam di Mekah, terutama bertetangga dengan kaum Quraisy.

Dua Kepala keluarga yang pertama dijumpai oleh beliau, Akhnas bin Syariq dari klan Zuharah clan Suhail bin Amr dari klan Amir, keduanya menolak untuk memberi perlindungan kepada beliau, namun yang ketiga, Muth'im bin Adi, kepala keluarga Naufal, memberi perlindungan kepada beliau sehingga dapat memasuki kota dengan aman.14

 

Hijrah ke Madinah

 

Meskipun Rasulullah diterima di Mekah, ini bukan solusi jangka panjang. Pada saat itu Rasulullah mulai berkhotbah pada peziarah Badui yang datang untuk musim haji, sambil berharap menemukan pelindung yang lebih permanen di antara mereka. Beliau mulai memperluas misinya dengan memasukkan suku­suku Badui sangat kasar dan menghina, clan tak menampakkan minat sedikitpun pada agama Islam.

Pada musim haji tahun 620, ketika Rasulullah berkunjung dari satu kemah ke kemah lainnya, beliau menjumpai 6 orang dari Yatsrib. Rasulullah duduk bersama mereka, menceritakan kepada mereka tentang misinya dan membacakan al Quran. Kali ini, bukannya mendapat kekasaran dan penolakan, beliau mend apati orang Arab yang penuh perhatian clan bersemangat. Ketika beliau selesai berbicara, mereka saling memandang satu dengan yang lainnya dan berkata bahwa ini pasti sang Nabi yang sering dibicarakan orang-orang Yahudi di Yastrib. Selama bertahun-tahun orang-orang Yahudi itu telah mencela tetangganya, kaum penyembah berhala, dengan kisah-kisah seorang Nabi yang akan menghancurkan mereka, seperti suku­suku kuno Arab Ad clan Aram dibinasakan. Jika Muhammadlah Nabi yang dimaksudkan itu, sangat penting untuk mencegah para Yahudi itu menemukannya terlebih dahulu. Seketika itu luga mereka melihat bahwa Muhammad dapat memecahkan banyak masalah yang tak dapat diatasi di Yatsrib.15

Adapun keenam orang tersebut itu adalah As'ad bin Zurarah dari bani an Najjar, Rafi bin Malik dari bani Zuraik, Auf bin Harits dari Bani an Najjar, Quthbah bin Amir dari Bani slamh, Uqbah bin Amir dari Bani Hiram, clan Jabir bin Abdiwah dari Bani Ubaid. Setelah enam orang tersebut menerima dakwah Islam, Rasulullah mengajak mereka pindah ke tempat yang lebih sunyi, yakni suatu tempat yang terletak di bawah bukit Aqabah. Di tempat itulah mereka menerima Islam. Setelah berunding mereka menyatakan percaya dengan sungguh-sungguh terhadap kerasulan Nabi Muhammad saw. dan mengharapkan mereka untuk bersatu dan saling menolong untuk menyiarkan agama Islam.

Setelah keenam orang tersebut kembali ke Madinah, mereka menyiarkan keislamannya kepada seluruh penduduk Madinah sekaligus mengembangkan seruan Rasulullah ke tengah-tengah masyarakatnya. Mereka menceritakan adanya seorang Nabi dan Rasul terakhir yang dibangkitkan di kota Mekah. Oleh sebab itu, nama Nabi Muhammad menjadi terkenal di kalangan penduduk Madinah, padahal beliau belum pernah datang kesana.

Pada musim haji berikutnya, yaitu tahun ke 12 dari kenabian, sebagaimana telah mereka janjikan sendiri, lima dari enam orang tersebut datang lagi ke Mekah bersama dengan kawan-kawan mereka dari Yatsrib sebanyak tujuh orang. Jadi, mereka berjumlah dua belas orang. Kedua belas orang ini kemudian di bai'at oleh Nabi. Mereka akhirnya menjadi penolong dan pembela Rasulullah.

Demikian juga pada musim haji berikutnya ada 75 orang lagi yang datang, 73 laki-laki dan dua perempuan. Nabi membai'at 75 orang tersebut. Dan mereka juga siap untuk melindungi Rasulullah.

Sejak kembalinya orang-orang yang telah dibaian oleh Nabi saw ke Madinah, makin hari makin banyak penduduk Madinah yang masuk Islam. di setiap kampung di kota Madinah pasti ada penduduknya yang telah memeluk agama Islam walaupun hanya satu orang sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada satu kampungpun di Madinah yang tidak ada ruh Islam.

Akan tetapi, kaum muslimin yang tinggal di Mekah terutama Rasulullah sangatlah menderita. Mereka mengalami kesulitan dan kesengsaraan akibat perbuatan kaum musyrikin Quraisy. Setelah kaum musyrikin Quraisy mendengar berita bahwa orang-orang dari golongan Aus dan Khazraj di Madinah telah banyak yang mengikuti seruan Nabi saw dan mengadakan perjanjian tolong-menolong dengan beliau, bertambah hebat perbuatan mereka merintangi dan mengancam kaum muslimin di Mekah. Setiap hari, Nabi terus-menerus menerima berita dari sahabat-sahabatnya, baik laki-laki maupun perempuan, yang dianiay oleh kaum musyrikin Quraisy. Oleh sebab itu, beliau memerintahkan kepada sahabat-sahabatnya supaya hijrah ke Madinah. Hanya sahabat Abu Bakar dan Ali serta keluarga Nabi yang tidak beliau perintahkan untuk pindah. Mereka menemani dan menjaga beliau di Mekah sebelum beliau mendapat perintah hijrah dari Allah. Kaum muslimin segera berkemas-kemas untuk pindah ke Madinah. Seorang demi seorang, sepasang demi sepasang, dengan diam-diam berangkat pada tengah malam menuju Madinah.16

Di bulan Agustus, pelindung Muhammad, Muth'im bin Adi, meninggal dunia. Sekali lagi hidup Rasulullah terancam bahaya. Ada pertemuan khusus mengenai beliau di Majelis, dan Abu Lahab secara hati-hati tidak hadir. Beberapa kepala keluarga ingin Muhammad keluar dari kota, namun lainnya menyadari, akan lebih berbahaya bila Rasulullah bergabung dengan emigran (Muhajirin) lain. Semua yang telah melakukan hijrah adalah para pengkhianat yang tidak berprinsip dan sangat kesulitan. Mereka telah memutuskan ikatan sacral persaudaraan. Mereka tak akan berhenti, dan dengan Rasulullah sebagai pimpinan, mereka dapat menjadi ancaman bagi keamanan Mekkah. Abu Jahl akhirnya mengusulkan untuk menyingkirkan Rasulullah tanpa menyebabkan pertumpahan darah. Setiap klan/keluarga akan memilih laki-laki muda yang kuat dan punya hubungan luas sebagai wakil. Anak-anak muda ini akan membunuh Muhammad bersama-sama. Ini berarti bahwa semua klan tersangkut, sehingga Hasyim akan cukup puas dengan uang pengganti darah. Mereka (klan Hasyim) tak akan sanggup memerangi seluruh Quraisy.

Gerombolan anak-anak muda itu segera direkrut. Mereka berkumpul di luar rumah Rasulullah. Namun mereka terganggu mendengar suara Saudah dan anak-anak perempuan Rasulullah dari jendela. Sangat memalukan untuk membunuh seorang laki­laki di hadapan anak-anak dan istrinya. Mereka memutuskan untuk menunggu sampai dia meninggalkan rumah di pagi hari.

 

Salah seorang anggota konspirasi itu melongok melalui jendela dan melihat Rasulullah sedang berbaring di tempat tidurnya, terbungkus selimut. Mereka tidak menyadari bahwa beliau, mengetahui rencana mereka melalui malaikat Jibril, beliau telah melarikan diri melalui jendela belakang. Beliau meninggalkan Ali, yang menunda hijrahnya untuk membantu Rasulullah menyelesaikan urusannya. Ali lah yang berbaring di tempat tidur mengenakan pakaian Muhammad. Ketika Ali keluar rumah keesokan harinya dalam selimut Rasulullah, para anak muda itu menyadari bahwa mereka telah tertipu. Suku Quraisy menawarkan hadiah seratus unta betina kepada siapapun yang dapat membawa kembali Muhammad, dalam keadaan mati atau hidup.

Sementara itu Rasulullah dan Abu Bakar tengah bersembunyi di sebuah gua di salah satu pegunungan di luar kota. Mereka tinggal di persembunyian itu selama tiga hari. Dari waktu ke waktu para pendukung mereka menyelinap keluar kota membawakan mereka kabar dan kebutuhan.

Setelah tampak aman, Rasulullah dan Abu Bakar keluar gua, dengan hati-hati agar tak mengganggu merpati gunung. Mereka segera menunggu unta yang telah disiapkan Abu Bakar. Abu Bakar bermaksud memberikan unta terbaiknya untuk Rasulullah, namun beliau mendesak untuk membayarnya. Ini hijrah pribadinya, persembahannya kepada Tuhan, jadi penting baginya untuk melakukan semuanya dengan usaha sendiri. Beliau memanggil untanya Qaswa dan unta itu menjadi tunggangan kesukaannya hingga akhir hidupnya.

Perjalanan yang mereka tempuh sangat berbahaya, karena dalam keadaan seperti itu Rasulullah tidak di bawah perlindungan resmi siapa pun. Pemandu membawa mereka melalui rute yang berputar-putar, agar pengejarnya kehilangan jejak. Sementara itu, ummat Muslim di Madinah telah sangat mengharapkan kedatangan mereka. Pada pagi hari tanggal 4 September 622, seorang Yahudi melihat rombongan Nabi dan berteriak kepada kaum Anshar:" Putra-putra Qailah! Dia datang, dia datang! Seketika itu laki-laki, perempuan dan anak-anak, bergegas keluar menjumpai sang pengelana, yang tengah beristirahat di bawah pohon palem.

Sejak saat itu terbentuklah suatu kelompok suku yang tidak terikat oleh hubungan darah, tetapi oleh persamaan ideology, sebuah inovasi mengagumkan dalam masyarakt Arab. Tidak seorangpun dipaksa masuk agama berkitab suci al Qur'an, tetapi orang-orang Islam, para pemuja berhala, dan Yahudi, yang semuanya menjadi anggota dari satu masyarakat tidak bisa menyerang satu sama lain dan berjanji untuk saling melindungi. Berita tentang "suku super" baru yang luar biasa ini segera menyebar, dan walaupun pada permulaannya tidak seorang pun yang berharap akan mempunyai kesempatan untuk bertahan, namun suku baru tersebut membuktikan telah menjadi inspirasi yang akan membawa perdamaian di Arab sebelum wafatnya Nabi pada ahun 632, hanya 10 tahun setelah hijrah.17

 

Ghazwah

 

Al-Quran mulai mengembangkan sebuah teologi perang yang adil: kadang-kadang diperlukan bertempur untuk melestarikan nilai-nilai yang baik. Jika ummat beragama tidak siap menangkis serangan, semua tempat shalat mereka (misalnya) akan hancur. Tuhan akan memberi ummat Muslim kemenangan hanya jika mereka "melaksanakan shalat dan membayar zakat", membuat hukum-hukum yang adil clan terhormat serta menciptakan masyarakat yang sejahtera.

Wahyu ini hanya merujuk pada sahabat-sahabat Muhajirin, yang telah dianiaya oleh orang-orang Quraisy ketika mereka di giring keluar rumah-rumah mereka di Mekah. Para sahabat Anshar tak diberi izin untuk berperan serta dalam peperangan, karena mereka tak punya pertengkaran resmi dengan Mekkah. Dia memiliki rencana penyerangan yang sederhana, yaitu ghazwu atau penyerbuan yang menjadi kesenangan bangsa di Arab dan merupakan cara yang diterima untuk mendapatkan kebutuhan hidup dalam masa sulit. Kaum Muhajirin memiliki peluang kecil untuk mencari nafkah di Madinah. Pada umumnya dulu mereka bekerja di bank, dibagian keuangan dan para pedagang. Mereka tak tahu apa-apa tentang bertani kurrna meskipun di sana disediakan tanah bagi mereka untuk memulai usaha pertaniannya. Mereka tergantung kepada Para sahabat Anshar untuk hidup mereka dan akan menjadi benalu di ummat kecuali mereka segera menemukan sumber pendapatan yang mandiri. Tidak setiap orang dapat melakukan apa yang dilakukan pedagang muda cerdas Abdurrahman begitu tiba di Madinah: dia hanya bertanya dimana letak pasar, Dan dengan cepat menciptakan penghasilan bagi dirinya sendiri berkat jual-beli yang berhasil. Hanya ada sedikit peluang berdagang di Madinah dan Mekkah memiliki monopoli usaha bisnis berskala besar.

Ghazwu merupakan cara keras untuk mengamankan perputaran kekayaan pada masa nomaden. Penyerbu akan menyerbu wilayah suku musuh, menangkapi unta-unta, ternak dan barang-barang mereka, dengan tetap menjaga agar tak terjadi pertumpahan darah yang dapat menimbulkan vendetta (balas dendam). Madinah terletak di tempat yang cocok untuk menyerang karavan orang-orang Mekkah, yang seringkali hanya dijaga oleh beberapa pedagang, dalam perjalanan mereka dari dan ke Syiria. Pada tahun 623 Nabi Muhammad mengirim dua kelompok penyerbu dari kaum Muhajirin untuk menyerang karavan. Dia tidak pergi sendiri pada mulanya, namun memercayakan ekspedisi itu pada Hamzah atau prajurit berpengalaman Ubaidah bin' al Harits. Tak seorangpun di Arab diturunkan derajatnya oleh serangan-serangan ini, meskipun mereka mungkin terkejut bahwa ummat Muslim memiliki keberanian untuk menyerang saudara mereka yang berkuasa.

 

Tragedi Nakhlah

 

Nabi Muhammad mengirim sekelompok penyerbu terdiri atas sembilan orang, yang dipimpin oleh Abdullah bin Jahsy, untuk menyerang salah satu karavan yang menuju selatan. Saat itu akhir bulan suci Rajab (Januari 624), dan semua pertempuran dilarang keras di seluruh Arab. Nabi Muhammad memberi Abdullah perintah tertutup yang tidak boleh dibuka sampai ekspedisi itu berada dalam dua hari perjalanan. Nabi Muhammad membuat Abdullah berjanji untuk tidak memaksa kawan-kawannya. Mereka pergi lebih dekat ke Mekkah dibanding ekspedisi penyerbuan sebelumnya dan hal itu tampak membahayakan.

Abdullah dengan patuh membuka surat perintah itu dua hari kemudian. Sumber-sumber memberikan versi yang berbeda tentang naskah itu. Ibnu Ishaq mengatakan bahwa orang-orang Muslim itu diperintahkan pergi ke Nakhlah, di antara Mekkah dan Thaif, dan hanya mengintai karavan. Namun ahli sejarah abad ke-9, Nabi Muhammad bin Umar al-Waqidi menyatakan, surat itu berbunyi: "Pergilah ke lembah Nakhlah dan lakukan serangan mendadak pada suku Quraisy. Ini berarti bahwa penyerbu Muslim itu akan melanggar bulan suci. Nabi Muhammad mungkin memiliki beberapa alasan tentang ini: bulan-bulan suci ini merupakan bagian dari system penyembahan berhala yang ingin diselesaikannya. Dengan melanggarnya, itu sama dengan merendahkan para dewi kuno. Namun dua dari para penyerbu itu mungkin ingin melepaskan diri dari ekspedisi itu, karena mereka kehilangan untanya pada pemberhentian berikutnya dan menyuruh ketujuh kawannya untuk meninggalkan mereka. Ketika Abdullah dan rombongannya tiba di Nakhlah, mereka menemukan sebuah karavan kecil yang berkemah di dekat sana. Apa yang herus mereka lakukan? Saat itu hari terakhir Rajab namun bila menunggu hingga esok hari, yaitu ketika pertempuran diizinkan lagi, karavan itu tentu telah mencapai daerah yang aman yang dilindungi mekkah. Mereka memutuskan untuk menyerang. Panah pertama mereka menewaskan satu dari tiga pedagang dan yang lain langsung menyerah. Abdullah membawa kedua pedagang clan barang dagangan mereka kembali ke Madinah.18

 

Yahudi Bani Qoinuqa'

 

Pada saat itu ummat tengah menghadapi pengepungan kaum Quraish di luar Madinah. Nabi Muhammad memandang suku Yahudi menjadi sebuah resiko keamanan. Jika bala tentara Mekkah hendak berkemah di selatan Madinah, yang merupakan wilayah dua suku paling berpengaruh, para tentara Yahudi dapat dengan mudah bergabung dengan Quraisy, yang mereka anggap sebagai sekutu. Jika Quraisy menyerang kota dari utara, yang merupakan pilihan terbaik mereka, suku Yahudi dapat menyerang Muslim dari belakang sehingga mereka benar-benar terkepung. Nabi Muhammad menyadari bahwa dia harus menghentikan pertikaian ini. Orang Yahudi yang telah beralih ke Islam memberinya informasi bahwa Bani Qoinuqa', suku terkecil di antara mereka, adalah yang paling keras terhadap ummat. Sebelum hijrah mereka merupakan sekutu Ibnu Ubbay dan setelah perang Badar mereka memutuskan perjanjian mereka dengan Nabi Muhammad dan menghidupkan kembali persekutuan lama untuk membesarkan oposisi dan menyingkirkan Nabi. Wilayah mereka lebih dekat ke pusat "kota" Madinah. Tak seperti dua suku lainnya, mereka bukan petani melainkan pandai besi dan tukang kayu. Segera setelah Badar dan pembelotan Ka"ab ke Mekkah, Nabi Muhammad mengunjungi mereka di wilayah mereka dan mendesak mereka agar menerimanya sebagai nabi demi tradisi agama mereka yang sama. Yahudi suku Qoinuqa' mendengarkan dakam keheningan dan menjawab bahwa mereka tak bermaksud tinggal dalam ummat: "Oh Nabi Muhammad, tampaknya engkau berpikir bahwa kami adalah orang-orangmu. Jangan menipu diri sendiri karena engkau telah berperang di Badar tanpa sedikit pun pengetahuan tentang perang dan memenangkannya; karena demi Tuhan jika kami memerangimu, akan kau lihat bahwa kami adalah laki-laki sejati!" Setelah ancaman ini, Nabi Muhammad menarik diri dan menunggu perkembangan.

Beberapa hari kemudian terjadi sebuah insiden di pasar Qoinuqa'. Salah seorang pandai besi Yahudi mengganggu seorang perempuan Muslim yang tengah berdagang di sana. Dengan diam-diam dia mengaitkan ujung rok bawah perempuan itu di bagian belakang ke bagian atas pakainnya, sehingga ketia berdiri, sebagian tubuh bagian bawah perempuan itu akan terekspos. Perasaan terpendam antara ummat Muslim dan Yahudi Qoinuqa' agaknya sudah begitu memuncak, sehingga ketika salah seorang Anshar melompat ke arah pandai besi itu dengan teriakan kemarahan, langsung terjadi perkelahian mengerikan antara kedua kelompok, menewaskan seorang Muslim dan seorang Yahudi. Dengan demikian jumlah korban seimbang. Nabi Muhammad dipanggil, dalam kapasitasnya sebagai hakim perselisihan, untuk mengembalikan perdamaian. Namun kaum Yahudi menolak arbitrasinya, membuat barikade ke benteng mereka, dan menyeru pada sekutu Arab untuk membantu mereka. Qoinuqa' memiliki sekitar 700 orang siap tempur. Jika sekutu Arab mereka menjawab panggilan itu sambil membawa kekuatan mereka untuk berhadapan dengan Nabi Muhammad, mereka akan sulit dikalahkan. Ibnu Ubbay sangat bersemangat untuk menolong Qoinuqa' dan berkonsultasi dengan sekutu mereka yang lain, Ubadah bin Shamit. Namun Ubadah adalah adalah seorang Muslim yang taat dan dia menunjukkan bahwa persekutuan lamanya dengan ummat Yahudi telah dibatalkan begitu mereka menandatangani perjanjian dengan Nabi Muhammad. Ubnu Ubbay menyadari bahwa dia tak sanggup membantu karena sebagian orang Arab tetap berdiri kukuh di belakang Nabi. Qoinuqa' berharap memimpin pemberontakan melawan Nabi Muhammad dan para sahabat Muhajirin, namun malahan, mereka terkepung oleh suku-suku Arab yang ada di Madinah. Selama dua minggu mereka menunggu Ibnu Ubbay melaksanakan janjinya, namun akhirnya mereka terpaksa menyerah tanpa syarat.

Seketika itu juga Ibnu Ubbay mendatangi Nabi Muhammad dan memohon agar Nabi memperlakukan mereka dengan baik. Ketika Nabi tidak menjawab, Ubbay menarik kerah bajunya. Nabi Muhammad menjadi sangat marah. Ibnu Ubbay tetap pada pendiriannya : bagaimana dia dapat meninggalkan sahabat ­sahabat lamanya, yang telah sering membantunya di masa lalu? dia tahu bahwa Nabi Muhammad berhak, sesuai konvensi Arab, untuk menghabisi seluruh suku, namun Nabi Muhammad membiarkan orang-orang Qainuqa' hidup dengan catatan mereka harus meninggalkan oase. Ibnu Ubbay diminta untuk menemani mereka keluar Madinah. Begitu mereka mengerti bahwa Ibnu Ubbay tak lagi memiliki kekuatan untuk menolong mereka, Qainuqa' siap meninggalkan tempat tinggalnya. Berikut ini ungkapan Karen Amstrong tentang hubungan Nabi dengan kaum Yahudi di Madinah:
 

"Sangat sulit bagi orang Barat menanggapi hubungan Nabi Muhammad dengan kaum Yahudi di Madinah, karena hal ini mengangkat terlalu banyak hal memalukan dari masa lalu kita sendiri. Namun perjuangan Nabi Muhammad menghadapi tiga suku utama Yahudi di oase amat berbeda dengan kebencian rasial dan agama yang menyerang ummat Kristen Eropa selama hampir seribu tahun. Terror irasional yang dirasakan ummat Kristen menemukan ekspresi finalnya dalam perang salib secular Hitler terhadap Yahudi. Nabi Muhammad tak memiliki fantasi dan hal menakutkan itu. Dia tak memiliki kehendak untuk menjadikan Madinah sebagai Judenrein. Perselisihannya dengan Qainuqa' murni politis dan tak pernah diteruskan pada klan-klan kecil Yahudi di Madinah yang tetap setia pada Perjanjian dan hidup bersama kaum Muslim dalam damai".

 

Yahudi Bani Quraidzah

 

Pada bulan Maret 627, orang-orang Mekah dan para sekutu mereka sedang menuju Madinah dengan tentara beranggotakan 10.000 orang. Sedang Rasulullah hanya berhasil mengumpulkan 3.000 orang dari Madinah dan para sekutu Badui. Maka tak mungkin memaksakan diri menghadapi mereka seperti yang pernah dilakukan dalam perang Uhud. Semua kaum Muslim memberikade diri ke dalam "kota" Madinah tak sulit dipertahankan. Kota ini dikelilingi jurang curam dan batu-batuan vulkanis di tiga sisi. Relatif lebih mudah untukmelewati jalan daripada berlari melalui wilayah sulit ini menuju oase. Dari sisi utaralah pertahanan Madinah paling lemah dan Rasulullah menemukan cara untuk hal ini. Setelah mereka berhasil mengumpulkan hasil panen dari wilayah luar kota, sehingga tentara penyerbu tak akan mendapatkan makanan bagi ternak mereka. Kemudian seluruh penduduk ummat membangun parit besar di sekeliling wilayah utara oase. Selama kurang lebih satu bulan, parit tersebut dapat dipertahankan dalam serangkaian huru-hara. Kemudian beberapa orang Badui terbujuk untuk meninggalkan atau mencampakkan kaum Quraisy, dan seluruh pasukan akhirnya mulai putus asa. Kaum Quraisy hanya bisa secara difensif menunggu gerakan-gerakan Muhammad.

Satu suku Yahudi di Madinah yang masih menolak Islam dan kepemimpinan Rasulullah, Banu Quraidzah, yang tetap netral selama masa pertahanan parit, tetapi setelah dibujuk oleh orang Quraisy, mereka mendukung pasukan koalisi tersebut dan memasukkan mereka ke dalam kota. Tetapi kaum Quraisy sendiri mulai kepayahan. Dan sulit untuk mempertahankan pengepungan karena mereka tak memiliki cadangan pangan, 'manusia dan kuda-kuda kelaparan. Semangat mereka mulai patah ketika cuaca tiba-tiba berubah, dan kaum Quraisy  meninggalkan tempat pengepungan. Kemudian Rasulullah  menyerang Banu Quraidzah, tetapi tidak mengizinkan mereka untuk pergi dalam pengasingan seperti Banu Nadlir, dan menyuruh mereka menyerah tanpa sarat. Dalam adat Arab, ketika tawanan-tawanan musuh ditangkap, wanita-wanita dan anak-anak dijadikan hamba, tetapi laki-laki dewasanya dibunuh atau ditahan sebagai tebusan, Karena mereka tidak handal sebagai budak. Kini Rasulullah tidak mengizinkan tebusan dan menyuruh laki-laki, sekitar enam ratus orang, dibunuh.

Mungkin sulit bagi kita untuk tidak menghubungkan kisah ini dengan kekajaman Nazi. Kisah ini memang akhirnya menjauhkan orang banyak dari Nabi Muhammad untuk selamanya. Namun terpelajar Barat seperti Maxime Rodinson dan W Montgomery Watt berpendapat, tidak benar menghakimi kejadian itu dengan standar abad ke-20. ini adalah masyarakat yang amat primitif jauh lebih primitif daripada masyarakat Yahudi dimana Yesus pernah hidup dan menyebarkan gospel ,:pengampunan dan cinta kasih kira-kira 600 tahun sebelumnya. Pada tahap ini bangsa Arab tak memiliki konsep hukum alam Yang universal, yang sulit -mungkin mustahil - bagi orang-orang kecuali ada sedikit tata tertib, seperti yang diberlakukan oleh kerajaan besar di dunia kuno. Pada masa Nabi Muhammad, Madinah mungkin lebih seperti Jerussalem di masa Raja Dawud. Dawud merupakan pembasmi besar musuh-musuh Tuhan, dan pada suatu peristiwa menghabisi 200 kaum Palestina, memotong kemaluan mereka, dan mengirimkan potongan menjijikkan itu ke raja mereka. Banyak Mazmur yang mengisahkan Dawud pada kenyataannya disusun berabad-abad kemudian - sebagian bahkan pada tahun 550 S.M. - namun mereka masih menggambarkan dalam rincian yang mengerikan kejadian­kejadian mencekam yang ingin dilakukan bangsa Israel kepada musuh-musuh mereka. Pada awal abad ke-7, seorang kepala suku Arab tak dapat diharapkan memberikan pengampunan pada pengkhianat seperti Quraizhah.

Ummat Muslim berhasil lolos dari pemusnahan dan emosi masih terasa tinggi. Quraizhah nyaris menghancurkan Madinah. Jika Nabi Muhammad mengizinkan mereka pergi, suatu ketika mereka akan membesarkan posisi Yahudi di Khaibar dan mengorganisisr serangan baru ke Madinah. Lain kali, Muslim mungkin tidak beruntung dan perjuangan berdarah untuk bertahan akan terus terjadi, dengan lebih banyak kematian dan penderitaan. Hukuman mati itu mengesankan para musuh Nabi Muhammad. Tak seorangpun terkejut oleh eksekusi itu, dan kaum Quraizhah sendiri telah menerimanya. Hukuman mati itu mengirim pesan suram bagi kaum Yahudi di Khaibar. Para suku Arab mencatat bahwa Nabi Muhammad tak takut akan pembalasan dendam dari kawan atau sekutu Quraizhah atas kematian dalam pertupahan darah itu. Itu merupakan symbol kekuatan luar biasa Nabi Muhammad yang dicapainya setelah pengepungan. Dia telah menjadi pemimpin kelompok paling berpengaruh di Arab.

Pembantaian Quraizhah ini mengingatkan kondisi gawat Arab selama hidup Nabi Muhammad. Tentu kita merasa benar untuk mengutuknya, namun itu bukan sebuah kejahatan besar seperti bila terjadi di masa sekarang. Nabi Muhammad tidak bekerja dalam kerajaan yang memberlakukan tata tertib secara meluas, atau dengan salah satu tradisi agama yang mapan. Dia tak memiliki sesuatu seperti Sepuluh Perintah Tuhan (meskipun Musa memerintahkan bangsa Israel untuk membantai seluruh populasi Kana'an sesaat setelah dia berkata kepada mereka: "Kalian tidak boleh membunuh."). yang dimiliki Nabi Muhammad hanya moral kesukuan lama, yang membolehkan cara ini untuk mempertahankan kelompok. Masalahnya adalah kenyataan bahwa kemenangan Nabi Muhammad telah menjadikannya pemimpin paling berpengaruh di Arabia. Dia adalah kepala kelompok yang tidak dibentuk berdasarkan kesukuan konvensional. Dia telah melebihi tribalisme (kesukuan) dan berada di tanah tak bertuan antara dua tahap perkembangan social yang penting.

Namun penting dicatat bahwa awal tragis ini tidak secara permanen mewarnai sikap Muslim terhadap Yahudi. Ketika kaum Muslim telah membangun kerajaan mereka sendiri dan perlahan­lahan membangun Hukum Suci yang berisikan etika yang lebih canggih dan lebih manusiawi, mereka akan membangun suatu system toleransi yang telah lama berlaku di bagian-bagian beradab di Timur Tengah. Di bagian Oikumene, berbagai kelompok agama telah hidup berdampingan. Anti-Semit merupakan perbuatan Kristenitas Barat, bukan Islam. Kita harus ingat itu jika kita tergoda untuk melakukan generalisasi tentang insiden mengerikan di Madinah ini. Bahkan pada masa Nabi Muhammad sendiri, beberapa kelompok Yahudi kecil tetap tinggal di Madinah setelah tahun 627 dan diizinkan hidup dengan damai tanpa balas dendam lebih jauh. Tampak bahwa bagian kedua dari Perjanjian Madinah, yang berhubungan denga populasi Yahudi di pemukiman, disusun setelah masa ini. Di kerajaan Islam, ummat Yahudi dan Kristen mendapatkan kebebasan beragama. Kaum Yahudi tinggal di sana dalam damai sampai terbentuknya Negara Israel pada abad kita sekarang. Kaum Yahudi di kerajaan Islam tidak mengalami penderitaan Seperti kaum Yahudi di kerajaan Kristen. Mitos anti-Semit di Eropa diperkenalkan ke Timur Tengah pada akhir abad yang lalu oleh para misionaris Kristen dan biasanya dicemooh oleh masyarakat setempat.

Di Barat, Nabi Muhammad sering ditampilkan sebagai panglima perang, yang mendesakkan Islam kepada dunia yang enggan menerimanya dengan kekuatan militer. Namun kenyataannya sungguh berbeda. Nabi Muhammad berperang untuk mempertahankan nyawanya, sambil mengembangkan sebuah teologi peperangan demi keadilan menurut Al Quran, dan tidak pernah memaksa siapa pun untuk berpindah ke agamanya. Al Quran pun dengan tegas menyatakan bahwa "tak ada paksaan dalam beragama." Di dalam Al Quran perang dipandang sebagai sesuatu yang mesti dijauhi: satu-satunya perang yang diizinkan adalah perang untuk mempertahankan diri. Kadangkala perang diperlukan untuk menegakkan nilai­nilai yang pantas, sebagaimana orang Kristen meyakini tentang perlunya perang melawan Hitler.

Al Quran mengajarkan bahwa perang selalu buruk sekali. Kaum Muslim dilarang memulai kekerasan, karena satu-satunya perang yang dibolehkan adalah berperang karena membela diri. Namun sekali mereka berada dalam perang, kaum Muslim harus bertempur dengan komitmen mutlak agar perang berakhir sesegera mungkin. Jika musuh telah mengajukan gencatan senjata atau menunjukkan arah ke perdamaian, muslim diperintahkan oleh al-Quran untuk mengakhiri kekerasannya segera, sejauh syarat-syarat perdamaiannya tidak melanggar moral dan kehormatan. Namun al Quran juga berempati dengan menganggap tugas sakral untuk membawa konflik bersenjata ke penyelesaian secepatnya dan menghadapi musuh dengan gagah. Segala tindakan ragu-ragu yang dapat membuat konfliknya berlarut-larut tanpa batas waktu jelas harus dihindari.

Tujuan setiap perang haruslah untuk mengembalikan perdamaian dan harmoni secepat mungkin. Mungkin berdiri bulu roma kita melihat pemandangan mengerikan di pasar Madinah di bulan Mei 627 itu. Namun ada pembelaan bahwa itu, secara murni politis, adalah keputusan tepat. Kejadian itu merupakah akhir kekejaman sejenis, menandai permulaan dari akhir fase terburuk jihad. Nabi Muhammad telah mengalahkan salah satu tentara Arab terbesar yang pernah dipersatukan melawan musuh tunggal di Perang parit. Beliau telah menggagalkan oposisi dari tiga suku Yahudi paling berpengaruh dan menunjukkan bahwa beliau tak akan membiarkan pengkhianatan lebih lanjut atau perencanaan melawan ummat. Beliau telah membuktikan bahwa beliau kini adalah manusia paling berpengaruh di Arabia, yang telah membawa dengan cepat akhir yang pasti dari konflik berdarah yang dapat berlanjut bertahun-tahun.

 

Fathu Makkah

 

Di dalam perjanjian Hudaibiya antara lain sudah menentukan, bahwa barang siapa yang ingin masuk ke dalam persekutuan dengan Nabi Muhammad boleh saja, dan barangsiapa ingin masuk ke dalam persekutuan dengan pihak Quraisy juga boleh. Ketika itu Khuza'a masuk bersekutu dengan konfederasi Nabi Muhammad sedang Banu Bakr dengan pihak Quraisy Sebenarnya antara Khuza'a dengan Banu Bakr ini sudah lama timbul permusuhan yang baru reda setelah ada perjanjian Hudaibiya, masing-masing kabilah menggabungkan diri dengan pihak yang mengadakan perdamaian itu.

Pada akhir tahun, orang Mekkah melanggar perjanjian dengan menyerang Banu Khuza'a pada malam hari di wilayah mereka sendiri dalam serangan mendadak. Tampaknya sebagian orang Quraisy membantu dan bersekongkol dengan mereka dalam serangan ini. Mereka memberi senjata pada Bakr dan konon Shafwan bahkan ikut ambil bagian dalam pertempuran. Khuza'ah langsung membalas dendam dan terjadi pertempuran antara dua suku ini diwilayah suci Mekkah, sehingga Khuza'ah memohon bantuan pada Nabi Muhammad dan dia setuju datang membantu. Jadi bukan Nabi Muhammad yang telah melanggar perjanjian tersebut sebagaimana yang dituduhkan oleh Dr. Robert Morey.19

Inilah titik balik selanjutnya, Nabi Muhammad berparade ke Mekkah dengan pasukan berkekuatan 10.000 orang. Berhadapan dengan kekuatan sangat besar tersebut, sebagai seorang pragmatis dan menyadari apa yang akan terjadi, suku Quraisy mengaku kalah, membuka pintu gerbang kota, dan Nabi Muhammad mengambil alih Mekkah tanpa setetes darah pun yang tumpah. Dia menghancurkan patung-patung di seputar Ka'bah, mempersembahkan tempat itu hanya untuk Allah, Tuhan Yang Esa, dan mengubur upacara pemujaan berhala dan menggantinya dengan ibadah haji sesuai ajaran Islam. Tidak ada seorang pun suku Quraisy yang dipaksa masuk Islam. Ketika Nabi Muhammad wafat pada tahun 632, hampir semua suku Arab telah bergabung dengan umat Islam dalam konfederasi atau telah masuk Islam. Karena anggota umat tidak boleh saling menyerang, maka lingkaran mengerikan dari perang suku, dan saling balas dendam telah berakhir. Seorang diri Nabi Muhammad telah membawa perdamaian di Arab yang terpecah­belah oleh perang.

Kehidupan dan jasa Nabi Muhammad akan mempengaruhi pandangan spiritual, politik, dan etika umat Islam untuk selamanya. Mereka mengekspresikan pengalaman "keselamatan" Islam, yang tidak akan tercapai dengan penebusan "dosa bawaan" yang dilakukan Adam dan hak memasuki kehidupan abadi, tetapi akan tercapai dengan prestasi masyarakat dalam melaksanakan perintah Tuhan. Ini tidak hanya menyelamatkan umat Islam dari neraka politik dan social yang ada di Arab pra ­Islam, tetapi juga memberi mereka konteks yang membuat mereka lebih mudah berserah diri sepenuh hati kepada Tuhan. Nabi Muhammad menjadi contoh mendasar dari penyerahan diri yang sempurnya kepada Tuhan, dan Muslim berusaha menyesuaikan kehidupan social dan spiritual mereka dengan standar tersebut. Nabi Muhammad tidak pernah dimuliakan sebagai figur Tuhan, tetapi dia dianggap sebagai Manusia Sempurna. Penyerahan dirinya kepada Tuhan sangat menyeluruh sehingga dia bisa mengubah masyarakat dan memungkinkan bangsa Arab hidup berdampingan dengan damai. Dalam etimologi, kata Islam berhubungan dengan salam (perdamaian), dan Islam memang menawarkan kesatuan dan kerukunan.

 

Nabi dan Harta

 

Suatu hari, orang Quraisy memutuskan untuk mencoba sebuah cara baru dan mengirimkan Utbah bin Rabi'ah dari klan Abdi Syams untuk melakukan kesepakatan dengan Nabi Muhammad: kalau dia berjanji untuk diam, mereka akan memberinya apa saja yang dia inginkan: uang, jabatan -bahkan kemungkinan menjadi raja. Jika ini benar, ini tanda keputusasaan mereka: uang hampir merupakan nilai suci bagi kebanyakan orang Quraisy dan mereka telah membangun ketidaksukaan pada otoritas utama dan lembaga semacam raja. Nabi Muhammad menunggu sampai Utbah selesai berbicara, kemudian dia berkata: "sekarang, dengarkan aku." Utbah duduk, tangannya dibelakang punggung, dan badannya condong ke depan, mendengarkan dengan seksama ketika Nabi Muhammad mulai mengutip Surat 41, yang menggambarkan tentang pembatas yang diletakkan oleh sebagian kaum Quraisy di hati mereka untuk mencegah masuknya pesan Ilahi ke dalam jiwa mereka. Setelah dia kembali pada teman-temannya di Majelis, mereka seketika melihat bahwa dia telah mengalami suatu pengalaman yang sangat mempengaruhinya. Utbah kesulitan untuk menjelaskan apa yang terjadi padanya, ketika dia mendengarkan keindahan wahyu. Dia hanya dapat mengatakan hal-hal yang tidak seperti kelihatannya. Akhirnya Utbah mengingatkan orang Quraisy: "Terimalah nasihatku dan lakukan apa yang kulakukan, dan jangan ganggu pria ini, karena, demi Tuhan, wahyu yang baru kudengarkan akan menyebar ke luar negeri."20

Apabila benar memang Rasulullah tamak akan harta sebagaimana yang dituduhkan Dr. Robert Morey21 maka tidak perlu beliau bersusah payah dikejar-kejar orang kafir Quraisy sehingga hijrah ke luar Mekkah. Karena beliau adalah seorang pedagang yang secara materi telah tercukupi, dan dari penawaran Utbah di atas tidak perlu nabi bersusah payah membacakan ayat suci al Quran bila memang beliau tamak akan harta.

 

 

NOTES
 

12. Munawar Cholil, hal 58 juz II

13. Ibnu Ishak, dalam Karen Amstrong, Muhammad sang Nabi, hal 186.

14. Karen Amstrong, Ibid., hal 190

15. Karen Amstrong, Ibid., hal 194

16. Munawar Cholil, sejarah nabi, hal 109

17. Karen Amstrong, a short History, hal 17

18. Karen Amstrong, Muhammad sang Nabi, Op. cit., hal 240­

241

19. Robert Morey, op. cit., hal : 92

20. Karen Amstrong, Muhammad sang Nabi, Op. cit., hal 166

21. Robert Morey, hal 93


 

BACK

UP

NEXT

.