"WHAT EVERY CHRISTIAN & JEW SHOULD KNOW"
TENTANG SANG PENCIPTA, KITAB SUCI & NABI-NABI
 

Oleh PROFESOR DAVID BENJAMIN KELDANI B.D.

(Wafat 1940) Dahulu Uskup Uramiah, Kaldea.

Alih Bahasa Oleh: H.W. Pienandoro SH
download : www.pakdenono.com

A. MUHAMMAD SAW DALAM PERJANJIAN LAMA


Bab 6.
 

NABI MUHAMMAD SAW ADALAH "ANAK MANUSIA"

Dalam thesis yang lalu kita telah meneliti dan memberi komentar atas visi indah Nabi Daniel (Daniel vii.). Kita melihat bagaimana empat binatang yang mewakili empat kerajaan silih berganti adalah Kekuatan Kegelapan dan bagaimana mereka menindas ummat Yahudi dan Gereja Jesus awal, yang terdiri dari orang-orang beriman sebenarnya pada Satu Tuhan. Kita juga membuat catatan bahwa Kekuatan-Kekuatan itu adalah penyembah berhala dan digambarkan secara alegoris sebagai orang-orang yang tidak berperi kemanusiaan dan kejam. Selanjutnya kita melihat bahwa Tanduk kesebelas yang mempunyai mulut dan mata, yang menghujat Yang Maha Tinggi telah memerangi dan menaklukkan para santo Tuhan serta telah merubah waktu dan Hukum Tuhan, tidak dapat lain kecuali kaisar Constantine yang dalam tahun 325 M mengumumkan keputusan kekaisarannya yang memproklamirkan kepercayaan dan keputusan Konsili Umum Nicea.

Dalam artikel ini marilah kita dengan sabar mengikuti penelitian kita tentang Bar Nasha yang mulia, atau "Anak Manusia" yang dihadirkan di atas awan kepada Tuhan, yang diberi kehormatan dan kerajaan Sultaneh untuk selama-lamanya (Sholtana dalam teks aslinya, yaitu "dominion" atau "empire"), dan yang mendapat wewenang untuk menghancurkan dan meniadakan si Tanduk yang kejam.

Marilah kita sekarang melanjutkan tulisan ini untuk menentukan identitas "Bar Nasha" ini.

Sebelum mencari tahu siapa Anak Manusia ini , adalah penting bahwa kita mempertimbangkan hal-hal dan pengamatan berikut ini:

  1. Ketika Nabi Yahudi itu membuat ramalan bahwa "semua bangsa dan orang di bumi akan mengabdi kepadanya (Bar Nasha) atau "orang-orang Suci (Santo) dari Yang Maha Tinggi", kita harus mengerti bahwa yang dimaksud beliau itu ialah bangsa-bangsa yang disebut dalam Genesis xv. 8 – 21, dan bukan bangsa Inggris, bangsa Perancis, atau bangsa Cina.

  2. Dengan ungkapan "orang-orang Suci dari Yang Maha Tinggi" difahami bahwa yang dimaksud ialah pertama orang-orang Yahudi dan kemudian orang-orang Kristen yang mengakui Ke Esaan Tuhan yang mutlak, berjuang dan menderita karenanya untuk keyakinan itu hingga munculnya Bar Nasha dan pembinasaan si Tanduk.

  3. Setelah pembinasaan si Tanduk, orang-orang dan bangsa yang akan harus mengabdi pada para Santo Tuhan ialah orang-orang Kaldea, Medo Persia, Yunani dan Roma – empat bangsa yang diwakili oleh empat binatang yang telah menjarah dan menyerbu Tanah Suci.
    Dari laut Adriatik hingga tembok Cina semua bangsa yang beraneka ragam itu atau telah menerima Islam sebagai agamanya, atau tetap sebagai kafir yang mengabdi pada orang-orang Islam, yang adalah orang-orang beriman sejati pada Ke Esaan Tuhan.

  4. Baik sekali untuk menyadari kenyataan yang berarti bahwa Tuhan seringkali mengizinkan musuh-musuh agama sejatiNya menaklukkan dan menindas ummatNya karena dua tujuan. Pertama, karena Dia ingin menghukum ummatNya yang malas, jahil dan berdosa. Kedua, karena Dia ingin membuktikan iman, kesabaran dan hal tidak mungkin hancurnya Hukum dan AgamaNya, dan dengan begitu membiarkan si kafir tetap dalam kekafirannya dan kejahatannya hingga gelas mereka penuh. Pada saatnya Tuhan Sendiri campur tangan atas nama orang beriman apabila eksistensi mereka ada di akhir garis tepi ujung kayu balok. Adalah waktu yang mengerikan dan kritis bagi ummat Islam ketika Kekuatan Sekutu ada di Konstantinopel selama tahun-tahun perdamaian. Persiapan besar telah dibuat oleh orang Yunani dan teman-teman mereka untuk mengambil kembali Mesjid Agung Aya Sophia; Patriarch Yunani dari Konstantinopel pergi ke London dengan membawa satu set perlengkapan patriarchal yang dihiasi dengan batu berharga dan mutiara untuk Archbishop dari Canterbury yang membantu dengan gigih restorasi Konstantinopel dan bangunan agung St Sophia kembali kepada orang Yunani. Pada malam peringatan mi’raj Nabi Muhammad saw, bangunan yang keramat itu dipenuhi dengan banyak sekali orang beriman yang berdo’a hingga fajar memohon dengan tulus kepada Allah Yang Maha Kuasa agar tidak menyerahkan Turki, khususnya Rumah Suci, kepada mereka yang "akan mengisinya dengan patung dan gambar yang jelek seperti sebelumnya!" Sehubungan dengan jubah patriarch itu, saya telah menulis sebuah artikel dalam surat kabar Turki "Aqsham" menunjukkan adanya perpecahan di antara Gereja Yunani Ortodoks dan Gereja Protestan Anglikan. Saya tunjukkan bahwa jubah itu bukan dimaksudkan sebagai pallium dari penobatan dan pengakuan dari orde Anglikan, dan bahwa reuni antara kedua Gereja tidak pernah dapat terjadi kecuali jika salah satu dari pihak-pihak itu harus meninggalkan dan menarik artikel keyakinan tertentu sebagai penyimpangan dan kesalahan. Saya juga menunjukkan bahwa jubah itu ialah penyuapan diplomatik atas nama Yunani dan Gerejanya. Surat itu berakhir dengan kalimat ini: "Semua tergantung pada keanggunan dan keajaiban yang diharapkan terjadi dengan bakhskish berupa jubah kependetaan ini !"
    Hasilnya telah cukup dikenal untuk diulangi di sini. Cukuplah untuk mengatakan bahwa Patriarch itu mati di Inggris, dan Yang Maha Kuasa yang mengutus Bar Nasha untuk menghancurkan si Tanduk dan mengejar keluar legiun Romawi dari Timur, telah mengangkat Mustapha Kamal yang menyelamatkan negerinya dan mengembalikan kehormatan Islam!

  5. Patut dicatat bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang dipilih Tuhan hingga bangkitnya Jesus Kristus. Dalam pandangan orang Islam, baik Yahudi maupun ummat Kristen tidak mempunyai hak untuk mengklaim dirinya dengan gelar "Orang-orang Suci dari Yang Maha Tinggi" (The People of the Saints of the Most High), karena bangsa Yahudi serta merta telah menolak Jesus, sedang orang Kristen telah menghina Jesus dengan menuhankannya. Tambahan pula keduanya sama-sama tidak berharga untuk gelar itu karena penolakan mereka untuk mengakui Nabi Terakhir yang telah menyempurnakan daftar para Nabi.

Kita sekarang akan melanjutkan untuk membuktikan bahwa Bar Nasha – Anak Manusia – yang dihadirkan kepada "Zaman Dulu" dan dilengkapi dengan kekuatan untuk membunuh monster, tidak lain adalah Nabi Muhammad saw, yang namanya secara harafiah berarti "Yang terpuji dan terkenal". Orang atau pribadi lain yang manapun yang mungkin anda coba untuk menempatkannya untuk mengambil hak dari Utusan Allah yang mulia dari kemuliaan dan keagungan yang unik yang diberikan kepadanya di Istana Suci,maka anda hanya akan menjadikan diri anda bahan tertawaan; dan ini untuk sebab-sebab berikut:

  1. Kita tahu bahwa baik Judaisme (agama Yahudi) maupun agama Kristen keduanya tidak memiliki nama tertentu untuk kepercayaan dan sistimnya. Dengan kata lain, baik bangsa Yahudi maupun ummat Kristen tidak mempunyai nama khusus untuk doktrin dan bentuk kepercayaannya serta pemujaannya. "Judaism: dan "Christianity" tidak berasal dari Kitab Suci dan tidak pula disahkan oleh baik Tuhan ataupun pendiri agama-agama itu. Sebenarnya, suatu agama bila benar, tidak bisa dinamakan dengan nama pendiri keduanya, karena pencipta dan pendiri sebenarnya dari suatu agama adalah Tuhan, dan bukan seorang Nabi. Nah, kata benda yang pantas untuk hukum, doktrin, bentuk dan cara-cara pemujaan sebagaimana diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw disebut "Islam" yang berarti "berdamai" dengan Dia dan di antara manusia. Muhammedanism bukan kata sebutan yang pantas untuk Islam. Karena Nabi Muhammad saw sendiri seperti halnya Nabi Ibrahim dan semua Nabi lainnya adalah seorang Muslim, dan bukan Muhammadan! Judaism berarti agama orang Judah, namun apakah Judah itu sendiri? Pasti bukan Judaist! Dan sama halnya bagi Kristus, apakah beliau seorang Kristen atau seorang Jesuit? Pasti kedua-duanya bukan! Kalau begitu apa lalu nama kedua agama yang nyata (distinct) ini? Tidak bernama sama sekali!

    Lalu kita punya kata dalam bahasa Latin yang biadab "religion" yang berarti "ketakutan terhadap dewa-dewa". Kini itu dipakai untuk menyatakan "semua bentuk kepercayaan dan pemujaan". Lalu apa kata ekivalen dari "religion" dalam Injil? Ungkapan apa yang dipakai Nabi Musa atau Jesus untuk menyampaikan arti dari agama? Tentu saja Injil dan penulisnya sama sekali tidak mempergunakan kata itu.

    Nah, istilah Kitab Suci yang dipakai dalam visi Nabi Daniel adalah sama dengan yang berulang kali dipergunakan oleh Al Qur’an bagi Islam, yaitu ad-Din yang berarti "pembalasan pada Hari Kiyamat" atau "recompense of the Day of Judgement". Dan mimbar itu ialah "Dayyana" atau "Hakim". Marilah kita baca deskripsi dari Pengadilan Langit ini: "mimbar-mimbar itu diatur, buku-buku dibuka, dan "Dina" – pembalasan pada Hari Kiyamat – ditetapkan." Dengan buku-buku dimaksudkan "Lauful Mahfuz" di mana keputusan-keputusan Tuhan dituliskan dari mana Al Qur’an diturunkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw; dan juga buku pertanggungan jawab perbuatan setiap orang. Sesuai dengan keputusan dan hukum Tuhan yang tercantum dalam "Lauful Mahfuz" itulah, dan kejahatan si Tanduk , bahwa "Dayyana" yang agung – Hakim itu menghukum mati si Tanduk dan mengangkat Nabi Muhammad saw menjadi "Adon" Yaitu "komandan" atau "tuan" untuk menghancurkan monster itu. Semua ucapan Daniel ini adalah amat sangat bernuansa Al Qur’an. Agama Islam itu disebut "Dinu ‘l -Islam". Sesuai dengan keputusan dan hukum "Dina" ini bahwa Bar Nasha menghancurkan agama Setan dan letnannya si Tanduk. Bagaimana lalu bisa sama sekali mungkin bahwa orang yang manapun selain Nabi Muhammad saw dapat dimaksudkan sebagai "Anak Manusia" dalam kehadiran Yang Maha Tinggi? Sungguh, Islam adalah sebuah "judgement of peace" atau "penilaian perdamaian" karena Islam memiliki Kitab Hukum yang otentik dengan mana keadilan dilaksanakan dan ketidak adilan dihukum, kebenaran dipuji dan kepalsuan dicerca; dan di atas semua, Ke Esaan Tuhan, pahala abadi bagi amal baik, dan hukuman abadi bagi perbuatan jahat dengan jelas disebutkan dan didefinisikan. Dalam bahasa Inggris seorang magistrate disebut "Justice of Peace"; dengan kata lain "judge of peace" . Nah, itu adalah peniruan dari Hakim Muslim, yang menyelesaikan suatu persengketaan, memutuskan suatu perkara, dengan menghukum yang salah dan memberi pahala kepada yang tidak bersalah, jadi mengembalikan perdamaian. Inilah Islam dan hukum Al Qur’an. Itu sama sekali bukan agama Kristen atau Injil, karena Injil ini secara mutlak melarang seorang Kristen untuk naik banding kepada seorang hakim, betapapun dia tidak bersalah dan tertindas (Matius v. 25, 26, 38 – 48).
     

  2. Anak Manusia atau Bar Nasha pastilah Nabi Muhammad saw. Karena beliau datang sesudah Constantine dan bukan sebelumnya seperti halnya Jesus atau Nabi lainnya. Pemerintahan Trinitarian di Timur yang diwakili oleh si Tanduk yang kita kenali dengan benar sebagai Kaisar Constantine, diizinkan untuk memerangi kaum Unitarian dan menundukkan mereka selama kurun waktu yang digambarkan dalam bahasa ramalan yang figuratif yaitu "waktu, waktu-waktu dan setengah waktu" ungkapan mana berarti tiga setengah abad, yang pada akhir kurun itu semua kekuatan penyembah berhala di satu pihak dan dominasi dan tirani kaum Trinitarian di pihak lain dilenyapkan dan disapu bersih seluruhnya. Tiada yang lebih tidak masuk akal selain daripada claim bahwa Judah orang Maccabae (Maqbhaya) adalah Bar Nasha yang di awan, dan si Tanduk ialah Antiochus. Dikatakan orang (bila ingatan saya benar) bahwa Antiochus sesudah penodaan Kuil di Jeruzalem, hanya hidup selama tiga setengah tahun atau tiga setengah hari, dan pada akhir waktu itu dia menghilang. Pertama, kita mengetahui bahwa Antiochus adalah yang menggantikan Aleksander Agung dan Raja Syria, dengan sendirinya adalah salah satu daripada empat kepala dari harimau yang bersayap dan bukan Tanduk yang kesebelas dari empat binatang seperti disebutkan dalam visi. Dalam pasal delapan Kitab Daniel, biri-biri jantan dan kambing jantan ditafsirkan oleh Santo sebagai mewakili Kerajaan Persia dan Kerajaan Yunani. Dengan jelasi diterangkan bahwa kerajaan Yunani dengan segera menggantikan kerajaan Persia, dan bahwa kerajaan itu terbagi jadi empat kerajaan kecil seperti disebutkan dalam visi pertama. Kedua, si Tanduk yang bisa bicara menunjukkan bahwa orang yang menghujat dan merubah Hukum dan hari-hari suci pasti bukan seorang penyembah berhala, tetapi seseorang yang mengenal Tuhan dan menyekutukanNya dengan sengaja dengan dua pribadi lainnya yang sama dia kenali dengan baik, dan menyelewengkan iman. Antiochus tidaklah menyelewengkan iman orang-orang Yahudi dengan melembagakan trinitas atau kegandaan (pluralitas) Tuhan, tidak juga dia mengubah Hukum Musa dan hari-hari festival yang berkaitan. Ketiga, adalah kekanak-kanakan memberikan besaran (magnitude) dan arti penting sedemikian rupa kepada peristiwa-peristiwa setempat dan tidak berarti yang terjadi di antara raja kecil di Syria dan seorang ketua kecil Yahudi, hanya untuk memperbandingkan yang kemudian tersebut itu (ketua Yahudi) dengan seorang laki-laki mulia yang menerima penghormatan jutaan malaikat dalam kehadiran Yang Maha Kuasa. Tambahan lagi, visi ramalan itu mendeskripsikan dan menggambarkan Bar Nasha sebagai Yang terbesar dan termulia di antara seluruh manusia, karena tiada lagi insan lain yang disebutkan dalam Perjanjian Lama yang menjadi obyek kehormatan dan kebesaran sedemikian rupa sebagaimana Nabi Muhammad saw.
     

  3. Sama saja sia-sia untuk mengklaim Jesus Kristus sebagai mendapatkan kehormatan langit yang diberikan kepada Anak Manusia ini. Ada dua alasan utama untuk tidak memasukkan Jesus dalam kategori yang mendapat kehormatan itu:

  1. Jika beliau murni seorang manusia dan nabi, dan jika kita menganggap karyanya suatu keberhasilan atau suatu kegagalan, maka pastilah beliau jauh di belakang Nabi Muhammad saw. Namun bila beliau dipercaya sebagai yang ketiga dari tiga dalam trinitas, maka beliau telah tidak tercatat dalam daftar manusia sama sekali (karena bukan manusia – Pen.). Anda akan jatuh dalam suatu dilema, dan anda tidak dapat keluar daripadanya, karena dalam hal yang manapun Bar Nasha tidak mungkin seorang yang bernama Jesus.
     

  2. Bila Jesus telah diberi mandat untuk menghancurkan empat binatang, maka seharusnya Jesus telah mengusir legiun Romawi dari Palestina dan menyelamatkan negeri dan penduduknya, dan bukan malah telah membayar pajak kepada Cesar dan menyerahkan dirinya untuk di ditawan atau dilecut oleh gubernur Romawi Pilate.

  1. Tidak pernah ada di bumi ini seorang Pangeran – Nabi Muhammad saw, yang termasuk dalam dinasti yang telah memerintah selama kurun waktu 2.500 tahun, mutlak merdeka dan tidak pernah tunduk di bawah kekuasaan asing. Dan sudah barang tentu tidak pernah dilihat di bumi ini seorang lain seperti Nabi Muhaamd saw, yang telah memberikan jasa materiil dan moril khususnya kepada bangsanya sendiri, dan pada umumnya kepada dunia seluruhnya. Tidak mungkin membayangkan seorang insan lain yang begitu terhormat dan berharga seperti halnya Nabi Muhammad saw karena kemuliaan dan kehormatan yang sedemikian indah seperti digambarkan dalam visi kenabian (ramalan) tersebut. Biarlah kita memperbandingkan Nabi besar Daniel dengan Bar Nasha yang beliau lihat dengan kekaguman dan ketakjuban. Daniel adalah seorang budak atau seorang yang ditangkap, meskipun dibesarkan hingga mencapai kehormatan sebagai seorang vizier dalam istana Babilon dan Susa. Dalam kehadiran Yang Maha Kuasa, apa kedudukan beliau bila dibandingkan dengan Nabi Muhammad saw, yang pasti dinobatkan sebagai Sultan dari semua Nabi, Pemimpin dari ummat manusia, dan obyek dari penghormatan dan kekaguman para malaikat. Keajaiban kecil bahwa Nabi Daud menyebut Nabi Muhammad saw "Tuanku". (Psalm c. 10).
     

  2. Tidaklah mengherankan untuk mendapati bahwa perjalanan malam beliau Nabi Muhammad saw ke Langit diterima dengan kehormatan yang tertinggi oleh Yang Maha Kuasa dan dihadiahi dengan kekuatan untuk menghancurkan penyembahan berhala dan si Tanduk yang menghujat dari negeri-negeri yang telah diberikan oleh Tuhan kepadanya dan ummatnya sebagai suatu warisan abadi.
     

  3. Segi lain yang paling mengagumkan dalam visi kenabian ini, menurut pendapat saya yang hina ini, ialah bahwa tampaknya Bar Nasha di awan dan kehadirannya di hadapan Tuhan sesuai dengan dan serentak bersama dengan mi’raj atau perjalanan malam Nabi Muhammad saw; dengan kata lain, bagian kedua dari visi Daniel itu harus dikenali sebagai Mi’raj! Benar adanya beberapa indikasi baik dalam bahasa Daniel maupun dalam Hadith -ucapan dan tindakan Nabi Allah – yang telah menuntun saya kepada keyakinan ini. Al Qur’an menyatakan bahwa selama perjalanan malam itu Tuhan telah mengangkut pemujaNya itu dari Mesjid Suci di Mekkah ke Mesjid Aqsha di Jeruzalem. Dia memberkati sekeliling mesjid itu, yang merupakan reruntuhan saat itu, dan menunjukkan tanda-tandaNya kepadanya (Al Qur’an, Surah xvii).

Diceriterakan oleh Nabi Suci bahwa di Kuil Jeruzalem beliau melaksanakan tugas dalam kapasitasnya sebagai imam, dan melaksanakan sholat bersama seluruh Nabi sebagai makmumnya. Diceriterakan lebih lanjut bahwa itu dari Jeruzalem bahwa beliau dibawa naik ke Langit ke Tujuh dengan ditemani oleh ruh para Nabi dan para malaikat hingga beliah di hadapkan pada Yang Maha Abadi. Kesahajaan Nabi yang melarang beliau untuk mengungkapkan semua apa yang beliau saksikan, dengar dan terima dari Allah, telah dibuat bagus oleh Daniel yang membuat gambaran tentang keputusan Penilaian Tuhan (God Judgement). Ternyata bahwa Ruh yang menafsirkan visi bagi Daniel itu bukan seorang malaikat, seperti telah saya catat tanpa pikir sebelum ini di bab lain terdahulu, tetapi Ruh atau Jiwa seorang Nabi, karena beliau memanggil "Qaddish" (maskulin) dan "Qaddush" (Daniel iv.10; viii. 13), yang berarti seorang Santo atau seorang Suci – nama yang sangat biasa bagi Nabi-Nabi dan para Santo. Betapa jiwa suci dari para Nabi dan Martir yang telah ditindas oleh empat binatang telah merasa bahagia, terlebih lagi ketika mereka menyaksikan keputusan Yang Maha Kuasa terhadap pemerintahan Trinitarian Constantine dan Nabi Terakhir diberi kekuasaan untuk membunuh dan membinasakan si Tanduk yang menghujat! Juga akan diingat bahwa visi ini dilihat pula selama malam yang sama di mana terjadi perjalanan malam Anak Manusia nasha dari Mekkah ke Langit!

Dari kesaksian Daniel, kami sebagai orang Islam harus mengakui bahwa perjalanan malam Nabi Muhammad saw telah dilakukan secara fisikal – suatu hal yang tidak mustahil bagi Yang Maha Kuasa.

Harus ada hukum dalam ilmu alam yang sesuai dengan hukum itu sebuah bendatidak dikendalikan oleh benda utamanya yang merupakan induknya, atau oleh hukum gravitasi, tetapi oleh hukum velositas (kecepatan). Sebuah tubuh manusia sebagai mahluk bumi tidak dapat melepaskan diri daripadanya kecuali jika ada kekuatan velositas yang superior yang melepaskannya dari kekuatan gravitasi. Lalu juga harus ada hukum lain dalam ilmu fisika yang menurut hukum itu sebuah benda yang ringan dapat masuk (penetrasi) ke dalam benda lain yang tebal, dan benda yang tebal itu bisa masuk ke dalam benda yang lebih tebal lagi atau lebih keras melalui sarana kekuatan superior, atau semata-mata melalui kekuatan velositas. Tanpa masuk ke dalam hal-hal yang rinci dari masalah yang pelik ini, cukup kiranya untuk mengatakan bahwa sebelum kekuatan velositas, berat suatu benda padat apakah dipindahkan atau disentuh tidaklah menarik perhatian. Kita mengetahui tingkat kecepatan cahaya dari matahari atau bintang. Kalau kita menembakkan sebuah peluru dengan kecepatan, katakanlah, 2.500 meter per detik, kita tahu peluru itu akan masuk dan merobek sebuah benda pelat besi yang beberapa inci tebalnya. Dengan cara yang sama, malaikat yang dapat bergerak dengan kecepatan tidak terbatas yang lebih besar daripada kecepatan cahaya matahari dan bahkan pikiran dalam jiwa manusia, tentu saja dapat mengangkut tubuh Nabi Jesus , untuk menyelamatkannya dari penyaliban, dan Nabi Muhammad saw dalam tantangan yang penuh keajaiban dari Perjalanan Naik ke Langit ke Tujuh atau Mi’raj dengan kecepatan dan laju yang mempesonakan, dan menjadikan gaya berat bumi pada titik nol.

Paul juga menyebutkan sebuah visi yang telah dia lihat empat belas tahun sebelumnya tentang seorang laki-laki yang dibawa naik ke langit ketiga dan kemudian ke sorga, di mana di mendengar dan menyaksikan kalimat-kalimat dan obyek-obyek yang tak dapat digambarkan. Gereja-Gereja dan para komentatornya percaya bahwa orang laki-laki itu ialah Paul sendiri. Walaupun bahasanya itu begitu rupa untuk menceriterakan kepada kita gagasan bahwa orang laki-laki itu adalah dia sendiri, namun karena sebab santun maka dia menjadikan itu tetap rahasia karena kalau tidak demikian dia akan dianggap seorang yang sombong! (2 Corinthian xii. 1-4). Meskipun Al Qur’an mengajarkan kepada kita bahwa rasul-rasul (apostles) Jesus Kristus adalah orang-orang baik, tulisan mereka tidak dapat dipercaya, karena Gereja-Gereja yang bertengkar dan berbeda pendapat telah menjadikan tulisan itu terinterpolasi. Injil Barnabas menyebutkan bahwa Paul sesudah itu jatuh ke dalam kesalahan dan menyelewengkan banyak orang beriman.

Bahwa Paul tidak mengungkapkan jati diri pribadi yang dia lihat dalam visinya, dan bahwa kalimat-kalimat yang dia dengar di sorga "tidak dapat dibicarakan dan tidak ada seorang manusiapun diizinkan untuk berbicara tentang halitu" menunjukkan bahwa bukanlah Paul orang yang dibawa naik ke langit itu. Untuk mengatakan bahwa Paul tidak memuji dirinya sendiri dengan alasan kesahajaan dan sopan santun, adalah semata-mata perwujudan Paul yang salah. Dia menyombongkan diri sesudah memarahi St Peter, dan sebutan-sebutan dia penuh dengan ungkapan tentang dirinya yang agak menguatkan pendapat bahwa Paul bukan orang yang sederhana dan santun.

Tambahan lagi, kita mengetahui dari suratnya kepada orang-orang Galatia dan Romawi, betapa dia sebagai orang Yahudi penuh syak prasangka terhadap Hagar dan Ismail, anaknya. Orang mulia yang dia lihat dalam visinya tidak bisa lain kecuali orang yang sama yang dilihat oleh Daniel. Itulah Nabi Muhammad saw yang dia lihat, dan tidak berani menceriterakan kalimat-kalimat yang diucapkan kepadanya karena di satu pihak dia takut pada orang-orang Yahudi, dan di pihak lain karena dia akan telah ada dalam kontrakdiksi dengan dirinya sendiri yang telah begitu banyak memuliakan dirinya dengan Salib dan yang disalib. Saya setengah percaya bahwa Paul diizinkan untuk melihat Bar Nasha yang telah dilihat oleh Daniel kira-kira enam abad sebelumnya, namun "setan yang terus menerus menghantam kepalanya" (2 Corinthian xii. 7) melarangnya untuk mengungkapkan kebenaran! Inilah pengakuan Paul bahwa "the Angel of Satan" nama yang dia pakai untuk menyebut setan, melarangnya untuk mengungkapkan rahasia Nabi Muhammad saw, yang dia lihat dalam visinya. Jika Paul benar seorang pemuja Tuhan yang tulus, mengapa dia diserahkan ke tangan "angel of the Devil" alias setan yang terus menerus menghantam kepalanya? Semakin banyak seseorang memikirkan ajaran Paul, semakin berkurang keraguannya bahwa Paul adalah prototipe Constantine Agung!

Sebagai kesimpulan, kiranya dibenarkan saya di sini melukiskan moral dari visi indah Nabi Daniel ini untuk non Muslim. Mereka harus dengan sungguh hati menarik pelajaran dari nasib yang menimpa empat binatang, dan khsusnya si Tanduk, dan untuk merenungkan bahwa Allah sendiri saja yang adalah Satu Tuhan Sejati; bahwa orang-orang Islam sendiri saja yang dengan setia mengakui Ke EsaanNya Yang Mutlak; bahwa Dia Mengetahui akan penindasan yang menimpa ummat Islam, dan bahwa ummat Islam mengetahui Caliph dari para Nabi - Nabi Muhammad saw - ada di dekat arasy Yang Maha Tinggi.

 

 

 


 


 

pakdenono@yahoo.com