BAB II:

KOSA KATA ASING AL-QUR'AN
 
 

1. Pengaruh Yahudi Terhadap Al-Qur'an

 

Para orientalis berpendapat Al-Qur'an banyak diwarnai dengan kosa kata dan ajaran Yahudi-Kristen. Salah seorang yang pertama kali mengatakan bahwa Al-Qur'an dipengaruhi agama Yahudi adalah Abraham Geiger (1810-1874).1 Ia ada­lah seorang Intelektual, Rabbi, dan tokoh sekaligus pendiri Yahudi Liberal di Jerman.2 Geiger mengikuti kompetisi masuk ke Universitas Bonn tahun 1832 dengan menulis sebuah essai dalam bahasa Latin.3 Essai Geiger diseleksi Professor Georg B. F. Freytag dari Fakultas Oriental Studies, Universi­tas Bonn. Hasilnya, Geiger menang dan mendapat hadiah dari hasil tulisannya. Padahal, saat itu usianya baru 22 tahun.

Pada tahun 1833, essai tersebut dipublikasikan (tahun 1833) dalam bahasa Jerman dengan judul Was hat Moham­med aus dem Judenthume aufgenommen? (Apa yang telah Muhammad Pinjam dari Yahudi?).4 Dalam essai tersebut, Geiger menyimpulkan kosa kata ibrani cukup berpengaruh terhadap Al-Qur'an. Kata-kata yang terdapat di dalam Al­-Quran seperti Tabut, Taurat, Jannatu ‘Adn, Jahannam, Ahbar, darasa, Rabani, Sabt, Taghut, Furqan, Ma`un, Mathani, Mala­kut berasal dari bahasa Ibrani. Selain itu, Geiger berpendapat Al-Qur'an juga terpengaruh dengan agama Yahudi ketika mengemukakan; (a) hal-hal yang menyangkut keimanan dan doktrin (b) peraturan-peraturan hukum dan moral dan (c) pandangan tentang kehidupan. Selain itu, Geiger berpendapat cerita-cerita yang ada di dalam Al-Qur'an pun tidak terlepas dari pengaruh agama Yahudi.

Mengenai ayat-ayat di dalam Al-Qur'an yang mengecam Yahudi, Geiger berpendapat kecaman itu disebabkan Muhammad saw. telah menyimpang dan salah mengerti terhadap doktrin-doktrin agama Yahudi.5

Teori pengaruh yang dikemukakan Geiger dikembangkan lagi oleh para orientalis lainnya. Theodor Noldeke, seorang Pendeta Kristen berasal dari Jerman memuji, memuja dan mengamini pemikiran Geiger. Noldeke menyatakan: "Kita menginginkan, misalnya, klasifikasi dan diskusi yang komprehensif mengenai segala elemen Yahudi di dalam Al-Qur'an; permulaan untuk menggalakkan itu telah dibuat oleh Geiger pada usia muda dalam essainya Apa yang telah dipinjam Muhammad dari Yahudi?" (We want, for example, an exhaustive classification and discussion of all the Jewish ele­ments in the Koran; a praiseworthy.beginning has already been made in Geiger's youthful essay Was hat Mahomet aus dem Judenthum aufgenommen?).6

Dengan menjadikan Bibel sebagai alat ukur menilai Al-Qur'an, Noldeke berpendapat Muhammad mengarang Al-Qur'an. Noldeke mengkritik isi karangan Muhammad yang mengandung berbagai kesalahan fatal. Noldeke menyimpulkan Al-Qur'an mengandung berbagai kesalahan fatal karena Muhammad salah mengidentifikasi. Dalam pandangan Noldeke, orang Yahudi yang paling tolol pun tidak akan melakukan kesalahan seperti yang dilakukan Muhammad. Kesalahan Muhammad karena menganggap bahwa Haman itu adalah menteri Fir’aun, padahal Haman adalah menteri Ahasuerus. Muhammad juga salah karena menganggap Maryam, saudara perempuan Musa dengan Maryam Ibunya Nabi Isa as. Noldeke mengatakan: "The most ignorant Jew could never have mistaken Haman (the minister of Ahasuerus) for the minister of Pharaoh, or identified Miriam the sister of Moses with Mary (=Miriam) the mother of Christ. "7

Selain itu, Noldeke menyatakan Muhammad bodoh mengenai geografi Mesir. Muhammad bodoh karena berpen­dapat tanah Mesir subur disebabkan hujan,8 padahal hujan sangat jarang sekali turun di sana. Menurut Noldeke, kesuburan tanah Mesir itu disebabkan air di sungai Nil melimpah.9

Meneruskan kritikannya, Noldeke menyalahkan Muham­mad karena menceritakan kisah aneh tentang Zulkarnain (Al­exander the Great).10 Padahal sebenarnya, kisah aneh tersebut berasal dari seorang Syiria yang ditulis pada awal abad ke-6. Selain itu, Noldeke menyatakan sumber utama Muhammad adalah orang-orang Yahudi. Pengaruh Kristen terhadap Al­Qur'an lebih sedikit.11 Noldeke berpendapat Muhammad itu bukan seorang yang ummi. Noldeke mengatakan: "At present, one is inclined to say that he was not altogether ignorant of thes arts, but that from want of practice he found it conven­ient to employ some one else whenever he had anything to write. "12

Selain itu, Noldeke menyalahkan Muhammad karena salah menerapkan ungkapan-ungkapan Aramaik (He applies Aramaic expressions incorrectly). Furqan, misalnya, sebenar­nya bermakna "penebusan" (redemption), namun bagi Muhammad makna tersebut dalam bahasa Arab menjadi wahyu (revelation). "Millah" sepatutnya bermakna "kata" ( word), namun di dalam Al-Qur' an menjadi agama.13

Cara Noldeke yang menggunakan Bibel untuk mengukur kebenaran isi Al-Qur'an sangat keliru. Jika pendapatnya diikuti, maka apa saja yang ada di dalam Al-Qur'an kemudian bertentangan dengan Bibel, maka Al-Qur'an dianggap salah dan Bibel benar. Hasilnya, Al-Qur'an salah karena menging­kari penyaliban Jesus, menyangkal ketuhanan Jesus, mengkritik ajaran-ajaran Yahudi dan Kristen dan lain sebagainya. Padahal Al-Qur'an adalah kalam Allah dan pernyataan-per­nyataan Allah di dalam Al-Qur'an justru menunjukkan kesalahan Bibel. Semua kaum Muslimin dari dulu sehingga kini sepakat bahwa Nabi Isa as. tidak mati di tiang salib. Sedangkan di kalangan Kristen, terdapat perbedaan pendapat mengenai kematian Yesus di tiang salib. Ini menunjukkan kaum Muslimin tidak ada yang ragu dengan kesepakatan tersebut. Jadi, keyakinan kaum Muslimin jauh lebih kukuh. Berbeda dengan kalangan Kristiani yang telah, sedang, akan dan terus mengalami berbagai ketidaksepakatan, sekalipun dalam prinsip-prinsip yang sangat mendasar, apalagi mengenai status kitab Bibel, yang telah lama diragukan keasliannya dari kalangan Kristen sendiri.

Pendapat Noldeke yang menyatakan Muhammad lebih tolol dibanding orang yang Yahudi yang paling tolol karena mengatakan Haman14 adalah menteri Fir'aun tidaklah tepat. Noldeke sendiri sama sekali tidak bisa membuktikan jika Haman itu bukan menteri Fir'aun. Noldeke juga tidak tepat ketika menyatakan bahwa Al-Qur'an menganggap bahwa Miriam (Maryam) adalah saudara Musa. Al-Qur'an merujuk Maryam (Maryam ibunya Nabi Isa as) sebagai saudara perempuan Harun (ukht Harun)15 Perjanjian Barumenyebutkan bahwa Elisabeth adalah istri Zakariyya sekaligus ibu Johanes (Yahya) Pembaptis. Elisabeth adalah keluarga Maria (Maryam). Elisabeth berasal dari keturunan Harun.16 Jadi, Maryam atau Elisabeth adalah "saudara perempuan" Harun atau anak perempuan Imran (ayah Harun).17

Mengenai geografi Mesir, air hujan juga yang akhirnya menyebabkan air sungai Nil melimpah. Selain itu, Noldeke juga tidak bisa membuktikan secara pasti bahwa pada zaman . Nabi Yusuf, hujan akan sangat jarang pada suatu waktu tertentu. Noldeke sama sekali tidak mengungkapkan bukti yang lebih lanjut mengenai itu.

Noldeke selanjutnya secara ringkas menggemakan kem­bali pendapat Abraham Geiger dan Siegmund Fraenkel yang telah menunjukkan kesalahan Muhammad dalam menggunakan istilah-istilah asing di dalam Al-Qur'an.18 Selain Geschichte, Noldeke menulis karya lain yang berjudul Neue Beitraege zur semitischen Sprachwis-senschaft (Sumbangan Baru untuk Ilmu Bahasa Semit). Di dalam buku tersebut terdapat dua bab yang membahas masalah pengaruh kosa-kata asing di dalam Al-Qur'an, yaitu, Foreign Words in the Koran Which are employed Arbitrarily and Improperly (Kata-kata asing di dalam Al-Qur'an yang digunakan secara sembara­ngan dan tidak pada tempatnya) dan Derivatives in and from the Ethiopian Language (Derivasi dari Bahasa Ethiopia).

Sebelum Noldeke, seorang orientalis Jerman lainnya, Siegmund Fraenkel (m. 1925), yang mendapat gelar doktor dari Universitas Strassburg, Jerman pada tahun 1877, menulis sebuah buku tipis dalam bahasa Latin dengan berjudul De Vocabulis in antiquis Arabum carminibus et in Corano peregrinis (Mengenai kosa kata asing di dalam puisi Arab kuno dan di dalam AI-Qur'an) (1880). Selain itu, Fraenkel juga menulis pengaruh Ararnaik kepada bahasa Arab pada tahun 1886 dengan judul Die Aramaischen Fremworter im Arabischen (Kosa kata Asing Aramaik di dalam Bahasa Arab).

Selain Fraenkel, Hartwig Hirschfeld (m. 1934), seorang Yahudi Jerrnan kelahiran Prussia, memfokuskan betapa pentingnya melacak kosa kata asing (Fremdworter) Al-Qur'an. Hirschfeld, yang mendapat gelar doktor ketika berusia 24 tahun, menulis disertasi doktoralnya dengan judul Judische Elemente im Koran. Ein Beitrag zur Koranforschung, Berlin 1878 (Elemen-elemen Yahudi dalam Al-Qur'an. Sebuah Sumbangan untuk Penelitian Al-Qur'an). Delapan tahun kemudian, Hirshfeld menulis Beitrage zur Erklarung des Koran, Leipzig 1886 (Sumbangan untuk Tafsir Al-Qur'an). Ia juga menulis New Researches into the Composition and Exegesis of the Qoran, London, 1901 (Penelitian-penelitian Baru dalam Penulisan dan Tafsir Al-Qur'an).

Hirschfeld berpendapat sumber-sumber asli Al-Qur'an akan membuka wawasan tentang orisinalitas Islam. Hirshfeld mengatakan: "Pengetahuan tentang sumber-sumber orisinal yang hanya mampu menerangkan apa yang sering nampak pada awalnya kabur dan tidak bermakna. Salah satu kesulitan utama dihadapan kita adalah memastikan apakah ide atau ekspresi merupakan milik properti spiritualitas Muhammad atau dipinjam dari yang lain, bagaimana dia mempelajarinya dan sejauh mana itu diubah mengikut tujuan-tujuannya." (It is the knowledge of the original sources that can alone throw a light on what often appears at first obscure and meaningless. One of the principal difficulties before us is to ascertain whether an idea or expression was Muhammad's spiritual pro­perty or borrowed from elsewhere, how he leamt it and to what extent it was altered to suit his purposes).19

Hirshfeld menegaskan pengaruh Bibel kepada Al-Qur'an begitu erat. Bahkan dengan bahasa vulgar, Hirshfeld mengata­kan: "Kitab kuno (Bible bahasa Ibrani) itulah yang berbicara melalui mulut Muhammad." (it is that ancient book which speaks through the mouth of the "Seal of the Prophet").20 Menurut Hirshfeld, sebelum menjadi Nabi, Muhammad telah menjalani kursus pelatihan Bibel (a course of Biblical training). Tetapi kursus tersebut tidak berjalan secara sistematis karena tidak mengikuti instruksi para guru dengan teratur. Muhammad lebih banyak otodidak. Hasilnya, AI-Qur'an mengkhianati Bible. Hirschfeld mengatakan: "The Qoran thus betrays Biblical coloring even in those portions, in which Muhammad expressed views which were undoubtedly origi­nal, or when he promulgated laws, which grew out of the inci­dents of the day."21

Gagasan Al-Qur'an dipengaruhi Yahudi terus menggema. Murid Noldeke, Israel Schapiro (m. 1957) menulis disertasi doktornya pada usia 24 tahun dengan judul Die Haggadischen Elemente im erzahlenden Teil des Korans, Berlin: 1907. (Elemen-elemen Haggadi dalam Bagian Kisah Al-Qur'an). Schapiro meneliti secara detil kisah Nabi Yusuf dalam Surah Yusuf dengan membandingkannya dengan pemahaman Yahudi dan Kristen. Dalam kajiannya, Schapiro tidak saja menggunakan sumber-sumber Yahudi dan Kristen, namun juga menggunakan sumber-sumber yang bisa didapatkan dari para mufasir dan sejarawan Muslim seperti al-Tabari, al-Zamakshari, al­Baidawi, al-Tha`labi dan Ibn Athir.22

Kajian terhadap pengaruh Yahudi kepada Al-Qur'an juga dilakukan oleh seorang orientalis Belanda, Arent Jan Wensinck, murid Christian Snouck Hurgronye. Pendapat Wensick tentang pengaruh Yahudi terhadap Islam, diungkapkan dalam bukunya berjudul Mohammed en de Joden te Medina, Leiden: 1908 (Muhammad dan Yahudi Medinah).23

Selain itu, perlu kiranya juga disebutkan karya R. Dvorak uber die Fremdworter im Koran, Vienna: 1885 (Kosa Kata Asing di dalam Al-Qur'an); karya S. Sycz, Ursprung und Wiedergabe der Biblishen Eigennamen im Koran, Frankfurt: 1903 (Orisinalitas dan Reproduksi Nama-Nama Diri dari Bibel di dalam AI-Qur'an).24

Berdasarkan karya para orientalis yang telah disebutkan di atas, seorang Yahudi Jerman, Joseph Horovitz (m. 1931) mengkaji pengaruh kosa kata asing kepada Al-Qur'an. Horovitz menulis buku berjudul Das koranische Paradies, Yerusalem: 1923 (Surga di dalam Al-Qur'an). Buku keduanya berudul Koranische Untersuchungen, Berlin: 1926 (Studi Al­Qur'an). Selain itu, Horovitz menulis juga sebuah artikel tentang Jewish Proper Names and Derivatives in the Koran, Ohio: 1925.

Pada tahun 1933, Charles Cutley Torrey (m. 1956), yang mendapat gelar doktor di Strasbourg di bawah bimbingan Theodor Noldeke, memanfaatkan semua karya yang disebutkan di atas untuk menunjukkan pengaruh Yahudi dalam Al­ Qur'an. Torrey, dalam bukunya berjudul The Jewish Foundation of Islam yang diterbitkan pada tahun 1933, menegaskan ide-ide Muhammad bukanlah hasil penemuannya sendiri, tetapi hasil dari pergaulannya dengan Yahudi Mekkah, dan kemungkinan pergaulannya dengan orang-orang Kristen.25

Torrey, yang pernah menjabat sebagai President of the American Oriental Society ketika perang Dunia Pertama me­letus, berpendapat Muhammad menerima materi keimanan yang baru dari Yahudi yang tinggal di Hijaz. Al-Qur'an, yang merupakan karya Muhammad (his own creation) banyak me­muat sejarah Yahudi, legenda-legenda Yahudi, atau hukum­hukum Yahudi, yang pada akhirnya Islam adalah keimanan Ibrahim dan Musa.

 

 

 

NOTE
 

1. Andrew Rippin, Introduction The Quran: Style and Contents, editor Andrew Rippin (Hampshire: Ashgate Publishing Limited, 2001), xi, selanjutnya diringkas Introduction.

2. Pemikirannya tentang liberalisasi agama Yahudi sangat berpengaruh baik baik pada generasinya, atau generasi sesudahnya. Seratus tahun kematiannya (tahun 1974), diperingati oleh Hebrew Union College-Jewish Institute of Religion di Cincinnati, Ohio dengan mengadakan simposium mengenai berbagai aspek pemikiran Geiger. Simposium tersebut selanjutya diterbitkan menjadi sebuah buku dengan berjudul New Perspectives on Abraham Geiger, editor Jakob J. Petuchowski (Cincinnati: H. U. C. Press, 1975).

3. Andrew Rippin, Introduction, xi.

4. Buku itu berasal dari essaynya yang ditulis dalam bahasa Latin untuk menbikuti kompetisi masuk ke Universitas Bonn tahun 1832. Essainya diseleksi oleh Professor Georg B. F. Freytag dari Fakultas Oriental Studies, Universitas Bonn. Hasilnya, Geiger, yang saat itu berusia 22 tahun, menang dan mendapat hadiah. essai tersebut dibukukan dan publikasikan pada tahun 1833. Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh F. M. Young, Judaism and Islam (Madras, 1898).

5. Abraham Geiger, "What Did Muhammad Borrow from Judaism'?" dalam The Origins of the Koran, editor Ibn Warraq (New York: Prometheus Books, 1998), 165-26.

6. Theodore Noldeke, Sketches frorn Eastern History, Pen. John Sutherland Black M.A. (London: Darf Publishers Limited, 1985), 57-58, selanjutnya diringkas Sketches.

7. Ibid., 30.

8. Lihat firman Allah dalam Surah Yusuf ayat 49 yang artinya: "Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan dan di masa itu mereka memeras anggur."

9. Theodore Noldeke, Sketches, 30-31.

10. Lihat Surah al-Kahf ( 18: 83-101). Bandingkan dengan Theodore Noldeke, Sketches. 31.

11. Charles Cutler Torrey, The Jewish Foundation of lslam (New York: KTAV Publishing House, Inc., 1967), 81-82, selanjutnya diringkas The Jewish Foundation. Buku ini merupakan hasil kumpulan materi kuliah Torrey yang disampaikan pada tahun 1931 di Institusi Agama Yahudi (The Jewish Institute of Religion), New York.

12. Theodore Noldeke, Sketches, 25-26.

13. Ibid., 37-38.

14. Kata Haman disebutkan 6 kali di dalam AI-Qur'an. Lihat Surah al-Qassas (28: 6, 8 dan 38); al-'Ankabut (29: 39); al-Mu'min (4: 24 dan 36)

15. Lihat Surah Maryam (19: 28).

16. Al Kitab (Jakarta: LAI, 2000), Lukas 1: 5 dan Lukas I: 36.

17. Lihat komentar Yusuf Ali untuk 3: 35 dan 19: 28.

18. Theodore Noldeke, Sketches, 25-26.

19. Hartwig Hirschfeld, New Researches, 4.

20. Ibid.

21. Ibid.

22.  Tryggve Kronholm, "Dependence and Prophetic Originality in the Koran",

OS31-32 (1982-1983), 55.

23. Buku ini diedit dan diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Wolfgang Behn dengan judul Muhammad and the Jews of Medina (Freiburg: 1975).

24. Joseph Horovitz, Jewish Proper Names and Derivatives in the Koran (tie­brew Union College Annual), 4-6, selanjutnya diringkas Jewish Proper Names. '-5 Charles Cutler Torrey, The Jewish Foundation, 64.

25. Charles Cutler Torrey, The Jewish Foundation, 64.