TITIK TEMU ISLAM DAN KRISTEN
Persepsi dan Salah Persepsi

oleh William Montgomery Watt


| Indeks Artikel | Tentang Pengarang |

 

Agama dan Kultur Keagamaan

Mengakhiri bab dalam bukunya Orientalism, Edward Said menyatakan bahwa orientalisme sebagai institusi yang kuat dan luas. [1] Ini agaknya merupakan pernyataan yang berlebihan, sekurang-kurangnya sejauh Inggris yang diperhatian, walaupun di Inggris kemungkinan ada kebenaran yang sesuai dengan kebenaran yang terjadi di Amerika Serikat. Kendatipun demikian, yang lebih benar adalah mengetahui orientalisme sebagai bagian kecil dari sesuatu hal yang luas dan kuat, walaupun kenyataannya belum diinstitusikan, sesuatu yang boleh disebut "pandangan umum intelektual barat yang sekuler." Setiap orang pemikir yang ingin memahami lebih serius di barat, untuk bekerja pada parameter-parameter yang ditetapkan oleh pandangan umum ini, atau, untuk merubah metafora ini, dalam alam wacana ilmiah yang dibuat. Pandangan ini akan berkembang luas ke seluruh dunia, seperti semua negara yang mengadopsi bentuk pendidikan terutama sekali pendidikan barat, dan kultur dunia yang terjadi ini tidak boleh didominasi, paling tidak, pada hal-hal yang sekuler, oleh pandangan intelektual barat yang sekuler.

Tentang pernyataan dominan dalam cara ini tidak boleh diambil untuk menyisipkan pernyataan bahwa pandangan barat yang sekuler inilah yang sempurna dan tidak berubah. Menjelaskan pandangan yang sekuler ini menyiratkan adanya kultur-kultur keagamaan yang saling mengisi satu sama lain dan hal itu akan segera dikatakan. Walaupun demikian, berbeda dengan keagamaan itu, kultur intelektual barat terbuka untuk kritik dan tentu saja di barat banyak punya kritik. Pada waktu itu tiap kritik rupanya membawa perubahan, namun perubahan-perubahan yang dimaksudkan itu hanya terjadi secara perlahan-lahan. Kultur intelektual saat ini mempunyai pegangan kuat pada pemikiran intelektual sekuler ke seluruh dunia, sementara tidak ada kritik-kritik eksternal yang berpengaruh. Hanya kritik-kritik internal sajalah yang mempunyai kesempatan mengefektifkan perubahall-perubahan.

Salah satu kritik yang dapat disebutkan adalah bahwa kultur di atas hanya dapat memperhatikan ilmu pengetahuan untuk meraih kekuasaan, bukan ilmu pengetahuan untuk hidup, sesuai dengan perbedaan yang dibuat sebelumnya. [2] Ini adalah titik di mana aspek kultur keagamaan harus diperhatikan, karena agama-agama di dunia ini terutama memperhatikan ilmu pengetahuan untuk hidup. Hanya kultur agama saja yang kontaknya dekat dengan kultur intelektual barat yang sekuler, yang telah menjadi Kristen. Sampai kira-kira abad enam belas hubungan kultur sekuler bangsa Eropa dapat dinyatakan sebagai hubungan perkawinan atau perpaduan; yang perlahan-lahan tapi pasti ada perceraian; akhirnya sejak awal abad ini telah terjadi perkawinan yang rumit. Banyak pemikir Kristen menghampiri terma-terma pasca-Pencerahan dengan kultur intelektual sekuler dari Eropa (dan sekarang barat sebagai suatu keseluruhan), sungguhpun tidak ada pemikir yang mengatur sedemikian jauh untuk melahirkan hal ini dalam suatu bentuk yang telah diterima secara luas oleh umat Kristiani. Walaupun ke-Kristen-an itu ditolak oleh bagian-bagian opini barat terdidik dan oleh non-Kristen barat yang melihat pada masalah-masalah pokok sekuler. Bahkan ada hubungan akrab antara Kristen dan aspek-aspek pemikiran barat yang sekuler, seperti diterimanya ilmu pengetahuan (sains) dan metodologi historis. Jadi kepercayaan umat Kristen bahwa Yesus itu mati di tiang salib, yang tidak diakui oleh sebagian terbesar umat Islam, secara tajam didukung oleh metodologi historis umum sehingga tidak ada alasan yang bertolak belakang yang akan memperberat bebannya. Melainkan hal ini malah akan dapat menghilangkan keraguan atas metodologi historis yang dikembangkan tersebut.

Apa yang dikatakan menuju titik tersebut, sekalipun kultur dunia yang timbul itu akan didominasi oleh aspek-aspek sekuler pandangan intelektual barat, masih tetap terbuka bagi para penganut agama dunia untuk melingkupi dengan sesuatu yang berasal dari kultur agama itu sendiri. Pandangan barat yang sekuler, sebagaimana adanya, adalah kerangka acuan dari dalam yang harus berperan, namun pada kerangka acuan ini baginya ada kesempatan untuk mengejawantahkan keberadaan hidupnya sendiri. Saya sekarang akan melihat pada problema-problema yang diangkat oleh ilmu pengetahuan dan sejarah barat, namun terlebih dahulu melihat pada persoalan yang umum.

Beberapa kesulitan intelektual tentang agama yang dewasa ini dirasakan oleh umat Kristen dan umat pemeluk agama yang lain, pada intinya gagal memahami agama myth (mitos), simbol dan apa yang saya sebut sebagai bahasa ionic. [3] Tlap-tiap agama berusaha melahirkan kebenaran yang asasi, atau karakter fundamental kehidupan manusia dan alam semesta tempat manusia hidup. Namun itu semua merupakan pikiran manusia yang hanya dapat berhadapan dengan cara yang kurang sempurna. Realitas-realitas keagamaan dengan mana agama-agama hanya dapat dihampiri oleh akal yang tidak mampu membentuk konsep-konsepnya yang sahih. Bahasa manusia berlaku pada tempat pertama dengan obyek-obyek atau tindakan-tindakan atau hubungan-hubungan yang dapat diamati; misalnya, pohon, lembu, lari, terbang. Ada pula kata-kata utama bagi hubunganhubungan sosial seperti anak, ibu, paman (atau bibi). Ketika manusia hendak berhubungan dengan hal-hal yang bukan kata-kata utama itu, maka manusia menggunakan kata kedua, sebagaimana ketika menyebut sungai yang airnya mengalir. Apa yang mengalir di sungai itu adalah "sesuatu seperti" manusia atau binatang lari. Kita memakai kata-kata dalam arti yang kedua sampai ke pengluasan yang amat besar. Kendatipun dalam bahasa Inggris, kata ini sebelumnya tidak kita kenal sebab kita gunakan kata-kata dari akar kata bahasa Latin atau bahasa Yunani. Jadi sekarang untuk menyebut suatu cara yang meragukan yang lebih rumit yang memberlakukan sesuatu, seperti manusia lari atau binatang lari. Semua karya ilmiah itu penuh dengan penggunaan bahasa dalam cara kedua. Bahkan tak terkecuali contoh ilmu pengetahuan (sains) terdahulu adalah pernyataan dari gelombang-gelombang dan partikel-partikel yang berkenaan dengan cahaya, gelombang cahaya adalah hanya "sesuatu yang seperti" gelombang laut dan partikel hanyalah "sesuatu yang seperti" sebagian kecil dari benda padat.

Ketika para pemikir agama mencoba memberi penilaian terhadap dunia, maka sama sekali tidak mengherankan kalau mereka menggunakan kata-kata pada cara kedua ini. Ketika mereka berbicara tentang "Tuhan", mereka cenderung berfikir tentang "sesuatu yang seperti" manusia, terutama makhluk manusia yang kuat perkasa, seorang raja atau yang berkuasa. Ketika mereka mengatakan Tuhan "menciptakan" dunia ini, maka mereka berfikir bahwa "menciptakan" ini sebagai "sesuatu yang seperti" tindakan manusia menciptakan sesuatu, seperti tukang gerabah yang membuat pot bunga dari tanah, sebaliknya orang itu terus menegaskan bahwa Tuhan menciptakan dunia ini dari yang sebelumnya tidak ada. Tentang konsepsi agama mengenai dunia ini didasarkan atas penggunaan bahasa kedua dari kata "myth" -- mitos -- yang kadangkala dipakai, namun sayang sekali mitos itu datang dengan dua pengertian. Pada penggunaan bahasa kedua ini diterapkan pada pandangan dunia agama primitif yang mempunyai dorongan terhadap sesuatu yang tidak benar. Sebagian para kontributor terhadap buku The Myth of God Incarnate (yang diedit oleh John Hick), agaknya menggunakan mitos ini dalam cara yang negatif tersebut.

Walaupun demikian, ada pengertian positif dari "mitos" yang merupakan penglahiran dari kebenaran agama dalam bahasa kedua.

Dalam bahasa Inggris Amerika yang berbeda pada bahasa Inggris British, kata "myth" ini agaknya menjadi pengertian yang sudah lazim. Namun demikian, sebab ambiguitas kata "myth" itu paling baik dihindarkan. Saya anjurkan agar kita dapat berbicara dengan menggunakan bahasa "iconic." Icon adalah representasi dua-dimensional pada suatu obyek tiga-dimensional dan merupakan sesuatu yang diketahui menjadi tidak memadai kecuali apabila diterima sebagai representasi realitas. Ini menjadikan bahasa icon itu kemungkinan dapat dipegangi, meskipun bahasa yang kita gunakan tentang realitas ilahiah itu adalah bahasa iconic, bahkan apa yang sesungguhnya kita perbincangkan tentang yang real (nyata).

Akibat wajar dari apa yang kita katakan itu, ketika kita menggunakan bahasa iconic, apa yang nampak menjadi perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya perbedaan-perbedaan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Hal ini harus dijaga dengan sungguh-sungguh dalam pikiran pada saat berusaha memperbandingkn agama-agama. Satu agama boleh jadi menyebut Tuhan sebagai "sesuatu yang seperti" seorang ayah dan orang lain dari ayah sebagai "sesuatu yang seperti" seorang ibu; namun dua konsepsi itu apakah benar-benar berbeda? Kedua konsepsi itu tidak dapat diasumsikan begitu saja lantaran kedua konsepsi itu berbeda satu sama lain ataupun malah identik. Konsepsi itu tergantung atas sikap persamaan yang tepat terhadap seorang ayah atau seorang ibu, dan persamaan ini agar tidak dikhususkan. Maka informasi lebih lanjut dibutuhkan. Kendatipun demikian, sebagai contoh, apabila konsepsi itu dipahami bahwa percaya kepada Tuhan ibu senantiasa diiringi oleh pelacuran yang suci, maka hal ini boleh jadi dapat menjadi alasan untuk bersikukuh dengan pendapat bahwa konsep-konsep yang berbeda-beda dan persamaan dari Tuhan sebagai bapak (ayah) adalah lebih tinggi tingkatannya.

Lebih lanjut meneruskan dari fakta bahwa bahasa agama itu secara luas adalah bahasa iconic lantaran dalam agama ini tidak ada kriteria intelektual yang memampukan orang memperbandingkan agama-agama tentang masalah kebenaran dan kesalahan, atau bahkan kebenaran yang relatif dan kesalahan yang relatif. Ada suatu kriteria yang mungkin dapat diterapkan, namun kriteria ini adalah kriteria praktis dari "Hasil" (yang lebih memuaskan akan didiskusikan pada bagian berikut ini). Hasil-hasil itu terdiri dari kualitas kehidupan yang dicapai oleh orang-orang yang hidup mengikuti suatu sistem kepercyaan agama yang khusus tertentu, yakni, suatu gambaran khusus dan ciri khas alam semesta dan kehidupan manusia. Apabila secara umum kulitas hidup itu baik, maka dapat dikatakan bahwa sistem kepercayaan itu lebih atau kurang benar. Oleh karena bahasa yang dipakai adalah bahasa iconic dan malahan hanya memberi tahu manusia bahwa realitas-realitas itu adalah seperti apa yang dikatakan, kiranya sulit menyatakan kebenaran absolut, namun orang dapat mengatakan sebagai suatu petunjuk bagi sistem kehidupan. Sistem kepercayaan itu memuaskan secara paripurna. Pada diskusi teoritis seperti yang terakhir ini diperlukan untuk melihat kepada seluk beluk kepelikan yang ada, namun pada kesibukan hidup aktual pada dataran teoritis tadi melupakan seluk beluk kesulitan tersebut dan untuk menerima terma-terma iconic secara jujur pada penilaian sikap jujur yang sempurna.

Setelah mempertimbangkan hakekat bahasa agama ini, kita dapat kembali ke kultur dunia yang timbul dan kembali ke dua aspek agama yang paling relevan dengan pandangan sekuler intelektualnya, yakni, pengakuan akan jaminan hasil-hasil ilmu pengetahuan yang handal lagi aman dan pengakuan akan metodologi historis modern. Bagi orang yang beriman kepada Tuhan, perlu menegaskan bahwa jaminan hasil-hasil ilmu pengetahuan hanya diterima pada bidang sains yang layak. Sebagaimana Aristotle pernah mengakui ketika menulis bukunya yang berjudul Meta ta physica, ada suatu dunia di balik sains. Istilah "metafisika" telah keluar dari bentuk biasa, namun dunia di balik sains itu masih tetap ada dan yang menjadi perhatian orang beriman kepada Tuhan ketika mengatakan Tuhan itu sebagai sang Pencipta. Untuk mengatakan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta, atau Tuhan menciptakan proses kosmik dan bahwa Tuhan mengontrol proses kosmik yang dapat diinderai itu, sama halnya dengan penonjolan bidang metafisika yang tidak dapat diinderai, melainkan lebih sebagai penonjolan akan karakter dari proses kosmik itu, tentang akhir dari gerakan proses kosmik itu dan bagaimana proses kosmik itu mengacu ke arah akhir itu. Itu semua adalah hal-hal pokok yang tidak dapat dihampiri oleh metode-metode eksperimental dalam sains, meskipun dipahami bahwa metode-metode dalam sains ini dapat diverifikasikan oleh kriteria yang ditimbulkan.

Kesulitan bagi umat Kristen yang disebabkan oleh teori Origin of Species dari Charles Darwin dapat dilihat sebagai bukti bahwa mereka memahami bab pertama kitab Genesis sebagai asal-usul yang dapat me-ngakibatkan pernyataan-pernyataan ilmiah. Lebih lanjut para pemikir Kristen telah menyatakan penegasannya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta termasuk dunia di luar bidang sains, dan tidak dapat diingkari keberadaannya, serta dikonfirmasi oleh pernyataan yang dibuat oleh para ilmuwan dalam dunianya yang pas. Banyak orang muslim yang belum memahami istilah-istilah yang berkenaan dengan fakta evolusi. Konferensi Dunia Pertama tentang Pendidikan Islam (1977), yang saya tunjukkan di tempat lain, [4] mengeluhkan bahwa dasar-dasar asumsi itu berhadapan dengan sains yang tidak diambil dari agama dan berharap agar para ilmuwan muslim dapat menghasilkan konsep-konsep Islam untuk menggantikan asumsi-asumsi di atas. Evolusi yang boleh jadi merupakan salah satu hal yang mereka miliki dalam pemikiran ketika mereka menyebutkan pada jalan ini, namun solusi mereka itu malah salah kaprah diterimanya. Ilmuwan agama tidak dapat memproduksi konsep-konsep bagi para ilmuwan untuk digunakan di bidang sains, sebaliknya apa yang dapat dilakukannya adalah memberikan pandangan yang lebih komprehensip tentang proses kosmik sebagai yang diciptakan oleh Tuhan yang dapat dioperasionalisasikan secara bebas oleh para ilmuwan.

Poin lain dimana orang-orang beriman kepada Tuhan harus mengakui pandangan sekuler barat adalah dalam hal metodologi historis. Ini agaknya merupakan hal yang lebih kompleks ketimbang pengakuan hasil-hasil penemuan ilmiah. Suatu karya sejarah adalah presentasi yang tidak sederhana dari seperangkat fakta-fakta historis obyektif, sebab fakta-fakta yang muncul tadi telah diseleksi berkenaan dengan nilai-nilai tertentu. Ahli sejarah menulis dari suatu perspektif yang spesifik, yang nilai-nilainya merupakan suatu bagian dari perspektif spesifik itu. Ini adalah satu hal yang telah ditekankan oleh Edward Said ketika menyebutkan bahwa kaum orientalis itu salah menggambarkan kata Islam sebab dilekatkan pada bahasa, kultur dan ambiensi politik mereka, yakni, mereka mempunyai perspektif yang secara luas diterima oleh lingkungan dimana mereka hidup. Secara jelas, ketika dua orang menilai fakta-fakta yang sama dari perspektif yang berbeda, maka mereka akan memahami fakta-fakta tersebut secara berbeda pula. Apa yang penting di sini adalah, apapun perspektif itu, fakta-fakta obyektif yang diterima secara umum oleh para ahli sejarah, tidak harus ditolak. Memang benar, ada ruang gerak tertentu bagi ahli sejarah dalam bentuk yang tepat persis dimana orang ini menghadirkan fakta-fakta ketika tindakan manusia yang sama melihat dari perspektif-perspektif yang tidak sama. Dalam cara ini, fakta obyektif dapat dipadukan ke dalam penafsiran. Kendatipun demikian, yang esensial adalah dimana fakta obyektif itu dapat dibangun oleh bentuk metode-metode historis, maka harus dapat diterima, yakni arti kata ummi dalam al-Qur'an sebagai "orang kafir" atau "non-Yahudi."

Walaupun begitu, malahan perlu dicatat hal itu yang juga dapat disebut "mitos" yang menggunakan fakta quasi-historis. Kitab Jonah dalam Bibel tercatat sebagai contoh mitos dengan quasi-historis ini. "Mitos" dalam pengertian positif acapkali merupakan cerita atau kisah yang dihadirkan sebagai bersifat historis, sungguhpun tidak mempunyai landasan, atau paling kurang landasan yang aman, pada fakta historis obyektif. Contoh, dijadikannya Adam dan Hawa dalam kitab Genesis. Contoh ini tidak mempunyai tempat pada penilaian ilmiah berkenaan dengan asal-usul manusia di muka bumi, akan tetapi dalam pemikiran Kriten dan Yahudi kisah asal-usul manusia ini menjadi wahana kebenaran yang penting tentang kemanusiaan dalam hubungannya dengan Tuhan dan tentang persaudaraan manusia. Ilmu pengetahuan dalam bidang yang sesungguhnya tidak dapat memberikan pertimbangan alternatif permulaan manusia yang akan mengabadikan nilai-nilai tersebut; namun pemikir agama tidak harus menafsiri kisah ini dengan cara tertentu untuk menyalahkan wilayah kajian sains, sebagai contoh, untuk menegaskan bahwa tafsiran ini menjawab pertanyaan ilmiah apakah bangsa manusia itu berkembang dari kehidupan pra-human pada satu atau banyak dataran pokok.

Tiap asal kehidupan masyarakat dengan mitos dalam artinya yang positif ini. Dalam artikel tentang perjalanan cargo, Thomas Merton menjelaskan beberapa mitos kehidupan Amerika Serikat, umpamanya mitos supremasi kulit putih dan mitos bahwa bangsa Amerika adalah bangsa yang ilmiah dan rasional. Lalu dia terus menyatakan bahwa yang terakhir ini merupakan salah satu biang mitos mereka dan bahwa kehidupan mereka itu "melekat pada sedemikian banyaknya mitologi" yang tidak seperti mitologi bangsa pribumi, yang lebih kompleks dan lebih sophisticated. [5] Di sini, walaupun menerima ide positif mitos itu sebagai tempat dimana komunitas itu hidup, dia mencela banyak mitologi bangsa Amerika sebagai buruk atau tidak cukup. Ketika dia terus menyatakan "mitos-mimpi" bangsa Amerika, agaknya memaksudkan mitos yang kurang cukup yang tidak dapat memberikan hasil yang dijanjikan.

Konsep mitos ini sebagai basis suatu komunitas yang digunakan oleh pemikir muslim, Mohammad Arkoun, ketika menyatakan tentang Ummah atau masyarakat Islam yang ideal. Apabila saya mengatakan kepadanya secara benar, dia bersikeras bahwa mitos Ummah yang ideal itu didasarkan atas pengalaman-pengalaman masa awal-mula terdahulu, memberikan dinamika bagi aktifitas muslim dewasa ini, namun dikelirukan dengan fakta historis obyektif (kongkrit), atau malah menciptakan ideologi.

L'Umma ideale ne peut avoir d'existence historique sans ces postulats constitutifs d'uune conscience mythique. Celle-ci a une efficaciteet une tradition historiques qui rejailiscent sur la representation de l'Age inaugurateur. Voila pourquoi tout le discours islamique actuel s'evertue a imposer la validate "historique" du Modele legue par l'Age inaugurateur. En refusanr de reconnaitre la function specifique du mythe qui dynamise la conscience des acteur, mais ne se confond pas avec les productions historiques concretes de cette consciene, les militans isllamistes s'eloignent a la fois de l'Age inaugurateur dont ils veulent s'inspirer et des forces positives de l'action historique. [6]

Di tempat lain saya telah mengatakan self-image Islam sebagai dipertahankan oleh kaum fundamentalis dan ini rupanya mirip dengan yang dimaksudkann oleh Mohammed Arkoun oleh "kesadaran mistik" atau setidak tidaknnya terhadap bagian dari mitos tersebut, sungguhpun mungkin dapat menjadi marginal pada ideologi. Penggunaan kata "myth" dalam bahasa Inggris dalam artian ini sama-sama tidak memuaskan. Cerita- cerita (kisah) yang tidak sesuai dengan fakta historis yang dapat dijelaskan sebagai kebenaran yang hadir pada bentuk, sementara itu orang beriman bukan merupakan fakta obyektif dalam menerima cerita yang menghadirkan realitas-realitas penting yang mengetahui bahwa hal itu bukan merupakan fakta obyektif pada tingkat superfisial.

Kata "gambaran" adalah kemungkinan lain di sini, atau, sesuatu yang lebih tepat diperlukan, suatu gabungan seperti "gambaran sejarah" dapat digunakan. Lalu orang Kristen dapat mengatakan bahwa kisah Orang-orang Arif (Magi) memberi anugerah kepada anak Yesus di Bethlehem, walaupun secara pasti hampir tanpa basis obyektif, adalah bagian penting dari gambaran-sejarah Kristen dan diterima sebagaimana adanya. Kita berharap bahwa kaum muslimin mengakui penilaian referensi terhadap Ibrahim dan Ismail di Mekah pada Al-Qur'an yang mirip, karena, sekalipun sebenarnya bahwa Ibrahim itu tidak pernah sampai di Mekah, itu adalah gambaran- sejarah yang mengungkapkan kebenaran penting tentang hubungan Islam dengan tradisi Ibrahimiah.

Pengakuan metodologi historis modern juga makin meningkatkan pertanyaan-pertanyaan serius bagi kaum muslimin tentang Al-Qur'an, meskipun tidak sebanyak tentang Al-Qur'an sendiri sebagaimana tentang teori-teorinya mengenai hakekat Wahyu. Sejarah memperlihatkan bahwa ada kesalahan-kesalahan fakta pada Al-Qur'an, yang paling serius adalah persepsi Kristen yang lemah (sebagaimana dijelaskan pada bab 2). Apabila kaum muslimin bertahan bahwa Al-Qur'an itu benar-benar murni firman Allah tanpa campur tangan manusia itu tidak dipalsukan, maka mustahil menjelaskan kesalahan-kesalahan Al-Qur'an -- kecuali kita berusaha merumuskan bahwa Tuhan menipu kaum muslimin, yang tentu saja tidak mungkin dilakukan oleh Tuhan. Al-Qur'an sendiri tidak mendukung teori hakekat wahyu tersebut, karena hanya menegaskan Al- Qur'an itu berbahasa Arab dan bahasa Arab adalah bahasa manusia. Juga suatu bahasa dengan akrab diasosiasikan dengan seluruh pengalaman hidup orang-orang yang menyatakan hal itu, terutama bentuk hubungan sosial, ekonomi dan politik yang telah ditentukan; dan bentuk-bentuk tersebut berbeda dengan bangsa lain yang dicatat dalam sejarah. [7] Secara luas disetujui juga oleh orang-orang beriman kepada Tuhan bahwa hubungan-hubungan itu terutama ditunjukkan pada kebutuhan-kebutuhan kelompok untuk mencapai tujuan; namun tidak setuju bagaimana beradaptasi kepada suatu situasi manusia khusus tertentu yang ter}adi. Dalam jalan adaptasi kesalahan-kesalahan yang terjadi itu tidakkah mungkin dan tidakkah ada jalan untuk merubah kebenaran sentral wahyu tadi. Apa yang sebenarnya diharapkan orang-orang lain yang beriman kepada Tuhan akan terjadi bagi kaum muslimin mendapatkan jalan untuk mempertahankan kebenaran umum Al-Qur'an, selain tanpa mengingkari beberapa hal kedua yang mengabaikan kesalahan- kesalahan.

Pertanyaan untuk semua pertimbangan yang terjadi di atas adalah hendakkah kaum muslimin hidup bersama pada kehidupan "satu dunia" sebagai tempat kita bergerak, ataukah kaum muslimin hendak bertahan dalam keterasingan hingga harus merubah ketenangan dunia, sebab kaum muslimin menganggap Islam sebagai self-sufficient. Bilamana mereka hendak hidup bersama maka mereka harus menerima aspek-aspek sekuler kultur dunia dan berikhtiar memperlihatkan kepada umat beragama lain, bagaimana nilai-nilai keagamaan Islam itu mengimbangi kultur sekuler. Sungguhpun demikian, mereka tidak dapat melakukan hal ini apabila mereka masih tetap dipenuhi dengan ekspresi Islam pada terma-terma ilmu pengetahuan dan filsafat abad dua belas, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum fundamentalis.

Apabila kaum muslimin berencana untuk memberi andil penuh pada kehidupan politik satu dunia, sekalipun pada bentuk kehadiran Persatuan Bangsa Bangsa yang kurang sempurna, maka akan banyak yang dapat mereka sumbangkan. Secara luas dipegangi bahwa Islam itu lebih sukses ketimbang Kristen dalam membawa nilai nilai moral dan keagamaan yang lahir pada kehidupan politik. Sudah banyak yang dahulu dilakukan dalam merumuskan moralitas politik bagi abad 21 sampai kepada ukuran kontrol yang dapat digunakan atas individu-individu dan kelompok-kelompok yang mempunyai kekuasaan luas, baik secara ekonomis maupun secara politis. Dengan demikian, kaum muslimin mempunyai sumbangan besar.

 

TITIK TEMU ISLAM DAN KRISTEN Persepsi dan Salah Persepsi   William Montgomery Watt Penerjemah: Zaimudin   Hak Terjemahan pada Penerbit Gaya Media Pratama Jakarta Desain Sampul: Salimi Akhmad Diterbitkan Oleh: Penerbit Gaya Media Pratama Jakarta Dicetak Oleh: Percetakan Radar Jaya Jakarta Anggota IKAPI Cetakan 1, 1996   ISBN 979-578-007 7 Harga Rp. 9.500,-


| Indeks Artikel | Tentang Pengarang |