BAB II:

KOSA KATA ASING AL-QUR'AN
 
 

3. Rasulullah saw. Seorang Ummi

Disebabkan pengaruh Yahudi dan Kristen begitu kental, maka para orientalis berpendapat bahwa tidak mungkin Muhammad itu buta huruf Ia pasti tahu membaca. Salah se­orang orientalis yang mengemukakan bahwa Muhammad bukan seorang ummi adalah Abraham Geiger. Menurut Geiger, terdapat hubung kait yang rapat antara kata ummi dengan 'am-ha-ares.50

Noldeke dan Schwally berpendapat ayat-ayat yang ber­kaitan dengan ummi adalah dalam periode Medinah. Dalam pandangan Noldeke, konsep ummi di dalam Al-Qur'an adalah konsep yang bertentangan dengan ahlul kitab. Maksudnya, ummi merujuk kepada sebuah masyarakat tanpa wahyu. Schwally menganggap bahwa ummi berasal dari umma (bang­sa, masyarakat) dan ini parallel dengan bahasa Yunani kuno (laikhos) dari (laos) yang artinya masyarakat. Paralel juga dengan bahasa Syiriak-Aramaik `almaya (saecu­laris). Schwally, tanpa menjelaskan lebih lanjut juga merujuk kata ummi kepada kosa kata Ibrani, 'arn-ha-ares.51

Menurut Hirshfeld, Muhammad bisa membaca dan menu­lis. Dalam pandangan Hirshfeld, Muhammad mengetahui aksara Ibrani tatkala berkunjung ke Syiria. Selain itu, fakta menunjukkan Muhammad bisa menulis ketika di Medinah. Sulit dipercaya, tegas Hirshfeld, jika Muhammad tidak bisa menulis ketika ia berusia di atas 50 tahun. Selain itu, Hirshfeld berpendapat banyaknya nama-nama dan kata-kata yang di­ungkapkan di dalam Al-Qur'an menunjukkan Muhammad salah membaca catatan-catatannya yang dibuat dengan tangan yang tidak memiliki skill (The disfigurement of many Biblical narnes and words mentioned in the Qur'an is due to misrea­dings in his own notes rnade with unskillful hand).52

Menegaskan lagi pengaruh agama Yahudi kepada Muhammad, Horovitz berpendapat Muhammad salah paham ketika mendengar kata "ummi" dari Yahudi di Medinah. Muhammad mencampuradukkan dua istilah Ibrani yaitu ummot ha'olam dan 'am-ha-ares, sekelompok Yahudi yang tidak mengikuti isi kitab suci dan mengeluarkan pernyataan­pernyataan sesuai dengan hawa nafsu mereka. Menurut Horovitz, Surah al-Jumu`ah ayat 2 menyebutkan: "Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf (ummiyyun) seorang Rasul di antara mereka..." Oleh sebab itu, lanjut Horovitz, Muhammad menyebut dirinya sendiri sebagai "al-nabiyy al­ummiyy" sebagaimana disebutkan di dalam al-A`raf ayat 156 dan 158 karena Muhammad berasal dari Arab, bukan dari Is­rael. Horovitz menafsirkan lebih jauh lagi surah Ali Imran ayat 20 yang artinya: "Kemudian jika mereka mendebat kamu, maka katakanlah: Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan orang-orang yang mengikutiku." Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi al-Kitab dan kepada orang­orang yang ummi: "Apakah kamu (mau) masuk Islam." Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya."

Horovitz menafsirkan kata "ummiyyun" pada ayat di atas sebagai "ummot ha-olam " masyarakat yang tidak diberi kitab, berbeda dengan para umat yang terdahulu yang menerima kitab. Menurut Horovitz, berbeda dengan ayat yang telah disebutkan, makna ummiyyun di dalam al-Baqarah ayat 78, yang artinya: "Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga," sama sekali berbeda. Dalam pandangan Horovitz, makna "ummiyyun" pada ayat ini adalah merujuk kepada sekelompok Ahlul kitab yang tidak mengetahui kitab suci. Bagi Horovitz, mereka ini adalah 'am-ha-ares, sekelompok Yahudi yang tidak mengetahui dan mengikuti Taurat, namun mengikuti hawa nafsu mereka. Horovitz berpendapat Muhammad bingung ketika mendengar kedua istilah; ummot ha'olam dan'am-ha-ares. Horovitz menyimpulkan Muhammad tidak mampu membe­dakan kedua istilah tersebut.53

H. G. Reisner berpendapat lebih jauh lagi. Menurut Reis­ner, makna ummiyyun di dalam 2: 78 mencakup seluruh Yahudi di Hijaz karena status mereka adalah 'am-ha-ares. la juga mengungkap bahwa "umma" dan kosa kata Ibrani 'am­ha-ares, mengimplikasikan jenis manusia yang bukan per­kotaan, bukan pelaku bisnis, bukan intelektual dan bukan juga yang canggih.54

Berbeda dengan Reisner, Alfred Guillaume berpendapat kata ummiyyun itu bukanlah Yahudi sepenuhnya. Mereka adalah Gentiles, yaitu orang-orang orang yang memeluk Yahudi, namun mereka bukan berasal dari masyarakat Israel, tetapi dari bangsa-bangsa lain.55

Berbeda lagi dengan pendapat di atas, Khalil 'Athamina menyimpulkan Muhammad bukanlah ummi. Alasannya, se­cara tata bahasa, bentuk the present participle dalam bahasa Arab bisa merujuk kepada sesuatu perbuatan yang akan datang. Pada saat Jibril menyuruh Muhammad membaca, ia menolak untuk membaca karena terkejut dengan panggilan Jibril. Jadi, Muhammad tidak membaca karena pada saat itu ia tidak membaca, bukan karena ia tidak bisa membaca. Khalil menulis: "In any case, the sentence ma ana bi-qari' "does not necessarily mean that the Prophet did not know how to read; it is highly probable that he intended to express his refusal to read at that moment' having been surprised by the call of the angel. In other words, the Prophet intended to say: "I am not going to read. " The present participle in this sentence, as in similar sentences, transfers the time of action to the future."56

Kesimpulan para orientalis Muhammad bukanlah seorang ummi tidaklah tepat. Menurut al-Zajjaj, "kata ummi berarti ummat yang kondisinya seperti saat dilahirkan oleh ibu, tidak mempelajari tulisan, dan tetap seperti itu hingga dewasa."57 Dalam pandangan lbn Manzur (m. 711 H), kata ummi ber­makna tidak bisa menulis. Mengomentari surah al-`Ankabut ayat 48, Ibn Manzur menyatakan Nabi Muhammad disebut ummiyy karena umat Arab tidak bisa menulis dan membaca. Allah mengutus Nabi Muhammad dan beliau tidak bisa me­nulis dan membaca dari kitab, dan sifat ini merupakan salah satu mukjizatnya, karena ia membaca Kitab Allah dengan sangat teratur, tepat, tidak kurang dan tidak lebih, ketika ia mengulangi-ulanginya, tidak sebagaimana orator Arab yang lain.58

Kondisi Rasulullah saw. sebagai seorang ummi disebut­kan di dalam Al-Qur'an. Allah berfirman yang artinya: "Orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar..."59 Begitu juga firman Allah yang artinya: "...Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk";60 "Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya sesuatu Kitab pun dan kamu tidak menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang ingkar."61

Para sarjana Barat yang berpendapat Rasulullah saw. bukan ummi tampak sekali ingin menjustifikasi pengaruh Yahudi-Kristen terhadap Al-Qur'an. Bagaimanapun, Al-Qur'an sendiri sudah menyangkal hal tersebut. Selain itu, pendapat Muhammad itu bukan seorang ummi sebenarnya untuk menjustifikasi Muhammad adalah pengarang Al-Qur'an. Sebagai pengarang, seharusnya dan semestinya Muhammad itu tidak buta huruf. Bagaimanapun, pendapat "ilmiah" para orientalis akan sia-sia karena kaum Muslimin telah membuktikan dan akan terus meyakini sepanjang masa bahwa Al-Qur'an bukanlah karangan Rasulullah saw.

 

 

 

NOTE
 

50. Norman Calder, "The Ummi in Early Islamic Juristic Literature," D167 ( 1990), 113.

51. Theodor Noldeke dan Friedrich Schwally, Geschichte, 1: 14.

52. Ibid., 13.

53.  Joseph Fiorovitz, Jewish Proper Names, 46-47.

54. H. G. Reissner, "The Ummi Prophet and the Banu Israel of the Qur'an," M W 39 ( I 949), 276-81.

55. Alfred Guillaume, "The Meaning of Amaniy in Surah 2: 73", dalam The World of Islam: Studies in Honor of Philip K. Hitti, editor J. Kritzeck & R. B. Winder (London: Macmillan & Co., 1959), 41-46.

56. Khalil 'Athamina, "AI-Nabiyy al-Umiyy": An Inquiry into the Mcaning of a Qur'anic Verse, DI 69 (1992), 73-74.

57. Dikutip dari Ibn Manzur, Lisan al-'Arab, 7 jilid (Beirut: Daral-Sadir, 1997), l: 112.

58. Ibid.

59. Surah al-A'raf (7: I 57).

60. Surah ai-A'raf (7: 158).

61. Surah ai-'Ankabut (29: 48)