BAB II:

METODOLOGI BIBEL DALAM STUDI AL-QUR'AN
 

 

2. Aplikasi Metodologi Bibel Dalam Al-Qur'an
 

Para sarjana Barat, orientalis dan Islamolog Barat sudah mulai menerapkan biblical criticism ke dalam studi Al-Qur'an sejak abad ke-19 M. Diantaranya seperti yang dilakukan oleh Abraham Geiger (1810-1874), Gustav Weil (1808-1889), William Muir (1819-1905), Theodor Noldeke (1836-1930), Friedrich Schwally (m. 1919), Edward Sell (1839-1932), Hartwig Hirschfeld (1854-1934), David S. Margoliouth (1858-1940), W. St. Clair-Tisdall (1859-1928), Louis Cheikho (1859-1927), Paul Casanova (1861-1926), Julius Wellhausen (1844-1918), Charles Cutley Torrey (1863­1956), Leone Caentani (1869-1935), Joseph Horovitz (1874­1931), Richard Bell (1876-1953), Alphonse Mingana (1881­1937), Israel Schapiro (1882-1957), Siegmund Fraenkel (1885-1925), Tor Andrae (1885-1947), Arthur Jeffery (1893­1959), Regis Blachere (1900-1973), W. Montgomery Watt, Kenneth Cragg, John Wansbrough (1928-2002), dan yang masih hidup seperti Andrew Rippin, Christoph Luxenberg (nama samaran), Daniel A. Madigan, Haraid Motzki dan masih banyak lagi lainnya.

Orientalis yang termasuk pelopor awal dalam menggunakan biblical critism ke dalam Al-Qur'an adalah Abraham Geiger (m. 1874), seorang Rabbi sekaligus pendiri Yahudi Liberal di Jerman.32 Pada tahun 1833, Geiger menulis Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenommen? (Apa yang telah Muhammad Pinjam dari Yahudi?). Di dalam karyanya tersebut, ia mengkaji AI-Qur'an dari konteks ajaran-ajaran Yahudi. Ia melihat sumber-sumber Al-Qur'an dapat dilacak di dalam agama Yahudi.

Orientalis lain yang termasuk awal menerapkan biblical critism ke dalam studi Al-Qur'an adalah Gustav Weil (m. 1889), seorang Yahudi Jerman. Dengan menggunakan metode kritis-historis, Weil pada tahun 1844 menulis Historische­ Kritische Einletung in der Koran (Mukaddimah Al-Qur'an: Kritis-Historis). Dalam pandangan Weil, Al-Qur'an perlu dikaji secara kronologis. Ia mengemukakan tiga kriteria untuk aransemen kronologi Al-Qur'an: (i) rujukan-rujukan kepada peristiwa-peristiwa historis yang diketahui dari sumber-sum­ber lainnya; (ii) karakter wahyu sebagai refleksi perubahan situasi dan peran Muhammad; dan (iii) penampakan atau bentuk lahiriah wahyu. Mengenai surah-surah Al-Qur'an, Weil membagi menjadi empat kelompok. (i) Makkah pertama atau awal; (ii) Makkah kedua atau tengah; (iii) Makkah ketiga atau akhir dan (iv) Madinah. Titik-titik peralihan untuk keempat periode ini adalah masa hijrah ke Abisinia (sekitar 615) untuk periode Makkah awal dan Makkah tengah, saat kem­balinya Nabi dari Taif (620) untuk periode Makkah tengah dan Makkah akhir, serta peristiwa Hijrah (September 622) untuk periode Makkah akhir dan Madinah.33

Kajian yang serius untuk melacak secara kritis asal­muasal Al-Qur'an dilakukan oleh Theodor Noldeke (m.1930), seorang orientalis Jerman. Noldeke menulis dalam bahasa Latin tentang sejarah Al-Qur'an. Ia mendapat gelar Doktor ketika berusia 20 tahun. Disertasinya diterjemahkan ke bahasa Jerman dengan judul Geschichte des Qorans (Sejarah Al­Qur'an) dan diterbitkan pada tahun 1860.34 Dalam pandangan Arthur Jeffery (m. 1959), karya Noldeke merupakan buku yang pertama kali memberikan landasan ilmiah yang sebenar­nya untuk mengkaji Kitab Suci Islam (Geschichte des Qorans provided for the first time a really scientific basis for study of the Scripture of Islam).35 Maksud Jeffery dengan "landasan ilmiah yang sebenarnya" (a really scientific basis) tidak lain adalah biblical criticism.

Menyadari sangat pentingnya buku Noldeke bagi kalangan orientalis, penerbit buku tersebut pada tahun 1898 meng­usulkan supaya Noldeke menerbitkan edisi kedua. Dise­babkan Noldeke tidak sanggup melakukannya, maka tugas ini dipercayakan kepada Friedrich Schwally, murid Noldeke. Schwally mengedit dan merevisi buku tersebut menjadi dua edisi. Edisi pertama tentang asal mula al-Quran (uber den Ursprung des Qorans), diselesaikan tahun 1909, dan edisi kedua tentang penyusunan Al-Qur'an (Die Sammlung des Qorans) diselesaikan tahun 1919. Setelah menyelesaikan manuskrip itu-dan ketika sedang dicetak-Schwally me­ninggal dunia, pada tanggal 5 Februari 1919. Schwally juga sudah merintis edisi ketiga dengan menulis kata pengantar tentang Sejarah Text AI-Qur'an (Die Geschichte des Koran­texts).36

Menjadikan karya Noldeke, Geschichte des Qorans seba­gai model,37 Pendeta Edward Sell (m. 1932), salah seorang tokoh misionaris terkemuka di Madras, India, menyeru seka­ligus mendesak agar kajian terhadap historisitas Al-Qur'an dilakukan. Menurutnya, kajian kritis-historis Al-Qur'an tersebut perlu menggunakan kritik Bibel (biblical critism). Merealisasikan gagasannya, Sell menggunakan metodologi higher criticism dalam bukunya Historical Development of the Qur'an, yang diterbitkan pada tahun 1909 di Madras, In­dia.38 Sebagaimana seruan Edward Sell, Pendeta Alphonse Mingana (m. 1937) juga menyatakan:

"Sudah tiba masanya untuk melakukan kritik teks terhadap AI-Qur'an sebagaimana telah kita lakukan terhadap Bibel Yahudi yang berbahasa Ibrani-Aramaik dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani."39

Salah seorang orientalis lain yang terkemuka yang menerapkan metode kritis-historis untuk mengkaji Al-Qur'an adalah Arthur Jeffery. Ia berasal dari Australia dan penganut Kristen Metodist. Ia menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mengkaji Al-Qur'an. la berpendapat agama yang memiliki kitab suci akan memiliki masalah dalam sejarah teks (textual history). Ini disebabkan tidak ada satupun autografi dari naskah asli dulu yang masih ada. Saat ini, masing-masing pemeluk agama memiliki naskah-naskah yang telah turun­temurun yang paling tidak telah berubah di berbagai komunitas masyarakat. Jadi, tidak ada satu naskahpun yang tidak berubah. Sekalipun alasan perubahan itu demi kebaikan, namun tetap saja, menurut Jeffery, wajah teks yang asli sudah berubah. Manuskrip-manuskrip awal Al-Qur'an, misalnya, tidak memiliki titik dan baris, serta ditulis dengan khat Kufi yang sangat berbeda dengan tulisan yang saat ini digunakan. Jadi, menurut Jeffery, modernisasi tulisan dan ortografi, yang melengkapi teks dengan tanda titik dan baris, sekalipun memiliki tujuan yang baik, namun itu telah merusak teks asli. Teks yang diterima (textus receptus) saat ini, bukan fax dari Al­Qur'an yang pertama kali. Namun, ia adalah teks yang merupakan hasil dari berbagai proses perubahan ketika periwayat­annya berlangsung dari generasi ke generasi di dalam komu­nitas masyarakat.40

Disebabkan kritik teks belum dilakukan kepada Al­Qur'an sebagaimana yang sudah diterapkan kepada Bibel, maka Jeffery berpendapat belum ada satupun dari para mufasir Muslim yang menafsirkan AI-Qur'an secara kritis. Ia mengharapkan agar tafsir kritis terhadap teks Al-Qur'an bisa diwujudkan. Caranya dengan mengaplikasikan metode kritis ilmiah. Jeffery meyatakan:
"Apa yang kita butuhkan, bagai­manapun, adalah tafsir kritis yang mencontohi karya yang telah dilakukan oleh orientalis modern sekaligus mengguna­kan metode-metode penelitian kritis modern untuk tafsir AI­Qur'an. "
41

Dengan menggunakan "metode-metode penelitian kritis modern" (biblical criticism), Jeffery merancang proyek ambi­sius. Ia ingin mengedit Al-Qur'an secara kritis (a critical editon of the Qur'an). Merealisasikan gagasannya, ia menganalisa sejarah teks Al-Qur'an dari zaman Rasulullah saw sampai tercetaknya teks qira'ah. Ia mengkaji berbagai mushaf yang ada. Sebagaimana manuskrip-manuskrip kuno Bibel memiliki berbagai perbedaan yang mendasar antara yang satu dan yang lainnya, Jeffery menyimpulkan sebenarnya terdapat berbagai mushaf tandingan (rival codices) terhadap mushaf `Uthmani.

Pada awalnya, Jeffery berfikir, langkah pertama menafsir­kan AI-Qur'an secara kritis dengan mewujudkan kamus AI­ Qur'an. Selama ini, kata Jeffery, karya para mufassir Muslim tidak banyak memuat mengenai kosa kata teknis di dalam Al­ Qur'an. Mereka, ujarnya, lebih tertarik menafsirkan AI­ Qur'an masih dalam ruang lingkup hukum dan teologi berban­ding menjejaki makna asal (original meaning) dari ayat-ayat AI-Qur'an. Oleh sebab itu, pada tahun 1925-1926 Jeffery mengkaji secara secara mendalam kosa-kata asing di dalam Al-Qur'an. Tujuannya, membuat kamus Al-Qur'an. Namun, Jeffery menyadari kamus Al-Qur'an seperti itu kurang bermanfaat karena pada akhirnya kamus tersebut akan menjadi kamus untuk sebuah teks standar. Padahal sebenarnya terda­pat ribuan variasi teks. Jeffery menyatakan:

"There is little use in making a Lexicon to the standart text of the Qur'an when it is known that it is but one form of tradition as the text, and that there are thousands and thousands oftextual variants, many of them representing a much older type of text than the one we have in our hands. "42

Mengubah fokus kajiannya, Jeffery mulai serius meneliti teks Al-Qur'an. Ia menghimpun berbagai variasi teks yang diperoleh dari berbagai sumber. Seperti dari buku-buku tafsir, hadits, kamus, qira'ah, karya-karya filologis dan manuskrip. Dengan ambisius ia ingin merealisasikan gagasannya dengan dua hal. Pertama, ia mengkoleksi hadith-hadith mengenai teks Al-Qur'an. Kedua, ia menghimpun sekaligus menyusun sega­la informasi yang tersebar di dalam seluruh literatur Arab, yang berkaitan dengan varian bacaan (variant readings)43 baik resmi atau tidak resmi.44

Kebetulan pada tahun 1926, Gotthelf Bergstrasser45  di Konigsberg telah menyelesaikan Die Geschichte des Qoran ­texts (Sejarah Teks Al-Qur'an), yang merupakan bagian pertama dari edisi ketiga Geschichte des Qorans, yang dipra­karsai Noldeke. Menyadari kerja Bergstrasser sesuai dengan apa yang sedang diusahakannya, maka Jeffery bertemu Bergstrasser pertama kali di Munich pada tahun 1927 untuk menggalang persamaan visi, misi dan aksi. Selanjutnya, mereka menghimpun segala materi yang bermanfaat untuk men­jelaskan secara komprehensif mengenai sejarah teks Al­Qur'an. Mereka membagi tugas. Jeffery akan meneruskan usahanya menghimpun berbagai varian dan mempersiapkan edisi teks, sedangkan Bergstrasser akan mendokumentasikan berbagai macam foto manuskrip-manuskrip Al-Qur'an tertua yang tertulis dengan khat Kufi.46 Lembaran-lembaran foto manuskrip tersebut akhirnya disimpan di Lembaga Al-Qur'an Akademi Sains Bavaria (Das Koranunternehmen der Bayeris­chen Akademi der Wissenchaften), sebuah Lembaga Al­Qur'an yang berdiri atas prakarsa Bergstrasser. Lembaga ter­sebut berada di bawah naungan Universitas Munich.

Dengan mengkaji sejarah teks Al-Qur'an secara kritis, baik Jeffery maupun Bergstrasser berharap akan membuat terobosan-terobosan baru. Mereka menghimpun dalam kuan­titas besar segala sumber yang berkaitan dengan ragam baca­an. Mereka mencari serta mengedit sejumlah naskah dalam bentuk manuskrip. Murid-murid Bergstrasser, seperti Dr. Otto Pretzl dan Dr. Eisen, ikut membantu untuk merealisasikan proyek ambisius tersebut. Pretzl mulai bergabung, ketika Bergstrasser mendirikan Lembaga Al-Qur'an Akademi Sains Bavaria. Pretzl pergi ke Turki pada tahun 1928 untuk menda­patkan manuskrip Kitab al-Taysir fi al-Qira'ah al-Sab ` dan a/­Muqni ` fi Rasm Masahifal-Amsar. Kedua-duanya karya Abu Amr `Uthman ibn Sa`id al-Dani (m. 444/1052). Pretzl meng­edit kedua manuskrip tersebut. Hasilnya, Kitab al-Taysir fi al­Qira'ah al-Sab` diterbitkan pada tahun 1930. Dua tahun setelah itu, al-Muqni ` fi Rasm Masahifal-Amsar juga terbit.47 Sebagaimana Pretzl, Eisen pada tahun 1935 mengedit manus­krip Fada'il AI-Qur'an, karyanya al-Qasim Ibnu Sallam Abu `Ubayd (m. 244/838) buku yang paling awal memuat qira'ah.48

Bagaimanapun, Bergstrasser tidak dapat menikmati jerih payahnya. Ia meninggal dunia ketika mendaki gunung Alpen, semasa menghabiskan liburan musim panasnya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1933. Kematian Bergstrasser, menyebab­kan proyek Jeffery untuk menggarap Al-Qur'an edisi kritis terkendala. Meratapi kehilangan Bergstrasser, Jeffery mengatakan:

 "Kematian Bergstrasser merupakan kerugian yang sangat besar kepada studi Islam secara umum, dan kepada studi AI-Qur'an, kerugian tersebut tidak dapat ditanggulangi." (His death is a tremendous loss to Islamic studies in general, and to Koranic studies the loss is irreparable).49

Sekalipun semakin sukar, Jeffery tetap ingin merealisasikan Al-Qur'an edisi kritis. la meneruskan usahanya dengan kerjasama Otto Pretzl, yang masih setia terhadap usaha guru­nya. Pretzl menyelesaikan Die Geschichte des Qorantexts (Sejarah Teks Al-Qur'an) pada tahun 1937. Akhirnya, Buku Geschichte des Qorans,50 diterbitkan pada tahun 1938.51 Pretzl juga terus menghimpun segala materi yang berkaitan dengan sejarah Al-Qur'an. Pretzl meneruskan usaha Bergstrasser da­lam mendokumentasikan manuskrip-manuskrip Al-Qur'an tertua yang tertulis dengan khat Kufi.

Namun demikian ambisi Jeffery, Bergstrasser dan Pretzl membuat proyek Al-Qur'an edisi kritis, berakhir dengan tragedi. Segala bahan yang telah mereka himpun di Munich men­capai 40.000 naskah, musnah terkena bom tentara sekutu pada perang Dunia ke-2. Pretzl terbunuh dalam peperangan di luar Sebastopol pada tahun 1941. Meratapi peristiwa yang sangat kelam ini, Jeffery menyatakan:

"Sehingga seluruh tugas kolosal itu harus dimulai lagi dari awal. Jadi, sangat diragukan sekali jika generasi kita akan melihat kesempurnaan teks AI-Qur'an edisi kritis yang sebenarnya. "(so that the whole of that gigantic task has to be started over again from the beginning. It is thus ex­tremely doubtful if our generation will see the completion of a really critical edition of the text of the Qur'an).52

Paruh kedua pertengahan abad ke 20, metodologi Bibel yang diterapkan oleh para orientalis dalam studi Al-Qur'an se­makin mapan. Pada tahun 1977, karya John Wansbrough (m.2002), Quranic Studies terbit. Di dalam karya tersebut John Wansbrough menerapkan literaryl source criticism dan form criticism ke dalam studi Al-Qur'an. Wansbrough me­nyatakan: "As a docurnent susceptible of analysis by the in­struments and techniques of Biblical criticism it is virtually unknown. "53

Wansbrough berpendapat bentuk struktur Al-Qur'an yang ada sekarang merupakan produk perkembangan tradisi dalam periode periwayatan yang panjang. Tradisi-tradisi tersebut da­pat dianggap sebagai unit-unit tersendiri (pericope) dari wacana kenabian (prophetic logia) yang telah diriwayatkan secara lisan dalam masa yang lebih panjang dan akhirnya ber­kembang menjadi standar (canon). Kanonisasi teks Al-Qur'an tidak berada dalam satu kesatuan dari masa nabi Muhammad sampai akhir abad ke 2 Hijrah. Oleh sebab itu, semua hadith yang menyatakan tentang himpunan AI-Qur'an, dalam pan­dangan Wansbrough, secara historis harus dianggap sebagai informasi yang tidak dapat dipercaya. Semua informasi terse­but adalah fiktif yang punya maksud-maksud tertentu. Semua informasi tersebut mungkin dibuat oleh para fuqaha' untuk menjelaskan doktrin-doktrin shariah yang tidak ditemukan di dalam teks, atau mengikut model periwayatan teks orisinal Pantekosta dan kanonisasi Kitab Suci Ibrani. Semua informasi tersebut mengasumsikan sebelumnya wujudnya standar (ca­non) dan karena itu, tidak bisa lebih dahulu dari abad 3 Hijriah.54

Kritik sastra menggiring Wansbrough untuk menyimpul­kan teks yang diterima (textus receptus) dan selama ini diyaki­ni oleh kaum Muslimin sebenarnya adalah fiksi yang bela­kangan yang direkayasa oleh kaum Muslimin. Menurut Wansbrough, teks Al-Qur'an baru menjadi baku setelah tahun 800 M. Wansbrough menyatakan: "Riwayat-riwayat menge­nai AI-Qur'an versi `Uthman adalah fiksi terkemudian yang direkayasa oleh komunitas Muslim yang sedang muncul dalam usahanya untuk menggambarkan asal-mulanya dan melacak mereka ke Hijaz. " (The traditions about the "Uth­manic recension of the Qur'an are a later fiction designed by the emerging Muslim community in its effort to describe its origins and trace them to the Hijaz).55

Pendapat radikal Wansbrough telah dikritik oleh para sar­jana Barat yang lain. Estelle Whellan, yang mengkaji prasasti di dalam the Dome of the Rock dan prasasti yang ada pada dinding Masjid Nabi di Madinah, misalnya, menyimpulkan bahwa teks Al-Qur'an sudah menjadi teks yang tetap (fixed) pada abad pertama Hijrah. Whellan menegaskan sejak periode awal, salinan Al-Qur'an sudah ada didalam komunitas Mus­lim. Menurut Whellan, prasasti dalam the Dome of the Rock menunjukkan Al-Qur'an telah menjadi milik umum pada akhir abad ke-7 Hijriah. (...the Qur'an was already the com­mon property of the community in the last decade of the seveth century).56 Selain itu, Whelan juga menunjukkan pra­sasti di dinding kiblat masjid Nabi di Madinah, terdapat tulisan surah 1 dilanjutkan dengan surah 91 - 114 yang ditulis secara lengkap.57 Whellan meneliti laporan para pelancong Spanyol pada abad ke-4 Hijrah dan laporan yang ditulis oleh al-Tabari tentang susunan surah yang dilihat di Masjid Nabi merupakan replika yang benar dan tepat dengan apa yang ada pada the Dome of the Rock. Ini membuktikan susunan teks Al-Qur'an khususnya Surah 91-114 sudah tetap sejak tahun 91 H atau abad pertama Hijrah.58

Meski demikian, kritik sastra yang diterapkan Wansbrough kepada Al-Qur'an dilanjutkan, dikembangkan dan diperluas aplikasinya oleh para sarjana Barat yang lain. Kritik sastra tersebut diterapkan kepada tafsir, sejarah, dan hadith seperti yang dilakukan oleh Andrew Rippiri,59 Gerard Hawting,60 Michael Cook dan Patricia Crone, 61 Norman Calder62 dan Herbert Berg.63

Awal abad 21, tepatnya pada tahun 2001, Christoph Luxenberg (nama samaran), dengan pengetahuan Syiria­Aramaik yang masih perlu dipertanyakan (shaky) menyim­pulkan Al-Qur'an perlu dibaca dalam bahasa Aramaik. Dalam pandangan Luxenberg, sebagian besar Al-Qur'an tidak benar secara tata bahasa Arab. Al-Qur'an ditulis dalam dua bahasa, Aramaik dan Arab.64

Luxenberg menulis Die syroaramaisc6e Lesart des Koran. Ein Beitrag zur Entsclusselung der Koransprache (Cara membaca Al-Qur'an dengan bahasa Syria-Aramaik. Sebuah sumbangsih upaya pemecahan kesulitan memahami bahasa Al-Qur'an). Ketika mereview karya Luxernberg, Robert R. Phenix Jr. and Cornelia B. Horn menyatakan: "Tidak di dalam sejarah tafsir Al-Qur'an karya seperti ini pernah dihasilkan. Karya-karya yang sama hanya dapat ditemukan di dalam ben­tuk kesarjanaan kritis teks Bibel." (Not in the history of com­mentary on the Qur'an has a work like this been produced. Similar works can only be found in the body of text-critical scholarship on the Bible.)65

Dengan menggunakan metode ilmiah filologis, (the scien­tific method ofphilology) Luxenberg ingin menghasilkan teks Al-Qur'an yang lebih jelas (producing a clearer text of the Qur'an). Ia berpendapat bahwa pada zaman Muhammad, ba­hasa Arab bukanlah bahasa yang tertulis. Bahasa komunikasi yang tertulis adalah bahasa Syiriak. Bahasa Syiriak ini digu­nakan di Timur Dekat sejak dari abad kedua hingga abad ke­tujuh. Syiriak adalah bahasa Edesssa, sebuah kota di atas Mesopotamia. Ketika Edessa berhenti menjadi sebuah entitas politik, orang-orang Kristen masih menggunakan bahasa ter­sebut yang kemudian menjadi sebuah budaya. Bahasa tcrsebut menyebar ke seluruh Asia sejauh Malabar dan Timur Cina. Ketika Al-Qur'an muncul, bahasa Syiriak masih menjadi bahasa komunikasi pada umumnya masyarakat Aramaean, Arab dan sedikit bangsa Persia. Dan yang paling penting diketahui, menurut Luxenberg, literatur Syiriak-Aramaik ada­lah ekslusifitas Kristen.66

Kajian filologis Luxenberg terhadap Al-Qur'an menggi­ringnya untuk menyimpulkan: (1) bahasa Al-Qur'an sebenar­nya bukan bahasa Arab. Karena itu, banyak kata-kata dan ungkapan yang sering dibaca keliru atau sulit dipahami kecuali dengan merujuk pada bahasa Syriak-Aramaik yang konon merupakan merupakan lingua franca pada masa itu; (2) Bukan hanya kosakatanya berasal dari Syriak-Aramaik, bahkan isi ajarannya pun diambil dari tradisi kitab suci Yahudi dan Kris­ten-Syiria (Peshitta); (3) Al-Qur'an yang ada tidak otentik, perlu ditinjau kembali dan diedit ulang.67

Bila diteliti, kajian filologis Luxenberg memiliki beberapa masalah: (1) Luxenberg menentukan bacaannya kepada Al­Qur'an berdasarkan kepada pengetahuannya terhadap bahasa Syiriak-Aramaik, padahal qira'ah itu bukan ditentukan oleh rasm namun oleh riwayah. Para ulama sepanjang zaman telah menyepakati bahwa ortografi mengikuti riwayat (al-rasm tabi' li al-riwayah); (2) Sekalipun ada kosa kata di dalam Al-Qur'an berasal dari kosa-kata Syiriak-Aramaik, namun makna dari kosa kata telah diisi dengan makna baru yang sesuai dengan pandangan hidup Islam; (3) Luxenberg menggunakan kamus bahasa Syiriak-Aramaik yang ditulis pada abad 19 dan 2068 untuk mencari makna Syiriak-Aramaik pada abad ke-7 atau 8 Masehi (zaman Islam). (4) Mungkin saja kosa kata Al-Qur'an yang mirip dengan kosa kata Syiriak-Aramaik, merupakan suatu kebetulan, tidak seharusya menunjukkan "teori penga­ruh."69

 

Dalam perkembangannya, metodologi Bibel ikut juga diterapkan oleh beberapa sarjana Muslim seperti Mohammed Arkoun dan Nasr Hamid Abu Zayd, seperti yang akan dipaparkan di bawah ini.

 

 

 

NOTE
 

32. Seratus tahun kematiannya (tahun 1974), diperingati oleh Hebrew Union College-Jewish Institute of Religion di Cincinnati, Ohio dengan mengadakan simposium mengenai berbagai aspek pemikiran Geiger. Simposium tersebut selanjutya diterbitkan menjadi sebuah buku dengan berjudul New Perspectives on Abraham Geiger, editor Jakob J. Petuchowski (Cincinnati: H. U. C. Press, 1975).

33 Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al- Qur'an (Yogyakarta: FkBA, 2001), 100, selanjutnya diringkas Rekonstruksi.

34 pisertasi Doktoralnya mengenai sejarah AI-Qur'an. Disertasi tersebut ditulis dalam bahasa Latin pada tahun 1856. Pada tahun tahun 1858, Parisian Acadentie des Inscriptions et Belles-Lettres menganjurkan kompetisi penulisan sejarah kritis tektualitas al-Quran (a critical history of the text of the Quran). Noldeke menyerahkan tulisannya kepada penganjur kompetisi itu. Selain dirinya, Aloys Sprenger, seorang orientaiis berasal dari lerman dan Michel Amari (1806-1889), seorang orientalis berasal dari Italia, ikut serta dalam kompetisi tersebut. Hasilnya, Noldeke yang menang. Namun demikian, masing-masing mendapat 1333,3 Frank. Dua tahun setelah itu, karya Noldeke tersebut, setelah direvisi diterbitkan di Gottingen pada tahun 1860 dengan judul Geschichte des Qorans (Sejarah AI­Qur'an). Lihat 'Abd al-Rahman al-Baydawi, Mawsu`ah al-Mustashrigin (Beirut: Dar al-'llm al-al-Malayin, cet. kedua, 1989), 418-19, selanjutnya diringkas Mawsu`ah al-Mustashriqin.

35 Kajian Hirshfeld, Horovitz, Barth, Bauer, Schwally dan Grimme semua tergantung kepada hasil yang dimenangkan Noldeke. Arthur Jeffery, "The Qur'an: Translated with a Critical Re-Arrangement of the Suras," JRAS (1938), 618.

36 Lihat R. Bell & W. M. Watt, Introduction to the Quran (Edinburgh: Edin­burgh Universiry Press, 1970), 175-76 selanjutnya diringkas Introduction.

37 Arthur Jeffery, "The Quest of the Historical Mohammed," MW 16 (1926) 330, selanjutnya diringkas The Historical Mohammed.

38 Lihat Canon Sell, Studies in Islam (Delhi: B. R. Publishing Corporation, 1985; pertama kali terbit tahun 1928) 253-56.

39 Mingana menyatakan: "The time has surely come to subject the text of the Kur'an to the same criticism as that to which we subject the Hebrew and Aramaic of the Jewish Bible, and the Greek of the Christian Scriptures. " Lihat Alphonse Mingana, "Syiriac Influence on the Style of the Kur'an," BJRL I l: 1927.

40. Arthur Jeffery, The Qur'an as Scripture (New York: Russell F. Moore Companya, 1952), 89-90, selanjutnya disingkat Scripture.

41. Arthur Jeffery menulis: "What we needed, however, was a critical com­mentary which should ernbody the work done by modern Orientalists as well as apply the methods ofmodern critical research to the elucidation of the Koran. Lihat Arthur Jeffery, "Progress in the Study of the Qur'an Text," MW 25 (1935), 4, selanjutnya diringkas Progress.

42. Ibid., 5.

43.Muhammad Mustata al-A'zami dengan sangat kritis, menolak jika kata qiraat dimaknai sebagai varian bacaan ( variant readings). Definisi kata varian bacaan tidak tepat karena memuat makna ketidakyakinan. Jika seorang penulis menuliskan sebuah kalimat, dan kalimat tersebut rusak karena kesalahan tulisan, maka muncullah prinsip ketidakyakinan. Editor berikutnya yang tidak mampu membedakan kata yang benar dan kata yang salah, akan meletakkan apa yang diyakini benar ke dalam teks, sementara menyebutkan yang lain di halaman pinggir. Inilah varian bacaan. Menurut al-A'zami, kasus seperti ini tidak tepat diaplikasikan kepada AI-Qur' an. Rasulullah saw. sendiri yang mengajarkan bacaan dengan beragam cara (multiple ways).1adi lebih tepat menggunakan istilah multiple readings(ragam bacaan) bukan variant readings (varian bacaan). Lihat lebih detail Muhammad Mustafa al-A`Zami, The History of the Qur'anic Text tiom Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments (Leicester: UK Islamic Academy, 2003), 154, selanjutnya diringkas The History of the Qur'anic Text.

44 Arthur Jeffery, "Progress; ' MW 25 (1935), 11

45 gergstrasser, (1886-1933) adalah seorang profesor dalam bidang bahasa ­bahasa Timur di berbagai Universitas terkemuka di Jerman, seperti Konisberg, Breslau, Heidelberg dan Munich, Bavaria. Disertasi Doktoralnya berjudul Hunayn ibn Ishaq und seine Schule (Hunayn ibn Ishaq dan mazhabnya). Ketika sedang menghabiskan liburan musim panasnya dengan mendaki gunung Alpen, Bergstrasser meninggal dunia. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 16 Agustus 1933. 'Abd al-Rahman al-Baydawi, Mawsu'ah al-Mustashriqin. 54.

46 Arthur Jeffery, "Progress," MW 25 (1935), 12.

47 `Abd al-Rahman al-Baydawi, Mawsu`ah al-Mustashriqin, 53-54.

48.Arthur Jeffery, "Progress," MW 25 (1935), 12-13. Namun, usaha Dr. Eisen tersebut terkendala. Dr. Anton Spitaler melanjutkan usaha tersebut pada tahun 1938.

49. Ibid., 14.

50. Dalam kata pengantarnya, Pretzl mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Professor Jeffery, yang telah bekerjasama dengannya dalam kajian AI-Qur'an. Lihat G. Bergstrasser dan Otto Pretzl, Geschichte des Qorans (Leipzig: Dieterich'sche Verlagsbuchhandlung, edisi ketiga, 1998), ix.

51. Dengan terbitnya Die Geschichte des Qorantexts, maka Geschichte des Qorans menjadi karya bersama Noldeke, Schwally, Bergstrasser dan Pretzl. Karya orientalis terkemuka Jerman dalam studi sejarah AI-Qur'an itu, dikerjakan selama 68 tahun sejak edisi pertama dan selama 40 tahun sejak diusulkannya edisi kedua. Hasilnya, sampai saat ini, Geschichte des Qorans menjadi karya standar para orientalis dalam sejarah kritis penyusunan AI-Qur'an.

52. Arthur Jeffery, Scripture, 103.

53. John Wansbrough, Quranic Studies; Sources and Methods of Scriptural Interpretation (Oxford: Oxford Universiry Press, 1970), ix

54. Harald Motzki, "The Collection of the Qur'an: A Reconsideration of Western Views in Light of Recent Methodological Developments," DI78 (2001), 11.

55. dikutip dari Issa J. Boullata, "Review Buku : Qur'anic Studies: Sources and Methods of Scriptural Interpretation," MW 67 (1977), 306-07.

56. Estelle Whellan, "Evidence for the Early Codification of the Qur'an," JAOS, 118 ( 1 998), 8.

57. Ibid.

58. Ibid., 9; 12-13.

59. Lihat kajiannya tentang Ibn `Abbas dan bagaimana dia menolak keberadaannya dalam sejarah Islam. Artikelnya telah dikoleksi dan dipublikasikan dalam The Qur'an and its Interpretative Tradition (Aldershot: Ashgate publishing Lin,ited. 2001 ).

60. Hawting mengajukan pandangannya yang radikal tentang Islam dan keraguannya pada sumber-sumber sejarah Muslim secara keseluruhannya. Lihat khususnya Introduction dari The First Dynasty of Islam: the Umayyah Caliphate A.D 661-7-SD (London: Routledge, 1986) dimana dia berbicara tentang sumber ­sumber sejarah muslim.

61. Cook dan Crone menulis Hagarism: The Making of the Islamic World (Cam­bridge: Cambridge University Press, 1977).

62.  Lihat bukunya Studies in Early Muslim Jurisprudence, (Oxford: Claredon Press, 1993).

63. Herbert Berg. The Development of Exegesi in Early Islam: The Authentic­ity of Muslim Literature from the Formative Period (Surrey: Curzon Press, 2000).

64. Francois.De Blois, "Review Buku: Die syro-aramaische Lesart des Koran.

Ein Beitrag zur Entsclusselung der Koransprache, oleh 'Christoph Luxenberg' (anonim), JQS 5 (2003), 92-97.

65. Robert R. Phenix Jr. and Cornelia B. Horn, Christoph Luxenberg (ps.) "Die syro-aramaeische Lesart des Koran; Ein Beitrag zur Entschusselung der Qur'ansprache." Hugoye: JSS, l. Dikutip dari http://syrcom.cua.edu/Hugoye/ Vo16N01/HV6N 1 PR Phenixhorn.html

66. Ibid., 3.

67. Dikutip dari Syamsuddin Arif, "AI-Qur'an, Orientalisme dan Luxenberg," al-Insan I (2005), 19.

68. Kamus yang dirujuk adalah Thesaurus Syiriacus, editor R. Payne Smith, jil.l (Oxford 1879), jil. 2 (Oxford, 1901); Carl Brockelman, Lexicon Syiriacum (Halle, 1928) dan Jaques Eugene Manna, Vocabulaire Chaldeen-Arabique (Mosul, I 900).

69. Penulis tidak memasukkan poin ke-2 dari kritikan Hans Daiber. Jawaban Hans Daiber mengasumsikan bahwa para mufasir Muslim menghadapi kesulitan dalam menafsirkan beberapa kosa kata tertentu. Padahal pandangan Luxenberg yang menjadikan bahasa Syiriak-Aramaik sebagai pengukur kebenaran makna kosa-kata AI-Qur'an merupakan pandangan yang tidak tepat. Lihat kritikan Hans Daiber di dalam artikel Syamsuddin Arif, "AI-Qur'an, Orientalisme dan Luxenberg," al-lnsan ( (2005), 21-22.