"WHAT EVERY CHRISTIAN & JEW SHOULD KNOW"
TENTANG SANG PENCIPTA, KITAB SUCI & NABI-NABI
 

Oleh PROFESOR DAVID BENJAMIN KELDANI B.D.

(Wafat 1940) Dahulu Uskup Uramiah, Kaldea.

Alih Bahasa Oleh: H.W. Pienandoro SH
download : www.pakdenono.com

B. MUHAMMAD SAW DALAM PERJANJIAN BARU


Bab 19
 

"ANAK MANUSIA," SIAPAKAH DIA?
 

Kitab Suci Al Qur'an menghadirkan tokoh Jesus Kristus sebagai

"Anak Laki-Laki Maryam," dan Kitab Suci Injil juga menghadirkannya sebagai "Anak Laki-Laki Maryam"; namun bahwa Injil yang ditulis pada lempeng putih dari hati Jesus dan disampaikan kepada para murid dan pengikutnya secara lisan, dengan segera telah dicemari dengan sejumlah mitos dan legenda. "Anak Laki-Laki Maryam" segera berubah menjadi

"Anak Laki-Laki Yusuf," yang mempunyai saudara laki-laki dan saudara perempuan (Matius xiii. 55-56; Markus vi. 3; iii. 31; Lukas ii. 48; viii. 19-21; Yohanes ii. 12; vii. 3, 5: Kisah Rasul i. 14; I Korintus ix. 5; Galatia i. 19; Judas i.).

Kemudian dia menjadi "Anak Laki-Laki Daud" (Matius xxii. 42; Markus xii. 35; Lukas xx. 41; Matius xx. 30; ix. 27; xxi. 9; Kisah Rasul xiii. 22-23; Apoc. v. 5; Roma xv. 12; Ibrani vii. 14; dsb.),

"Anak Laki-Laki Manusia" (sebutan ini diulang sebut kira-kira sebanyak 83 kali dalam satu discourses of Jesus),

"Anak Laki-Laki Tuhan" (Matius xiv. 32; xvi. 16; Yohanes xi. 27; Kisah Rasul ix. 20; I Yohanes iv. 15; v. 5; Ibrani i. 2, 5, dsb.),

"Anak Laki-Laki" saja (Yohanes v. 19-21, 23-24, 26, dsb.; dan dalam formula Baptis, Matius xxviii. 19; Yohanes i. 34, dsb.) "Kristus" (Matius xvi. 16, dan seringkali dalam Epistles), dan

"Domba" (Yohanes i. 29, 36; dan seringkali dalam Wahyu).

Beberapa tahun yang lalu, pada suatu hari saya mengunjungi Exeter Hall di London; pada saat itu saya masih sebagai seorang pendeta Katholik; suara hiruk pikuk ketika saya dibawa ke Hall di mana seorang gentleman medis yang masih muda mulai berkhotbah pada pertemuan dari YMCA (Young Men's Christian Association). "Saya ulangi apa yang telah sering saya katakan," seru si dokter muda itu, "Jesus Kristus haruslah sebagai apa yang dia akui sebagai itu dalam Injil, atau dia pasti seorang penyamar terbesar yang dunia pernah menyaksikannya!" Saya tidak pernah melupakan pernyataan dogmatis ini. Apa yang ingin dia katakan ialah bahwa Jesus itu adalah Anak Tuhan atau seorang penyamar terbesar. Jika anda menerima hipotese pertama maka anda seorang Kristen, seorang trinitarian; jika yang kedua, maka anda adalah seorang Yahudi yang tidak beriman. Namun kita yang tidak menerima kedua proposisi itu adalah jelas Muslim. Kita orang Muslim tidak dapat menerima yang manapun dari keduanya yang memberikan gelar kepada Jesus Kristus dalam pemahaman yang gereja dan kitab suci mereka yang tidak dapat dipercaya itu telah berpura-pura untuk menggunakan sebutan itu. Tidak sendirian dia sebagai "Anak Laki-Laki Tuhan" dan tidak pula sendirian sebagai "Anak Laki-Laki Manusia" karena jika orang diizinkan untuk memanggil Tuhan dengan "Bapa", maka bukan saja Jesus, tetapi setiap nabi dan orang beriman yang lurus, adalah secara khusus seorang "anak laki-laki Tuhan." Dalam cara yang sama, jika Jesus benar-benar anak laki-laki Yusuf Tukang Kayu, dan mempunyai empat saudara laki-laki dan beberapa saudara perempuan yang sudah menikah seperti yang Injil berpura-pura mengenai hal itu, maka mengapa dia sendiri saja yang menyandang sebutan yang asing ini "Anak Laki-Laki Manusia" yang sesungguhnya galib bagi siapapun?

Tampaknya para pendeta dan pastor, ahli teologi dan apologist Kristen ini memiliki logika mereka sendiri yang aneh untuk penalaran serta kecenderungan akan misteri dan hal-hal yang tidak masuk akal. Logika mereka tidak mengenal medium, tak ada pembedaan istilah, dan tak ada gagasan definitif tentang gelar dan sebutan yang mereka pergunakan. Mereka memiliki selera yang membuat orang iri hati untuk pernyataan-pernyataan yang tidak dapat dicocokkan dan yang bertolak belakang yang hanya mereka sendiri dapat menelannya seperti telur rebus. Mereka dapat mempercayai, tanpa keraguan sedikitpun, bahwa Maryam adalah sekaligus seorang perawan tetapi juga seorang isteri, bahwa Yusuf adalah baik seorang pasangan maupun suami, bahwa James, Jossi, Simon, dan Judah adalah baik sepupu maupun saudara laki-laki Jesus, bahwa Jesus adalah Tuhan yang sempurna dan seorang manusia yang sempurna juga, dan bahwa "Anak Laki-Laki Tuhan," "Anak Laki-Laki Manusia." "Domba," dan "Anak Laki-Laki Daud" adalah semuanya satu dan pribadi yang sama! Mereka memberi makan kepada diri mereka sendiri dalam hal doktrin yang heterogen dan bertentangan satu dengan lainnya yang terwakili dalam istilah-istilah itu dengan selera serakus seperti laiknya mereka rasakan terhadap bacon dan telur ketika makan pagi. Mereka tidak pernah berhenti berfikir dan merenungkan obyek yang mereka sembah; mereka memuja penyaliban dan Yang Maha Kuasa seolah-olah mereka mencium pedang pembunuh saudara laki-lakinya yang berdarah dalam kehadiran ayahnya!

Saya berpendapat bahwa bahkan tidak ada satu orang Kristen pun dalam sepuluh juta orang yang benar-benar mempunyai gagasan tepat atau pengetahuan yang definitif tentang asal muasal dan arti sebenarnya dari istilah "Anak Laki-Laki Manusia." Semua gereja dan para ahli tafsir mereka tanpa kecuali akan berkata kepada anda bahwa "Anak Laki-Laki Tuhan" mengenakan sebutan "Anak Laki-Laki Manusia" atau "Barnasha" karena sikap rendah diri dan karena sopan santun, tanpa mengetahui bahwa Kitab Suci Apokaliptikal (Wahyu) orang Yahudi, di mana Jesus dan para muridnya percaya dengan sepenuh hati dan jiwanya, meramalkan bahwa bukanlah "Anak Laki-Laki Manusia" yang akan bersikap lembut hati, rendah hati, tidak memiliki tempat untuk tidur, dan diserahkan ke tangan orang yang berbuat jahat dan dibunuh, tetapi "Anak Manusia" adalah seorang laki-laki yang kuat dengan kekuasaan dan kekuatan yang luar biasa untuk membinasakan dan mencerai beraikan burung-burung sasaran dan binatang-binatang buas yang mengoyak-koyak dan memakan biri-biri dan dombanya! Orang-orang Yahudi yang mendengar Jesus berbicara tentang "Anak Laki-Laki Manusia" mengerti dengan sebenarnya kepada siapa sebutan itu dia tujukan. Jesus tidaklah menemukan kata "Barnasha" itu, tetapi meminjamnya dari Kitab Suci Apokaliptikal Yahudi: Kitab Enoch, Kitab-Kitab Sibylline, the Assumption of Moses, Kitab Daniel, dsb. Marilah kita menyelidiki asal muasal gelar "Barnasha" atau "Anak Laki-Laki Manusia" ini.

  1. "Anak Laki-Laki Manusia" adalah Nabi Terakhir, yang membangun "Kerajaan Perdamaian" dan menyelamatkan hamba-hamba Tuhan dari perbudakan dan penindasan di bawah kekuatan musyrik setan. Gelar "Barnasha" adalah ungkapan simbolis untuk membedakan Penyelamat dari hamba-hamba Tuhan yang diwakili sebagai "biri-biri," dan bangsa-bangsa musyrik lainnya di bumi ini yang ada dalam berbagai jenis burung sasaran, binatang-binatang buas, dan binatang-binatang kotor. Nabi Hezekiel hampir selalu disebut oleh Tuhan sebagai "Ben Adam" yaitu "Anak Laki-Laki Manusia" (atau Adam) dalam pengertian seorang Penggembali dari biri-biri Israel. Nabi ini juga memiliki beberapa porsi Apokaliptikal dalam bukunya. Dalam visi pertamanya dengan mana dia memulai kitab ramalannya dia melihat di samping singgasana safir dari Yang Maha Abadi, penampakan dari "Anak Laki-Laki Manusia" (Ezekiel i. 26). "Anak Laki_laki Manusia" ini yang disebut berulang kali sebagai selalu dalam kehadiran Tuhan dan di atas Cherubim bukan Hezekiel (atau Ezekiel) sendiri (Ezekiel x. 2). Dia adalah "Barnasha" yang ada dalam ramalan, Nabi Terakhir, yang diangkat untuk menyelamatkan hamba Tuhan dari tangan orang-orang kafir di sini di bumi dan tidak di tempat lain!

  1. "Anak Laki-Laki Manusia" menurut Apokalipse Enoch (atau Henoch)

    Tidak ada keraguan bahwa Jesus Kristus sangat mengenal Wahyu Enoch, yang diyakini telah ditulis oleh patriarch ketujuh dari Adam. Karena Judah "saudara laki-laki James" dan "pelayan Jesus Kristus," yaitu saudara laki-laki Jesus, percaya bahwa Enoch adalah pengarang yang sebenarnya dari karya yang memakai namanya (Judah i. 14. Di dalam Injil dia disebut sebagai salah satu dari empat saudara laki-laki Jesus, Matius xiii. 55-56, dsb.). Ada beberapa fragmen yang terserak dari Apokalipse yang indah ini yang diawetkan dalam bentuk kutipan (quotation) oleh penulis-penulis Kristen awal. Buku itu telah hilang lama sebelum Photius. Hanya kira-kira pada awal abad yang lalu bahwa karya yang penting ini ditemukan dalam Dalih-Dalih Agama dari Kitab Suci (Canon of the Scriptures) yang termasuk gereja Abesina, dan diterjemahkan dari bahasa Ethiopia ke dalam bahasa Jerman oleh Dr. Dillmann, dengan catatan dan keterangan (Juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh seorang Uskup Irlandia Laurence). Buku itu terdiri dari lima bagian atau buku, dan keseluruhannya berisi seratus sepuluh pasal dari panjang pendeknya berbeda. Pengarangnya menggambarkan kejatuhan dari malaikat, perdagangan gelap mereka dengan anak-anak perempuan manusia, melahirkan bayi pada suatu jenis raksasa yang menemukan semua macam kelicikan dan pengetahuan yang merusak. Lalu sifat buruk dan kejahatan meningkat sampai ke puncak sedemikian rupa sehingga Yang Maha Kuasa menghukum mereka dengan banjir. Dia juga menceriterakan dua perjalanannya ke langit dan mengelilingi bumi, dengan dipandu oleh malaikat yang baik, dan misteri serta keajaiban yang dia lihat di situ. Dalam bagian kedua, yang adalah sebuah deskripsi dari Kerajaan Perdamaian, "Anak Lak-Laki Manusia" menangkap raja-raja di tengah kehidupan mereka yang menggiurkan dan mengendapkan mereka ke dalam neraka (Enoch xlvi. 4 - 8). Tetapi buku kedua ini tidak oleh satu orang pengarang, dan secara meyakinkan buku itu telah banyak dicemari oleh tangan orang-orang Kristen. Buku atau bagian ketiga berisi beberapa gagasan yang penuh keinginan tahu serta gagasan tentang astronomi dan fisik yang telah berkembang. Buku keempat menyajikan pandangan apokaliptikal dari jenis manusia dari sejak awal hingga masa Islam, yang pengarangnya menyebutnya sebagai masa Al Masih, dalam dua parabel atau alegori yang simbolis. Seekor sapi jantan putih muncul dari bumi; lalu seekor heifer putih (sejenis sapi lain) berkawin dengannya dan melahirkan dua anak sapi: satu berwarna hitam, yang lainnya merah; sapi jantan hitam itu memukul dan mengusir yang merah; kemudian dia kawin dengan seekor heifer dan memberikan beberapa anak sapi hitam, hingga induknya meninggalkan sapi jantan hitam untuk mencari yang merah; dan, karena dia tidak menemukannya, menangis dan berteriak dengan keras, ketika seekor sapi jantan merah muncul, dan mereka mulai menggandakan jenisnya. Tentu saja, perumpamaan yang transparan ini melambangkan Adam, Hawa, Cain, Abel, Sheth, dsb. hingga ke Yakub yang turunannya diwakili oleh "sekelompok biri-biri" sebagai bangsa terpilih Israel; tetapi keturunan saudara laki-lakinya Esau, yaitu kaum Edomit, digambarkan sebagai sebuah kumpulan babi. Dalam perumpamaan kedua ini sekawanan biri-biri itu sering diganggu, diserang, dicerai beraikan,dan dibunuh oleh binatang-binatang dan burung-burung sasaran hingga kita tiba pada masa yang disebut masa Al Masih, ketika sekelompok biri-biri itu diserang lagi dengan lebih dahsyat oleh burung elang dan beberapa binatang pemakan daging lainnya; tetapi seekor "ram" (sejenis kambing) melawan dengan keberanian dan kegagahan besar. Barulah kemudian bahwa "Anak Laki-Laki Manusia" yang adalah Tuan atau Pemilik sesungguhnya dari sekawanan itu tampil ke depan untuk menyelamatkan gembalaannya.

    Seorang pakar non Muslim tidak pernah dapat menerangkan pandangan atau visi seorang sufi atau semacam paranormal. Dia akan - seperti mereka semua melakukannya - membawa visi itu kepada kaum Makabi dan Raja Antiochus Epiphanus dalam pertengahan abad kedua S.M. ketika Penyelamat datang dengan alat pukul yang besar atau tongkat kerajaan (scepter) dan memukul ke kanan dan kiri terhadap burung-burung dan binatang-binatang, membuat banyak di antaranya yang mati terbunuh; bumi membuka mulutnya, menelan mereka semua; dan sisanya lari. Lalu pedang dibagikan kepada biri-biri, dan seekor sapi jantan putih memimpin mereka dalam kedamaian dan keamanan yang sempurna.

    Buku kelima berisi anjuran-anjuran agamawi dan moral yang bersifat keras. Seluruh karya dalam bentuknya yang sekarang memberikan petunjuk bahwa karya itu dikarang semutakhir 110 S.M. dalam dialek asli Aramiah oleh seorang Yahudi Palestina. Setidak-tidaknya ini pendapat dari Ensiklopedia Perancis.

    Al Qur'an hanya menyebutkan Enoch dengan nama panggilan Idris - bentuk dalam bahasa Arab untuk "Drisha" yang bahasa Aramiah yang dalam kategori yang sama dari kata benda sederhana seperti "Iblis" dan "Blisa" ("Iblis" kata dalam bahasa Arab untuk "Blisa" kata dalam bahasa Aramiah sebuah sebutan yang diberikan kepada setan yang berarti "yang terkutuk"). "Idris" dan "Drisha" menunjukkan seorang laki-laki terpelajar, seorang pakar dan seorang yang berilmu, dari "darash" (bahasa Arab "darisa"). Ayat Al Qur'an menyebutkan: "Dan disebutkan dalam Kitab Idris; dia juga seorang yang cinta akan kebenaran dan seorang Nabi, yang Kami muliakan." Q.19 : 56-57.

    Ahli tafsir Al Qur'an, Al-Baydhawi dan Jalalu 'd-Din, tampaknya mengetahui bahwa Enoch telah mempelajari astronomi, fisik, aritmatika, bahwa dia ialah yang pertama menulis dengan pena, dan bahwa "Idris" menunjukkan orang yang banyak ilmu, dengan demikian menunjukkan bahwa Apocalypse dari Enoch tidak telah hilang di masa hidup mereka.

    Setelah berakhirnya Kanon dari Kitab Suci Ibrani kira-kira dalam abad keempat S.M. oleh "Anggota Sinagog Agung" yang didirikan oleh Ezra dan Nehemiah, semua literatur sakral atau agama yang lainnya di samping literatur-literatur yang dimasukkan ke dalam Canon disebut "Apocrypha" dan dikecualikan dari Injil Ibrani oleh suatu kumpulan orang-orang Yahudi terpelajar dan alim, yang terakhir di antara mereka adalah "Simeon Yang Adil" yang terkenal, yang meninggal dalam tahun 310 S.M. Nah sekarang di antara buku-buku Apocrypha ini dimasukkan ke dalam Apocalypse dari Enoch, Barukh, Musa, Ezra, dan buku-buku Sibylline, yang ditulis pada masa berbeda antara masa Makabi dan masa sesudah pemusnahan Jeruzalem oleh Titus. Tampaknya Saga Yahudi seperti mengikuti mode saat itu untuk menulis literatur yang berisi ramalan (apocalypse) dan bersifat keagamaan di bawah nama seorang terkenal dari masa lalu. Apokalipse pada akhir dari Perjanjian Baru yang menuliskan nama Yahya yang suci bukanlah suatu kekecualian dalam kebiasaan Yahudi Kristen kuno itu.. Jika "Judah saudara laki-laki dari Tuhan (Lord)" dapat mempercayai bahwa "Enoch (Idris) adalah Ketujuh dari Adam" adalah penulis yang sebenarnya dari seratus sepuluh pasal yang mengandung nama itu, tidak mengherankan bahwa Justin si Syuhada, Papas, dan Eusebius pasti akan percaya pada kepengarangan Matius dan Yohanes.

    Namun tujuan saya bukanlah untuk mengritik kepengarangan dari, atau untuk memperluas komentar atas wahyu yang bermakna ganda dan misterius yang disusun dalam keadaan yang paling menyakitkan dan menyusahkan dalam sejarah bangsa Yahudi; tetapi untuk memberikan pertanggung jawaban tentang asal usul dari sebutan "Anak Manusia" dan untuk menjelaskan arti sesungguhnya daripadanya. Juga buku Enoch, seperti halnya Apokalipse dan gereja dan seperti juga Injil, berbicara tentang akan datangnya "Anak Manusia" untuk membebaskan hamba Tuhan dari musuhnya dan mencampur adukkan visi ini dengan Hari Pengadilan Terakhir.
     

  2. Wahyu Sibylline yang disusun sesudah kehancuran terakhir Jeruzalem oleh tentara Romawi, menyebutkan bahwa "Anak Manusia" akan muncul dan membinasakan Kerajaan Romawi dan menjadikan orang beriman percaya percaya kepada hanya Satu Tuhan saja. Kitab ini telah ditulis paling tidak empat puluh tahun sesudah Jesus Kristus.
     

  3. Kita telah menyaksikan penyajian "Anak Manusia" ketika kita membicarakan visi dari Nabi Daniel (Daniel vii. Lihat artikel "Muhammad Dalam Perjanjian Lama" dalam Islamic Review November 1938.

  1. "Anak Manusia" dalam Apokalipse pasti bukan Jesus Kristus

    Sebutan "anak Manusia" ini secara mutlak tidak berlaku bagi anak Maryam. Semua kepura-puraan atau kepalsuan dari "apa yang-disebut Injil" yang menjadikan "Domba" dari Nazareth "menangkap raja-raja di tengah kehidupan yang penuh gairah serta menghela raja-raja itu masuk ke dalam neraka;" (Enoch xlvi. 4-8) memiliki cacad ketiadaan otentisitas dan jarak waktu yang memisahkannya dari "Anak Manusia" yang berbaris beserta legiun para malaikat di atas awan ke arah Singgasana dari Yang Maha Abadi adalah lebih banyak daripada jarak dari bumi kita ke planet Jupiter. Bisa saja dia "anak manusia" dan seorang "almasih," seperti halnya setiap raja, nabi dan kepala pendeta Yahudi, namun dia bukan "Anak Manusia" bukan juga seorang "Al Masih" yang telah diceriterakan oleh para nabi dan ramalan Yahudi.. Dan orang-orang Yahudi seratus persen benar untuk menolak gelar dan jabatan itu bagi Jesus. Jelas kesalahan orang Yahudi itu ialah dalam mengingkari kenabiannya, dan bertindak kriminal telah mengalirkan darahnya yang tidak berdosa - seperti mereka dan orang Kristen mempercayainya. "Dewan Sinagog Agung" sesudah kematian Simeon yang adil dalam tahun 310 SM telah digantikan oleh "Sanhedrin," yang presidennya disebut "Nassi" atau Pangeran. Mengangumkan bahwa "Nassi" yang mengadili Jesus, yang telah mengatakan: "Adalah lebih menguntungkan bahwa satu orang harus mati daripada seluruh bangsa dimusnahkan," (Yohanes xi. 50), adalah seorang nabi (Idem, 51)! Kalau dia adalah seorang nabi, betapa mungkin bahwa dia tidak mengenal misi kenabian atau karakteristik almasih dari "Al Masih"?

    Maka inilah alasan-alasan utama mengapa Jesus itu bukan "Anak Manusia" juga bukan Al Masih yang diceriterakan dalam Apokalipse:

  1. Seorang Utusan Tuhan tidaklah diperintah untuk membuat ramalan untuk dirinya sendiri sebagai tokoh masa yang akan datang., atau untuk menceriterakan reinkarnasinya sendiri dan dengan begitu menyajikan dirinya sebagai pahlawan dalam drama besar dunia yang akan datang. Yakub telah meramalkan tentang "Nabi Allah" (Genesis xlix. 10), Musa tentang seorang nabi yang akan datang sesudah beliau dengan Hukum, dan Israel dianjurkan dengan sangat untuk mematuhinya (Deuteronomy xviii. 15); Haggai meramalkan Ahmad (Hagai ii. 7); Malakhi meramalkan kedatangan "Utusan dari Perjanjian (Covenant)" dan Eliyah (Malakhi iii. 1, iv. 5), tetapi tidak seorang nabipun pernah meramal kedatangannya sendiri kembali untuk kedua kalinya ke dunia ini. Apa yang sangat tidak wajar dalam hal Jesus adalah bahwa beliau dibuat untuk berpura-pura dalam identitas sebagai "Anak Manusia" namun beliau tidak sanggup hingga taraf terendah sekalipun untuk mengerjakan karya yang "Anak Manusia" yang diramalkan itu telah diharapkan untuk mewujudkannya! Menyatakan kepada orang-orang Yahudi yang ada dalam genggaman Pilate bahwa beliau adalah "Anak Manusia", dan lalu berkunjung kepada Caesar; dan mengaku bahwa "Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk tidur;" dan kemudian menunda pembebasan rakyat dari kekuasaan Romawi untuk jangka waktu yang tidak terbatas, secara praktis adalah meremehkan bangsanya, dan mereka yang meletakkan hal-hal yang irasional dan tidak masuk akal itu sebagai perkataan Jesus hanya menjadikan dirinya sebagai orang gila.

  2. Jesus mengetahui dengan lebih baik daripada orang lain di Israel, siapa gerangan "Anak Manusia" itu dan apa pula misinya. Beliau ditugaskan untuk menurunkan raja-raja yang jahat dan untuk melemparkan mereka ke dalam api neraka. "Wahyu Baruch" dan wahyu dari Ezra - Kitab Keempat dari Esdras dalam Vulgate - berbicara tentang munculnya "Anak Manusia" yang akan membangun Kerajaan Perdamaian yang kuat di atas reruntuhan kerajaan Romawi. Semua wahyu apokripal ini menunjukkan keadaan kejiwaan bangsa Yahudi pada saat itu yang mengharapkan datangnya Nabi akhir terbesar yang mereka sebut "Anak Manusia" dan "Al Masih." Jesus tak mungkin tidak mengetahui dan tidak mengenal literatur ini serta harapan penuh gairah dari bangsanya. Tidak bisa beliau mengasumsikan dirinya sendiri dengan kedua sebutan itu ("Anak Manusia" dan "Al Masih") dalam pemahaman yang dikaitkan kepada kedua sebutan itu oleh Sanhedrin - Pengadilan Tertinggi dari Jeruzalem - agama Yahudi atau Judaisme; karena beliau bukan "Anak Manusia" dan "Al Masih," karena beliau tidak memiliki program politik dan rencana sosial, dan karena beliau sendiri adalah bentara dari "Anak Manusia," dan "Al Masih" - Adon, Nabi yang menaklukkan, Yang diurapi dan dijuluki dengan Pemimpin Para Nabi.

  3. Penelitian kritis atas sebutan "Anak Manusia" yang diletakkan sebanyak delapan puluh tiga kali pada mulut sang guru akan dan harus berakibat dengan kesimpulan bahwa Jesus sendiri tidak pernah mengenakan gelar-gelan itu pada dirinya sendiri; dan sesungguhnyalah beliau seringkali menggunakan gelar itu pada orang ketiga. Beberapa contoh akan mencukupi kiranya untuk meyakinkan kita bahwa Jesus mengenakan gelar itu pada orang lain yang akan muncul di masa yang akan datang.

  1. Seorang penulis, yaitu seorang yang terpelajar, mengatakan: "Saya akan mengikuti anda ke manapun anda pergi." Jesus menjawab: "Anjing mempunyai liangnya; burung sorga sarangnya; tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk tidur." (Matius viii. 20). Dalam ayat berikutnya Jesus menolak memberi izin kepada seorang di antara pengikutnya untuk pergi dan menguburkan ayahnya! Anda tidak akan menjumpai seorang sucipun, romo, atau ahli tafsir yang telah menyulitkan kepalanya atau akal budinya hanya sekedar untuk memahami nalar yang sederhana yang terkandung dalam penolakan Jesus untuk mengizinkan penulis terpelajar itu mengikutinya. Jika beliau mempunyai tempat untuk 13 orang, pastilah beliau dapat memberikan tempat bagi yang keempat belas juga. Disamping itu beliau pastilah sudah dapat memasukkannya ke dalam kelompok tujuh puluh orang pengikutnya (Lukas x. 1). Penulis yang dalam persoalan ini bukan seorang nelayan yang bodoh seperti anak-anak Zebedee dan Yunus.; doa adalah seorang sarjana dan seorang ahli hukum praktek. Tidak ada alasan untuk mencurigai ketulusannya; dia dibuat menjadi yakin bahwa Jesus ialah Al Masih yang diramalkan, Anak Manusia, yang setiap saat mungkin memanggil legiun langitnya dan menaiki singgasana nenek moyangnya - Daud. Jesus melihat pandangan yang salah dari penulis itu, dan dengan terus terang membuatnya mengerti bahwa beliau yang tidak mempunyai tanah seluas kurang dari 2 meter persegi (dua yard persegi) di bumi ini untuk tempat tidurnya, pastilah bukan "Anak Manusia"! Beliau tidak berlaku kasar terhadap penulis itu; beliau menyelamatkannya dengan kemurahan hatinya dari membuang waktu dengan sia-sia untuk mengejar sebuah harapan yang kosong!
     

  2. Diceriterakan bahwa Jesus Kristus telah menyatakan bahwa Anak Manusia itu "akan memisahkan biri-biri dari kambing." (Matius xxv. 31-34). Biri-biri tiu lambang dari orang-orang Israel yang beriman yang akan memasuki Kerajaan, tetapi kambing menunjuk pada orang-orang Yahudi yang tidak beriman yang telah bergabung dengan musuh dari agama sejati dan dengan sendirinya ditakdirkan untuk dimusnahkan. Secara praktis ini ialah apa yang telah diramalkan dalam wahyu (Apocalypse) dari Enoch (Idris) tentang Anak Manusia. Jesus hanya menegaskan wahyu Enoch itu dan memberi karakter sakral. Beliau sendiri diutus sebagai penganjur bagi orang Israel (Matius xv. 24) untuk tetap setia kepada Tuhan dan menunggu dengan sabar kedatangan Anak Manusia yang akan datang untuk menyelamatkan mereka untuk selamanya dari musuh mereka; namun beliau sendiri bukanlah Anak Manusia, dan tidak berkaitan apapun dengan dunia politik, demikian juga tidak dengan "biri-biri" dan "kambing" yang keduanya sama-sama menolak dan membenci beliau, kecuali sebagian kecil orang yang mencintai dan beriman kepada beliau.
     

  3. "Anak Manusia" itu dikatakan sebagai "Tuan dari Hari Sabath," yaitu, bahwa dia memiliki kekuasaan untuk meniadakan hukum yang membuat hari itu sebagai hari istirahat yang suci dari pekerjaan, Jesus adalah penganut taat hari Sabath, di hari mana beliau biasa menghadiri kebaktian di kuil atau sinagog. Dengan jelas beliau memerintahkan para pengikutnya untuk berdo'a agar kehancuran bangsa dalam pemusnahan Jeruzalem itu tidak akan terjadi di hari Sabath. Lalu bagaimana mungkin bahwa Jesus mengklaim dirinya sebagai Anak Manusia, Tuan hari Sabath, sementara beliau berwajib untuk mengikuti dan memelihara hari itu seperti orang-orang Israel lainnya? Bagaimana mungkin beliau berani mengklaim dirinya untuk gelar yang membanggakan itu dan lalu meramalkan kehancuran kuil dan ibu kota negeri?
     

Hal-hal ini dan beberapa contoh lainnya menunjukkan bahwa Jesus tidak pernah dapat memakai gelar atau sebutan "Barnasha" bagi dirinya sendiri, tetapi beliau mengenakan gelar itu pada Nabi Terakhir Yang Sangat Berkuasa, yang telah menyelamatkan "biri-biri" itu - yaitu orang Israel yang beriman -dengan sebenarnya; dan tidak memusnahkan atau memporak perandakan orang-orang yang tidak beriman di antara orang-orang Israel; tidak pula menghapuskan hari Sabath; juga tidak mendirikan Kerajaan Perdamaian; tidak pula menjanjikan bahwa agama dan kerajaan ini akan bertahan hingga Hari Kiamat.

Dalam karangan yang berikutnya akan kita mengalihkan perhatian kita untuk menemukan semua ciri dan karakteristik dari "Anak Manusia" yang diramalkan yang secara harfiah dan sempurna terdapat pada diri Nabi Allah Yang Terakhir, semoga keselamatan dan berkah Allah bersama beliau!

 

 

 


Catatan kaki

 


 

pakdenono@yahoo.com