TITIK TEMU ISLAM DAN KRISTEN
Persepsi dan Salah Persepsi

oleh William Montgomery Watt


| Indeks Artikel | Tentang Pengarang |

 

Tuntutan Umat Kristen

Setelah pertimbangan umum tentang apa yang terlibat dalam kehidupan bersama agama-agama, akan membantu melihat secara lebih terinci apa yang disyaratkan umat Kristen. Poin yang esensial adalah bahwa agama-agama lain seharusnya diakui sebagai memiliki tempat pijakan yang sama, yakni, yang dimiliki banyak agama lain sama seperti yang dimiliki agama Kristen, dan paling kurang sebagai akibat hasil-hasil keagamaan yang baik. Walaupun demikian, pengakuan akan agama-agama lain ini juga menyaratkan dibebaskannya, sekurang-kurangnya tidak terus-menerus, beberapa poin kepercayaan Kristen, sebagaimana yang didapatkan pada kredo Perjanjian Baru dan kredo ekumenikal; dan cara ini sulit bagi umat Kristen, bahkan boleh dikatakan mustahil. Kendatipun demikian, sebenarnya kesulitan itu dapat dipermudah oleh pertanyaan-pertanyaan fakta yang berbeda dari masalah-masalah penafsiran, karena ruang gerak yang terkemudian ini memungkinkannya dapat dilakukan.

Contoh yang paling sederhana adalah konsepsi manusia terpilih, yakni, pilihan Tuhan. Pertama pilihannya jatuh kepada semua agama Ibrahim, lalu bangsa Israel dan baru kemudian sebagaimana yang cenderung dipertahankan oleh teologi Kristen -- Gereja Kristen sebagai pewaris sebenarnya bagi Perjanjian Lama dan menjadi sentral untuk Perjanjian Baru. Konsep pilihan, paling tidak, dapat dipahami pada dua jalan. Dapat dipegangi bahwa Ibrahim, bangsa Israel dan Gereja ini dipilih karena lebih unggul dari tiap individu maupun kelompok-kelompok yang mengitarinya dan mempunyai jasa yang besar. Di sisi lain, dipegangi bahwa Ibrahim, bangsa Israel dan Gereja ini dipilih karena mampu menampilkan tugas-tugas masa depan, yakni, pewarisan bentuk khusus ilmu Tuhan kepada generasi-generasi masa depan dan akhirnya kepada seluruh dunia. Jalan pilihan yang kedua ini tidak menyiratkan bahwa orang-orang terpilih itu lebih unggul daripada yang lain dalam jalan yang paling eksklusif, dan secara khusus tidak menafikan kemungkinan-kemungkinan pilihan yang lain, seperti Muhammad, dapat terpilih untuk memainkan tugas yang lengkap bagi Tuhan. Mengikuti pemahaman yang kedua ini, maka, kepercayaan umat Kristen dalam pilihan-pilihan tersebut oleh Tuhan tidak bersifat eksklusif.

Lebih sulit untuk menegaskan bahwa Yesus adalah "satu-satunya anak Tuhan (monogenes)" sebagaimana dalam kredo Nicence. Terma monogenes ini berasal dari rasul John (Yahya) [16] dan berarti manusia terpilih itu hanya "satu", tidak lebih dari satu. Konsep yang berbeda didapatkan pada awal Surat yang ditulis oleh sahabat Al-Masih kepada bangsa Yahudi [17]. Penulis itu mengatakan bahwa Tuhan, yang dahulu sudah dikatakan kepada bapak-bapak melalui nabi-nabi, kini disampaikan kepada kita melalui putra-Nya, yang dia bangun sebagai pewaris segala sesuatu, dan melalui dunia-dunia yang Dia ciptakan. Lebih lanjut sedikit Dia tambahkan bahwa putra ini setelah melakukan penebusan dosa, mengambil tempat duduknya di sebelah kanan Tuhan Yang Maha Agung. Dalam konsepsi ini ada dua hal yang perlu dicatat. Satu hal bahwa melalui putra ini Tuhan menciptakan alam semesta; dan ini mengingatkan kepada ayat yang mengatakan bahwa melalui Firman atau Logos -- atau mungkin dapat kita katakan rasionalitas ketuhanan -- sehingga segala sesuatu itu ada [18]. Maka aspek kemaujudan Tuhan ini, rasionalitas-Nya atau sesuatu yang seperti itu, menjadi daging dalam Yesus, yakni, mengambil bentuk manusia. Inilah yang menunjukkan Yesus itu unik, namun barangkali dapat dipertahankan bahwa sesuai dengan hal kedua, yakni, penebusan dosa-dosanya, keunikannya adalah berasal dari tercapainya penebusan dosanya yang unik itu.

Ajaran resmi Kristen bahwa Yesus itu adalah benar-benar manusia dan benar-benar Tuhan, dan sifat ketuhanan dan sifat kemanusiaan Yesus ini tidak bercampur menjadi satu. Dengan kata lain, Yesus itu bukan tuhan-manusia atau bukan superman. Kendatipun demikian, para ahli teologi dan lain-lain, acapkali cenderung memberi titik tekan sifat ketuhanan dengan mengorbankan sifat kemanusiaan. Sementara banyak juga di dalam Bibel yang meredusir perbedaan antara Yesus dan manusia lain yang ada. Dalam pertimbangan yang dinyatakan tadi bahwa semua orang lelaki dan perempuan telah diciptakan pada bayangan Tuhan [19], penonjolan yang sebagian besar ulama muslim telah menolaknya sebagai ajaran yang salah. Tuhan dikatakan sebagai bapak dalam Perjanjian Lama [20], dan makhluk manusia yang ada ini sebagai putra dan putri-Nya. [21] Dalam pemikiran Paul, Yesus adalah sesuatu yang dipahami berbeda sebagai "anak sulung dari semua makhluk" [22], namun ini dimanapun diseimbangkan ketika semua umat Kristen itu disebut "gereja anak sulung" [23]. Paul juga membedakan Yesus dengan para penganut Kristennya dengan mengatakan bahwa walaupun Yesus ini benar-benar anak, namun umat Kristen adalah anak- anak yang diakui lewat adopsi [24]. Kendatipun demikian, lagi-lagi hal ini dapat diseimbangkan dengan ayat penting yang mengatakan bahwa semua orang yang beriman kepada Yesus benar-benar menjadi anak-anak Tuhan, "orang-orang yang diperanakkan, bukan melalui hubungan darah, bukan melalui kehendak daging, bukan pula dari kehendak laki-laki, melainkan dari Tuhan". [25]

Dalam berbagai pernyataan ketuhanan dalam beberapa pengertian dari semua orang yang beriman, terutama penting bagi umat Kristen untuk ikut serta dalam dialog agar mempunyai ide yang jelas bagaimana keputraan Yesus ini berbeda dengan keanakan umat Kristen yang lain. Apakah ini disebabkan oleh prestasi pribadinya yang unik, yang kita jelaskan, atau adakah sesuatu yang lain? Perlu dicatat pada titik singgung ini, bahkan, keunikan itu tidak penting artinya bagi keungggulan atas segala makhluk lain, karena umat lain juga dapat mempunyai keunikan meskipun tugas itu berbeda. Yang mempunyai keunikan itu berada pada sesuatunya yang berbeda, tidak identik sama sekali dengan berbagai tugas yang lain. Di sini saya tidak mengira dapat memberikan solusi terhadap problema-problema tersebut, namun problema-problema tersebut kita biarkan agar diselesaikan oleh para ahli teologi. Sekalipun demikian, saya ingin memberi perhatian kepada cara penafsiran-penafsiran teologis yang eksklusif itu dapat menyimpangkan terjemahan. Dalam prolog Empat Gospel ada kata-kata "kami melihat keagungannya, doxan hos monogenous para patros", dimana terjemahan harfiah kata-kata Yunani tersebut adalah: "suatu keagungan sebagai an (tidak ada kata Indonesianya) satu-satunya (anak) dari seorang ayah (manusia)"; dan tidak bertentangan dengan kepercayaan Kristen pada terjemahan tersebut. [26] Selanjutnya saya mendapatkan terjemahan bahasa Inggris dari Perjanjian Baru: "we saw glory, such glory as befits the Father's only son" (kami melihat keagungan, keagungan seperti yang sesuai dengan satusatunya putra Bapa"; dan Bibel Baru Yerusalem menyebutkan: "kami melihat keagungannya, keagungan itu yang dia miliki dari Bapa sebagai satu-satunya Anak Bapa itu." Tentu saja ada pembenaran bagi terjemahan-terjemahan tadi, namun merupakan bacaan dalam suatu teks yang sesungguhnya tidak dimaksudkan demikian secara aktual. Secara tegas para ahli teologi dan para penerjemah Bibel seyogyanya akan lebih sadar bahwa kita berkutat ke dalam suatu situasi harus hidup bersama dengan agama-agama lain, dan seharusnya menyatakan bahwa hal ini menempatkan pemaksaan-pemaksaan tertentu atas terjemahan-terjemahan teks Bibel tadi. Kalau hal itu tidak dipikirkan maka apa yang dikatakan tadi dimaksudkan menganggap kecil atau meremehkan hakekat ketuhanan Yesus, saya harus mengatakan bahwa hasil akhir seharusnya akan makin mempertinggi status semua sifat kemanusiaan.

Berbeda dengan menghindari eksklusifisme yang tidak dibenarkan. Maka penting kalau para ahli teologi Kristen akan menyusun ajaran Trinitas yang tidak menyisakan misteri akan yang diketahui hanya untuk sebagian kecil ahli teologi besar dalam stratosfir intelektual, yang tidak dapat diperoleh pada umat Kristen awam. Umat Kristen awam harus bertemu dengan umat Islam dan anggota pemeluk agama-agama lain dan harus menjelaskan tentang bagaimana memahami ajaran Trinitas tadi, sungguhpun mereka percaya bahwa Yesus itu benar-benar mempunyai sifat ketuhanan, mereka percaya bahwa Tuhan itu satu tidak lebih dari satu. Mereka juga harus menemukan pertanyaan-pertanyaan tentang pernyataan bahwa semua orang beriman itu adalah anak-anak Tuhan.

Dalam suatu situasi dialog saya berpegang dengan pendapat bahwa tugas hakikiah Kristen adalah untuk memberi kesaksian terhadap fakta-fakta historis kemanusiaan tentang Yesus dan lalu membiarkan kesaksian itu berada pada para anggota pemeluk agama-agama lain untuk membentuk penafsiran terhadap fakta-fakta tadi dalam terma tradisi masing-masing agamanya. Penafsiran tradisional Kristen terhadap fakta-fata tersebut dalam terma filsafat Helenistik akhir, yang sekarang kita tolak, meskipun kita tidak pernah mendapatkan ganti yang dapat diterima secara umum. Kendatipun begitu, rupanya kita tetap terlibat ke dalam suatu situasi dalam mana rumusan-rumusan baru mungkin dapat diakui sebagai alternatif-alternatif terhadap rumusan tradisional, bukan menggantikan melainkan melengkapinya. Penafsiran-penafsiran non-Kristen tentang ajaran dan prestasi yang dicapai Yesus, maka, tidak boleh ditolak sama sekali, akan tetapi harus diterima - setidak-tidaknya - untuk sementara waktu dan selanjutnya untuk didiskusikan pada waktu yang lain, sehingga diketemukan apakah umat Kristen dapat menerima penafsiran-penafsiran orang yang beragama lain sebagai rumusan altematif kepercayaan mereka masing-masing.

Dalam dialog dengan umat Islam juga penting dipikirkan bahwa umat Kristen seharusnya menolak penyimpangan-penyimpangan bayangan Islam zaman pertengahan dan hendaknya mengembangkan apresiasi yang positif nilai-nilainya. Hal ini melibatkan diterimanya Muhammad saw sebagai pemimpin agama lewat siapakah Tuhan bekerja, dan persamaan untuk berpegang pada pengertian bahwa Muhammad saw ini adalah seorang nabi. Pandangan itu tidak bertentangan dengan kepercayaan sentral Kristen. Sekalipun demikian, harus dijelaskan kepada kaum muslimin bahwa umat Kristen ini tidak mempercayai semua wahyu dari Tuhan kepada Muhammad itu sama sekali mutlak, walaupun mereka membenarkan kalau banyak kebenaran ilahi itu diturunkan kepada Muhammad. Arthur Arberry memberi penghargaan kepada nilai keagamaan Al-Qur'an dalam Pendahuluan terjemahannya:

Tugas (terjemahan) yang tidak mudah ini dilaksanakan dan membawa kesimpulan yang pada suatu saat benar-benar menyulitkan pribadi, melalui mana terjemahan itu menyenangkan dan mendukung penulis dalam suatu pekerjaan yang senantiasa melimpahkan kehendak ingin berterima kasih. Oleh karena itu, dia mengucapkan terima kasih kepada kekuatan apapun atau Kekuatan yang memberi petunjuk manusia dan Nabi yang pertama kaii membawakan dan menyampaikan wahyu-wahyu tersebut. [27]

Terhadap pernyataan pribadi ini dapat menambahkan satu wakil dari pertimbangan tersebut atas Islam dalam Deklarasi tentang Hubungan Gereja dengan agama-agama non-Kristen yang diangkat oleh Konsili Vatican Kedua di tahun 1965. [28]

Gereja juga berkenaan dengan penghargaan kaum muslimin yang rnenyembah satu Tuhan, Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Kuasa, Pencipta langit dan bumi, yang berbicara kepada manusia. Islam dengan rela mencari jejak-jejak leluhurnya kembali ke agama Ibrahim dan sebagaimana Ibrahim sendiri tunduk kepada Allah, kaum muslimin berusaha keras untuk berserah diri tunduk kepada titah-titah-Nya yang misterius. Kaum muslimin menghormati Yesus sebagai nabi, meskipun tanpa mengakuinya sebagai Tuhan dan menghormati keperawanan ibunya Mariam yang suci dan juga memanjatkan doa untuknya dengan khusyu'. Lebih lanjut, kaum muslimin mengharapkan hari pengadilan ketika Allah hendak mengangkat seluruh manusia dari amal perbuatannya di dunia dan ganjarannya di akhirat kelak. Dengan alasan ini kaum muslimin berkepentingan kepada kehidupan moral dan beribadah kepada Allah, terutama dengan mendirikan salat, membayar zakat dan berpuasa di bulan Ramadhan. Apabila dalam beraba-abad lamanya di sana tidak semakin sering meningkatkan pertikaian dan permusuhan antara umat Islam dan umat Kristen, maka Konsili yang suci ini sekarang mendesak setiap orang agar melupakan masa lampau, dalam memberikan dukungan sungguh-sungguh untuk saling memahami dan saling bekerja sama dalam melindungi dan membawa kesejahteraan, keadilan sosial, kebaikan moral seperti perdamaian dan pembebasan semua manusia.

 

TITIK TEMU ISLAM DAN KRISTEN Persepsi dan Salah Persepsi   William Montgomery Watt Penerjemah: Zaimudin   Hak Terjemahan pada Penerbit Gaya Media Pratama Jakarta Desain Sampul: Salimi Akhmad Diterbitkan Oleh: Penerbit Gaya Media Pratama Jakarta Dicetak Oleh: Percetakan Radar Jaya Jakarta Anggota IKAPI Cetakan 1, 1996   ISBN 979-578-007 7 Harga Rp. 9.500,-


| Indeks Artikel | Tentang Pengarang |