TITIK TEMU ISLAM DAN KRISTEN
Persepsi dan Salah Persepsi

oleh William Montgomery Watt


| Indeks Artikel | Tentang Pengarang |

 

Persepsi Islam Tentang Sejarah

Pada bab 2 nampak bahwa Arabia zaman pra-lslam, kurang memahami sejarah maupun proses sejarah. Al-Qur'an menegaskan banyaknya nabi-nabi terdahulu, bahkan memberi kesan bahwa masyarakat-masyarakat yang diberi pesan risalah oleh masing-masing nabi itu tempatnya terpisah satu sama lain dan bahwa keyakinan agama mereka tidak akan habis karena rentang zaman yang lama, sungguh agama Ibrahim itu terus akan hidup sampai anak-cucu keturunannya yang besar. Satu kekecualian terhadap diskontinuitas ini adalah masyarakat Bani Israel sebagai suku bangsa untuk pertama kalinya nabi Musa ditujukan, lalu nabi-nabi yang lain, kemudian Yesus. Akan tetapi tidak ada ide yang jelas tentang mata rantai antara berbagai kejadian yang dijelaskan dalam Al-Qur'an maupun kontinuitas sejarah bangsa Israel yang berkesinambungan. Lebih dari itu, ke tika Al- Qur'an menjelaskan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sejarah keagamaan masa lampau, yang dikembangkan dengan jalan kiasan atau perumpamaan, seakan-akan audiennya segera mengetahui tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi tersebut. Semenjak generasi umat Islam yang kedua atau yang ketiga, terjadi runtutan bagi deskripsi yang lebih penuh tentang berbagai kejadian dan berbagai peristiwa yang terjadi, bahkan bagi pengetahuan mengapa mereka saling berkaitan satu sama lain.

Telah ditunjukkan didalam Al-Qur'an bahwa untuk menemukan tuntutan pertama, ada golongan pengkhotbah populer atau para ahli riwayah (qushash) yang menghasilkan keaneka-ragaman dan secara kuat mengembangkan versi-versi Biblikal dan kisah-kisah yang lain. [17] Materi periwayatan ini disebarluaskan lewat kontaknya dengan orang-orang Yahudi dan lain-lain, akan tetapi materi itu hampir tidak mungkin membebaskan kendali imajinasi mereka. Diantara qushash (para ahli riwayah) adalah orang-orang yang secara tulus mempunyai pengetahuan yang terpercaya, namun ada di antara mereka yang lain adalah orang-orang yang tidak mengindahkan moral dan menggunakan sumber-sumber meragukan yang mereka tambahkan dengan melampaui batas. Sebagai akibatnya adalah para ahli hukum dan berbagai ilmuwan serius lain merasa diancam oleh para qushash dan berikhtiar mengatur dan membatasi aktifitas mereka. Juga ada pribadi-pribadi yang menghasilkan bahan material yang diinginkan pada suatu tingkatan kesarjanaan. Salah satu yang dikenal paling bagus adalah golongan bangsa Yamani yang pindah agama dari agama Yahudi ke Islam, Ka'ab al-Ahbar (meninggal tahun 638 Masehi) [18]. Ulama penting lainnya adalah Wahb Ibn Munabbih (meninggal tahun 732 Masehi), rupanya orang ini tidak pindah agama melainkan orang ini telah membaca tujuh puluh buku tua. Dia katakan, dia telah menulis buku yang berjudul Kitab al-Mubtada' dan buku ini agaknya merupakan salah satu karyanya yang paling penting.

Memang pada tahun 1989 ilmuwan Amerika, Gordon Newby, yang menerbitkan bukunya yang penting dalam judul The Making of the Last Prophet: A Reconstruction of the Earliest Biography of Muhammad [20]. Judul buku ini ada sedikit kesalahan sebab apa yang Newby bangun adalah buku pertama dari tiga bagian Sira Ibn Ishaq yang berjudul Kitab al- Mubtada' itu, "Buku Pertama atau Genesis." Buku ini berisikan pertimbangan luas nabi-nabi terdahulu yang dijelaskan di dalam Al-Qur'an, namun dengan sendirinya tentu tidak menjelaskan nabi Muhammad SAW Pimpinan Editor Ibn Ishaq, Ibn Hisham, mengabaikan keseluruhan Kitab al-Mubtada' dari resensinya terhadap kitab Sirah Ibn Ishaq itu dan tak satupun manuskrip yang ada. Namun demikian, kutipan-kutipan dari buku ini telah dibela oleh penulis-penulis lain, khususnya oleh al-Thabari dalam karya sejarahnya dan komentar Al-Qur'annya, dan inilah yang dikoleksi dan diterjemahkan oleh Professor Newby. Sebagian ilmuwan akan terheran-heran terhadap uraian bagaimana ekstensifnya kutipan-kutipan tersebut. Kutipan-kutipan yang ekstensif ini disusun dalam bab-bab, satu bagi tiap-tiap nabi dan ditempatkan pada orde yang dimunculkan dalam karya sejarah al-Thabari. Kiranya masuk akal untuk berasumsi bahwa hal ini merupakan orde yang diberikan oleh Ibn Ishaq kepada mereka. Jika asumsi ini benar, maka berarti Ibn Ishaq atau mungkin pendahulunya seperti Wahb Ibn Munabbih - telah melaksanakan tugas membuat aturan kronologis bagi peristiwa-peristiwa yang terjadi yang dijelaskan di dalam Al-Qur'an.

Untuk melihat sejauh mana umat Islam masih mempunyai persepsi yang berasal dari persepsi Yahudi maupun Kristen, agaknya akan bermanfaat untuk memahami buku ini secara penuh. Daftar bab-babnya adalah sebagai berikut:

Penciptaan, Adam dan Hawa; Nuh dan isunya; Hud; Salih; Ibrahim Khalilullah; Luth; Ya'kub; Shu'ayb; Yusuf; Musa; Ilyas; Ilyasa dan para penerusnya; Ezekiel; Samuel; Dawud; Sulaiman; Sheba (Saba'); Issaiah; al-Khidr; Daniel; Hananiah; Azariah; Mishael, dan Azra; Iskandar (Alexander); Zakaria dan Yahya; Keluarga Imran dan Yesus putra Maryam; Para Penghuni Gua (Ashab al-Kahfi); Jonah; Tiga Rasul; Samson dan George.

Secara kronologis, di sini ada beberapa kesalahan. Jonah dan Samson ditempatkan setelah Yesus Kristus (Isa). Dalam kasus Jonah, ayahnya Ammittai barangkali dapat dibingungkan dengan Mattai atau Matthew atau Matius. Ezekiel yang namanya tidak dijelaskan di dalam Al-Qur'an, menjelasan ayat (2: 259 maupun 2: 243). Namun kisah ini tidak ada kaitannya dengan Ezekiel yang sebenarnya dan ditempatkan pada masa Hakim- Hakim tak lama setelah Joshua. Hud, Salih dan Shu'ayb adalah nabi-nabi Arabia. Sheba (Saba') adalah sebuah suku Arabia yang telah hancur binasa disebabkan oleh kekufuran mereka (54: 15-17). Ratu Saba' yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai Bilqis masuk ke dalam kisah Sulaiman. Samuel tidak disebutkan di dalam AI-Qur'an, namun ada petunjuk untuk nama ini dalam 2: 246. Al-Qur'an tidak menyebutkan tentang Issaiah namun ada beberapa ayat yang samar-samar (17: 4-8), yang menyatakan Bani israel dua kali tersesat dan pantas dikenakan siksaan (hukuman berat) bersamaan dengan serangan Sennacherib yang gagal di Jerusalem.

Al-Khidr, tokoh mitos Arabia, biasanya diidentikkan dengan "salah seorang hamba Kami" dalam 18: 65, yang memberi pelajaran kepada nabi Musa. Kisah ini diambil oleh Ibn Ishaq menjadi Jeremiah dan hal ini memberi kesempatan kepadanya untuk menyebutkan kehancuran Jerusalem dan pengusiran serta pengasingan. Dalam Al-Qur'an 18: 83-98 ada seorang misterius yang diberi nama Dzu al-Qurnayn yang oleh Allah diberi kekuasaan dan kedudukan. Ibn Ishaq mengakui nama Dzu al-Qurnayn ini biasa diidentifikasi dengan nama Alexander Yang Agung, namun tinggal sedikit sekali rincian sejarah yang asli. Setelah zaman Kristus mendatangi para Penghuni Gua (Ashab al-kahfi) yang mempunyai legenda Kristiani, maka tidak diberi nama Tiga Rasul 36: 13-29, dan pahlawan shahid Kristen, George, yang tidak ada di dalam Al-Qur'an.

Tidak ada uraian Ibn Ishaq tentang Maria (Maryam) dan Yesus (Isa). Sesuai dengan ayat 3: 35-44, menjadikan Zakaria sebagai pelindung bagi Maria (Maryam). Ketika dia menyadari sendiri dirinya tidak mampu memenuhi kewajiban melindungi Maryam, maka perlindungannya terhadap Maryam dipercayakan kepada seorang tukang kayu yang bernama George. Maryam menyendiri di gereja dan di sana disusul oleh seorang pemuda tampan yang bernama Yusuf (Joseph), mereka berdua saling membantu satu sama lainnya dalam segala hal untuk mengambil air. Tidak ada penjelasan tentang lelaki yang lebih tua dari Joseph (Yusuf) sebagai suaminya, walau kemudian Maryam ini dikatakan sebagai janda. Pertimbangan akan kelahiran Yesus (Isa) mengikuti Al-Qur'an 19: 16-34 (yang dikutip dalam bab sebelum bab ini), namun ditambahkan bahwa kejadian ini mengambil tempat di Bethlehem dan di samping pohon kurma yang ada pelindungnya. Dalam tinjauan ringkas peristiwa-peristiwa yang terjadi ini, akan membawa kepada penyaliban yang menyatakan bahwa tempat Yesus yang diambil oleh seorang lelaki yang disebut dengan nama Sergius. Ada penilaian terhadap pekuburan Yesus yang diketemukan di Madinah, yang walaupun tetap dipegang teguh, akan tetapi sesuai dengan Al-Qur'an (3: 55; 4: 158) yang sebenarnya Allah mengangkat Isa kepadaNya.

Dalam pengantarnya tentang terjemahan Professor Newby, menekankan bahwa Ibn Ishaq mengilustrasikan dan mengembangkan konsepsi Al-Qur'an tentang serentetan nabi-nabi dan mitos-mitos atau bayangan kenabian sebagaimana yang telah saya katakan. Sebagian bahan yang dipergunakan Ibn Ishaq dapat dilacak ke sumber-sumber kitab suci Yahudi dan sedikit ke sumber kitab suci Kristen lain selain dari Perjanjian Baru, sementara masih ada lagi riwayat yang sumbernya tidak dapat dimengeri. Selain terjemahan dari keempat kitab suci (Gospel) yang telah dijelaskan pada halaman 34, Ibn Ishaq secara umum tidak timbul untuk harus memasukkan salinan Bibel. Pada saat menyalin bahan dari kitab Bibel, dia menghubungkannya dengan "umat yang percaya kepada Taurat" atau "ahl al-kitab" (yang pertama), dan ini agaknya menyiratkan pemyataan bahwa dia menerima kitab ini secara total. Untuk beberapa hal, Ibn Ishaq menjelaskan bahwa Wahb ibn Munabbih sebagai sumber rujukan.

Informasi lebih lanjut tentang Kristen diperoleh di bagian tiga buku Sira Ibn Ishaq dalam kaitannya dengan pengiriman utusan ke raja-raja oleh Muhammad. Pada sejenis tanda kurung yang menulis daftar sebelas murid yang dikirim Yesus ke berbagai bangsa, walaupun tidak menjelaskan adanya seorang yang bernama Mark yang dikirim ke Mesir. [21] Lalu ada penilaian tentang bagaimana kaisar Byzantine, Heraclius, dan Abyssinia, Negus, yang percaya kepada kenabian Muhammad yang diabaikan oleh Ibn Hisham. [22]

Setelah penaklukan-penaklukan Islam abad pertama yang fenomenal itu, yang menjadikan makin meluasnya wilayah Islam sampai ke Spanyol dan Marokko di barat, dan sampai ke Asia Tengah dan Punjab di timur, maka terjadilah perkembangan perlahan-lahan bagi visi hari depan sejarah. Secara mendasar ini adalah ramalan dari proses penaklukan yang akan terus berlangsung sampai ke seluruh dunia akan berbalik ke Islam. Salah satu jalan pada visi ini diwujudkan oleh pandangan dunia sebagai terpisah ke dalam dua wilayah; dunia Islam (dar al-islam) dan dunia perang (dar al-harb). Dar al-islam adalah tempat di mana orang muslim mengatur negara sesuai dengan hukum Islam, dan dar al-harb adalah tempat atau wilayah dimana umat Islam tidak mempunyai peran di dunia tersebut dan bahkan diperangi. Ada kemungkinan dalam rangka memperkuat jalan untuk mewujudkan dunia sejarah bahwa Al- Qur'an 33: 40 menyebutkan nabi Muhammad sebagai "penutup nabi-nabi" (khatam al-anbiya'), ditafsiri sebagai pengertian bahwa Muhammad adalah nabi terakhir penutup zaman dari nabi-nabi yang dikirim oleh Allah, karena setelah Muhammad ini tidak akan ada nabi lagi yang diutus ke bumi. Kendatipun demikian, menurut sebagian kaum muslimin awal, frase ini dapat memberi pengertian hanyalah Muhammad yang menjadi penutup nabi-nabi sebelumnya sebagaimana yang acapkali dinyatakan di dalam Al-Qur'an. Dengan kata "tidak akan ada lagi nabi setelah Muhammad", maka para ulama mengisyaratkan bahwa Al-Qur'an sebagaimana adanya, firman Allah yang terakhir yang ditujukan kepada bangsa manusia, agar umat Islam diharapkan dapat memasukkan setiap insan kecuali orang-orang yang telah dipastikan akan bernasib menjadi penghuni neraka.

Konsepsi dua frase ini mempunyai tempat yang menonjol pada setiap pemikiran Islam yang terjadi. Peristiwa-peristiwa yang terjadi seperti pengusiran umat Islam dari Spanyol, yang akhimya diusir sama sekali di tahun 1492, yang nampak sebagai kemunduran umat Islam yang bersifat sementara. Kemenangan-kemenangan Ottoman di Eropa timur pada abad 16 Masehi muncul menjadi pengulangan ekspansi Islam; akan tetapi tetap kehilangan wilayah teritorial karena kerajaan Ottoman antara abad 18 dan akhir Perang Dunia Pertama tidak membawa peninggalan paripurna konsepsi ini. Sebagian besar para pendukung yang antusias kepada Imam Khomyni dan para pemimpin fundamentalis yang lain yang agaknya berfikir bahwa suatu periode kemajuan baru tengah barlangsung di ambang pintu.

 

TITIK TEMU ISLAM DAN KRISTEN Persepsi dan Salah Persepsi   William Montgomery Watt Penerjemah: Zaimudin   Hak Terjemahan pada Penerbit Gaya Media Pratama Jakarta Desain Sampul: Salimi Akhmad Diterbitkan Oleh: Penerbit Gaya Media Pratama Jakarta Dicetak Oleh: Percetakan Radar Jaya Jakarta Anggota IKAPI Cetakan 1, 1996   ISBN 979-578-007 7 Harga Rp. 9.500,-


| Indeks Artikel | Tentang Pengarang |