IV. SYARI'AT ISLAM
Kalian tiada berarti sebelum

menjalankan Taurat dan Injil...
 

TAK TERPISAHKAN

 

Sekulerisme?

 

Sebagaimana yang telah kita singgung dalam pendahuluan, bahwa ibadah vertikal dan horizontal tidak dapat terpisahkan, seperti halnya ruh dan tubuh yang akan hidup jika bersatu. Itulah sebabnya ajaran para nabi tidak pernah terlepas dari pembersihan manusia secara jasadi dan ruhani, sebab pemisahan keduanya menjadikan tatanan sosial rusak, ibarat tubuh yang sudah mati ditinggal ruhnya.

Dari awal mulanya Islam merupakan suatu komunitas beragama dan juga suatu pemerintahan, maka wajar saja bila hal seperti ini masih dianggap sebagai kondisi ideal oleh umat Islam. Namun demikian, hal itu tidak berati bahwa orang tak dapat menjadi Muslim, kecuali di negara Islam. Selama berabad­abad, umat Islam adalah pedagang dan telah menjelajahi negara­negara non-Muslim bahkan singgah di sana; namun mereka toh tetap Muslim juga. Maka hal inilah yang mendasari umat Muslim yang.hidup dimana saja termasuk di Amerika, mengapa begitu sulit untuk mengubah dirinya menjadi penganut agama lain. Dalam hal ini Dr. Robert Morey memandang bahwa segenap aspek kehidupan umat Muslim telah terdikte oleh Islam.44 Memang benar bila dikatakan:

"bagi umat Muslim tidak ada ruang "sekuler" yang memberi kebebasan bagi muslim diluar ikatan agama Islam. Bagi umat Muslim yang taat, Islam adalah kehidupannya."

Privatisasi kesalehan beragama adalah langkah pertama menuju kemusnahannya. Modernitas Barat sebagai ideologi kemajuan menyajikan agama sebagai sebuah tempat terakhir yang membutuhkan sekularisasi. Yang dialami umat manusia sejak saat itu adalah tidak adanya teladan dalam sejarah manusia. Barat menjadi satu-satunya peradaban, hingga sekarang, yang mempercayai kemampuannya untuk berhasil tanpa hal yang berbau kerohaniahan, wahyu, terutama Tuhan, dengan berperilaku yang benar-benar materialistis, kendati banyak yang tidak mengakui ateisme secara terbuka.45

Dalam bukunya Dr. Robert Morey selalu menggambarkan bahwa

Agama Islam adalah bentuk dari imperialisme budaya di mana agama dan budaya Arab abad ke-7 ditingkatkan statusnya menjadi hukum ilahi.46

 Dimana ekspresi politisnya, urusan keluarganya, hukum tata boganya, busananya, ritus agamanya, bahasanya dan lain-lain harus diterapkan di atas semua budaya lain yang ada di dunia.47 Hal tersebut dibandingkan dengan budaya Barat yang sekuler dengan memisahkan antara gereja dan negara, pada intinya organisasi keagamaan tidaklah diperlakukan sebagai penguasa yang 'mengatur semua sendi-sendi kehidupan duniawi. Bahkan sebaliknya, terdapat banyak segi-segi kehidupan sekuler di mana agama tidak mempunyai wewenang sama sekali. Meskipun dia menganggap keliru imperialisme budaya, tetapi ia terus berpropaganda agar umat Muslim mengubah dirinya menjadi Penganut agama lain, dengan alasan superioritas budaya barat  yang dilandaskan kekristenan.48

Fenomena ini sulit sekali untuk dinalar, bahkan terkesan menunjukkan arogansi yang sangat tinggi, dengan mengunggulkan konsep modernitas. Perjalanan sejarah Barat

Sebenarnya tidak membawa kepada "supra budaya" sebagaimana Yang dinyatakan oleh Dr. Robert Morey, melainkan menyebabkan tragedi kemanusiaan pada skala yang sangat besar: Proletarianisasi seluruh wilayah, buruh anak-anak, perbudakan, dan apartheid, dua perang dunia yang keji, penggunaan senjata kimia dan nuklir, dan penghancuran sistematis kaum petani dan Yahudi, Roma dan Sinti, homoseksual dan orang cacat mental, dengan menggunakan metode pemusnahan industri di bawah kekuasaan Nazi. Selain itu, ada terorisme negara Bolshevis, sauvinisme Fasis, dan masih ada "pembersihan etnis" di Eropa Timur: Kroasia, Bosnia, Serbia, dan Chechnya.49

Lebih jelasnya lagi mari kita simak pernyataan Dr. Houfman efek dari sekuleritas yang terjadi di Barat::

 

"Sementara itu, 47% dari seluruh orang Jerman menyatakan dirinya tidak beragama, 9% di antaranya adalah ateis yang sangat kukuh (18% di Jerman Timur). Pada saat yang sama, hanya 9% dari mereka yang beragama pergi kegereja secara rutin. Ini tidak mengejutkan, karena dewasa ini lebih banyak orang Jerman Protestan (32%) percaya dengan "kuasa tinggi" yang gaib ketimbang Tuhan personal Kristen seperti yang diajarkan oleh gereja mereka (31%). Sebagai akibatnya, mereka tanpa sadar lari dari Tuhan Semit yang berlandaskan wahyu, personal, dan transcendental, dan memuja -tanpa sadar juga- konsep Tuhan yang esa-panteistis dan filosofis seperti yang diprakarsai oleh para pemikir pra-Kristen di zaman Yunani kuno.

Eksodus massal dari gereja di seluruh dunia - gereja Katolik di Jerman kehilangan 124.000 anggota pada tahun 1977 saja - merupakan konsekwensi logis dari perkembangan ini. Kejadian ini tidak bergitu berhubungan dengan dampak dari "pajak gereja" Jerman yang tak seberapa atas sumber dana umat, dan lebih berhubungan dengan apa yang tengah berkecamuk dalam pikiran mereka. Sejak 1966, hanya 39 persen dari orang Jerman menjadi umat gereja Protestan, dan 33 persen Katolik. Ini berarti bahwa sebanyak seperempat dari seluruh orang Jerman harus diklasifikasikan sebagai tidak mempunyai afiliasi agama. Dalam sebuah artikel di edisi 15 Juni 1992, majalah mingguan Jerman Der Spiegel menyimpulkan bahwa Republik Federal Jerman telah berubah menjadi sebuah negara pagan yang bersisa Kristen. ......"

 

Fenomena diatas adalah wujud eliminasi ekspresi keagamaan secara luas dari kehidupan publik. Sehingga didapati seorang kanselir Jerman tidak mau lagi mengambil sumpah jabatan dengan Injil, ketika Tuhan tidak lagi disebutkan dalam pidato-pidato resmi Natal di Jerman, maka kita mempunyai bukti yang jelas, tidak saja tingkat dekristenisasi yang mengerikan, melainkan juga tingkat materialisme yang vulgar yang telah merasuk ke hati dan pikiran mayoritas orang Barat.

Kondisi masyarakat yang demikian pasti mempunyai dampak yang menghancurkan. Karena orang mulai hidup tanpa kendali dan mengikuti hawa nafsu mereka dengan bersibuk diri memenuhi kehidupan kecil mereka yang terbatas dengan kepuasan sensual sebanyak mungkin, sementara mereka semakin kehilangan pandangan tentang kebaikan bersama dan keluarga. Di Amerika, dari seluruh jumlah perkawinan, secara statistik dijelaskan bahwa tidak lebih dari 15% saja yang berkemungkinan akan berlangsung terus. Di beberapa bagian Skandinavia, lebih dari separuh anak-anak dilahirkan di luar ikatan perkawinan. Berjuta ibu yang kehilangan suaminya mau melepaskan keseluruhan satu generasi remaja ke masyarakat, sementara perkembangan emosional sang remaja mungkin telah terhambat oleh ketiadaan seorang ayah -sampai suatu batas di mana Perilaku dewasa mereka sebagai sosok manusia kelak mungkin menderita. Ibu yang mengasuh anak tanpa pasangan suami mungkin merupakan nasib yang tak dapat dielakkan. Di Jerman kira-kira 30% di antara perempuan-perempuan muda sekarang ini memilih tetap tidak mempunyai anak.50

Di Jazirah Arab pra-Islam, bayi perempuan dibunuh karena alasan ekonomi, sampai Al- Quran melarang kebiasaan yang mengerikan ini.51 Disini terlihat bahwa Dr. Robert Morey tidak mampu atau memang sengaja untuk tidak membedakan dan memilah-milah mana sejarah Pra Islam dan setelah Islam masuk dengan mengatakan

 

"Muhammad mengadobsi budaya Arab yang dikenal disekitarnya, beserta kebiasaan-kebiasaan sakral dan duniawinya, dan menjadikannya agama Islam.”52

 

Adat Jahiliyah Pra Islam ini sekarang justru diikuti di Barat dalam cara yang sistematis. Baru-baru ini, jutaan bayi perempuan dan laki-laki yang belum lahir dipilih menurut jenis kelamin, dengan bantuan alat ultrasuara, dan kemudian di aborsi. Di Berlin,di mana kebutuhan ekonomi tidak berperan penting, hanya setiap detik anak dilahirkan. Separuh dari jumlah kaum perempuan yang sudah bersuami melakukan aborsi, dan 37% dari perempuan yang melakukan aborsi tidak mempunyai anak.

 

Pandangan Barat tentang Islam.

 

Cara pandang orang barat sebagai mana yang terungkap dalam buku Dr. Morey terhadap perilaku umat Islam, hukum­hukum Islam dan peribadatan dalam Islam adalah reaksi spontan terhadap keadaaan umat Islam di negara-negara Islam tanpa memperhatikan apa sesungguhnya ajaran Islam itu sendiri secara menyeluruh melainkan -sepenggal-sepenggal sesuai dengan kebutuhan mereka dalam me maknai Islam. Sebagaimana telah kita bahas beberapa penyebabnya -yang juga membuat kita tidak heran dengan adanya pandangan negatif barat kepada Islam itu - namun juga tidak dapat disembunyikan bahwa pandangan Barat tersebut seringkali disebabkan oleh salah paham, atau malah oleh rasa permusuhan. Apalagi dengan adanya tulisan Samuel Huntington yang mengemukakan tentang kemunglcinan terjadinya perbenturan budaya (clash of civilizations) dengan Islam sebagai pola budaya yang paling potensial "membentur budaya modern Barat, maka rasa permusuhan yang laten kepada Islam itu semakin memperoleh bahan pembenaran.

Untunglah bahwa di kalangan orang Barat sendiri selalu tampil orang-orang yang jujur dan sadar. Dalam kejujuran dan kesadaran itu mereka tampil -sungguh menarik- sebagai pembela-pembela Islam yang tangguh. Kerapkali mereka juga sangat gemas dengan pandangan penuh nafsu namun salah dan Zalim dari kalangan orang Barat tentang Islam dan kaum Muslim. Contohnya ialah Robert Hughes, seorang yang lama bekerja sebagai kritikus seni majalah Time. Karena pandangan dan komentarnya dengan baik sekali mewakili dan mencoba bersikap adil dan benar, maka ada baiknya penulis terkenal ini kita kutip sebuah pernyataannya secara panjang lebar. Dalam sebuah bukunya yang berjudul Culture of Complaint- sebuah bestseller koran New York Times- Hughes mengatakan pandangan hidup aneka budaya (multicultural) demikian:53

 

"Maka jika pandangan aneka budaya ialah belajar melihat tembus batas-batas, saya sangat setuju. Orang Amerika sungguh punya masalah dalam memahami dunia lain. Mereka tidaklah satu-satunya -kebanyakan sesuatu memang terasa asing bagi kebanyakan orang­tetapi melihat aneka ragam asal kebangsaan yang diwakili dalam masyarakat mereka (Amerika) yang luas, sikap tidak pedulinya dan mudahnya merima stereotip masih dapat membuat orang asing heran, bahkan (berkenaan dengan diri saya) sesudah tinggal di A.S. duapuluh tahun. Misalnya: Jika orang Amerika putih masih punya kesulitan memandang orang hitam, bagaimana dengan orang Arab? Sama dengan setiap orang, saya menonton Perang Teluk di televisi, membaca beritanya di Koran dan melihat bagaimana perang itu membuat klimaks buruk kepada kebiasaan yang sudah lama tertanam pada orang Amerika, berupa ketidak pedulian yang penuh permusuhan kepada dunia Arab, dahulu dan sekarang. Jarang didapat petunjuk dari media, apalagi dari kaum politisi, bahwa kenyataan tentang budaya Islam (baik dahulu maupun kini) bukanlah tidak lain dari sejarah kefanatikan. Sebaliknya, orang pintar bergantian maju untuk meyakinkan umum bahwa orang Arab pada dasarnya adalah sekumpulan kaum maniak agama yang berubah­-ubah, pengambil sandra, penghuni semak berduri dan padang pasir yang sepanjang zaman menghalangi mereka untuk kenal dengan negeri-negeri yang lebih beradab. Fundamentalisme Islam di zaman modern memenuhi layar telebisi dengan mulut-mulut yang berteriak dan tangan-tangan melambaikan senjata; tentang Islam masa lalu -apalagi sikap ingkar orang Arab sekarang terhadap senofobia dan militerisme fundamentalis­sangat sedikit terdengar. Seolah-olah orang Amerika selalu dicekoki dengan versi pandangan Islam yang dianut Ferdinand dan Isabella pada abad 15, yang dibesar-besarkan dan disesuaikan dengan zaman. Inti pesannya ialah bahwa orang Arab adalah tidak hanya tidak berbudaya, tetapi tidak dapat dibuat berbudaya. Dalam caranya yang jahat, pandangan itu melambangkan suatu kemenangan bagi para mulla dan saddam Husein -di mata orang Amerika, apa saja di dunia arab yang tidak cocok dengan kejahatan dan maniak eskatologis ditutup rapat, sehingga mereka (orang Amerika) tetap menjadi pemilik penuh bidang (segala kebaikan) itu.

Tetapi memperlakukan budaya dan sejarah Islam sebagai tidak lebih daripada mukadimah kefanatikan sekaran gini tidak membawa faedah apa-apa. Itu sama dengan memandang katedral Gotik dalam kerangka orang Kristen zaman modern seperti Jimmy Swaggart atau Pat Robertson (dua penginjil televisi yang amat terkenal namun kemudian jatuh tidak terhormat karena skandal-skandal -NM). Menurut sejarah, Islam sang Perusak adalah dongeng. Tanpa para sarjana Arab, matematika kita tidak akan ada dan hanya sebagian kecil warisan ilmiah Yunani akan sampai ke kita. Roma abad tengah adalah kampung tumpukan sampah dibanding dengan Baghdad abad tengah. Tanpa invasi Arab ke Spanyol selatan atau al Andalus pada abad 8, yang merupakan ekspansi terjauh ke barat dari imperium Islam yang diperintah dinasti Abasiah dari Baghdad (Sic., yang benar ialah Spanyol Islam berdiri di bawah dinasti Umawiah, tanpa pernah menjadi bagian wilayah dinasti Abasiah di Baghdad-NM), kebudayaan Eropa selatan akan sangat jauh lebih miskin. Andalusia Spanyol-Arab, antara abad 12-15, adalah peradaban "multicultural" yang brilian, dibangun atas puing-puing (dan mencakup motif-motif yang hampir punah) dari koloni Romawi kuna, menyatukan bentuk-bentuk Barat dengan Timur Tengah, megah dalam ciptaan iramanya dan toleransinya yang pandai menyesuaikan diri. Atsitektur mana yang dapat mengungguli Alhambra di Granada, atau Masjid Agung Kordoba? Mestizaje es grandeza: perbauran adalah keagamaan.
 

Itulah mawas diri dan kritik seorang intelektual Amerika tentang masyarakatnya sendiri, suatu masyarakat yang mengidap perasaan benci kepada Islam (khususnya Arab) yang tak pernah terpuaskan. Pandangan umum yang tidak senang dengan Islam itu, seperti dikatakan dalam kutipan diatas, sudah diidap orang Barat sejak berabad-abad yang lalu, kemudian seolah-olah diperkuat oleh kejadian-kejadian mutakhir yang menyangkut Islam dan umat Islam.

Mari kita lihat bagaimana Dr. Robert Morey menunjukkan kebenciaanya pada umat Islam seperti pernyataannya berikut ini:

 

"Orang Barat mengalami kesulitan memahami Islam karena mereka tidak mengerti bahwa Islam merupakan suafu bentuk dari imperalisme budaya di mana agama dan budaya Arab abad ke - 7 ditingkafkan statusnya menjadi hukum Ilahi".

 

Kesimpulan yang impulsive yang mereka buat tentang segi­segi negatif masyarakat Islam karena melihat kejadian-kejadian itu barangkali memang dapat dipahami. Tetapi orang Barat, termasuk kebanyakan kaum cendikiawan mereka, apalagi politisi mereka, melupakan dua sejarah dari dua masyarakat masa lalu yang sangat kontras: mereka lupa akan sejarah mereka sendiri yang kejam, bengis dan tidak beradab, sampai dengan saatnya mereka berkenalan dengan peradaban Islam; kemudian mereka lupa, atau semata-mata tidak tahu, sejarah Islam yang membawa rahmat bagi semua bangsa, membuka ilmu pengetahuan untuk semua masyarakat, dan membangun peradaban yang benar­benar kosmopolit. Sampai-sampai para sarjana Yahudi (yang di masa lalu terkenal sengit kepada Islam dan Kristen itu), seperti Schweitzer, Halkin, dan Dimont, memuji masyarakat Islam klasik sebagai paling baik memperlakukan para penganut agama lain, termasuk kaum Yahudi, yang sampai sekarang pun belum tertandingi.

 

NOTES


44. Murad W Hofman, Bangkitnya Agama, op. cit., hal 26.
45. Robert Morey, op. cit., hal 21

46. Robert Morey, Ibid., ha125
47. Robert Morey, Ibid., hal 24

48.  Murad W Hofman, Bangkitnya Agama, terj. Abdullah Ali, PT. Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2003, hal 23.

49. Murad W Hofman, Ibid., ha130-32

50. Q.S. Yunus 10:51; an Nahl 16:59; al Isra' 17:31.
51. Robert Morey, op. cit. hal 25

52. Lihat Nurkholis Majid, Islam Agama peradaban- Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah, Penerbit Paramadina, Jakarta, 2000, hal 236-237.

53. Robert Morey, Op. cit., hal 21


 

BACK

UP

NEXT

.