DEDIKASI:


Kupersembahkan buku ini kepada Ibunda tercinta, yang masih sempat menyaksikan karya anaknya. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan maghfirah kepadanya. Ayahanda, yang tidak sempat melihat hasil karya anaknya, semoga Allah memberinya pahala dan maghfirah atasnya. Amin ya Rabb...


 

 

PENGANTAR PENERBIT
 

Sejak masa Nabi Muhammad saw. sampai sekarang. orientalis tak henti-hentinya untuk menyerang risalah Ilahi. Mereka mempertanyakan dan mengaburkan sejarah awal kodifikasi Al-Qur'an. Di sini, Adnin Annas, yang saat ini sedang mengambil program Doktor di ISTAC IIUM Kuala Lumpur, mencoba merunut upaya penyelewengan orientalis dari Leo III (717-741) hingga orientalis saal ini.

Membaca buku ini akan menambah hanyak wawasan kita tentang hal-hal yang telah dilakukan oleh orientalis terhadap Al-Qur'an. Orientalis bukan hanya mengatakan hahwa Al-Qur'an karangan Muhammad. Al-Qur'an penuh kontradiksi di dalamnya; tapi mereka juga mengatakan bahwa sejarah pembukuan Al-Qur'an tidak jelas dan telah direduksi oleh khalifah 'Uthman.

Dalam memaparkan pendapat-pendapat orientalis itu, penulis langsung merujuk sumber-sumber primer dan mengupas kekeliruan dan kecerobohan pendapat mereka, dengan teliti. Selain itu Adnin juga mengkritik Mohammed Arkoun dan Nasr Hamid yang mengadopsi metodologi Bibel dalam studi Al-Qur'an.

Walhasil, sebagai umat lslam keyakinan kita terhadap kebenaran wahyu Al-Qur'an, tidak akan ragu sampai akhir hayat di kandung badan. Karena hanya Al-Qur'an lah yang telah terbukti otentisitas kodifikasi awalnya dan telah terbukti kebenaran isinya. Firman Allah swt.:

"Dan Kami turunkan (Al-Qur'an) itu dengan sebenar-benarnya dan Al-Qur'an itu telah turun dengan (membawa) kebenararn." (Surah Al-Isra': 105).
 

Selamat menikmati hidangan yang mencerahkan ini.
 


 




PENGANTAR PEN
ULIS
 

AIhamdulilahi Rabbil ‘Alamin. Salawat dan salam kepada Rasulullah saw., keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia sampai akhir zaman.

Penulis sangat bersyukur kepada Allah karena telah me­nyelesaikan naskah ini. Di sini, penulis memaparkan hujatan dan kritikan para sarjana Yahudi-Kristen terhadap Al-Qur'an, yang bermula sejak 13 abad yang lalu. Hujatan dan kritikan tersebut dengan berbagai variasi argumentasi terus bergema hingga saat ini.

Bab Pertama di dalam buku ini akan mengungkap hujatan tokoh-tokoh Kristen terkemuka kepada Al-Qur'an. Hujatan tersebut yang dilontarkan sejak abad ke-8 M, muncul karena mereka meyakini Bibel sebagai God's word. Menurut mereka, jika Al-Qur'an mengkritik Bibel, maka Al-Qur'an adalah karya setan. Bibel dijadikan tolak ukur menilai Al-Qur'an. Apa saja yang bertentangan dengan Bibel, maka Al-Qur'an yang salah.

Pada abad ke-17 M, studi kritis Perjanjian Baru mulai berkembang di Barat. Setelah mengkaji kritis Perjanjian Baru, para teolog Kristen menemukan sejumlah permasalahan yang sangat mendasar. Ternyata Perjanjian Baru telah mengalami berbagai penyimpangan (tahrif). Akhimya, Perjanjian Baru yang selama ini dijadikan textus  receptus ditolak secara total pada tahun 1881.Kajian kritis Bibel (biblical criticism) menghasilkan berbagai metode analisa teks. Para sarjana Barat menjadikan berbagai metode Bibel tersebut sebagai kerangka dasar untuk membingkai studi Al-Qur'an. Filsafat her­meneutika yang berkembang dari studi Bibel ikut diadopsi oleh beberapa sarjana Muslim kontemporer seperti Moham­med Arkoun dan Nasr Hamid untuk diserap ke dalam studi Al-Qur'an. Ini yang menjadi pembahasan pada Bab Kedua.

Bab Ketiga akan membahas dan menjawab kritikan para orientalis modern dan kontemporer yang menggunakan metodologi Bibel untuk mengkritik Al-Qur’an. Mereka me­nyimpulkan Al-Qur'an Mushaf 'Uthmani telah mengalami berbagai tahrif Oleh sebab itu, Al-Qur'an edisi kritis diper­lukan.

Bab Keempat akan memaparkan kajian yang dilakukan sarjana Yahudi-Kristen mengenai kosa-kata asing di dalam Al-Qur’an. Mereka memformulasi "teori pengaruh" untuk menyimpulkan Muhammad bukanlah seorang yang buta huruf Muhammad bisa menulis dan membaca. Kesimpulan tersebut dibuat untuk menjustifikasi pendapat sepanjang zaman kalangan Yahudi-Kristen, bahwa Al-Qur’an adalah karangan Muhammad. Sebagai pengarang Al-Qur'an, Muhammad mesti mengetahui bacatulis. Jadi. Muhammad bukan seorang ummi.

Penulis menghadapi berbagai kesukaran dalam proses penulisan buku ini. Oleh sebab itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada berbagai individu yang telah me­mudahkan proses penulisan buku ini. Kepada Adian Husaini yang memberi sokongan moral untuk menyelesaikan naskah ini. Beberapa literatur di dalam buku ini tidak penulis dapat­kan di perpustakaan-perpustakaan yang ada di beberapa Uni­versitas Malaysia. Oleh sebab itu, penulis berterima kasih kepada Syamsuddin Arif karena telah mengirimkan beberapa bahan dari Jerman. Kepada Mustafa Munawwar karena telah membantu penulis menghadapi masalah mengenai program di komputer. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Nuim Hidayat yang sempat membaca dan mengusulkan perbaikan naskah, sebelum diterbitkan. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman di INSISTS ( Instilute for the Study of Islamic Thought and Civilizatio) karena telah membantu penulis dalam berbagai hal. Terakhir, bukan berarti yang paling akhir, penulis mengucapkan terima kasih kepada istri tercinta, Irma Draviyanti Soekirno karena banyak membantu, ketika penulis mecnghabiskan waktu untuk menulis buku ini. Semoga Allah membalas pahala mereka sernua. Allshumma Amin.

Akhirul kalam, mudah-mudahan Allah meridhai isi buku ini. Semoga buku ini bermanfaat dan menyadarkan kaum Muslimin akan tantangan yang terus-menerus diajukan kalangan Yahudi dan Kristen terhadap Al-Qur'an.

 

Kuala Lumpur, 3 April 2005/24 Safar 1426 H.