TITIK TEMU ISLAM DAN KRISTEN
Persepsi dan Salah Persepsi

oleh William Montgomery Watt


| Indeks Artikel | Tentang Pengarang |

Berbagai Perbedaan Kebudayaan

Perbedaan keagamaan antara ortodoksi dan heresi amat dekat bertalian dengan perbedaan etnik ataupun mungkin lebih bertalian dengan perbedaan-perbedaan kebudayaan. Gereja Besar yang secara akrab diasosiasikan dengan kelompok-kelompok yang berkuasa di Byzantine atau Kekaisaran Roma Timur, dan yang secara esensial di Byzantine atau Kekaisaran Roma Timur, dan yang pada hakekatnya adalah berkebudayaan Yunani. Golongan Heresy-Monofisit, di pihak lain, menjadi fokus perasaan anti-Yunani di antara bangsa Mesir, pribumi dan Kopti serta di antara bangsa Yakobit Syria, yang terkadang dilukiskan sebagai bangsa Syria Barat. Golongan heresy Nestorian telah memainkan peranan yang sama bagi orang-orang yang acapkali disebut sebagai bangsa Syria Timur, dan bertentangan dengan pemikiran Yunani yang menyebabkan mereka keluar dari Kekaisaran Byzantine. Semenjak tahun 600 Masehi mereka membangun pusat kegiatannya yang utama di Iraq pada Kekaisaran Sassanian (Persia). Gereja Besar ini juga meliputi umat Kristen Eropa Barat, yang secara mendasar memiliki kebudayaan Latin dan yang pada tahun 600 Masehi mereka terpecah belah menjadi berbagai macam ajaran Prankish dan kerajaan-kerajaan kecil yang lain. Namun semenjak awal abad ke tujuh bangsa Arab tidak mempunyai kontak lagi dengan mereka.

Pada konsili ekumenikal Gereja (misalnya Konsili Nicaea pada tahun 325 Masehi dan Konsili Chalcedon pada tahun 451 Masehi) kultur uskup-uskup Gereja telah memainkan peranan yang dominan. Rumusan-rumusan Trinitas dan ajaran Kristologi secara resmi diterima oleh konsili tersebut, yang secara luas pada terma-terma khas filsafat Yunani, yang lalu belakangan pada terma-terma khas Kekaisaran Byzantine. Kultur uskup-uskup Latin pada umumnya kurang berfikir falsafi ketimbang bangsa Yunani melainkan menyetujui rumusan-rumusan Yunani. Kendatipun demikian, barangkali ada catatan penting yang bermanfaat sehingga terma-terma Latin untuk ajaran trinitas (satu substantia, tiga personae) diakui sebagai equivalen dengan bahasa filsafat Yunani (satu ousia, tiga hypostaseis), walaupun terma itu tidak identik benar, karena kata substantia secara etimologis berkorespondensi dengan kata hypostaseis. Uskup-uskup mewakili masyarakat Mesir serta masyarakat Syria Timur dan Syria Barat untuk menolak rumusan Yunani dan mengadopsi berbagai alternatif. Akibatnya mereka keluar dari Gereja Besar dan pada kasus golongan Nestorian, mereka keluar dari kekaisaran Kristen.

Sebagian bangsa manusia dewasa ini, ketika mereka memperhatikan diskusi-diskusi doktrinal secara terinci tentang Trinitas dan pribadi Kristus. Mereka mempunyai kesan berada pada labirin abstraksi-abstraksi, yang mempuyai relevansi dengan kehidupan aktual Kristen yang kelihatannya keras. Saya berpegang pada pendapat bahwa kita dapat mulai membuat sedikit pengertian tentang diskusi-diskusi tersebut apabila kita bertanya mengapa para pendukung tersebut melakukan perhelatan dan menjawab pertanyaan ini dengan melihat gambaran dari latar belakang kebudayaan masing-masing. Apakah mereka berpikir akan menjadi problema pokok kehidupan manusia, dan bagaimana mereka memahami Yesus untuk memecahkan problema yang mereka hadapi tersebut? Dengankata lain, apakah kepercayaan dasariah itu yang melandasi argumen-argumen, dan bagaimana kepercayaan-kepercayaan tersebut berkaitan dengan perbedaan-perbedaan kebudayaan?

 
         
TITIK TEMU ISLAM DAN KRISTEN Persepsi dan Salah Persepsi   William Montgomery Watt Penerjemah: Zaimudin   Hak Terjemahan pada Penerbit Gaya Media Pratama Jakarta Desain Sampul: Salimi Akhmad Diterbitkan Oleh: Penerbit Gaya Media Pratama Jakarta Dicetak Oleh: Percetakan Radar Jaya Jakarta Anggota IKAPI Cetakan 1, 1996   ISBN 979-578-007 7 Harga Rp. 9.500,-


| Indeks Artikel | Tentang Pengarang |