"WHAT EVERY CHRISTIAN & JEW SHOULD KNOW"
TENTANG SANG PENCIPTA, KITAB SUCI & NABI-NABI
 

Oleh PROFESOR DAVID BENJAMIN KELDANI B.D.

(Wafat 1940) Dahulu Uskup Uramiah, Kaldea.

Alih Bahasa Oleh: H.W. Pienandoro SH
download : www.pakdenono.com

B. MUHAMMAD SAW DALAM PERJANJIAN BARU


Bab 13
 

YAHYA PEMBAPTIS MENGUMUMKAN TENTANG SEORANG NABI YANG SANGAT BERKUASA
 

John Pembaptis atau Yahya Pembaptis, menurut ceritera empat orang Pengabar Injil, adalah sepupu dan hidup semasa dengan Jesus, hanya kira-kira enam bulan lebih tua daripada Jesus. Al Qur’an tidak menyebutkan apa-apa tentang kehidupan dan karya Nabi ini kecuali bahwa Tuhan melalui para malaikat, telah memberitahu ayahnya Zakariya: "Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang (lahirnya) Yahya. Yang membenarkan sebuah Kalimat dari Allah. Seorang yang mulia, suci. Seorang Nabi di antara orang yang saleh." (Q.3 : 39). Tidak ada yang diketahui tentang masa bayinya, kecuali bahwa beliau seorang dari Nazareth yang hidup di belantara, memakan belalang dan madu liar, menutup tubuhnya dengan secarik kain dari bulu onta, yang diikat dengan korset kulit. Diyakini beliau termasuk dalam sebuah sekte agama Yahudi yang disebut "Essenes" dari siapa telah dikeluarkan "Ibionites" orang-orang Kristen awal yang karakteristik utamanya adalah menahan diri dari kenikmatan dunia. Sebenarnya istilah yang deskriptif dalam Al Qur’an tentang Nabi pertapa ini ialah "hasura" yang berarti "suci" dalam pengertian semua kata – menunjukkan bahwa beliau menjalani sebuah kehidupan membujang yang penuh kesucian, kemiskinan dan kesalehan. Beliau tidak terlihat dari masa awal mudanya hingga beliau seorang laki-laki dewasa dalam usia 30 tahun atau lebih, ketika beliau memulai misinya berdakwah tentang penyesalan dosa dan pembaptisan pendosa-pendosa yang menyesal dengan air. Banyak orang tertarik datang ke belantara Judea untuk mendengarkan khotbah Nabi baru yang berapi-api; dan orang-orang Yahudi yang menyesal itu dibaptis oleh beliau diperairan sungai Jordan. Beliau mencela orang-orang Farisi dan para Pendeta yang berpendidikan tetapi fanatik, dan mengancam orang-orang Saduki yang terpelajar tetapi rasional dengan pembalasan yang akan datang. Beliau menyatakan bahwa beliau membaptis mereka hanya dengan air saja sebagai simbol pemurnian hati dengan penyesalan. Beliau mengabarkan bahwa akan datang sesudah beliau seorang Nabi yang akan membaptis mereka dengan Ruh Suci dan api; yang akan akan mengumpulkan gandumnya ke dalam lumbung dan membakar sekam dengan api yang tidak terpadamkan.

Selanjutnya beliau menyatakan bahwa beliau yang akan datang sesudahnya sampai titik tertentu lebih superior daripadanya sendiri dalam kekuasaan dan martabat yang Yahya Pembaptis mengakui tidak pantas atau tidak berharga untuk membungkuk membukakan tali kasutnya. Hal itu terjadi dalam salah satu dari kegiatan pembaptisan oleh Yahya Pembaptis bahwa Jesus orang Nazareth juga datang dan masuk ke dalam air sungai Jordan dan dibaptis oleh Nabi Yahya seperti orang-orang lain. (Markus i. 9) dan Lukas (iii.21) yang menceriterakan pembaptisan Jesus oleh Yahya Pembaptis ini tidak mengetahui ucapan Yahya Pembaptis dalam masalah ini seperti disebut dalam Matius (iii), di mana dinyatakan bahwa Pembaptis itu berkata kepada Jesus: "Akulah yang perlu dibaptis olehmu, dan engkau datang kepadaku?" Kepada ucapan mana Jesus menjawab: "Marilah kita menggenapkan kebenaran"; dan kemudian beliau membaptis Yahya. Sinoptik menyebutkan bahwa ruh nubuah datang kepada Jesus dalam bentuk seekor burung merpati pada saat beliau keluar dari air, dan sebuah suara terdengan berkata: "Inilah anakKu yang tercinta, dengan siapa Aku merasa senang."

Injil Keempat (Yohanes) tidak mengetahui apapun tentang Jesus yang dibaptis oleh Yahya; namun menceriterakan kepada kita bahwa Pembaptis itu ketika melihat Jesus berseru: "Lihatlah Domba Tuhan itu," dan sebagainya (Yohanes i.). Injil Keempat ini berpura-pura bahwa Andrew adalah murid Pembaptis, dan sesudah meninggalkan gurunya membawa saudara laki-lakinya Simon kepada Jesus (Yohanes i.) – sebuah ceritera yang tanpa malu bertentangan dengan pernyataan dari Pengabar Injil yang lain (Matius iv. 18-19; Markus i. 16-18). Dalam Injil Santo Lukas ceritera itu sama sekali lain; di sini Jesus mengenal Simon Peter sebelum dia dijadikan murid (Lukas iv. 38-39); dan keadaan yang menyebabkan Sang Guru menerima anak-anak laki-laki Junus dan Zebedee sebagai muridnya adalah sama sekali asing bagi Pengabar Injil itu (Lukas iv. 1-11). Keempat Injil dari kaum Gereja Trinitarian itu berisi banyak pernyataan yang bertentangan tentang dialog antara dua Nabi yang bersepupu itu. Dalam Injil Keempat kita baca bahwa Pembaptis itu tidak mengetahui siapa Jesus itu adanya hingga sesudah beliau dibaptis, ketika Ruh yang berupa sebuah burung merpati turun dan bertengger padanya (Yohanes i.); sementara itu Santo Lukas berceritera kepada kita bahwa Pembaptis itu, ketika masih sebuah foetus atau janin dalam kandungan ibunya, mengenal dan memuja Jesus, yang juga adalah sebuah janin yang lebih muda dalam perutnya Maryam (Lukas i. 44). Lalu kita diberitahu lagi bahwa Pembaptis itu ketika ada di penjara, di mana beliau dipotong kepalanya (Matius xi. xiv), tidak mengetahui sifat sebenarnya dari misi Jesus!

Terdapat indikasi yang misterius tersembunyi dalam pertanyaan yang diajukan oleh para pendeta dan kaum Levi kepada Nabi Yahya. Mereka bertanya pada Pambaptis: "Apakah anda itu Al Masih? Apapah anda Eliyah?" Dan ketika beliau menjawab: "Bukan!" mereka berkata: "Kalau anda bukan Al Masih dan juga bukan Eliyah, dan juga bukan Nabi itu, mengapa anda membaptis?" (Yohanes i.). Karena itu akan dicatat bahwa, menurut Injil Keempat itu, Yahya Pembaptis itu bukanlah Al Masih, bukan pula Eliyah dan bukan pula Nabi itu! Dan saya memberanikan diri untuk bertanya kepada Gereja Kristen, yang percaya bahwa yang telah memberikan inspirasi semua pernyataan yang bertentangan ini adalah Ruh Suci, yaitu yang ketiga dari tiga tuhan, siapa lalu yang dimaksudkan oleh pendeta-pendeta Yahudi dan kaum Levi itu dengan "And that Prophet"? Jika tidak, maka apa manfaat duniawiyah dari Injil yang penuh kepalsuan dan interpolasi ini? Sebaliknya bila anda mengetahui siapa Nabi itu, mengapa anda diam seribu bahasa?

Dalam kutipan di atas (Yohanes i.) dengan jelas disebutkan bahwa Pembaptis itu berkata bahwa beliau bukan seorang Nabi; sementara Jesus diceriterakan sebagai telah berkata: "tak ada laki-laki yang dilahirkan oleh semua wanita yang lebih besar daripada Yahya" (Matius xi.). Benarkah Jesus telah membuat pernyataan sedemikian itu? Apakah Yahya Pembaptis itu lebih besar dari Ibrahim, Musa , Daud dan Jesus sendiri? Dan dalam hal apa beliau lebih superior dan lebih agung? Kalau kesaksian Jesus tentang anak Zakariya ini otentik dan benar, maka keagungan dari "Pemakan Belalang di dalam belantara" itu hanya dapat berarti dalam hal kezuhudannya atas dunia dan segala isinya, pengingkaran terhadap dirinya sendiri, dan mencegah dirinya dari dunia dengan segala kemewahan dan kenikmatannya; keinginannya yang membara untuk mengajak orang-orang untuk menyesali dosa; dan berita baiknya tentang "Nabi itu."

Atau seperti apa yang akan dikatakan oleh gereja, bahwa keagungan beliau karena beliau adalah sepupu, hidup semasa dengan dan menyaksikan Jesus? Nilai dan keagungan seseorang ataupun seorang Nabi dapat ditentukan dan dihargai melalui karyanya. Kita sama sekali tidak tahu apa-apa tentang jumlah orang-orang yang telah dikonversikan (pindah agama) melalui dakwah dan pemurnian dengan pembatisan oleh Yahya. Tidak juga kita diberi tahu mengenai akibat konversi pada sikap orang-orang Yahudi yang menyesali dosa itu terhadap "Domba Tuhan."

Kristus dikatakan sebagai telah menyatakan bahwa Yahya Pembaptis adalah inkarnasi dari Nabi Eliyah (Matius xi. 14, xvii. 12; Lukas i. 17), sedangkan Yohanes dengan jelas berkata pada perutusan orang-orang Yahudi bahwa beliau bukan Eliyah, bukan Kristus, juga bukan Nabi itu (Yohanes i.).

Dari Injil yang penuh dengan pernyataan yang berlawanan dan saling menyangkal itu, dapatkah seseorang membuat sebuah kesimpulan yang benar? Atau dapatkah seseorang itu mencoba untuk menemukan kebenaran? Tuduhan itu adalah luar biasa menyedihkan dan serius, karena orang-orang yang tersangkut di dalamnya bukan mahluk kebanyakan yang mortal (bisa mati) seperti kita sendiri, tetapi dua orang Nabi yang keduanya diciptakan di dalam kandungan oleh Ruh dan terlahir dengan penuh keajaiban – yang satu tidak mempunyai ayah, sedang yang lain orang tuanya adalah orang-orang yang sudah tua bangka yang steril dan mandul. Urgensi dari tuduhan itu bahkan lebih serius bila kita sampai pada mempertimbangkan sifat dari dokumen di mana pernyataan-pernyataan yang bertentangan itu termuat. Para penceritera itu adalah para Pengabar Injil, orang-orang yang disangkakan sebagai mendapat inspirasi dari Ruh Suci, dan catatan-catatan mereka dianggap sebagai sebuah wahyu! Namun di situ ada kebohongan, sebuah pernyataan palsu, atau suatu pemalsuan disatu tempat. Eliyah (Elias/Ilyas) dikatakan akan datang sebelum "Nabi itu" (Matius iv. 5, 6); Jesus mengatakan: "Yahya adalah Eliyah"; dan Yahya mengatakan: "Aku bukan Eliyah," dan ini adalah Kitab Suci yang sakral dari ummat Kristen yang telah membuat kedua pernyataan yang positif dan sekaligus juga negatif!

Adalah mutlak tidak mungkin mendapatkan kebenaran, agama yang sejati, dari Injil-Injil ini, kecuali jika mereka dibaca dan diteliti dari sudut pandang Islami dan secara Unitarian. Hanyalah kemudian bahwa kebenaran itu dapat disimpulkan dari kepalsuan, yang otentik dibedakan dari yang palsu. Semangat dan iman Islam sendirilah yang dapat menyaring Injil dan membuang sekam atau sampah dan kesalahan dari halaman-halamannya. Sebelum lebih jauh melanjutkan dengan menunjukkan bahwa Nabi yang dinubuahkan oleh Pembaptis itu tidak dapat lain selain daripada Nabi Muhammad saw, saya harus meminta perhatian serius dari pembaca artikel saya terhadap satu atau dua hal penting berikut ini.

Pertama, dapat dicatat bahwa orang-orang Muslim sangat menghormati dan memuliakan semua Nabi, terutama mereka yang nama-namanya disebut dalam Al Qur’an, seperti Yahya (John) dan Isa (Jesus); dan mempercayai bahwa para apostel dan murid Jesus adalah orang-orang kudus. Namun karena kita tidak mempunyai tulisan-tulisan mereka yang asli dan tidak telah dicemari, dengan sendirinya kita tidak dapat membayangkan sekejappun adanya kemungkinan bahwa salah satu dari kedua Pemuja Allah yang agung ini telah saling mempertentangkan diri.

Hal lain yang penting untuk dicatat adalah Injil Barnabas dengan sangat berarti diam seribu bahasa tentang Yahya Pembaptis. Injil ini yang tidak pernah menyebut nama Yahya, meletakkan nubuahnya tentang "Nabi yang lebih berkuasa" itu di mulut Jesus Kristus. Di situlah Kristus, ketika sedang berbicara tentang Ruh Nabi Muhammad saw sebagai telah diciptakan sebelum Ruh semua Nabi, telah berkata bahwa begitu mulia saat ketika beliau datang (sehingga) Jesus akan menganggap dirinya sendiri sebagai tidak berharga untuk berjongkok dan membuka tali kasutnya.

"Penyeru" agung di belantara itu, dalam rangka khotbah kepada banyak orang, biasa berseru dengan keras dan mengatakan: "Aku baptiskan engkau dengan air kepada penyesalan dan keampunan dosa. Namun ada seorang yang datang sesudah aku yang lebih kuasa daripada aku, yang tali kasutnya aku tidak pantas untuk membukanya; beliau akan membaptis engkau dengan Ruh dan api." Kalimat-kalimat ini telah diceriterakan dengan berbeda oleh para Pengabar Injil, namun semuanya mengandung pengertian yang sama tentang rasa hormat yang tertinggi dan perhatian mengenai kepribadian yang mengagumkan dan kemuliaan yang penuh keagungan dari Nabi yang sangat berkuasa yang dinubuahkan di dalam kalimat-kalimat itu. Kalimat dari Pembaptis ini sangat deskriptif tentang cara ketimuran yang berkaitan dengan keramah tamahan dan kehormatan yang dianugerahkan kepada seorang tamu yang mulia. Pada saat tamu itu melangkah masuk, tuan rumah atau salah satu dari anggota keluarga itu bergegas menyambut dan membukan kasutnya, dan mengawalnya ke sebuah sofa atau bantal duduk. Bila tamu itu meninggalkan rumah itu hal yang sama berupa tindakan yang penuh hormat itu diulangi; dia dibantu mengenakan kasutnya, tuan rumah berjongkok mengikatkan tali kasutnya.

Apa yang ingin dikatakan oleh Yahya Pembaptis adalah bahwa seandainya beliau itu harus menjumpai Nabi yang mulia itu, beliau pastilah akan menganggap dirinya sendiri sebagai tidak pantas menerima kehormatan membongkok untuk membuka tali kasutnya. Dari penghormatan yang oleh Pembaptis telah diberikan sebelum kedatangan "Nabi itu" (paid beforehand) satu hal yang pasti: bahwa Nabi yang dinubuahkan dikenal oleh semua Nabi sebagai Adon mereka, Tuan mereka, Sultan mereka; bila tidak demikian maka seseorang yang begitu terhormat, Utusan Allah yang suci dan tidak berdosa seperti Yahya itu, pastilah tidak akan telah membuat pengakuan dengan rendah hati sedemikian itu.

Nah kini tinggallah tugas untuk menentukan identitas dari "Nabi itu." Karena itu artikel ini harus dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

  1. Nabi yang dinubuahkan itu bukan Jesus Kristus; dan

  2. Nabi yang dinubuahkan itu adalah Muhammad.

Setiap orang mengetahui bahwa gereja Kristen telah selalu menganggap Yahya Pembaptis sebagai seorang bawahan Jesus, dan bentaranya. Semua komentator Kristen menunjuk Jesus sebagai obyek kesaksian dan nubuah dari Yahya.

Meskipun bahasa para Pengabar Injil telah dirusak oleh para interpolator kearah itu, namun kecurangan atau kesalahan tidak dapat selamanya lepas dari mata yang menyelidik dari seorang pengritik dan seorang peneliti yang tidak berpihak. Jesus tidak mungkin sebagai obyek dari kesaksian Yahya, karena:

  1. Preposisi "sesudah" (after) itu jelas mengecualikan Jesus dari Nabi yang dinubuahkan. Keduanya (Yahya dan Jesus – Pent.) adalah hidup dalam satu masa dan dilahirkan dalam satu tahun yang sama. "Beliau yang datang sesudah aku" kata Yahya, "lebih kuat daripada aku." Kata "sesudah" ini menunjukkan masa datang itu ada pada jarak yang tidak terbatas (indefinite); dan dalam bahasa pernubuahan hal itu menyatakan satu putaran masa atau lebih. Sangat termasyhur di kalangan para Sufi dan mereka yang menjalani kehidupan spiritual dan seorang yang melakukan kontemplasi bahwa setiap putaran, yang dianggap sama dengan lima atau enam abad, akan muncul Jiwa Seorang Yang Termasyhur yang agung yang dikelilingi oleh beberapa satelit yang muncul di beberapa bagian dunia, dan memperkenalkan gerakan keagamaan dan sosial yang agung yang berlangsung untuk beberapa generasi sampai seorang Nabi lain yang bersinar, yang disertai oleh murid-murid dan para sahabat yang banyak, muncul dengan reformasi dan pencerahan yang monumental. Sejarah agama yang sejati, dari Nabi Ibrahim hingga Muhammad saw, dengan demikian dihiasi dengan peristiwa-peristiwa yang membuka era baru di bawah Nabi Ibrahim, Musa, Daud, Zorobabel, Jesus dan Muhammad saw. Masing-masing era baru itu ditandai dengan isyarat-isyarat karkateristik yang khusus. Masing-masing membawa kemajuan dan kemudian memudar dan berkarat sampai munculnya seorang termasyhur lain pada adegan itu, dan seterusnya ke bawah hingga bangkitnya Yahya, Jesus dan Apostel satelit (Nabi Muhammad saw ? – Pent.).

    Yahya mendapatkan bangsanya sudah bekerja keras di bawah penindasan kejam Romawi, dengan Herod mereka yang jahat dan prajurit-prajurit yang kafir. Beliau menyaksikan orang-orang Yahudi yang bodoh diselewengkan oleh seorang pemimpin agama yang koruptif dan sombong, Kitab Suci Injil dirusak dan diganti dengan literatur nenek moyang yang penuh takhayul. Beliau melihat bahwa orang-orang itu telah kehilangan harapan untuk diselamatkan, kecuali bahwa Nabi Ibrahim, yang adalah bapak bangsa mereka, mau menyelamatkan mereka. Beliau memberi tahu mereka bahwa Nabi Ibrahim tidak menghendaki mereka sebagai anak-anaknya, karena mereka itu tidak berharga bagi seorang ayah yang seperti Nabi Ibrahim itu, tetapi bahwa "Tuhan dapat membangkitan anak-anak bagi Ibrahim dari batu-batu ini" (Matius iii.). Kemudian mereka memiliki harapan yang samar-samar akan datangnya Al Masih, seorang dari keturunan keluarga Daud, yang mereka nantikan waktu itu, seperti juga mereka kini menantikannya, untuk datang dan mengembalikan kerajaan Daud di Jeruzalem.

    Nah, ketika utusan orang Yahudi dari Jeruzalem itu bertanya: "Apakah anda Al Masih itu?" dengan marah beliau memberikan jawaban negatif terhadap pertanyaan ini maupun pertanyaan berikutnya. Hanya Tuhan sendiri mengetahui omelan dan teguran apa yang telah mereka dengar dari uncapan-ucapan marah Nabi Suci dari Belantara yang gereja atau sinagog dengan hati-hati tidak membiarkan omelan dan teguran itu muncul dalam bentuk tulisan.

    Dengan mengesampingkan hal-hal yang berlebih-lebihan, yang terbukti telah ditambahkan kepada Injil-Injil, kami sepenuhnya percaya bahwa Pembaptis memperkenalkan Jesus sebagai Al Masih yang sejati, dan memberi nasehat orang banyak untuk mematuhinya dan mengikuti perintahnya dan Injilnya. Tetapi dengan jelas beliau mengatakan kepada orang-orang itu bahwa ada seorang terkenal lain yang agung dan yang terakhir yang begitu mulia dan dihargai di hadapan Allah yang Yahya tidak pantas untuk membuka tali kasutnya.
     

  2. Bukanlah Jesus yang dimaksudkan oleh Yahya, karena jika itu adalah masalahnya maka beliau pasti sudah mengikuti Jesus dan menyerahkan dirinya kepadanya sebagai seorang murid dan bawahannya. Namun hal itu bukan persoalannya. Sebaliknya kita dapati beliau berkhotbah dan membaptis, menerima pemula dan murid-murid, menghukum Herod demi kebaikan, mencela hirarki orang-orang Yahudi, dan meramalkan kedatangan seorang Nabi lain "yang lebih berkuasa" daripada dirinya, tanpa sedikitpun memperhatikan kehadiran sepupunya di Judea atau Galilee.
     

  3. Meskipun gereja Kristen telah menjadikan Jesus sebagai seorang tuhan atau seorang anak tuhan, kenyataan bahwa beliau telah dikhitan seperti setiap orang Israel, dan dibaptis oleh Yahya seperti seorang Yahudi kebanyakan, membuktikan bahwa masalahnya adalah justru kebalikannya. Kalimat-kalimat yang dipertukarkan antara Pembaptis dan yang dibaptis di perairan sungai Jordan tampak sebagai suatu interpolasi atau suatu hal yang umum karena kalimat-kalimat itu bertentangan dan bersifat menipu. Jika benar Jesus sebagai orang yang diramalkan oleh Pembaptis sebagai "yang lebih berkuasa" dari dirinya sendiri, yang dengan begitu beliau "tidak pantas untuk membungkuk dan membuka ikatan tali kasutnya," dan bahwa "beliau akan membaptis dengan Ruh dan api," maka tidak ada keperluannya ataupun logikanya bahwa Jesus telah dibaptis oleh orang yang lebih rendah dari dirinya di sungai seperti orang Yahudi kebanyakan yang menyesali dosa! Ungkapan Jesus: "Akan bijaksana bagi kita untuk menggenapi semua keadilan," adalah tidak dapat difahami. Mengapa dan bagaimana "semua keadilan" akan diwujudkan oleh mereka jika Jesus telah dibaptis? Ungkapan ini sama sekali tidak berarti apa-apa. Hal itu disebabkan entah karena interpolasi atau sebuah klausul telah dengan sengaja dihilangkan. Inilah suatu kejadian yang menyediakan dirinya sendiri untuk dipecahkan dan diinterpretasikan oleh semangat Islam. Dari sudut pandang orang Islam, satu-satunya logika dalam ungkapan Jesus ini adalah bahwa Yahya melalui mata seorang Sufi, merasakan sifat nubuah yang ada pada orang Nazareth itu, dan mengiranya untuk sementara sebagai Nabi Akhir Allah yang Agung, dan akibatnya menarik diri untuk membaptiskannya; dan bahwa itu terjadi hanya sesudah Jesus mengakui identitasnya sendiri bahwa beliau mengizinkan untuk membaptisnya.
     

  4. Kenyataan bahwa Yahya selagi ada di penjara mengirimkan muridnya kepada Jesus dan bertanya: "Apakah anda Nabi itu yang akan datang, atau haruskah kita menunggu yang lain lagi?" jelas sekali menunjukkan bahwa Pembaptis tidak mengetahui anugerah tentang nubuah pada diri Jesus hingga beliau mendengar, ketika ada dalam penjara, tentang keajaibannya. Kesaksian Matius ini ( xi.3) bertentangan dengan dan membatalkan ceritera dalam Injil Keempat (Yohanes i.) di mana disebutkan bahwa Pembaptis itu ketika melihat Jesus, berseru: "Lihat Domba Tuhan yang menghapuskan dosa dunia itu!" Pengabar Injil yang keempat itu tidak mengetahui apapun tentang kesyahidan yang kejam atas Yahya (Matius xiv; Markus vi. 14-29).

    Dari sudut pandang Islam dan kaum Unitarian, adalah suatu kemustahilan moral bahwa seorang Pembaptis seperti Yahya Pembaptis, yang digambarkan Al Qur’an sebagai "Sayyidan, Master wa Hasuran, suci, dan seorang Nabi dari fihak yang lurus" harus menggunakan ungkapan-ungkapan yang bersifat kafir (paganish expression) tentang Jesus Kristus (Domba Tuhan – Pent.). Sifat dan esensi sebenarnya dari misi Yahya adalah untuk berdakwah tentang pertobatan dosa, yaitu bahwa setiap orang itu bertanggung jawab atas dosanya dan harus menanggungnya, atau menghilangkannya sendiri dengan menyesali dosa atau bertobat. Pembaptisan itu hanya penyucian dari luar saja atau pemandian sebagai sebuah simbol pengampunan dosa, namun hal itu ialah kontribusi, pengakuan (kepada Tuhan, dan kepada dia yang terluka karena dosa itu, jika secara mutlak perlu) dan sebuah ikrar untuk tidak mengulanginya lagi, yang dapat menghilangkan dosa itu. Jika Jesus itu "Domba Tuhan" untuk menghilangkan dosa dunia, maka khotbah Yahya akan menjadi – Tuhan melarang! – tidak masuk akal dan tidak berarti apa-apa! Tambahan lagi Yahya yang lebih baik daripada yang lainnya telah mengetahui bahwa kalimat semacam itu (jika keluar – Pent.) dari bibirnya pasti akan telah menyebabkan – seperti sudah selalu demikian halnya – suatu kesalahan yang tidak dapat diperbaiki yang pasti akan menodai dan merusak bentuk gereja Kristus secara keseluruhan. Akar dari kesalahan yang telah menodai agama gereja itu harus dicari dan ditemukan dalam bisnis "vicarious sacrifice" (pengorbanan yang dilakukan untuk orang lain? – Pent.) yang tak masuk akal ini! Apakah "Domba Tuhan" itu telah menghapus dosa dari dunia ini? Lembaran-lembaran hitam "sejarah eklesiastikal" dari gereja-gereja yang telah menyeleweng ("heretical") yang manapun yang banyak sekali dan bersikap bermusuhan akan menjawab dengan sebuah kata "TIDAK" yang besar! "Domba-domba" dalam kotak-kotak pengakuan dosa dapat berceritera kepada anda melalui keluhan mereka di bawah beban besar dari dosa-dosa yang beraneka ragam yang dilepaskan dari bahu mereka yang , sekalipun (ada) ilmu pengetahuan dan sivilisasi mereka, ummat Kristen membuat dosa-dosa lebih mengerikan, pembunuhan, pencurian, berlebih-lebihan dalam banyak hal, perzinaan, perang, penindasan, perampokan, dan keserakahan yang tidak pernah terpuaskan untuk menaklukkan dan uang daripada dosa-dosa seluruh manusia dijadikan satu.
     

  5. Yahya Pembaptis tidak mungkin menjadi bentara Jesus Kristus dalam arti di dalam mana gereja menafsirkan misinya. Beliau diperkenalkan kepada kita oleh Injil sebagai "suara yang berseru keras di tengah belantara," sebagai penggenapan dari pasal dalam Yesaya (xl.3), dan sebagai bentara Jesus Kristus atas otoritas Nabi Malakhi (Malakhi iii. 1). Untuk menyatakan bahwa misi atau tugas Pembaptis adalah menyiapkan jalan untuk Jesus – yang terdahulu dalam kapasitasnya sebagai seorang bentara dan yang kemudian dalam kapasitasnya sebagai Penakluk yang berjaya yang datang "tiba-tiba ke kuilnya", dan di sana mendirikan agamanya "Shalom" dan menjadikan Jeruzalem dengan kuilnya lebih mulia daripada sebelumnya (Hagai ii. 8) – adalah sama dengan mengakui kegagalan total atas seluruh permasalahan.

    Bagaimanapun satu hal adalah benar seperti benarnya dua tambah dua sama dengan empat – bahwa keseluruhan proyek, sesuai dengan pandangan yang berlebihan dari ummat Kristen, membuktikan kegagalan total. Karena dari sudut pandang yang manapun kita meneliti penafsiran oleh gereja, kegagalan itu tampak jelas. Sebaliknya daripada menerima pangerannya di Jeruzalem di Pintu Gerbang Kuil dengan mengenakan tiara dan kemurnian hati, di tengah seruan-seruan ekstatik orang-orang Yahudi, bentara itu menerimanya, telanjang seperti dia sendiri, di tengah sungai Jordan; dan kemudian memperkenalkannya, sesudah mencelupkan tuannya ke dalam air, kepada khalayak sebagai "Lihatlah, inilah Al Masih itu!" atau "ini ialah Anak Tuhan!" atau "lihatlah Domba Tuhan!" sama saja berarti semata-mata menghina orang-orang Israel atau menghujat; atau semata-mata memperolok Jesus maupun membuat dirinya sendiri bahan ejekan.

    Karakter sebenarnya dari misi asetik yang keras, dan arti sejati dari khotbahnya, sekaligus telah disalah fahami oleh gereja, tetapi dimengerti oleh para pendeta Yahudi dan "casuist" (kelompok orang yang irasional) yang dengan keras kepala menolaknya. Saya akan menangani soal ini dalam artikel yang akan datang, dan menunjukkan bahwa sifat dari misi Yahya maupun obyek dari wasiyat Kristus kepada orang-orang Yahudi adalah sangat berbeda dengan apa yang gereja berpura-pura mempercayainya.

 

 

 


Catatan kaki


 

pakdenono@yahoo.com