"WHAT EVERY CHRISTIAN & JEW SHOULD KNOW"
TENTANG SANG PENCIPTA, KITAB SUCI & NABI-NABI
 

Oleh PROFESOR DAVID BENJAMIN KELDANI B.D.

(Wafat 1940) Dahulu Uskup Uramiah, Kaldea.

Alih Bahasa Oleh: H.W. Pienandoro SH
download : www.pakdenono.com

B. MUHAMMAD SAW DALAM PERJANJIAN BARU


Bab 14
 

NABI YANG DIRAMALKAN OLEH PEMBAPTIS PASTILAH
NABI MUHAMMAD SAW

Ada dua pernyataan yang berarti tentang Yahya Pembaptis yang dibuat oleh Jesus Kristus, namun dicatat dalam suatu cara yang misterius. Pernyataan yang pertama tentang Pembaptis itu ialah bahwa Yahya diperkenalkan kepada dunia sebagai reinkarnasi dari Eliyah dari Perjanjian Lama. Misteri dengan mana sebutan ini diliput terdiri dari hal berdiam diri Kristus yang berarti mengenai identitas orang yang diharapkan akan diungkapkan oleh Eliyah secara resmi dan memperkenalkannya kepada dunia sebagai Nabi Terakhir. Bahasa Jesus dalam hal ini sangat luar bisa tidak jelas, bermakna ganda (ambiguous), dan misterius. Jika Yahya itu Eliyah, seperti dinyatakan dengan jelas dan tanpa takut, lalu mengapa orang itu yang bentaranya ialah Eliyah tidak disebut dengan jelas dan tanpa takut? Jika Jesus adalah "Utusan Dalam Perjanjian (Covenant)" dan Dominator - terjemahan Vulgate untuk "Adon" yang bahasa Ibrani - (Malakhi iii. 1), mengapa dia tidak secara terbuka mengatakannya begitu? Jika dia dengan berani menyatakan bahwa itu bukan dia sendiri tetapi seorang Nabi lain yang adalah "Dominator" tersebut, maka sesungguhnya pastilah sebuah tangan kriminal telah menghapus dan mengganti kalimat-kalimat Jesus itu dari Injil yang asli. Dalam semua peristiwa, adalah Injil-Injil itu yang harus bertanggung jawab atas makna ganda dan ketidak jelasan. Tak dapat digambarkan kecuali sebagai pengrusakan setani (diabolical) atas teks yang telah menyesatkan milyaran orang Kristen selama begitu banyak abad. Jesus, apapun yang beliau percaya sebagai yang beliau wakili, harus, untuk mengatakan paling tidak, telah menunjukkan dirinya sendiri sebagai orang yang berterus terang (straightforward), dan telah dengan berterus terang berkata: "Yahya adalah Eliyah yang telah diutus sebagai seorang bentara untuk menyiapkan jalan bagiku!" Atau jika itu bukan masalahnya, maka beliau pasti sudah membuat pernyataan berikut: "Yahya adalah Eliyah yang telah diutus untuk menyiapkan jalan bagi Nabi Muhammad saw." Barangkali ini sebagai akibat kecintaan Jesus untuk kegandaan makna (ambiguity). Sebenaryalah ada beberapa kejadian – seperti diceriterakan dalam Injil – di mana Jesus memberikan sebuah jawaban atau membuat sebuah pernyataan yang tidak jelas and sama sekali tidak bisa dimengerti. Dengan mengesampingkan hal ketuhanannya (his godhead), sebagai seorang Nabi, tidak, bahkan sebagai seorang guru, beliau diharapkan sebagai guru dan pemimpin yang berterus terang.

Pernyataan yang lain bahkan diliputi dengan misteri yang lebih pekat. "Tiada laki-laki yang dilahirkan dari seorang wanita yang lebih besar daripada Yahya Pembaptis," kata Jesus, "tetapi yang terkecil di Kerajaan Sorga adalah lebih besar daripada Yahya." Apakah Jesus bermaksud untuk mengajarkan kepada kita bahwa Yahya Pembaptis dan semua Nabi dan orang-orang beriman ada di luar Kerajaan Tuhan? Siapakah yang "terkecil" yang "lebih besar" daripada Yahya, dan dengan sendirinya daripada semua orang-orang Tuhan yang ada sebelum Pembaptis? Apakah Jesus bermaksud dengan "terkecil" itu dirinya sendiri, atau "yang terkecil" diantara orang-orang Kristen yang telah dibaptis? Tidak mungkin itu dirinya sendiri, karena pada masanya Kerajaan itu belum lagi berdiri di muka bumi ini; kalau itu dia sendiri, maka dia tidak dapat menjadi "yang terkecil" di dalamnya, karena dia adalah pendirinya. Gereja-gereja, atau lebih tepat setiap gereja, ortodoks atau heterodoks, dari sudut pandang mereka sendiri yang janggal – telah menemukan pemecahan yang sangat kompleks atau tidak masuk akal untuk masalah ini; dan pemecahan masalah itu ialah bahwa orang Kristen "yang terkecil" yang telah dicuci dengan darah Jesus – melalui sakramen pembaptisan menurut keyakinan Sacerdotal, atau melalu regenerasi tertenu menurut takhayul Pengabar Injil – menjadi "lebih besar" daripada Pembaptis dan semua bala tentara yang terdiri dari orang laki-laki maupun perempuan yang suci, termasuk di dalamnya Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, Eliyah, Daniel dan Yahya Pembaptis! Dan alasan atau bukti dari akuan (claim) yang fantastik ini ialah bahwa orang-orang Kristen betapapun berdosanya, bodohnya, rendahnya, miskinnya dia itu mungkin, asalkan dia memiliki keyakinan pada Jesus sebagai Penyelamatnya, mempunyai hak istimewa yang Nabi-Nabi suci menginginkannya namun tidak bisa menikmati hak itu. Hak istimewa ini tidak terhitung banyaknya; pemurnian dari dosa asal melalui pembaptisan Kristen; pengetahuan tentang "Trinitas Yang Suci" (!!! hasha, astaghfirullaah! – Allah melarang dan semoga mengampuninya); pemberian makan kepada tubuh dan darah Jesus dalam Sakramen Eucharist; kelembutan dalam membuat salib; hak istimewa atas kunci Sorga dan Neraka yang diserahkan kepada Sovereign Pontiff (Paus atau Uskup yang berkuasa?) dan ekstasi yang luar biasa dari kaum Puritan, Quaker, Brethren, dan semua sekte yang disebut Nonconformist yang, masing-masing menurut caranya sendiri, sementara mengaku berhak atas hak istimewa dan prerogatif, semua sepakat bahwa setiap orang Kristen yang baik itu pada Hari Kebangkitan akan menjadi gadis perawan dan menyediakan dirinya sebagai pengantin wanita dari "Domba Tuhan"!

Tidakkah anda berpikir bahwa orang-orang Kristen benar untuk mempercayai bahwa "yang terkecil" di antara mereka "lebih besar" daripada semua Nabi? Tidakkah anda berpendapat bahwa seorang biarawan Patagonia yang kokoh kekar dan seorang biarawati penjara dari Paris adalah lebih tinggi daripada Adam dan Hawa, karena misteri dari Trinitas itu disingkapkan kepada orang-orang yang kebingungan ini dan tidak kepada orang tua pertama kita yang hidup di Sorga Allah sebelum mereka jatuh? Atau, tidakkah anda berpikir bahwa keyakinan sejenis ini adalah paling tidak menarik dan paling tidak pantas dalam masa puncak ilmu pengetahuan lanjut dan sivilisasi? Menyatakan bahwa seorang pangeran Inggris atau seorang yatim piatu negro "lebih besar" daripada Yahya Pembaptis karena mereka orang-orang Kristen, setidak-tidaknya, adalah penuh rasa kebencian!

Meskipun demikian semua kepercayaan dan iman yang bermacam-macam itu berasal dari Perjanjian Baru dan dari kalimat-kalimat yang diletakkan di mulut Jesus dan para apostelnya. Tetapi untuk kita orang Muslim ada kilau cahaya yang menarik yang tertinggal dalam Injil; dan itu cukup bagi kita untuk menemukan kebenaran tentang Jesus yang sesungguhnya dan sepupunya Yohannan Ma’mdana atau Yahya Pembaptis.

YAHYA PEMBAPTIS MERAMALKAN NABI MUHAMMAD SAW

  1. Menurut kesaksian Nabi Jesus, tidak ada seorang laki-laki yang dilahirkan seorang perempuan yang pernah lebih besar daripada Yahya Pembaptis. Tetapi "yang terkecil" di dalam Kerajaan Sorga lebih besar daripada Yahya. Perbandingan yang dibuat oleh "Ruh Tuhan" (Ruhu’llah = Jesus) itu adalah antara Yahya dan semua Nabi sebelumnya sebagai opsir dan administrator Kerajaan Sorga . Kini secara kronologis Nabi yang terakhir akan menjadi yang terkecil dari antara semuanya, dia akan menjadi junior-nya dan yang termuda. Kata "zira" dalam bahasa Aramiah, seperti dalam bahasa Arab "saghir" berarti "sedikit atau kecil (little), anak muda kecil (small young)." Versi Pshittha (Injil dalam bahasa Syriac) memakai kata "zira atau z’eira" sebagai lawan kata "rabba" untuk "besar, tua atau lama" (great, old). Setiap orang Kristen akan mengakui bahwa Jesus bukanlah Nabi "yang terakhir," dan karenanya tidak mungkin Jesus "yang terkecil." Bukan saja para Apostel yang dianugerahi dengan kemampuan meramal, tetapi juga banyak orang suci lainnya dalam masa apostel mendapat anugerah hal serupa menurut kitab Kejadian xi. 27-28; xiii. 1; xv. 32; xxi. 9-10, dsb.)!

    Dan karena kita tidak dapat menentukan mana dari antara Nabi-Nabi Gereja yang banyak itu "yang terakhir", tentu saja kita terpaksa untuk mencari di tempat lain seorang Nabi yang tak dapat dibantah lagi sebagai Yang Terakhir dan Penutup dari Daftar Para Nabi. Dapatkah kita membayangkan adanya bukti yang lebih kuat dan lebih cemerlang yang mengacu pada Nabi Muhammad saw daripada penggenapan atau pemenuhan, dalam pribadinya yang suci, ramalan suci Jesus Kristus?

    Dalam daftar panjang keluarga nabi-nabi, tentu saja "yang termuda," "yang terkecil" adalah Nabi Muhammad saw; beliau adalah "Benjamin" dari para Nabi; namun beliau adalah Sultan mereka, "Adon" mereka dan "Kemuliaan" mereka. Mengingkari karakter serta sifat kenabian dan apostolikal misi Nabi Muhammad saw merupakan pengingkaran yang mendasar atas keseluruhan Wahyu Suci dan semua Nabi-Nabi yang berdakwah mengenai hal itu. Karena (kalau misalnya) semua Nabi yang lain itu dikumpulkan jadi satupun tidak akan dapat menyelesaikan karya raksasa yang telah diselesaikan sendiri oleh Nabi Mekkah ini dalam waktu singkat selama dua puluh tiga tahun misinya.

    Misteri pra-adanya ruh para Nabi tidak telah diungkapkan kepada kita, tetapi setiap orang Islam sejati mempercayainya. Ruh pra-ada itulah yang dengan kekuatan Kalimat Allah "Kun" ("Jadilah") seorang Sarah, seorang Hanna, dan seorang Perawan Maryam Yang Diberkati telah melahirkan Ishaq, hingga Pembaptis dan Jesus. Ada beberapa nama lagi lainnya seperti yang dicatat oleh Perjanjian Lama, misalnya Samson, Jeremiah.

    Injil Barnabas melaporkan Jesus sebagai berkata mengenai Ruh Nabi Muhammad saw yang beliau nyatakan telah diciptakan sebelum segala sesuatu. Dari situlah kesaksian Pembaptis tentang Nabi itu yang beliau ramalkan: "Dia yang datang sesudah aku telah jadi sebelum aku, karena dia ada sebelum aku" (Yohanes i. 15).

    Tak ada gunanya menafsirkan kalimat-kalimat indah Pembaptis tentang Nabi Muhammad saw sebagai mengacu pada Nabi Jesus seperti telah dicoba oleh penulis Injil Keempat itu untuk berbuat demikian.

    Terdapat bab-bab yang patut dicatat tentang Yahya Pembaptis dalam buku terkenal Ernest Renan "La vie de Jesu." Telah lama yang lalu dengan hati-hati saya telah membaca buku itu. Kalau saja penulis Perancis yang terpelajar itu memiliki pertimbangan sedikit saja terhadap pernyataan Nabi Muhammad saw dalam dunia Nabi-Nabi, saya yakin bahwa penyelidikan dan komentarnya yang mendalam itu akan telah membawa dia kepada kesimpulan yang sama sekali lain. Dia seperti semua para pembangkang dan pengritik Injil yang lainnya bukannya mencari kebenaran, tetapi telah mengritik agama dengan sangat bermusuhan dan membawa pembacanya kepada keragu-raguan.

    Saya berbahagia untuk mengatakan bahwa adalah hak istimewa saya, dengan Rakhmat Allah, untuk memecahkan masalah, untuk membuka tabir misteri yang telah menyelimuti logika dan pengertian yang sesungguhnya dari "yang terkecil di dalam Kerajaan Sorga!"
     

  2. Yahya Pembaptis mengenal Nabi Muhammad saw sebagai superior dan lebih berkuasa daripada dirinya. Ungkapan berarti yang diucapkan kepada khalayak Yahudi, "Dia yang datang sesudah aku" mengingatkan para penulis, Farisi dan ahli hukum mereka akan ramalan kuno dari nenek moyang mereka Nabi Yakub, di mana Nabi itu menggunakan gelar yang unik "Shilokhah" untuk "Rasul Allah," sebuah sebutan yang sering dipergunakan oleh Nabi Jesus untuk Nabi Muhammad saw sebagaimana tertulis dalam Injil Barnabas. Pada waktu saya menulis artikel "Shiloh" 1) saya katakan bahwa kata itu mungkin merupakan suatu korupsi kata "shiloukh" atau "Shilokhah," 2) yang berarti Utusan Allah, tetapi saya tidak ingat bahwa St Jerome juga telah memahami bentuk bahasa Ibrani dalam artian itu, karena dia telah menterjemahkannya sebagai "qui mittendis est."

    Kita hanya memiliki abstrak dari khotbah Yahya dalam beberapa baris, ditulis bukan oleh beliau tetapi oleh tangan yang tidak diketahui siapa punya – setidak-tidaknya tidak dalam bahasa asli beliau – dan banyak mengalami kerusakan melalui para penulis (transcriber) dan redaktur yang telah membuat murid-murid Jesus sebagai patung atau tuhan. Tetapi jika tiba saatnya kita membandingkan khotbah ini yang diucapkan di belantara Judea dan di pantai Jordan dengan gaya lemah gemulai yang indah, luwes, kefasihan dan kekuasaan yang begitu nyata dalam setiap bait dan halaman dari Kitab Suci Al Qur’an, kita memahami arti dari kalimat, "Dia lebih berkuasa daripada aku!"

    Ketika saya membayangkan sendiri Pembaptis pertapa itu berkhotbah dengan suara keras ditengah belantara, atau di tepi sungai Jordan, khalayak ramai yang terdiri dari orang-orang Yahudi yang beriman, dengan sejarah keagamaan yang telah berusia kira-kira empat ribu tahun di belakang mereka, dan kemudian membuat ikhtisar ringkas tentang cara yang tenang, tertib, dan khidmat dengan mana Nabi Muhammad saw mengucapkan ayat-ayat langit dari Al Qur'an kepada orang-orang Arab yang tidak beriman; dan, akhirnya, ketika saya periksa dan perhatikan akibat dari dua khotbah itu terhadap para pendengarnya dan hasil akhirnya, saya memahami besarnya perbedaan antara mereka berdua, dan arti kalimat: "Beliau lebih berkuasa daripada aku!"

    Ketika saya merenungkan penangkapan dan pemenjaraan Pembaptis yang tak berdaya itu oleh Herod Antipas 3) dan pemenggalan kepalanya yang kejam - atau ketika saya periksa ceritera Injil yang membingungkan tetapi menyedihkan tentang penebusan dosa Jesus (Judas Ischariot) oleh Pilatus, pemahkotaan kepalanya dengan duri oleh Herod, dan kemalangan terhadap Calvary - dan lalu memutar mata saya melihat Adon Yang Agung, Sultan Para Nabi, masuk ke Mekkah dengan penuh kemenangan, pemusnahan menyeluruh atas semua berhala-berhala kuno dan pensucian Kaaba yang suci; terhadap pemandangan yang penuh sensasi atas musuh yang mematikan yang ditaklukkan dan yang dikepalai oleh Abu Sufyan di kaki Shilohah, Nabi Allah, yang berjaya - memohon pengampunan dan membuat pengakuan kalimat shahadat; dan terhadap penyembahan yang mulia, ketaatan, dan khotbah akhir Penutup Nabi dalam kalimat Suci yang khidmat ini: " Al yauma akmaltu lakum dinakum." yang artinya: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu bagimu, dan telah Aku cukupkan nikmatKu bagimu. Dan telah Aku pilih Islam sebagai agamamu…" (Al Qur'an 2 : 3). Kemudian saya mengerti bahwa Al Qur'an itu merupakan bobot dan nilai dari pengakuan Pembaptis, bahwa "Beliau lebih berkuasa daripada aku!"

  3. "Kemarahan yang akan datang." Pernahkah anda bertemu dengan suatu tafsir yang sensible, berdasarkan hukum dan meyakinkan atas ungkapan ini dalam banyak komentar atas Injil? Apa maksud Yahya, atau apa yang beliau inginkan agar pendengarnya mengerti, dengan ungkapan: "Perhatikanlah kapak itu telah diletakkan pada akar pohon itu"? Atau ucapannya: "Dia memegang (van) barisan depan (?) di tangannya untuk membersihkan lantai pintu masuk"? Atau ketika beliau mengurangi arti "Anak-anak Ibrahim" menjadi tidak berarti apa-apa?

    Saya tidak akan menahan anda mengenai tingkah laku (ucapan) yang aneh dari para komentator, karena mereka itu semua hanya lamunan yang baik Yahya maupun pendengarnya tidak pernah memimpikannya. Mungkinkah Yahya mengajarkan pada orang-orang Farisi yang sombong, dan orang-orang Saduki yang rasionalistik 4) yang mengingkari kebangkitan fisik, yang pada hari pengadilan akhir Jesus orang dari Nazareth akan meluapkan kegusarannya terhadap mereka dan membakar mereka seperti pohon yang tidak berbuah dan seperti sekam dalam api Neraka? Tidak ada satu katapun dalam semua literatur Kitab-Kitab Injil tentang kebangkitan fisik atau tentang api Neraka. Tulisan-tulisan Talmud ini penuh dengan bahan-bahan yang menyangkut ilmu akhirat (eschatological material) yang sangat mirip dengan ilmu orang Zardusi, namun tidak memiliki asal yang berbeda dalam buku-buku kanon.

    Nabi (yang berdakwah) tentang pertobatan dosa dan berita-berita baik itu tidak berbicara tentang kemarahan yang jauh dan tidak tertentu yang pasti menunggu orang-orang yang tidak beriman dan tidak saleh, tetapi mengenai kemalangan yang dekat dan segera atas bangsa Yahudi. Beliau mengancam dengan kemarahan Tuhan yang menanti orang-orang itu bila mereka tetap dalam dosanya dan penolakannya atas misi beliau dan misi koleganya, Nabi Jesus Kristus. Kemalangan yang akan tiba itu adalah berupa penghancuran Jeruzalem dan pembubaran final Israel yang berlangsung selama kurang lebih tiga puluh tahun sesudahnya selama masa hidup banyak dari pendengar-pendengar beliau. Keduanya, Yahya dan Jesus, mengumumkan perihal akan datangnya Nabi Agung Allah, yang Patriarch Yakub telah menyatakannya dengan gelar sebutan Shiloha, dan bahwa pada saat kebangkitannya seluruh hak-hak istimewa dan kekuasaan kenabian dan kerajaan akan diambil dari tangan orang Yahudi; dan benarlah bahwa yang demikian itu telah terjadi kira-kira enam abad kemudian, ketika benteng terakhir mereka di Hijaz diratakan dengan tanah dan kerajaan-kerajaan mereka dimusnahkan oleh Nabi Muhammad saw. Kekuasaan Romawi yang mendominasi semakin meningkat di Syria dan Palestina mengancam otonomi quasi orang-orang Yahudi, dan arus emigrasi orang Yahudi telah mulai. Berdasarkan ceritera inilah bahwa pendeta itu bertanya: "Siapa yang memberi tahu engkau untuk lari dari kemarahan yang akan datang?" Mereka diingatkan dan dianjurkan dengan sangat untuk menghasilkan buah-buahan dan panen yang baik melalui pertobatan dosa dan iman kepada Utusan Tuhan yang sejati, terutama kepada Rasul Allah, yang benar-benar Pemimpin yang sejati, terakhir dan sangat berkuasa.
     

  4. Orang-orang Yahudi dan Kristen selalu menuduh Nabi Muhammad saw telah membangkitkan agama Islam melalui kekuatan, pemaksaan, dan pedang. Para Muslim modern telah selalu berusaha untuk menolak tuduhan ini. Namun ini tidak berarti mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw tidak pernah mempergunakan pedangnya. Beliau harus menggunakannya untuk mempertahankan Asma Allah. Setiap kesabaran pasti ada batasnya, setiap kebaikan hati ada akhirnya. Bukan karena Kesabaran dan Kebaikan Allah itu terbatas; bersamaNya semuanya terselesaikan, didefinisikan dan ditetapkan. Kesempatan dan waktu yang diberikan melalui kemurahan Allah kepada orang-orang Yahudi, orang-orang Arab, dan "Gentiles" - orang-orang non- Yahudi atau Arab (Gentiles = kafir) - telah berlangsung lebih dari empat ribu tahun. Hanya sesudah habisnya masa itu Allah mengutus Nabi Muhammad saw yang dicintaiNya dengan kekuasaan, kekuatan dan pedang, dengan api dan semangat, untuk menangani orang-orang tidak beriman yang jahat, anak-anak Ibrahim yang tidak tahu berterima kasih - kedua-duanya kaum Ismail dan Israel - dan untuk menangani kekuatan setan, sekali dan untuk selamanya.
     

  5. Seluruh Perjanjian Lama adalah sebuah kisah tentang teokrasi dan penyembahan berhala. Di sana sini ada sedikit sinar Islam - yaitu Agama Allah - bercahaya di Jeruzalem dan di Mekkah; tetapi selalu ditindas oleh kekuatan setan. Empat Binatang yang kejam harus ada dan menginjak-injak di bawah kakinya sejumlah besar orang-orang beriman kepada Allah. Kemudian datanglah Nabi Muhammad saw untuk menghancurkan dan membunuh Ular Naga berbisa dan memberikan kepadanya gelar yang hina "Iblis" - Setan yang telah terusir. Sudah barang tentu bahwa Nabi Muhammad saw adalah seorang Nabi yang berjuang, namun obyek perjuangannya adalah kemenangan dan bukan pembalasan, mengalahkan musuh dan bukan membasminya, dan dalam satu kalimat, untuk menegakkan Agama Islam sebagai Kerajaan Tuhan di muka bumi. Sebenarnyalah, ketika Orang Yang Berteriak (Yahya) menyeru dengan suara lantang di padang pasir: "Siapkan jalan Allah (Lord), dan luruskan jalanNya (Allah)," beliau sedang menyinggung Agama Allah dalam bentuk Kerajaan yang semakin dekat. Tujuh abad sebelumnya, Nabi Yesaya telah berseru dan menyatakan kalimat yang sama (Yesaya xl. 1-4); dan beberapa abad kemudian Allah Sendiri membuka jalan bagi Cyrus dengan menaikkan dan mengisi setiap lembah, dan dengan merendahkan setiap bukit dan gunung, untuk memudahkan penaklukan dan bergerak cepat (xlv. 1-3). Sejarah berulang sendiri, kata mereka; bahasa dan artinya sama dalam kedua hal tersebut di atas, yang pertama menjadi prototipe yang kemudian. Allah telah melicinkan jalan bagi Cyrus, menaklukkan musuh-musuhnya kepada penakluk dari Persia karena RumahNya di Jeruzalem dan ummat pilihanNya dalam tawanan. Sekarang lagi Dia mengulangi petunjuk suciNya yang sama, namun dalam skala yang lebih besar dan luas. Sebelum syiar Nabi Muhammad saw, berhala dan kepalsuan menghilang; di hadapan pedangnya kerajaan-kerajaan berjatuhan; dan anak-anak Kerajaan Allah menjadi sama derajatnya dan membentuk sebuah kumpulan "orang-orang kudus dari Yang Maha Tinggi." Karena hanya di dalam Islam bahwa semua orang beriman itu sama kedudukannya, tidak ada pendeta, tak ada sakramen; tidak ada Muslim yang tinggi seperti bukit, atau rendah seperti sebuah lembah; tak ada kasta atau perbedaan rasial dan tingkat. Semua orang beriman adalah satu, kecuali dalam kebajikan dan kesalehan, di mana mereka dapat saling melampaui. Hanya agama Islam yang tidak mengakui mahluk yang manapun, betapapun besar dan sucinya, sebagai seorang perantara yang mutlak antara Tuhan dan manusia.

 

 

 


Catatan kaki

1. Cf Islamic Revies for September, 1928, p. 313 et seq.

2. Orang Ibrani Timur dan orang Asiria mengucapkan kata itu "Shilokha" atau "Shiloakh." Sangat sulit untuk menulis atau melakukan transliterasi bahasa Semit ke dalam huruf Latin.

3. terdapat "anachronism" (hal yang bersalahan dengan waktu/zaman) dalam ceritera kesyuhadaan Yahya yang menyangkut keluarga Herod yang agung dalam Injil (Matius xiv. dsb.), pembaca dapat mengkonsultasikan hal ini dengan "Antiquities of Joseph Flavius."
4. Nama Ibrani itu ditulis dengan cara salah "Saducees."

 


 

pakdenono@yahoo.com