BAB I:

MENGHUJAT AL-QUR'AN
 

 

5. Ricoldo da Monte Croce (±1243-1320)

 

Pada abad ke-13 M, sudah banyak para biarawan dan pen­deta yang mulai mempelajari Islam. Diantaranya Ricoldo da Monte Croce (Ricoldus de Monte Crucis), seorang Biarawan Dominikus. Ia menulis beberapa karya mengenai Islam dalam bahasa Latin.55 Dalam pandangannya, setan mengarang AI­ Qur'an sekaligus membuat Islam. Ricoldo menyatakan:

 

"Pengarang bukanlah manusia tetapi setan, yang dengan kejahatannya serta izin Tuhan dengan pertimbangan dosa manusia, telah berhasil untuk memulai karya Anti-Kris­tus. Setan tersebut, ketika melihat iman Kristiani semakin menambah besar di Timur dan berhala sernakin berkurang, dan Heraclius, yang menghancurkan menara menjulang yang dibangun oleh Chosroes dengan emas, perak dan batu-batu permata untuk menyembah berhala-berhala, mengatasi Chosroes pembela berhala. Dan ketika setan melihat palang salib Kristus diangkat oleh Heraclius, dan tidaklah mungkin lagi untuk membela banyak tuhan atau menyangkal Hukum Musa dan Bibel Kristus, yang telah rnenyebar ke seluruh dunia, Setan tersebut merancang sebuah bentuk hukum (agama) yang pertengahan jalan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dalam rangka untuk menipu dunia. Dengan maksud ini ia memilih Muhammad. "56

Selain itu, Ricoldo mengklaim banyak penyimpangan ter­jadi di dalam sejarah Al-Qur'an. Dalam pandangannya, versi qiraah sab`ah tidak sama dengan versi Audala filius Mesetud (`Abdullah ibn Mas`ud), Zeid filius Tampeth (Zayd ibn Tha­bit), Ocanan filius Ophyn (`Uthman ibn `Affan) dan Oenpe tilius Tap (Ubayy ibn Ka`b). Menurut Ricoldo, teks Al ­Qur'an sekarang ini berasal dari perintah dan paksaan Mar­wan ibn al-Hakam kepada orang-orang Islam.57

Dalam pandangan Ricoldo, makna sebenarnya ahlul kitab justru merujuk kepada Muslim.58 Menurutnya lagi, nama­ nama surah-surah di dalam AI-Qur'an seperti Surah Lebah (al-Nahl), Semut (al-Naml) dan Laba-Laba (al-`Ankabut) sangat tidak sesuai untuk disebut sebagai wahyu Tuhan. Selain memuat kata yang tidak senonoh (obscene) seperti zina, Al-Qur'an juga memuat berbagai kata yang tidak penting dan berulang-ulang.59

Dalam pandangan Ricoldo, susunan Al-Qur'an sangat tidak sistematis. Tidak ada kronologi waktu, periodesasi raja­ raja, susunan kisah yang teratur, subjek pembahasan, berang­kat dari yang tidak relevan kepada yang tidak relevan lainnya, logika yang tidak tersusun; dari premis yang betul ke hal-hal yang tidak berhubungan.60

Ricoldo menyimpulkan: Pertama, Al-Qur'an hanyalah kumpulan bid`ah-bid`ah lama yang telah dibantah sebelumnya oleh otoritas Gereja. Kedua, karena Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak memprediksi sebelumnya, maka AI­Qur'an tidak boleh diterima sebagai "hukum Tuhan." Selain itu, doktrin-doktrin Islam mengenai kesalahan agama Kristen dan Yahudi tidak bisa diterima. Ketiga, gaya bahasa Al­ Qur'an tidak sesuai untuk disebut menjadi "Kitab Suci". Ke­empat, klaim AI-Qur'an yang berasal dari ilahi tidak memiliki basis di dalam tradisi Bibel. Selain itu, konsep-konsep etika di dalam Al-Qur'an bertentangan dengan pernyataan-pernyataan filosofis. Kelima, Al-Qur'an penuh dengan berbagai kontradi­ksi internal. Al-Qur'an sangat tidak teratur. Keenam, kebe­naran Al-Qur'an tidak dibuktikan dengan mukjizat. Ketujuh, Al-Qur'an bertentangan dengan akal. Buktinya, kehidupan Muhammad tidak bermoral dan Al-Qur'an memuat hujatan dan pernyataan-pernyataan yang tidak masuk akal mengenai hal-hal ketuhanan dan sebagainya. Kedelapan, Al-Qur'an me­ngajarkan kekerasan untuk menyebarkan Islam dan meng­akui ketidakadilan. Kesembilan, sejarah Al-Qur'an tidak menentu. Kesepuluh, Peristiwa mi`raj adalah fiksi murni dan dibuat-buat.61

Tulisan-tulisan Ricoldo terhadap Al-Qur'an sama sekali tidak ilmiah dan sangat sinis. Hujatannya sebenarnya lebih tepat ditujukan kepada Bibel. Ini karena Bibel banyak sekali memuat cerita-cerita yang tidak senonoh dan porno serta tidak masuk akal. Nabi-nabi, yang sepatutnya ditiru, ternyata banyak memiliki skandal seks. Bibel bertentangan dengan sains.62 Selain itu, sejarah penulisan dan penghimpunan Bibel sangat tidak menentu.63 Oleh sebab itu, kritikan Al-Qur'an kepada Bibel adalah benar dan logis. Al-Qur'an mengingkari bahwa `Isa as sebagai Tuhan.64 Mengakui seorang manusia sebagai Tuhan justru tidak masuk akal. Nabi `Isa as. adalah seorang manusia yang berkembang besar dari seorang bayi sehingga menjadi dewasa. Makan, minum, tidur, buang air besar dan air kecil. Jika ia adalah Tuhan yang berbentuk manusia, mengapa ia mengeluh ketika orang-orang Yahudi ingin menyalibnya? Semasa hidupnya, Nabi `Isa as. sangat cinta beribadah kepada Allah. Jika sekiranya Yesus itu Tuhan, maka Tuhan akan menyembah diri-Nya, suatu hal yang tidak bisa diterima oleh akal. Ringkasnya, Ricoldo tidak mengapli­kasikan pandangan sinisnya kepada Bibel. Sebaliknya, ia tetap menganggap Bibel yang sebenarnya memiliki sejumlah permasalahan mendasar, sebagai sebuah kitab suci.

 

 

6. Martin Luther (1483-1546)

 

Dalam kaitannya dengan Al-Qur'an, Luther melakukan dua hal. Pertama, menerjemahkan karya Ricoldo dalam bahasa Latin, Confutatio Alcorani (Bantahan Trrhadap AI­ Qur'an) ke bahasa Jerman (Verlegung des Alcoran Bruder Richardi) pada tahun 1542. Di dalam kata prngantarnya untuk terjemahan Confutatio Alcorani, Luther mengakui karya Ricoldo sudah dibaca sejak tahun 1530. Luthrr tidak percaya jika ada manusia yang mau memercayai ketololan dan ketakhyulan AI-Qur'an. Ia srlanjutnya sangat berkeinginan untuk membaca sendiri Al-Qur'an. Namun, ia baru membaca terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Latin pada tanggal 21 Februari 1542. 65 Setelah menyadari kalau selama ini Ricoldo benar, maka Luther menerjemahkan karya Ricoldo tersebut ke bahasa Jerman.66

Kedua, Luther menulis kata pengantar untuk karya Theodore Bibliander (1504-1564), yaitu Vorrede zu Theodor Bibliandus Koranausgabe (Kata pengantar kepada Al-Qur'an Edisi Theodor Bibliander) pada tahun 1543. Bibliander adalah seorang Pastor terkemuka Jerman, pengganti Zwingli di Zu­rich. Pada awal tahun 1530-an, Bibliander minta tolong kepa­da sahabatnya, Johannes Oporin, salah seorang pemilik percetakan terkemuka di Basle, supaya menyediakan teks-teks Arab kepadanya. Hasilnya, Bibiliander memiliki teks-teks Arab, salah satunya adalah terjemahan Al-Qur'an Toledo. Ia berniat mempublikasikannya. Ketika mencetak Al-Qur'an edisi Bibliander, Oporin tidak meyadari kalau tindakannya mempublikasikan al-Quran akan mengundang masalah. Saat itu, Al-Qur'an dianggap sebagai sebuah buku berbahaya (a dangerous book). Dewan Gereja di Basle memerintah Oporin supaya tidak menyambung pekerjaannya, sehingga isu Al­ Qur'an sebagai buku yang berbahaya atau tidak, dituntaskan terlebih dahulu. Saat itu terjadi pro-kontra pendapat dalam menghadapi isu ini. Akhirnya, hanya setelah Martin Luther intervensi, maka AI-Qur'an bisa dipublikasikan. Luther mere­komendasikan kepada Dewan Gereja di Basle supaya mem­biarkan terjemahan tersebut terbit.67 Dalam pandangan Luther, tidak seorang Kristenpun akan hilang keimanannya karena membaca Al-Qur'an. Akhirnya, karena campur tangan Luther, Al-Qur'an yang direvisi Bibliander jadi diterbitkan. Bibliander yang semula diancam untuk dipenjarakan, akhir­nya dicabut.68 Pada tahun 1543, Luther menulis kata pengan­tar yang panjang untuk karya Bibliander tersebut ( Vorrede zu Thcodor Bibliandus Koranausgabe).

 

Pendapat Luther mengenai Al-Qur'an banyak diwarnai dari pemikiran Ricoldo dan Nicholas dari Kusa. Hujatan Luther kepada AI-Qur'an sangat sinis. Dalam pandangan Luther, Setan adalah pengarang terakhir Al-Qur'an. (The devil is the ultimate author of the Qur'an).69 Pendapat Luther berdasarkan kepada Yohannes 8 (44).70  Luther berpendapat bahwa setan adalah seorang pembohong dan pembunuh ( a liar and murderer) dan Al-Qur'an mengajarkan kebohongan dan pembunuhan. Luther selanjutnya menghubungkan antara ke­bohongan dan pembunuhan dengan kontrol setan kepada Muhammad. Luther menyatakan: "Jadi ketika jiwa pembo­hong mengontrol Muhammad, dan setan telah membunuh jiwa jiwa Muhammad dengan Al-Qur'an dan telah menghan­curkan keimanan orang-orang Kristen, setan harus terus me­ngambil pedang dan mulai membunuh badan-badan mereka." 71

Luther sangat membenci orang-orang Turki ([slam). Me­nurut Luther, Mohammed, Al-Qur'an dan orang-orang Turki semuanya adalah produksi setan. Luther mengatakan: "Na­mun sebagaimana Paus yang anti Kristus, begitu juga orang­ orang Turki yang merupakan penjelmaan setan." (But just asthe pope is the Antichrist, so the Turk is the very devil incar­nate).72

Luther menyebut Tuhan orang-orang Turki adalah setan (demon) karena ketika orang-orang Turki berperang, mereka berteriak Allah! Allah! Ini sama halnya dengan tentara-tentara Paus ketika berperang berteriak Ecclesia! Ecclesia! Bagi Luther, teriakan Gereja (ecclesia) adalah dari setan. Menurut Luther, Tuhan orang-orang Turki yang sebenarnya Iebih banyak berbuat dalam peperangan dibanding orang-orang Turki sendiri. Tuhan mereka yang memberi keberanian dan trik, yang.mengarahkan pedang dan tangan, kuda dan manu­sia.73

Luther menyatakan: "Muhammad menafikan bahwa Kris­tus adalah Anak Tuhan. Dia menafikan bahwa beliau (Yesus) telah wafat demi dosa-dosa kita. Dia menafikan bahwa iman kepada-Nya mengampunkan dosa serta membersihkan (dari kesalahan). Dia menafikan akan kedatangan kehidupan dan kematian-Nya. Mungkin ada kebangkitan orang yang mati, namun dia mempercayai pengadilan oleh Tuhan. Dia menafikan Ruh Kudus dan hadiah-hadiah-Nya."74

Luther berpendapat AI-Qur'an mengajarkan kebohongan, pembunuhan dan tidak menghargai perkawinan. Bohong kare­na menolak kematian Yesus dan ketuhanan Yesus sebagai­mana yang diajarkan Bibel. AI-Qur'an mengajarkan bahwa hukum ditegakkan dengan pedang dan keimanan Kristiani perlu dihancurkan, dan Turki (Muslim) adalah pembunuh.75 Dalam pandangan Luthrr, AI-Qur’an membolehkan siapa saja untuk beristri sebanyak yang diinginkan. Menurutnya, meru­pakan kebiasaan bagi seorang laki-laki Turki untuk memiliki sepuluh atau dua puluh istri dan meninggalkan atau menjual siapa yang dia inginkan. Sehingga wanita-wanita Turki diang­gap murah dan rendah yang tidak ada harganya; mereka dibeli dan dijual seperti binatang ternak (It is customary among the Turks for one man to have ten or twenty wi ves and to desert or sell any whom he will, so that in Turkey women are held immeasuarably cheap and are despised; they are bought and sold like cattle).76

Luther, yang digelari 'the father of  the reformation' (Bapak Reformasi) menganggap hanya Bibel yang menjadi kitab suci. Pandangan Luther terhadap AI-Qur'an hanya mengu­langi kembali pendapat para penghujat AI-Qur’an sebelumnya.

 

 

 

NOTE
 

55. Diantaranya adalah: Improbatio alcorani (contra legem saracenorum) Kebatilan AI-Qur'an (Menentang Hukum Islam); Contra sectam Mahumeticam libellius (Buku Menentang Cara Fiidup Islam); Contirtatio Alcorani seu legis Sarracenonun, ex graeco nuper in latinum traducta (Membantah AI-Qur'an atau Hukum Islam, Transfer dari Yunani Modern ke Latin; Propugnaculum frdei, toti Christianae religioni aduersum mendacia, & deliramenta Saracenonun, Alcorani precipue, maxime vtile. Lihat Hartmut Bobzin, Der Koran, 507.

56. Ricoldo menyatakan: "The author is not human but the Devil who, by his own malice and by permission of God on account of human sin, has prevailed to initiate the work of Anti-christ. The devil, when he saw the Christian faith greatly increasing in the Orient and idolatry diminishing, and Chosroes the detender of idolatry over come by Heraclius, who demolished the high tower which Chosroes had built of gold, silver and precious stones for the worship of idols, and when he saw the cross of Christ raised up by that same Heraclius, and that it was or the Law of Moses and the Gospel of Christ, which has spread throughout the whole world, to be negated, the Devil devised a form of law (religion) which was halfway be­tween the Old and New Testaments, in order to deceive the world. For this purpose he chose Muhammad." Dikutip dari Patrick O'Hair Cate, Each Other's Scripture, 187.

57. Hertmut Bobzin, A Treasury of Heresies, 169.

58 Norman Daniel, Islarn and the West: The Making of an Image (Boston: Oneworld Publications, 2000, terbit pertama kali tahun 1960), 77.

59. Ibid., 38.
60.
Ibid., 80-81.

61. Hartmut Bobzin, A Trcasury of Heresias, I66. Pendapat Bobzin terhadap sikap Ricoldo kepada AI-Qur'a n berdasarkan kepada 17 Bab yang ada di dalam Confutatio Alcorani. Lihat secara ringkas isi 17 Bab tersebut di Patrick O'llair Cate, Each Other's Scripture, 186-87.

62.  Lihat Maurice Bucaille, The Biblr, the Qur'an and Science: The Holy Scrip­tures Examined in the Light of Modern Knowledge. Pen. Alstair D. Pannell dan Maurice Bucaille (Selangor: Thinkers Library, Sdn. Bhd., tt), terbit pertama kali tahun 1976.

63. Lihat Bruce M. Metzger, A Textual Conunentary on the Greek New Testa­ment: A Companion Volume to the United Bible Societies' Greek New Testament (Stuttgart: United Bible Societies, 1975). Bandingkan juga pengarang yang sama, The Text of  the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration (Oxford: Oxford University Press, edisi kedua, 1968).

64. Surah al-Ma'idah (5:17) ; Surah AI Jin (72: 3).

65. Menurut Hermann Barge, AI-Qur'an yang dibaca Luther itu adalah edisi yang sama dengan yang akan dipublikasikan tahun depannya (1543) di Basle. Dikutip dari Egil Grislis, "Luther and the Turks," MW 64 (1974), I 88.

66. Martin Luther, Verlegung des Alcoran, Bruder Richardi Prediger Ordens,

Verdeudseht, duren in D. Martin Luther's Werke. Kritische Gesanuausgabe. 53 jilid (Weimar: Hermann Bohnlaus Nachpolzer, 1920). Dikutip dari Patrick O'Hair Cate, Each Other's Scripture, 207.

67. Lihat uraian lebih detil mengenai pro-kontra mengenai penerbitan AI-Qur'an yang direvisi Bibliander di Hartmut Bobzin, A Treasury of Heresies, 161-64.

68. G. Simon, "Luther's Attitude Toward Islam," MW 21 (1931), 259.

69. Patrick O'Hair Cate, Each Other's Scripture, 189.

70. Disebutkan: "Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. la adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta." Lihat alkitab (Jakarta: Lembaga alkitab Indonesia, 2000), 123.

71. Luther menyatakan: "Thus when the spirit of lies had taken possession of Mohanuned, and the devil had murdered men's souls with his Koran and had de­stroyed the faith ofChristians, he had to go on and take the sword and set about to murder their bodies." Lihat Martin Luther, "On War Against the Turk," dalam Luther's Works, Pen. Charles M. Jacobs, direvisi oleh Robert C. Schultz, editor Helmut T. Lehmann 46 (Philadelphia: Fortress Press, 1967), 179, selanjutnya diringkas dengan On War Against the Turk.

72. Martin Luther, On War Against the Turk, 181

73. Luther menyatakan: "For they have been taught in the Koran that they shall boast constantly with these words, "There is no God but God. " All that is really a device of the devil. For what does if mean to say, "there is no God but God," whitout distinguishing one God from another? The devil, too, is a god, and they horror hirn with this word: there is no doubt of that. In just the same way rhr poye's cry. ecclesia! Ecclesia! To be sure, the devils" ecelesia! There force l believe that the Turks Al Allah does more in war than they themselves. He gives them courage and wiles he guides sword and fist, horse and man. What do you think, then, of the holy people who can call upon God in bottle, and yet destroy Christ and all God's words and works, as You have heard?" Lihat Martin Luther, On War  Against the Turk, 183.

74. Luther menyatakan: "Mohammad denies (negat) that Christ is the Son of God. He denies that faith in Him remit sin and has died for our sins. He denies that he rose for our life. He denies that faith in Him remits sin and justifies us. He denies His coming judge­ment of the living and the dead. Perhaps there is a resurrection of the dead, but he believes in a judgment by God. He denies the Holy Spirit and His gifts. "Dikutip dari Luther and Muhammedanism, MW 31 (1941), 171.

75. Patrick O'Hair Cate, Each Other's Scripture, 211.

76. Martin Luther, On War Against the Turk, 181.