SAMBUTAN
 

Prof. DR. Din Syamsuddin
Sekjen Majelis Ulama
Indonesia (MUI)

 

Saya menyambut gembira terbitnya buku "ISLAM DIHUJAT" karangan Ibu Hj. Irena Handono, Masruchin Yusufi, dan Zainul Muttaqin, jawaban terhadap buku "The Islamic invasion" karya Robert Morey.
 

Tanggapan terhadap berbagai buku yang menghujat Islam, baik yang ditulis oleh para orientalis maupun penulis-penulis fundamentalis keagamaan, sangat penting dan perlu karena kalau buku-buku semacam itu dibiarkan beredar akan merusak citra Islam dan dapat mengganggu kerukunan hidup antar umat beragama.
 

Memang sudah lama sekali para orientalis sebagian dari mereka tidak dapat diingkari memiliki sentimen Islamophobia dan motif untuk mendiskriditkan Islam, menulis buku-buku yang isinya mengkritik Nabi Muhammad, wahyu al Qur'an dan Islam itu sendiri. Mereka mengajukan argumen-argumen artificial yang terkesan akademik, tapi tidak cukup kuat untuk meruntuhkan fakta Islam sebagai agama terakhir yang membawa kebenaran hakiki. Terbukti Islam dapat bertahan dan pemeluk Islam semakin bertambah termasuk di Eropa dan Australia.
 

Sebagai orientalis yang kebetulan juga missionaries itu, ada yang mendiskriditkan Islam secara berlebihan, seperti buku The Islamic Invasion karya Robert Morey yang berusaha menjungkir balikkan ajaran-ajaran Islam. Sayangnya buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dan dijadikan sebagai referensi di kalangan kaum Kristiani. Hal ini tentu akan menyebabkan kesalahpahaman terhadap Islam dan bibit-bibit pertentangan antara umat Islam dan kaum Kristiani.
 

Dalam kaitan ini, terbitnya buku tanggapan sangat penting, apalagi dinilai oleh seorang kristolog yang pernah menjadi seorang biarawati. Tentu akan dapat menjelaskan hal yang sebenarnya, termasuk apa dan bagaimana persepsi negatif kaum Kristiani terhadap Islam.
 

Jelas buku ini sangat bermanfaat bagi umat Islam dan masyarakat luas yang ingin mengetahui Islam yang sebenarnya.

 

Jakarta, 7 Nopember 2003.


 

Prof. DR. Nabilah Lubis

Ketua Umum al Majlis al Alami Lil Alimat al Muslimat Indonesia (MAAI)
Majelis Ilmuwan Muslimat se Dunia cobang Indonesia

 


 

Sejak dahulu, Islam sebagai agama kebenaran dan agama terakhir senantiasa menghadapi serbuan yang tajam dari para musuhnya. Perang salib di abad pertengahan bertujuan untuk menghabiskan dinasti Islam, yang berujung pada awal abad ke 20 dengan keberhasilan mendirikan kekuasaan dalam negara Palestina. Dengan kelemahan yang terjadi di tubuh umat Islam pada periode ini, bangsa Salibi tidak tinggal diam. Dua abad kemudian, mereka melalui para ilmuwannya mulai belajar tentang Islam, seperti akhlak, sifat, sumber kekuatan, sumber kelemahan umat Islam, dan sebagainya. Mereka adakan berbagai diskusi, dan konferensi, untuk menyusun strategi pengkhianatan, dan hasil dari itu diutarakan kepada orang-orang salibi yang membenci Islam. Mereka mulai merencanakan untuk menghancurkan Islam, mengacaukan ajaran - ajarannya, sejarahnya dan tempat - tempat peribadatan. Mereka bentuk segi tiga untuk perpanjangan tangan untuk menghancurkan Islam.
 

Tangan pertama; melalui penjajahan yang bertujuan menghancurkan institusi dan masyarakat Islam di mana pun  berada. Mereka memecah belah negara tersebut menjadi beberapa negara kecil sehingga tidak memiliki kekuatan. Tangan kedua; adalah misionaris dan kristenisasi yang disebarkan di kalangan umat Islam. Mereka memasuki semua lapisan masyarakan dan instansi, mulai dari para pemuda dan pemudi, orang-orang miskin, rumah sakit dan lain sebagainya. Mereka melakukan itu dengan alasan kemanusiaan, seperti mengobati orang sakit, memberi makan fakir-miskin, dan memelihara anak-anak yatim.
 

Tangan ketiga; membentuk para ahli (orientalis) yang mempelajari, mendalami dan menguasai ilmu - ilmu keislaman seperti sejarah Islam, Syariah, Fiqih, Hadits, bahasa Arab dan lain - lain. Setelah itu mereka berusaha memberikan gambaran yang jelek dan tidak benar tentang Islam. Walaupun tidak dipungkiri adanya beberapa orientalis yang bersifat objektif dalam memberikan gambaran tentang Islam, bahkan ada juga diantara mereka yang masuk Islam.
 

Buku The Islamic Invasion ini yang ditulis oleh Robert Morey, adalah termasuk mata rantai kejahatan yang berupaya mengacaukan umat Islam dengan memutarbalikkan fakta dalam Islam, yaitu tentang al - Qur'an dan sosok pribadi Rasulullah saw. Buku ini disebarluaskan (konon katanya untuk kalangan sendiri), dan penuh dengan informasi yang keliru dan merusak gambaran yang sebenarnya tentang Islam. Namun ternyata buku ini sudah tersebar luas, dan banyak orang Islam yang sudah membacanya. Akibatnya, aqidah mereka menjadi rusak. Ini salah satu upaya untuk memudahkan tugas misionaris dan gerakan kristenisasi di seluruh dunia, yaitu dengan merusak dan melemahkan aqidah.
 

Tulisan para orientalis dengan cara memutarbalikkan fakta sangat menyakiti hati umat Islam. Sebagai contoh, ahli sejarah bernama Rafl Linton, yang menulis           buku berjudul  dan dia juga sebagai dosen di Universitas  Yeel, bercerita tentang masa kecil Nabi Muhammad saw.: "Masa kecilnya susah. Karena anak yatim, biasanya pergi untuk tinggal bersama kerabat, dan orang - orang yang menyusui berganti - ganti".
 

Menurut Ralf, Muhammad saw. di masa kecilnya tak punya tempat tinggal tetap, berganti - ganti menumpang. Tentu saja orang yang waras dan membaca sejarah, akan mengetahui kebohongan ini.
 

Tentang pernikahannya saw. dengan Siti Khadijah, dikatakan: `Janda cerai yang men gurusi rumah dagang". Rumah dagang yang dimaksudkan adalah rumah prostitusi.

 

Ahli sejarah Wels, dari Inggris menulis dalam bukunya  "Keluarga Khadijah marah dan tidak senang dengan pernikahannya dengan Nabi saw". ini sangat berlawanan dengan fakta sejarah. Lebih jauh lagi Wels meragukan usia Sid Khadijah ketika menikah. Dia berkata: "Tidak pasti bahwa isterinya lebih tua dari padanya, meskipun kelihatan banyak sumber menyebutkan bahwa usianya 40 tahun".
 

Tentang sumber agama Islam, wahyu, dikatakan oleh orientalis Henry Masinyah: "Wahyu adalah akibat banyaknya berpuasa, badan lemah, yang mengakibatkan mimpi". Dia juga berkata bahwa: "Tidak diragukan bahwa al - Qur'an bukan semua hasil dari kondisi jiwa, kemungkinan bahwa bagian yang lebih awal mengalami perubahan". Dia melanjutkan: "Tidak diragukan bahwa al - Qur'an adalah refleksi tidak langsung dari pengaruh mazhab - mazhab yang berasal dari agama Yahudi atau Nashrani. Mazhab - mazhab itu cukup banyak pada waktu itu di jazirapat pendahulunya bahwa: "Harus diakui bahwa musuh Muhammad di pihak yang benar ketika menyatakan dia adalah peramal atau penyair"
 


 

 

Para orientalis hanya menguasai bahasa Arab, tetapi tidak melihat dengan objektif. Mereka umumnya sudah mempunyai ide, kemudian mereka berusaha untuk membuktikannya. Ketika terbukti, tidak diperdulikan kebenarannya, melainkan yang penting pendapat pribadinya.
 

Mereka umumnya mengambil kesimpulan (insdnbat) dari suatu kejadian dan digeneralisasikan. Upaya mereka dalam merusak citra Islam dan sejarahnya terus berlanjut. Coba simak komentar Dr. Mustafa al-Siba'I (alm), bahwa ia mendengar sendiri dari seorang orientalis Inggeris bernama Anderson, bahwa ia (Anderson) tidak meluluskan seorang mahasiswa asal Al-Azhar dalam ujian promosi untuk meraih titel Doktor, disebabkan mahasiswa tersebut menulis tentang Islam dengan bagus. Sementara Anderson mengharapkan tulisan itu dapat memberikan gambaran tentang Islam dengan tidak sesungguhnya.
 

Mereka juga mengagungkan tokoh-tokoh orientalis terdahulu. Mereka menolak jika dikritik seseorang, dan tidak membolehkan bila ada peneliti yang mau mengungkapkan kesalahan mereka.
 

Dr. Amin dari Mesir, ingin menulis tesis tentang kritik karya Shakht dalam "sejarah Fiqh Islam". la meminta orientalis Anderson untuk menjadi promotor. Tetapi Anderson menolak keras. Kemudian Amin pindah ke Universitas Cambridge, namun mereka juga menolak sambil memberi nasihat: "Kalau mau lulus, jangan coba mengkeritik Shakht!". Akhirnya Amin memilih judul lain. Mereka ingin agar karya Shakht tetap sebagaimana adanya, dan karyanya menjadi sumber rujukan yang mapan.
 

Contoh yang paling kuat adalah ditemukannya 350 titik kesalahan dalam terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Prancis Oleh Prof DR Zainab Abdul Aziz, yang beredar luas di Prancis, negara-negara Arab dan Afrika. Terjemahan ini adalah karya seorang orientalis yang bernama Jacques Berque yang sangat akrab dengan ulama Mesir dan ia juga salah seorang anggota dewan bahasa Arab. Prof DR Zainab Abdul Aziz, seorang ahli sastra dan peradaban Prancis dari Universitas Fayum, Mesir terkejut menemukan kesalahan terjemahan Jacques Berque itu. Di antara contoh dari kesalahan tersebut adalah Berque menterjemahkan kata "Rahman" dan "Rahim" dengan kata rahim wanita yang menunjukkan kasih sayang dan cinta. Setelah diperiksa oleh pihakAl-Azhar dan pihakAl-Azhar membentuk panitia khusus untuk meneliti kebenaran penyimpangan tersebut dan meminta kepada DR. Zaenab untuk menterjemahkan al - Qur'an dalam bahasa Prancis dengan lebih teliti dan tepat. Alhamdulillah terjemah ini selesai dan dicetak di Libya 2 tahun lalu.
 

Begitu pula halnya dengan karya Robert Morey, yang memberi gambaran salah tentang Islam. Mereka akan terus mempertahankannya.

 

Sekarang, apa yang harus kita lakukan?

 

Umat Islam di Indonesia masih beruntung memiliki seorang intelektual wanita seperti Ibu Hj. Irena Handono yang mempelajari dan menguasai aqidah Nashrani, dan karena keraguannya terhadap aqidah tersebut. la pun mendapatkan petunjuk dan hidayah dari Allah dan kemudian masuk Islam. Ibu Hj. Irena Handono mengetahui kesesatan yang terdapat dalam ajaran Kristen dan berbagai usaha yang dilakukan oleh mereka terhadap umat Islam agar menjadi murtad. Untuk usaha dakwah bil hal, bil hikmah, dan juga dengan penyantunan dapat diberikan kepada ummat. Tetapi, apakah itu cukup?; tentu saja tidak cukup.
 

Menangkis tuduhan Robert Morey adalah salah satu usaha agar informasi yang keliru dan sangat merugikan umat Islam dapat diluruskan. Namun ada beberapa hal yang lebih penting sebagai bahan perhatian bagi para cendikiawan muslim dimana pun berada:

  1. Memberikan jawaban atas tulisan orientalis yang keliru, dan berusaha mengungkapkan kekeliruan dan kesalahan yang ada. Usaha ini dapat dilakukan oleh para pakar muslim yang ikhlas dan amanah, didukung oleh suatu lembaga atau institusi ilmiah.
     

  2. Agar parap akar dapat menulis dan menunjukkan sisi sejarah secara detail dan ilmiah agar generasi sekarang dan generasi yang akan datang dapat mengetahuinya dengan mudah, mendalam dan objektif.
     

  3. Sebaiknya kerika menulis sejarah Islam, lebih ditekankan kepada sisi praktek (amaliah) Islam, menampilkan ibrahnya, keindahan dan kebenarannya, yang patut menjadi teladan dan juga tidak lupa untuk mengangkat lembaran hitam yang pernah terjadi agar mereka dapat mengetahui sunnatullah yang berlaku.
     

  4. Kita harus waspada terhadap pengaruh orientalis di sekolah, universitas dan berbagai kurikulum pendidikan serta media informasi lainnya. Selanjutnya kita harus mampu memberikan gambaran yang benar tentang kurikulum yang islami dan meluruskan informasi tersebut.
     

  5. Kita harus memberikan hal dan porsi yang pantas kepada peninggalan dan budaya kita, di sekolah dan perguruan tinggi, serta menambahkan waktu untuk pelajaran agama dan penambahan aqidah agar menjadi benteng bagi anak - anak dan remaja dalam menangkis segala usaha yang merongrong aqidah.
     

  6. Perlu kita ketahui metode orientalis yang selalu berubah dari zaman ke zaman dalam menyampaikan misinya. Metode mereka yang baru adalah mengadakan konferensi dengan mengatasnamakan Islam dan Kristen atau Islam dan Barat.

 

Alangkah banyaknya seminar yang mengundang para pembicara ahli tentang Islam clan pakar kristologi agar umat Islam dan umat Nashrani dapat bertemu dalam suatu titik tengah! ! ! .

 

Apakah ada pertemuan antara aqidah tauhid dan aqidah Salib, dan bahwa Isa adalah tuhan atau anak tuhan atau satu dari ketiga (Trinitas)?

 

Ketika kaum Nashrani datang ke Madinah, Rasulullah membacakan sebuah ayat al - Qur'an:

 


Artinya:
 

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, rnarilah (berpegang) kepada satu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutuan Dia dengan sesuatupun dan tidak (Pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah" (QS. : Ali Imran 64 )

 

Sesungguhnya mereka mengetahui hakikat Islam sebagimana mereka mengenali anak - anak mereka. Namun tujuan mereka adalah tipu daya dan makar. Mereka ingin menarik sebanyak - banyaknya orang - orang Islam ke jalan mereka. Maka kita harus waspada!.

 

Buku ini akan bermakna apabila dibuat dalam edisi berbahasa Inggris sebagai usaha dakwah dan pembelaan terhadap Islam, Nabi saw., serta meluruskan sejarah Islam.

 

 

Walhamdulillahi Rabbil'alamin

Jakarta, Oktober 2003



 

Husain Umar

Sekjen Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia

"Ibu Hj. lrena Handono, Semoga Selalu Istiqomah ...!"
 

Kehadiran ibu Irena ditengah-tengah gerakan da'wah adalah sesuatu yang patut disyukuri. Mantan Ketua Legio Maria dan Biarawati ini mengucapkan dua kalimah syahadah pada tahun 1983, dua puluh tahun yang lalu. Melihat latar belakang pendidikan ibu Irena antara lain mengecap pendidikan di Institut Filsafat Theologia Katholik (Seminari agung) dan Universitas Khatolik Atmajaya, menggambarkan betapa kedekatan. Beliau dengan agama Nasrarri (Katholik) yang dipeluknya. Namun dalam hal ini berlakulah kehendak Allah dalam sepotong firmanNya: "maka barang siapa yang dikehendaki Allah untuk diberiNya hidayah, Allah lapangkan dadanya urrtuk menerima Islam....... !"Menyatakan ke-iman-an kepada Allah, Qul amantu billah tsummastqim!
 

Dimana-mana kita menyaksikan perkembangan dan pertumbuhan pemeluk Islam bahkan yang sangat pesat perkembangan di Amerika Serikat dan di Inggris, yang mengucapkan dua kalimah syahadah adalah kalangan intelektual, cendekiawan, kalangan terdidik dan mapan secara ekonomi. Sebaliknya diantara ummat Islam yang berhasi dibujuk dan dimurtadkan (berdasarkan pengalaman dilapangan) adalah saudara-saudara kita yang miskin. Miskin ilmu, miskin pangan, miskin papan, miskin aqidah. Kemiskinan mereka dieksploitasi dan akal sehat mereka dirusak oleh indoktrinitas dan paradigma yang menyesatkan. Semua ini diakibatkan oleh tidak dihormatinya etika penyiaran agama.
 

Umat Islam menginginkan agar etika (kode etik) penyiaran agama dihormati SK dan SKB yang ada dapat ditingkatkan kedudukannya. Bahkan sebagaimana diharapkan oleh MUI, Ormas-Ormas Islam, sudah sangat mendesak perlunya Undang-Undang Kerukunan Hidup Umat Beragama. Namun sejauh ini pihak Nasrani cenderung menolak.
 

Sebaliknya marilah kita renungkan seorang tokoh Protestan dari negeri Belanda Dr. H. Berkhof dalam bukunya : "Sejarah Gereja", cetakan ke 8 hal 321 memandang Indonesia sebagai medan kegiatan Misionaris (Kristenisasi). "Boleh kita simpulkan bahwa Indonesia adalah suatu daerah penyebaran Injil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas penaburan bibit Firman Tuhan. Jumlah orang Kristen Protestan sudah 13 Juta lebih, akan tetapi jangan kita lupa.... ditengah-tengah 150 juta penduduk !. jadi tugas Zending gereja-gereja muda di benua ini masih luas dan berat. Bukan saja sisa kaum kafir yang tidak seberapa banyak itu, yang perlu mendengar kabar kesukaan, tetapi juga kaum Muslimin yang besar, yang merupakan benteng agama yang sukar sekali dikalahkan oleh pahlawan-pahlawan Injil. Apalagi bukan saja rakyat jelata, lapisan bawah, yang harus ditaklukkan untuk Kristus, tetapi juga dan terutama para Pemimpin masyarakat, kaum cendekiawan, golongan atas dan tengah.
 

Selanjurnya, Paus di Vatikan sebagaimanaa di muat oleh surat kabar Singapura " The Strait Times", 24 Januari 1991 mengeluarkan Fatwa Gerejani atau Redentori Missio atau The Churchs Missionary Mandate, menegaskan pentingnya melakukan kristenisasi terhadap semua bagian dunia (to evangelise in all parts of the world). Termasuk negeri-negeri dimana hukum Islam melarang perpindahan agama. Paus menekankan agar negeri-negeri Islam demikian juga negara­ negara lainnya, segera mencabut peraturan-peraturan yang melarang orang-orang Islam memeluk agama lain. Tanpa menyebut negara-negara secara langsung. Paus menyinggung negara-negara dikawasan Timur Tengah, Afrika dan Asia dimana para missionaries ditolak kehadirannya. Kepada mereka Paus menyerukan: "Bukalah pintu untuk Kristus...!" (open the doors to Crist...!)
 

Bagi seorang muslim tidak ada harta yang lebih mahal yang hendak diwariskan bagi anak cucu keturunannya, melebihi Aqidah Islam.
 

Karena itu da'wah tidak pernah berhenti dari masa ke masa. Tugas kita hanya meneruskan jejak da'wah, jejak Rasulullah, para sahabat, tabi'in dan seterusnya, menyampaikan Risalah Allah. Kita bersama-sama berusaha meninggalkan jejak­jejak itu bagi generasi penerus. Salah seorang yang sedang menelusuri jejak-jejak da'wah itu adalah Ibu Irena Handono.

Semoga senantiasa Istiqomah. Amien


 

BACK

UP

NEXT

.