TITIK TEMU ISLAM DAN KRISTEN
Persepsi dan Salah Persepsi

oleh William Montgomery Watt


| Indeks Artikel | Tentang Pengarang |

 

Refleksi Lebih Lanjut

Bab ini dibuka dengan menyatakan adanya penolakan terhadap filsafat Yunani oleh Islam. Namun apabila sekarang kembali ke persoalan tersebut, maka di satu saat kita pasti akan bertentangan dengan persoalan berikutnya. Apakah ada perbedaan esensial antara sikap manusia seperti Fakhr al-Din al-Razi, Al-Iji dan al-Jurjani serta Thomas Aquinas. Sir Hamilton Gibb dalam mendiskusikan masalah ini mencatat bahwa para pemikir muslim dan para pemikir Kristen menyatakan amat jauh dari pandangan manusia biasa. [13] Memang ini benar, namun pandangan tersebut dapat dihilangkan, karena kebanyakan manusia biasanya ingin mengetahui bahwa orang-orang yang memiliki keunggulan intelektual itu dapat mempertahankan keimanannya secara intelektual. Gardet dan Anawati yang berbicara tentang conservatisme Fige teologi Islam di abad-abad terakhir ini. Di satu pandangan, mereka menyatakan bahwa kekakuan yang sebenarnya terjadi terhadap fakta itu adalah dikarenakan para ilmuwan muslim hanya mempertahankan rumusan-rumusan dogma yang diterima, tidak berupaya mencapai pemahaman yang lebih mendalam terhadap realitas-realitas yang terlibat di dalamnya; [14] dan boleh jadi ada benarnya dalam hal ini.

Di pihak lain, instink saya melihat perbedaan antara hasil-hasil final dalam Islam dan dalam Kristen sebagaimana yang terjadi pada sikap otoritas kedua agama tersebut terhadap doktrin-doktrin yang dinyatakan. Kasus yang paling menghebohkan Kristen adalah kasus dibunuhnya Galile pada tahun 1633 Mesehi. Sebelumnya Copernicus telah mencetuskan teori tentang alam semesta yang sudah sedemikian dikenal. Menurutnya, bumi ini yang bergerak mengitari matahari, sementara matahari diam tidak bergerak. Sedangkan keyakinan yang sampai sekarang ini masih berlaku adalah matahari yang bergerak mengitari bumi, bukan bumi yang mengitari matahari. Walaupun demikian, hanya sejak tahun 1616 Masehi setelah teorinya ini didukung oleh Galileo yang telah dituduh salah oleh gereja dan Galileo menyatakan tidak akan pernah mempertahankan pandangan bahwa matahari yang mengelilingi bumi. Namun begitu, pada tahun 1632 Masehi, dia menerbitkan sebuah buku dimana lawan-lawannya menyatakan telah mempertahankan teori Copernican dan berdasarkan teori inilah dia dikutuk dan dipersalahkan oleh gereja, sungguhpun dia menghindari hukuman tersebut dengan mencabut kembali pernyataannya. Dinyatakan oleh para pelajar belakangan ini pada periode itu bahwa terjadi pertentangan terhadapnya dari kebanyakan para filsuf dan para ahli teologi. Mereka ditentang karena bertentangan dengan teori ilmu pengetahuan Aristotelian.

Larangan terhadap pandangan-pandangan Copernican oleh para pemimpin agama (gereja) di Roma, agaknya hanya mempunyai pengaruh terbatas. Kehidupan intelektual Eropa barat kini telah mengalir deras melalui beberapa aliran yang berbeda-beda satu dengan yang lain, dimana teologi Katolik merupakan satu-satunya teologi tunggal tak terkecuali. Sebagaimana para pemimpin agama Protestan mencoba melakukan kontrol, namun hanya ditujukan kepada doktrin-doktrin teologis saja. Sementara itu banyak manusia yang mencurahkan perhatiannya kepada berbagai cabang ilmu pengetahuan. Diversitas intelektual ini, tak pelak lagi, merupakan faktor penting dalam membebaskan diri dari agama dan bentuk kontrol yang lain bagi para pemikir Eropa barat. Di sebagian besar negeri di dunia ini ada kemungkinan telah menerbitkan buku-buku, bahkan ketika mengekspresikan pandangan-pandangan yang bertentangan dengan agama kota yang dibangun itu; dan ketika hal ini tidak mungkin dilakukan maka buku-buku acapkali dapat diterbitkan di negara lain.

Perbenturan pemikiran filsafat terhadap Galileo yang memandang adanya distinksi yang terjadi pada pemikiran Yunani, yakni, antara ajaran filsafat yang khusus dan penilaian umum yang mengiringi argumen yang memimpinnya. Lalu inilah yang merupakan kontribusi Yunani yang lebih penting terhadap dunia. Ketika filsafat Aristotelian akrab diasosiasikan dengan dogma Kristen dalam sistem pemikiran Thomis (terutama seperti dogma yang dimunculkan pada abad keenam belas oleh golongan mazhab Jesuit, dan lain-lain), kiranya telah menjadi kecenderungan untuk memandang filsafat sebagai yang juga menghasilkan suatu bentuk dogma yang tidak boleh diganggu gugat. Kendatipun demikian, sejak abad tujuh belas banyak manusia yang begitu mendalam tertarik kepada sains dan merancang rumusan-rumusan pengetahuan berdasarkan penelitian-penelitian mereka dan teorisasinya di samping adanya oposisi gereja. Khususnya di Inggris, karya ilmiah itu didorong oleh keluarga kerajaan, yang meliputi sebagian pendeta Anglican di antara anggota-anggotanya. Tentang para pendiri ilmu pengetahuan dan filsafat baru Descartes dan Locke, aliran mazhab pemikiran Thomis dan bentuk-bentuk skolastisisme lainnya yang rupanya menjadi bersifat diktatorial dan otoritatif, picik dan tidak imajinatif. [15]

Pandangan akan hubungan filsafat dan teologi di Eropa barat ini memberi perspektif lebih baik yang memberikan penilaian kembali kepada kedudukan Islam. Walaupun Al-Ghazali menghasilkan apa yang mungkin akan menghancurkan kritik falasifah, agaknya Al-Ghazali tidak menolak filsafat masuk ke dalam Ilmu Kalam. Penilaian secara superfisial agaknya menjadi perbedaan kecil antara penilaian terhadap filsafat yang nampak pada karya-karya ilmu Kalam terkemudian dan karya-karya filsafat Thomas Aquinas, walaupun ini merupakan topik yang menguntungkan penyelidikan lebih lanjut. Namun begitu, apa yang dapat dikatakan adalah sebagaimana filsafat yang hampir menjadi kolot pada mazhab Jesuit dan mazhab-mazhab lain di zaman Galileo, demikian pula kolotnya mazhab-mazhab utama Islam setelah abad lima belas. Dengan kata lain, doktrin-doktrin Yunani yang sedemikian luas diterima itu, namun tidak ada isyarat bagi terbentuknya pemikiran Yunani yang mengikuti argumen itu. Hal ini sungguh memungkinkan penilaian-penilaian para ulama bersifat represif dan supresif yang menciptakan kemunduran filsafat di dunia Islam timur setelah Ibnu Sina, dan kematian filsafat Islam di dunia barat setelah Ibnu Rushd. Kemungkinan ada sikap-sikap para ulama yang membawa kemunduran bagi pengejaran ilmu pengetahuan di tengah umat Islam. [16] Jadi, ketidakberdayaan Islam menghadapi pemikiran Eropa modern ini benar-benar bukan karena penolakannya kepada kekhususan-kekhususan pemikiran Yunani, melainkan karena penolakannya terhadap terbukanya pemikiran Yunani bagi kebenaran yang baru.

 

TITIK TEMU ISLAM DAN KRISTEN Persepsi dan Salah Persepsi   William Montgomery Watt Penerjemah: Zaimudin   Hak Terjemahan pada Penerbit Gaya Media Pratama Jakarta Desain Sampul: Salimi Akhmad Diterbitkan Oleh: Penerbit Gaya Media Pratama Jakarta Dicetak Oleh: Percetakan Radar Jaya Jakarta Anggota IKAPI Cetakan 1, 1996   ISBN 979-578-007 7 Harga Rp. 9.500,-


| Indeks Artikel | Tentang Pengarang |