BAB II:

STUDI ORIENTALIS
TERHADAP
SEJARAH TEKS AL-QUR'AN
 
 

 

6. Al-Hajjaj ibn Yusuf al-Thaqafi (41-95 H/661-714)

 

Melanjutkan kritikan kepada Mushaf `Uthmani yang diya­kini kaum Muslimin sebagai teks orisinal (urtext), para orientalis seperti Noldeke-Schwally, Paul Casanova, Alphon­se Mingana dan Arthur Jeffery menganggap al-Hajjaj ibn Yusuf al-Thaqafi ketika menjadi Gubernur di Iraq (75/694-95/ 714) telah merubah Al-Qur'an yang telah dikanonisasikan `Uthman ra. Mingana, misalnya, berpendapat bahwa al-Hajjaj telah menghilangkan berbagai ayat yang seharusnya ada di dalam Al-Qur'an. Sumber yang dijadikan panduan oleh Mingana adalah pendapat Casanova.76

Melanjutkan kritikan para orientalis sebelumnya, Jeffery berpendapat al-Hajjaj telah membuat Qur'an edisi baru. Me­nurut Jeffery, teks yang diterima kaum Muslimin saat ini ada­lah bukan berdasarkan versi `Uthman, tapi versi al-Hajjaj ibn Yusuf. (... textus receptus is not based on the Recension of `Uthman, but on that of al-Hajjaj ibn Yusuf).77 Kritikan Jeffery berdasarkan informasi yang didapatkannya dari Kitab al-Masahif, surat-menyurat antara Khalifah Umayyah, `Umar Kedua dengan Kaisar Bizantium Leo III dan risalah `Abd al­Masih al-Kindi.

Memang ada dua athar di dalam Kitab al-Masahif yang menyebutkan bahwa al-Hajjaj telah merubah sebelas huruf dari Mushaf `Uthman. Athar Pertama, `Abdullah Abu Hatim al-Sijistani `Abbad ibn Suhayb `Awf ibn Abi Jamilah bah­wa al-Hajjaj ibn Yusuf telah merubah sebelas huruf di dalam Mushaf `Uthmani...78

 

 

SURAH:AYAT
 

MUSHAF 'UTHMANI
 

TUDUHAN TERHADAP
AL-HAJJAJ

1

Al- Baqarah 259

2

Al- Ma'idah

3

Yunus 22

4

Yusuf 45

5

Al- Mu'minun
85,87,89
79

6

As- Shu'ara 116

7

As- Shu'ara 167

8

Al- Zukhruf 32

9

Muhammad 15

10

Al-Hadid 7


11

Al-Takwir 24

 

Athar Kedua, Abu Bakr berkata: telah ada di dalam buku ayahku, seorang lelaki berkata kepada kami; maka aku ber­tanya kepada ayahku siapa dia, maka ayahku berkata: "`Abbad ibn Suhayb mengatakan kepada kami dari `Awf ibn Abi Jamilah bahwa al-Hajjaj ibn Yusuf telah mengubah sebe­las huruf di dalam Mushaf `Uthmani."80

Mengomentari lebih lanjut tindakan al-Hajjaj, Jeffery me­nyatakan:

"Perbuatan al-Hajjaj menghasilkan edisi Al-Qur'an yang sama sekali baru dan al-Hajjaj memerintahkan supaya sajinan-salinan teksnya yang baru dikirim ke pusat metropolitan. Bagaimanapun, ketika kami memeriksa periwa­yatan aktivitas al-Hajjaj dalam masalah ini, kami terkesima menemukan bukti fakta yang kukuh menunjukkan bahwa karyanya tidak terbatas kepada menetapkan teks AI-Qur'an secara lugas dengan himpunan titik yang me­nunjukkan bagaimana teks tersebut dibaca, namun tampaknya ia telah membuat edisi AI-Qur'an yang sama se­kali baru, dan selanjutnya mengirimkan salinan-salinan teks baru tersebut ke pusat-pusat metropolitan dan memerintahkan untuk menghancurkan salinan-salinan terdahulu yang ada disana, sebagaimana yang telah dilakukan 'Uth­man sebelumnya. Lagi puia, teks baru yang disebarkan oleh al-Hajjaj kelihatannya telah mengalami kurang lebih perubahan-perubahan yang ekstensif. "81

Sangat disayangkan, Jeffery sama sekali tidak memeriksa informasi yang ada di dalam Kitab al-Masahif. Padahal ‘Abbad ibn Suhayb di kalangan para ahli hadith termasuk se­orang yang ditinggalkan (ahad min al-matrukin).82 Menurut Ibn Hibban, `Abbad adalah pendakwah Qadariyah, dan ia masih meriwayatkan banyak hal apabila seorang pemula da­lam bidang ini (hadith) mendengar riwayat tersebut, Ia akan menyaksikan riwayat tersebut sebagai palsu (kana qadariyyan da ‘iyan ila al-qadar wa ma ‘a dzalika yarwi al-manakir ‘an al­mashahir allati idza sami ‘aha al-mubtadi' fi hadhihi al-sina ‘ah shahida laha bi al-wad '). Ibn Hibban memberi contoh dua hadith yang diriwayatkan oleh ‘Abbad ibn Suhayb. Salah satu­nya adalah Rasulullah saw. pernah bersabda: "Warna biru di dalam mata adalah tanda keberuntungan." (al-zurqah fi al-‘ain yumn).83

Ibn ‘Adiyy menyatakan: " ’Abbad Ibn Suhayb punya ba­nyak tulisan dan hadith banyak mengenai orang-orang yang dikenal dan yang lemah dan jelas hadithnya lemah, sekalipun begitu ia menulis hadithnya."(wa li’abbad tasanifkathirah wa hadith kathir ‘an al-ma ‘rufin wa ‘an al-du 'afa' wa yatabayyan ‘ala hadithihi al-du ‘f wa ma ‘a du ‘fihi yaktub hadithahu).84

Al-Dhahabi, mengikuti pendapat al-Bukhari, al-Nasai dan yang lain menyatakan hadith dari `Abbad Ibn Suhayb diting­galkan (matruk).85 Ibn Hajar di dalam Lisan al-Mizan memuat berbagai pendapat para muhaddithun yang menyatakan bahwa ‘Abbad ibn Suhayb adalah ahad min al-matrukin.86

Selain `Abbad, sanad lain yang juga bermasalah adalah `Auf ibn Abi Jamilah. Sekalipun ia thiqah (terpercaya), namun punya kecenderungan Syiah dan anti Umayyah. Al-Hajjaj, sebagai salah seorang tokoh Umayyah, wajar saja menjadi tar­get `Auf ibn Abi Jamilah.87

Selain itu, isu mengenai perubahan yang dilakukan oleh al-Hajjaj terhadap Mushaf `Uthmani menunjukkan perbedaan qira'ah. Bagaimanapun, disebabkan ada diantara qira'ah tersebut yang satu orangpun tidak ada yang membacanya, maka tuduhan yang dilemparkan kepada al-Hajjaj tidaklah benar.88 Masih banyak lagi argumentasi lain yang menunjukkan, anggapan al-Hajjaj telah mengubah mushaf `Uthmani adalah tidak berdasar sama sekali.

Pertama, al-Hajjaj setia kepada `Uthman. Ia tidak akan memaafkan orang yang membunuh `Uthman. Ia akan mem­bela Mushaf `Uthmani dari segala bentuk perubahan. Kedua, pada zaman al-Hajjaj, Mushaf `Uthmani sudah tersebar diberbagai daerah dan al-Hajjaj adalah salah seorang dari Gubernur di Kufah di zaman kekhalifahan ‘Abdul Malik ibn Marwan (684-704 M), yang menguasai daerah yang lebih luas. Seandainyapun, al-Hajjaj sanggup mengubah berbagai salinan di daerah kekuasannya, Kufah, ia tidak akan sanggup mengubah semua salinan yang ada di daerah lain seperti Mekkah, Medinah dan Syam. Ini belum termasuk yang dihafal kaum Muslimin. Al-Hajjaj tidak bisa mengubah apa yang sudah dihafal oleh kaum Muslimin. Ketiga, seandainya al­Hajjaj mengubah Mushaf `Uthman, maka tentu umat akan akan bangkit untuk melawan. Keempat, dinasti Abbasiah, yang didirikan di atas reruntuhan dinasti Umayyah, telah banyak mengubah kebijakan yang sudah dibuat sebelumnya oleh dinasti Umayyah. Seandainya al-Hajjaj dari Bani Umayyah mengubah Al-Qur'an, dinasti Abbasiah akan mengeksp­loitasi isu tersebut untuk menghantam al-Hajjaj secara khusus atau Bani Umayyah, secara umum. Namun, isu seperti itu tidak pernah muncul.

Sejarawan Muslim seperti Ibn Khallikan (608-681 H),89 memang menyebutkan peran al-Hajjaj dalam memberikan tanda-tanda diaktritis kepada ortografi Mushaf `Uthmani. Namun, tidak seorangpun baik Ibn Khallikan atau sejarawan Muslim yang lain menuduh al-Hajjaj telah mengubah sebelas tempat dari Mushaf `Uthmani.

 

 

NOTE
 

76. Alphonse Mingana, "Transmission of the Kur'an According to Christian Writers," M W 7 (1917), 409-414.

77. Arthur Jeffery, Scripture, 99.

78 Abu Bakr `Abdullah Ibn Abi Da'ud Sulayman Ibn al-Ash`ath al-Sijistani, Kitab al-Masahif, I : 280-82.

79 Dari ayat 85, 87 dan 89 dalam Surah al-Mu'minun, hanya 2 ayat yang terakhir diubah. Lihat Kitab al-Masahif, I: 281; 250-51.

80. Ibid., 463-64.

81. Jeffery menyatakan: "The action of al-Hajjaj resulted in an "entirely new recension of the Qur'an" and that al-Hajjaj ordered the "new copirs ofhis text sent to the great metropolitan centres. " When we come to examine the accounts of the activity of al-Hajjaj in this matter, however, we discover to our own surprise that the evidence points strongly to the fact that his work was not confined to fixing more precisely the text of the Our'an by a set of points showing how it was to be read, but he seems to have made an entirely new recension of the Qur'an, having copies of his new text sent to the great metropolitan centres and ordering the de­struction of earlier copies in existence there, much as "Uthman had done earlier. Moreover, this new text promulgated by al-Hajjaj seems to have undergone more or less extensive alterations. " Arthur Jeffery, Scripture, 99.

82. Hadith Matruk adalah Hadith yang menyendiri dalam periwayatan, yang diriwayatkan oleh orang yang tertuduh dusta dalam perhadithan.

83. Muhammad ibn Hibban ibn Ahmad Abi Hatim al-Tamimi al-Basti, Kitab al-Majruhin min al-Muhaddithin wa al-Dhu'afa' wa al-Matrukin, editor Mahmud Ibrahim Zayid, 3 jilid (Bihalb: Dar al-Wa`y, 1985), 2: 164-65.

84. Abi Ahmad `Abdullah ibn `Adiyy al-Jurjani, al-Kamil fi al-du 'afa' al-Rijal, editor `Adil Ahmad `Abdul Mawjud dan `Ali Muhammad Mu`awwad (Beirut: Diir al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1997), 5: 559.

85. Abi `Abdullah Muhammad ibn Ahmad ibn 'Uthman al-Dhahabi, Mizan al­I`tidal fi Naqd al-Rijal, editor `Ali Muhammad al-Bajawi, 4 jilid (Beirut: Dar al­Ma`rifah), 2: 367.

86. Shihabuddin Ahmad ibn `Ali ibn Hajar al-`Asqalani, Lisan al-Mizan, edi­tor `Adil Ahmad `Abdul Mawjud dan `Ali Muhammad Mu`awwad, 7 jilid (Beirut: Dar al-Kutub al-'llmiyyah, 1996), 3: 279-81.

87. Muhammad Mustata al-A`zami, The History of the Qur'anic Text, 102.

88. 'Umar Ibn Ibrahim Radwan telah melakukan penelitian mengenai isu yang dituduhkan kepada al-Hajjaj dalam Ara' al-Mustashriyin Hawl AI-Qur'Sn al-Karim wa Tafsir: DirSsah Wa Naqd (Riyad: Dar al-Tibah, 2 jilid, 1992). Lihat lebih detail di http://www.islamic-awareness.org/Quran/Text/hajjaj.html

89. Ahmad bin Muhammad ibn Abi Bakr ibn Khallikan, Wafayat al-A`yan wa Anba' AbnS' al-Zaman, editor [hsan `Abbas, 8 jilid (Beirut: Dar Sadir, tt), 2: 32.