"WHAT EVERY CHRISTIAN & JEW SHOULD KNOW"
TENTANG SANG PENCIPTA, KITAB SUCI & NABI-NABI
 

Oleh PROFESOR DAVID BENJAMIN KELDANI B.D.

(Wafat 1940) Dahulu Uskup Uramiah, Kaldea.

Alih Bahasa Oleh: H.W. Pienandoro SH
download : www.pakdenono.com

B. MUHAMMAD SAW DALAM PERJANJIAN BARU


Bab 11
 

ISLAM DAN AHMADIYAH DIUMUMKAN OLEH PARA MALAIKAT

Dua peristiwa istimewa telah tercatat oleh dua orang Pengabar Injil (Evangelist) dalam hubungannya dengan kelahiran Nabi Jesus Kristus a.s. Pengabar Injil Mattai (Matius) telah meninggalkan bagi kita sebuah ceritera mengenai ziarah yang indah dari Magi, yang dibimbing oleh bintang dari Persi ke palung di Betlehem, di mana terbaring Jesus yang baru saja dilahirkan, yang mereka "puja" dan mereka beri hadiah-hadiah yang melimpah berupa emas, mirah, dan wangi-wangian. Bahan ceritera yang disingkatkan dari peristiwa sejarah atau ceritera fiksi tentang "Orang Bijak" dari Timur itu pada dirinya adalah suatu legenda bohong yang terdiri dari setengah lusin keajaiban, yang gereja Kristen sendirilah yang mampu menciptakan dan mempercayainya. Gereja telah mempertahankan nama Magi itu, yang dikepalai oleh Raja Caspar, "diilhami oleh Tuhan," dan mengetahui bahwa bayi kecil di Betlehem itu ialah Tuhan, Domba dan Raja, dan karena itu mereka menawarkan wewangian seperti kepada tuhan, mirah untuk penguburannya sebagai korban, dan emas sebagai kekayaan kerajaan! Dan bahwa ahli-ahli sihir Zoroaster atau ahli-ahli nujum Kaldea, melalui ramalan dan petunjuk, melintasi seluruh jarak ke Jeruzalem, dan disitu bintang itu menghilang tak terlihat lagi; bahwa penguasa Herod yang memerintah orang Yahudi dan penduduk Jeruzalem bergemetaran saat mendengar berita kelahiran seorang raja baru; bahwa hanya sebuah pasal yang kacau dalam tulisan-tulisan Nabi Micah (v.2) dapat memecahkan masalah lokalitas di mana kelahiran Jesus itu telah berlangsung; dan akhirnya bahwa para astrolog diberi tahu oleh Tuhan dalam mimpi agar tidak kembali ke Herod, adalah benar-benar beberapa keajaiban indah yang hanya takhayul orang-orang Kristen dapat menelannya. Rombongan kerajaan dari peziarah itu melanjutkan perjalanan ke Betlehem yang hanya beberapa mil jaraknya dari Jeruzalem, dan, bintang penunjuk yang lalu itu muncul lagi dan membimbing mereka hingga bintang itu berhenti tepat di atas tempat di mana bayi itu lahir. Kecepatan yang luar biasa dengan mana perjalanan jauh dari Persia ke Betlehem diakhiri sementara bayi itu masih ada di kandang (Lukas ii. 4 – 7) menunjukkan arti penting keajaiban itu.

Keajaiban lain yang berhubungan dengan kelahiran Jesus Kristus adalah kenyataan, atau suatu fiksi, bahwa sesudah semua demonstrasi di istana Herod itu dan dalam kelas-kelas para terdidik di Jeruzalem, tidak ada seorangpun yang mengetahui tempat tinggal Keluarga Suci itu; dan bahwa kebodohan yang misterius ini menyebabkan pembantaian oleh Herod atas ratusan bayi-bayi di Betlehem dan sekitarnya. Keajaiban terakhir namun bukan yang terkecil yang disindirkan dalam narasi ini adalah dipenuhinya ramalan lain dari Jeremiah ( xxxi. 15), di mana Rahil digambarkan sebagai telah menangis dan meratapi pembunuhan atas kaum Ephraim di Ramah dan bukan Betlehem, dan ini, juga tujuh ratus tahun yang lalu, ketika keturunan Rahil dideportasi ke Asiria sementara dia sendiri telah meninggal jauh sebelum Yakub yang adalah suaminya berpindah ke Mesir! Matius yang sendirian di antara para ahli arsip dan sejarah kuno mengetahui peristiwa ini, tidak menceriterakan kepada kita apa kesan Raja Caspar dan para ahli bintangnya sesudah kunjungan mereka ziarah ke palung Betlehem. Yakinkah atau tidakkah mereka bahwa anak Maryam itu adalah seorang raja? Jika mereka dibujuk bahwa Jesus adalah seorang raja, mengapa bahwa kemudian Persia menindas agama Kristen hingga Persia memeluk agama Islam dalam abad ke tujuh? Tidak benarkah bahwa orang Persia tidak menerima cahaya dan informasi mengenai Jesus orang Nazareth dari para ahli sihir, namun hanya dari tentara Muslim yang dikirim oleh Kalifah kedua Umar?

Bukan maksud saya untuk sekaligus mengingkari kebenaran kunjungan beberapa orang Magi dari Timur ke ruang bawah tanah Jesus, tetapi semata-mata untuk menunjukkan keserakahan atau ambisi gereja untuk membesar-besarkan peristiwa biasa dalam kehidupan Jesus Kristus dan untuk memperagakan di dalamnya beberapa karakteristik supernatural.

Perisitwa lain yang sama indahnya yang berkaitan dengan artikel kita sekarang ini dicatat oleh Pengabar Injil Lukas ( ii. 1 – 20). Beberapa penggembala sedang mengamati kawanan gembalaannya di sebuah lapangan dekat Betlehem pada malam hari ketika Jesus dilahirkan di sebuah palung. Seorang malaikat mengumumkan kelahiran "Tuhan Penyelamat," dan tiba-tiba sekelompok malaikat menampakkan diri di langit dan menyanyikan dengan keras lagu ini:

Kemuliaan bagi Tuhan di Tempat Tertinggi,
Dan damai di bumi,
Dan di antara manusia itikad baik. (Ayat 14)

Lagu malaikat yang tenar ini, dikenal dengan "Gloria in excelsis deo" dan dinyanyikan dalam semua gereja sacerdotal selama perayaan sakramen, adalah sayang sekali hanya sebuah terjemahan kabur dari teks Yunani, yang sama sekali tidak dapat dianggap bisa diyakini atau bernilai kebenaran, karena lagu itu tidak menunjukkan kepada kita kalimat aslinya dalam bahasa yang para malaikat melantunkannya dan yang dimengerti oleh para gembala Ibrani itu. Bahwa tuan rumah langit menyanyikan lagu gembira mereka dalam bahasa sipengggembala, dan bahwa bahasa itu bukan bahasa Yunani tetapi bahasa asli Ibrani – atau lebih baik Aramiah – adalah suatu kenyataan yang diakui. Dalam Kitab-Kitab Suci semua asma Allah, malaikat, sorga, para nabi, dan sebagainya, diungkapkan kepada kita dalam lidah orang Semit (Ibrani, Aramiah, Arab); dan untuk membayangkan bahwa mahluk langit itu menyanyikan lagu dalam bahasa Yunani kepada gembala Yahudi yang bodoh di daerah sekitar Betlehem sama artinya dengan percaya bahwa sekelompok malaikat semacam itu, di cakrawala di atas bukit-bukit tanah Kurdistan, menyanyikan sebuah lagu yang sama dalam bahasa Jepang untuk dicernakkan, atau ditebak, oleh beberapa penggembala Kurdistan!

Penampakan seorang malaikat kepada gembala sederhana dari Betlehem dan pengumuman tentang kelahiran seorang Nabi Besar pada malam hari itu, dan mendengar seruan Hallelujah para malaikat saja dan bukan oleh pendeta dan penulis yang sombong, adalah salah satu dari keajaiban yang tak terhitung yang dicatat dalam sejarah bangsa Israel. Tidak ada apa-apa dalam ceritera itu yang bisa dianggap sebagai suatu sifat yang begitu kontradiktif untuk membeberkan ceritera itu menjadi hal yang luar biasa. Seorang malaikat dapat menampakkan dirinya kepada seorang nabi atau kepada seorang pemuja Tuhan yang suci dan menyampaikan wasiyat Tuhan kepadanya di hadapan orang lain, namun sangat tidak nampak bagi mereka. Para gembala yang baik itu mempunyai hati dan kepercayaan yang baik, karena itu mereka itu dianggap pantas untuk suatu kurnia suci. Jadi dari sudut pandang agama tidaklah ada apapun yang tidak kompatibel atau yang tidak mungkin dalam peristiwa yang indah ini seperti dicatat oleh Lukas. Pengarang ceritera ini memperagakan artikulasi yang memiliki ketepatan yang tinggi, dia bijak dan berhati-hati dalam pernyataannya, dan dalam seluruh Injil dia mempergunakan gaya bahasa Yunani yang sangat bagus. Dengan mempertimbangkan kenyataan bahwa dia menulis bukunya lama sesudah kematian para apostel semuanya, dan bahwa dia telah meneliti dengan sangat seksama banyak sekali karya-karya mengenai Jesus dan Injilnya, tampaknya sangat mungkin bahwa dia sadar akan adanya legenda Magi dan menahan dirinya dari memasukkan hal itu ke dalam bukunya sendiri 1)

Dalam empat ayat pertama yang mengawali Injil ketiga ini disebutkan dengan tepat bahwa para apostel yang dia sebut sebagai "saksi dan utusan Tuhan," telah tidak menuliskan sendiri ceritera-ceritera tentang Gurunya dan ajarannya, namun hanya melalui tradisi telah meneruskan ceritera itu secara lisan kepada para pengikutnya atau penggantinya. Juga dengan jelas disebutkan bahwa sumber yang dipergunakan oleh Lukas untuk penyusunan Injilnya adalah berbagai "ceritera" yang dibuat oleh orang-orang yang telah mendengar ceritera-ceritera itu telah dinarasikan oleh para apostel dan orang-orang lainnya yang telah menyaksikan peristiwa dan doktrin itu, dan bahwa pengarang dengan sangat penuh perhatian telah meneliti semua ceritera itu dan memilih hanya yang sedemikian yang dia anggap benar dan patut dipercaya. Lebih lanjut tampak lebih jelas dengan pengakuan Lukas sendiri, yang dengan mudah dapat disimpulkan dari "Pendahuluan", bahwa dia mengklaim dirinya tidak menerima wahyu langsung apapun, juga dia tidak memberikan atribut apapun berupa karakter yang inspirasional ke dalam bukunya. Juga dengan aman dapat diasumsikan bahwa Injil pertama dan keempat belum ditulis ketika Lukas melakukan kompilasi narasinya sendiri, atau bahwa dia tidak melihat Injil pertama dan keempat tersebut; karena tidak mungkin dia telah dapat berspekulasi untuk menyeimbangkan atau menyangkal Injil yang ditulis oleh dua apostel, Matius dan Yohanes.

Observasi singkat ini yang dapat dilipat gandakan harus meyakinkan setiap pembaca yang tidak berpihak bahwa apa yang disebut "Empat Injil" tidak memperagakan tanda-tanda yang penting yang tidak bisa tidak harus ada pada setiap Kitab Suci yang mengklaim dirinya suatu inspirasi suci.

Gereja telah mempercayai bahwa pengarang Injil ketiga adalah tabib Lukas (Kolose iv. 14) yang menemani Paul dalam perjalanan misinya dan bersamanya sebagai tawanan di Roma ( 2 Timotius iv. 11; Filemon 24, dsb). Tetapi di sini bukan tempatnya untuk membicarakan masalah pengarang buku itu, juga hal-hal ganjil lainnya yang penting. Cukup kiranya untuk mengatakan bahwa Lukas telah mencatat beberapa ceritera ibarat yang indah dan ajaran dari Sang Guru Suci, seperti ceritera ibarat "Orang Samaritan yang baik" ( x. 25 - 37); "Orang Kaya yang Serakah" ( xii. 15 –21); orang Farisi dan Publikan yang merasa benar sendiri ( xiii. 9 – 18); Ketekunan dalam berdo’a ( xi. 1 –13); Domba yang hilang, Mata uang yang hilang, Anak laki-laki yang boros ( xv.); Orang kaya dan Lazarus yang miskin ( xvi. 19 – 31); kutu janda yang miskin ( xxi. ); suami yang jahat ( xx. 9 – 16); hakim yang tidak adil ( xviii. 1 – 8); Konversi Zacchaeus ( xix. 1 – 10); dan beberapa lainnya lagi. Namun yang terpenting di antara semua isi Injil ketiga adalah nyanyian malaikat yang menjadi judul dari studi dan kontemplasi kita saat ini.

Nyanyian ini seperti laiknya seluruh isi Perjanjian Baru tidak disajikan kepada kita dalam bahasa asli dengan mana lagu itu dinyanyikan, tetapi hanya dalam versi Yunani; dan Tuhan sendiri mengetahui sumber dari mana Pengabar Injil (Evangelist) kita menyalinnya, menterjemahkannya, atau semata-mata menarasikannya dari kabar angin.

Mungkinkah bahwa Nabi Jesus atau apostelnya tidak meninggalkan sebuah Injil yang sesungguhnya dan otentik dalam bahasa dengan mana Injil itu diwahyukan? Kalau ada sebuah Injil sebenarnya yang semacam itu, apa jadinya dengan Injil itu? Siapa yang menghilangkannya? Apakah itu dimusnahkan? Dan oleh siapa dan kapan? Pernahkah Injil itu diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani atau bahasa asing lainnya? Mengapa gereja tidak telah menyimpan untuk kita teks asli dari Injil yang sebenarnya, atau terjemahannya? Bila jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah negatif , maka kita memberanikan untuk bertanya sebuah serial pertanyaan yang sama pentingnya; yaitu, mengapa apostel dan pengabar Injil bangsa Yahudi ini tidak menuliskannya dalam bahasanya sendiri tetapi semuanya dalam bahasa Yunani? Di mana nelayan Shimon Kipha (Simon Peter), Yohannan (Yohanes), Ya’kub (James), dan orang publikan Matius telah belajar bahasa Yunani agar dapat menulis satu serial Kitab-Kitab Suci? Jika anda berkata: "Ruh Suci telah mengajarkan mereka," maka anda membuat diri anda semata-mata bahan tertawaan. Ruh Suci bukanlah seorang guru tata bahasa dan bahasa. Akan diperlukan wahyu lain untuk menerangkan alasan atau kebijakan mengapa Ruh Suci harus membuat wahyu dalam bahasa Yahudi kepada seorang Israel dari Nazareth, lalu menyebabkannya untuk dimusnahkan, dan akhirnya mengajarkan bahasa Yunani kepada setengah lusin orang-orang Yahudi dan memberikan inspirasi kepada mereka masing-masing untuk menulis sebagian dari wahyu yang sama dengan gaya dan caranya sendiri!

Jikalau diperdebatkan bahwa Injil dan Epistles (surat-surat yang dibuat oleh salah seorang sahabat nabi Isa - pent.) telah ditulis agar berguna bagi orang-orang Yahudi yang tersebar, yang mengetahui bahasa Yunani, kami memberanikan untuk mencari keterangan: Manfaat apa saja yang dapat diraih oleh orang-orang Yahudi yang tersebar itu dari Perjanjian Baru; dan mengapa sebuah salinan daripadanya tidak telah dibuat untuk orang-orang Yahudi Palestina dalam bahasa mereka sendiri, mengingat kenyataan bahwa Jeruzalem adalah pusat Agama baru itu, dan Yakobus, "saudara laki-laki Tuhan Jesus" (Galatia i. 19). adalah Presiden atau Kepala Gereja dan bertempat tinggal di situ (Kisah Para Rasul xv.; Galatia ii. 11 – 15, dsb.).

Akan menjadi usaha sia-sia yang sangat menyedihkan untuk menemukan satupun ceritera ibarat, ramalan atau pesan tentang Jesus yang diungkapkan dalam bahasanya sendiri. Sinode Nicea harus dianggap bertanggung jawab secara kriminil selamanya sebagai satu-satunya penyebab kehilangan yang tak dapat diperbaiki atas Injil Suci dalam teks bahasa aslinya Aramiah.

Adalah cukup jelas alasan mengapa saya begitu gigih mendesakkan keharusan mutlak untuk preservasi yang lengkap utuh atas firman-firman Allah yang diwahyukan; itu disebabkan karena hanya dokumen semacam itulah yang dapat dipertimbangkan sebagai terpercaya dan sah. Sebuah terjemahan, tidak peduli betapapun setia dan mampunya terjemahan itu mungkin telah dilakukan, tidak pernah dapat memelihara kekuatan yang tepat dan pengertian yang benar seperti terkandung dalam kalimat-kalimat dan ungkapan-ungkapan dalam bahasa aslinya. Setiap versi pasti tidak luput dari kemungkinan dipersoalkan dan dikritik. Keempat Injil ini misalnya, adalah bahkan bukan sebuah terjemahan, tetapi justru adalah teks asli dalam bahasa Yunani; dan yang terburuk daripadanya ialah keempat Injjil itu telah dikorupsi dengan adanya interpolasi kemudian.

Nah, di hadapan kita ada sebuah nyanyian suci, tanpa diragukan pastilah sudah dinyanyikan dalam dialek Semit, namun seperti adanya itu, telah disajikan kepada kita dalam versi bahasa Yunani. Tentu saja kita sangat ingin tahu kalimat-kalimatnya dalam bahasa aslinya dengan mana lagu itu telah dinyanyikan. Di sini saya meminta perhatian yang serius dari para pembaca akan padanan (ekivalen) yang tepat untuk sebuah istilah dalam bahasa Semit yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dengan "eudokia" dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan "good will." Nyanyian itu terdiri dari tiga bait. Subyek dalam bait pertama adalah Allaha (bahasa Aramiah), diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dengan "Theos". Subyek dalam bait kedua adalah Shlama (bahasa Aramiah) dan diterjemahkan dengan "Eiriny" dalam bahasa Yunani. Dan subyek dalam bait ketiga adalah "eudokia" dalam bahasa Yunani, dan diterjemahkan oleh Vulgate (Injil dalam bahasa Latin - Pent.) dengan "Bona voluntas" serta oleh Pshittha (al-Basit) dengan "Sobhra Tabha" (diucapkan sovra tava).

Kedua versi itu (Vulgate dan Pshittha) yang telah diikuti oleh semua versi lainnya, telah gagal untuk menyampaikan arti dan pengertian yang sebenarnya dari kalimat "eudokia," dan dengan sendirinya bait kedua dan ketiga tetap menjadi tidak berarti dan bahkan tanpa pengertian, jika bukan bahkan kedua-duanya tidak benar. Kekecewaan yang mungkin kita rasakan karena tidak mendapatkan kalimat yang tepat dari nyanyian sorgawi ini dalam bentuk aslinya, namun kita tak usah putus asa dalam usaha kita untuk menemukan dan mendapatkan pengertian yang sebenarnya yang terkandung dalam lagu itu.

Karenanya kita akan melanjutkan untuk menemukan arti etimologis yang sebenarnya dari kalimat dalam bahasa Yunani "Eiriny" dan "Eudokia" itu dan tafsir serta pengertian yang sesungguhnya lagu-lagu pujian malaikat itu.

Tafsir orang Kristen untuk "Eiriny" dan "Eudokia" adalah salah dan sama sekali tidak dapat dipertahankan.

Menurut interpretasi atas nyanyian ini oleh semua gereja Kristen dan sekte, kepercayaan akan kesucian Jesus Kristus, kepercayaan dalam penebusan dosa dan api neraka melalui kematiannya di atas tiang salib, dan kepercayaan untuk mengadakan komunikasi yang terus menerus dengan Ruh Suci, membawa "kedamaian" dan ketenangan ke dalam hati, dan membuat orang beriman menghibur terhadap masing-masing "good will," kebajikan dan saling mengasihi. Sejauh ini interpretasi ini telah diterima secara umum oleh kelompok Sakramen dan Pengabar Injil. Tetapi mereka tidak berhenti pada tiga pokok utama ini, dan dengan sangat hati-hati juga; karena sejauh itu tidak ada perdamaian umum dan tidak ada rekonsiliasi, tidak ada persetujuan dan persatuan, tidak ada good will dan saling mengasihi yang dirasakan di antara mereka. Lalu mereka saling berpisah dan mencoba cara lain untuk menjamin "perdamaian" dan "good will" ini. Kaum Sakramen bersikeras pada kepercayaan terhadap tujuh sakramen dan banyak dogma-dogma yang baik akal sehat maupun doktrin Jesus yang sederhana tidak dapat menenggangnya. Gereja, yang telah dibersihkan dengan darah Penebus dosa melalui air baptis yang telah disucikan secara misterius, telah menjadi Pengganti dari Domba dan tubuhnya; gereja, yang adalah tubuh dari Domba itu, memberi makan tubuhnya dengan roti dan anggur yang telah diberkati secara misterius, dan di transubstansikan ke dalam darah dan daging yang sebenarnya dari Pengantin Pria. Pengantin Wanita – Gereja – memiliki ketaatan tertentu terhadap "hati suci" Jesus, Maryam, dan Santo Jusuf; terhadap empat belas tingkat atau rumah Penyaliban; terhadap patung dan gambar dari ratusan orang-orang kudus dan syuhada; terhadap ribuan tulang belulang atau sisa-sisa dari orang-orang kudus dan syuhada yang otentik maupun yang fiktif; dan memuja air yang sudah diberkati persis seperti kepada Tuhan Yang Maha Kuasa! Namun tetap saja tidak ada kedamaian; semua dosa, yang serius atau tidak, harus diakui di hadapan seorang pendeta; dan itu adalah suatu kemutlakan bahwa si pendosa memperoleh dari "bapa spiritual" itu sesuatu yang memberikan rasa damai dan tenang dalam hatinya, dan memenuhinya dengan good will!!!

Kalau kita kembali kepada kelompok evangelikal dari berbagai aliran dan doktrin, kita akan menemukan mereka sedang mencoba untuk mendapatkan kedamaian internal melalui do’a langsung kepada tiga pribadi dari ketuhanan masing-masing secara individual – sekarang kepada Jesus, lain kali ke ruh Suci, lalu ke Bapa – dengan mata tertutup, tetapi dengan isyarat dan gerak-gerak oratorikal; dengan membaca Injil, dan dengan amalan-amalan lainnya secara pribadi maupun umum; dan kemudian mereka percaya bahwa mereka dipenuhi dengan Ruh Suci dan dalam kedamaian! Tetapi saya yakinkan para pembaca bahwa orang-orang Kristen "yang sangat menyesal" ini, yang melalui ketaatan mereka yang dibuat-buat atau yang sungguh-sungguh, berpura-pura telah memperoleh "kedamaian" dan telah memiliki "good will" terhadap tetangganya, mereka itu bukannya menjadi orang-orang yang patuh, lembut hati dan bersifat damai dengan sesamanya sebagaimana halnya Sang Guru yang ditirukannya, tetapi bahkan menjadi orang yang luar biasa penuh dengan syak wasangka dan amat sangat tidak toleran. Apakah dia seorang yang ortodoks atau heterodoks, ketika seorang Kristen keluar dari gereja di mana dia telah "ikut bergabung" dalam "Lord’s Communion" (Perjamuan Makan Bersama Tuhan, atau sakramen) yang mereka sebut dengan Institution of the Eucharist" atau "Lembaga Ekaristi" 2) mereka menjadi begitu fanatik yang hipokritikal (penuh kepalsuan) dan a sosial seperti misalnya lebih suka ketemu seekor anjing daripada dengan seorang Muslim atau Yahudi, karena mereka (Muslim dan Yahudi) itu tidak percaya akan trinitas dan dalam "Perjamuan Makan Malam Tuhan." Saya tahu hal itu. Saya biasa dalam keadaan sentimen seperti itu ketika saya masih seorang pendeta Katholik. Semakin banyak saya memikirkan diri saya, spiritual, suci dan tidak berdosa, semakin saya menjadi benci kepada orang-orang yang menyimpang (the heretics), terutama mereka yang tidak mempercayai trinitas.

Ketika ummat Kristen, terutama pendeta dan para pastor menjadi bersemangat dan fanatik dalam ketaatan dan amalan-amalan mereka yang aneh, mereka menjadi sangat terlalu terangsang, mengamuk, dan ofensif terhadap musuh-musuh agama mereka! Tunjukkan kepada satu orang Katholik, Schismatic atau seorang santo yang heretikal (menyimpang) sesudah Konsili Nicea, yang bukan seorang tiran, apakah itu dalam tulisannya, atau khotbahnya, atau dalam amalannya terhadap mereka yang dia anggap menyimpang (heretics). Inkuisisi Romawi adalah suatu kesaksian yang abadi terhadap pemenuhan (penggenapan) atas nyanyian evangelikal ini "Damai di atas bumi dan good will di antara sesama manusia!"

Jelas bahwa kedamaian sejati tidak dapat didapat dengan cara-cara buatan. Hanya ada tiga cara yang dapat memberikan kedamaian sejati dan sempurna; yaitu,
1)
keyakinan yang mantap tak tergoyahkan akan Keesaan Allah yang mutlak;
2)
penyerahan dan kepasrahan yang sempurna kepada Kehendak SuciNya; dan
3)
meditasi dan kontemplasi yang berulang kali mengenai Allah.

Orang yang sudah menjalani tiga cara ini adalah benar-benar seorang Muslim yang sesungguhnya dan praktis, dan kedamaian yang dia peroleh dengan cara itu adalah sejati dan tidak buatan. Dia menjadi orang yang memiliki toleransi, jujur, adil, dan bertenggang rasa; tetapi pada saat yang sama sangat siap untuk berjuang dengan segala kesungguhan dalam mempertahankan semua yang berkaitan dengan kemuliaan Allah dan kehormatannya sendiri bila terancam atau diserang. Jelaslah bahwa memperoleh kedamaian yang sempurna ini diwujudkan dengan keimanan batiniah dan penyerahan yang tegas kepada Sang Pencipta, dan bukan dengan amalan dan ritual lahiriah yang demonstratif. Amalan dan ritual semacam itu akan bermanfaat kepada kita hanya bila iman itu murni, dan penyerahan diri itu sukarela dan tanpa syarat.

Tetapi pastilah para malaikat itu telah tidak menyanyikan lagu itu untuk menghormati kedamaian pribadi atau individual, yang bagaimanapun terbatas secara komparatif pada sejumlah kecil orang-orang alim; tidak juga malaikat itu melakukan hal itu untuk memuji perdamaian universal yang imajiner, yang akan berarti perlucutan senjata atas bangsa-bangsa dan suatu penghentian perang dan permusuhan. Tidak; tidak satupun dari kedua macam kedamaian atau perdamaian itu yang merupakan obyek dari lagu itu. Kedamaian spiritual itu adalah suatu ketenangan hati dan kesadaran yang dikurniakan oleh Allah sebagai suatu penghargaan dan pemberkatan hanya kepada orang-orang beriman yang hanya sedikit yang telah membuat kemajuan besar dalam ketaatan dan kehidupan spiritual, dan mencintaiNya, di atas segalanya, dan mengorbankan cinta-cinta lainnya untuk kecintaanNya.

Juga bukan suatu perdamaian sosial atau politik untuk orang-orang Israel, karena sejarah selama dua puluh abad ini menunjukkan kebalikannya. Karena itu tidak mungkin malaikat itu telah menyanyi dan mengumumkan sebuah perdamaian yang tak pernah dapat diwujudkan atau dicapai. Maka pada satu sisi sesuai dengan kenyataan sejarah yang berturut-turut, dan mengingat pentingnya peristiwa itu maupun daerah di mana pengumuman yang istimewa ini telah dibuat, kita dipaksa, pada sisi lain, untuk menyimpulkan bahwa "perdamaian di muka bumi" ini tidak lain dan tidak bukan ialah kebangkitan Kerajaan Allah di atas bumi yang semakin mendekat, yaitu Islam. Bahasa Yunani "Eiriny" dalam bahasa Semit berarti "Shalom," – "Shlama," dan "Islam." Itulah kesemuanya.

Penyebutan "sejumlah besar sekali tuan rumah malaikat" memberikan pada lagu itu suatu sifat martial atau yang berhubungan dengan kejayaan. Benarlah itu merupakan petunjuk tunggal tentang kegembiraan pada bala tentara yang tergabung pada Kerajaan Langit, yang bermanfaat bagi sekutu mereka yang akan datang yang termasuk dalam Kerajaan Tuhan di atas bumi, yang mana bayi yang baru dilahirkan di Betlehem adalah Pengabar Injil dan Utusan yang terbesar.

Dalam berbagai peristiwa dalam rangka artikel ini, kita telah menerangkan bahwa Shalom dalam pengertiannya yang nyata dan praktis berarti sebuah agama yang baik, mantap, aman, terhormat, dan jalan damai, berhadapan dengan agama yang jahat, buruk, berbahaya, merusak, dan jalan yang membawa kepada penderitaan dan kehancuran. Dalam pengertian inilah bahwa Allah dalam wasiyatNya melalui nabi Yesaya ( xiv ) keapda Cyrus, memakai kata "Shalom" sebagai sinonim dengan kebaikan berhadapan dengan kejahatan. Ini adalah penafsiran tentang Islam yang tepat secara harfiah, etimologis, moral dan praktis, sebagai satu agama sejati , Kerajaan Allah yang amat berkuasa di atas bumi, dengan hukum dan petunjuk-petunjuknya yang tetap dan mantap terttulis dalam Al Qur’an.

Di luar Islam, yang secara harfiah Islam berarti "membuat perdamaian", penafsiran-penafsiran lain atau perdamaian imajiner adalah tidak cocok dengan pengertian di mana "Eiriny" dipergunakan dalam lagu malaikat yang penuh kejayaan itu. Dalam pengertian Islami kata itu bahwa Jesus Kristus dalam khotbah besarnya di bukit bersabda: "Diberkati orang-orang Muslim (secara harfiah berarti "pembuat perdamaian"); karena mereka akan disebut "Anak-Anak Tuhan" (Matius v. 9) 3) Dan perdamaian imajiner itulah yang disangkal oleh Nabi Jesus Kristus ketika beliau berseru:

 "Janganlah mengira bahwa aku datang untuk membawa damai di atas bumi; aku datang tidak untuk membawa damai tetapi sebuah pedang" (Matius x. 34 – 36); atau seperti yang diungkapkan Lukas: "Aku datang untuk membakar bumi … Kamu kira bahwa aku datang untuk membawa perdamaian? Aku katakan, tidak; tetapi perpecahan … (Lukas xii. 49 -53).

Kedua pernyataan Jesus yang penting sekali dan saling bertentangan akan tetap sebagai teka teki, kecuali jika "Eiriny" itu ditafsirkan dalam pengertian agama Islam, karena kalau tidak demikian akan merupakan kerusakan yang tak dapat diperbaiki yang gereja Kristen telah melakukan komitmen dengan menerima Injil ini sebagai "Kalimat-Kalimat Tuhan yang diinspirasikan."

 

 

 


Catatan kaki

1.Para pembaca disarankan untuk dengan seksama membaca bab "Pendahuluan" atau bab introduksi pada bagian awal dari Injil Lukas

2. Saya telah lupa untuk menyebutkan di atas bahwa Santo Lukas, menurut versi kuno Pshittha, tidak memuat ayat 17 –19 dari pasal xxii ; dan apa yang disebut "essential words" atau "kalimat-kalimat penting" tidak pula terdapat dalam lithurgy dari kaum Nestorian.

3. Ungkapan "Anak-Anak Tuhan" akan dibicarakan kemudian.


 

pakdenono@yahoo.com