"WHAT EVERY CHRISTIAN & JEW SHOULD KNOW"
TENTANG SANG PENCIPTA, KITAB SUCI & NABI-NABI
 

Oleh PROFESOR DAVID BENJAMIN KELDANI B.D.

(Wafat 1940) Dahulu Uskup Uramiah, Kaldea.

Alih Bahasa Oleh: H.W. Pienandoro SH
download : www.pakdenono.com

B. MUHAMMAD SAW DALAM PERJANJIAN BARU


Bab 21
 

ANAK MANUSIA MENURUT VERSI WAHYU YAHUDI

 

Dari apa yang telah dibicarakan dalam halaman-halaman ini maka sebutan "Barnasha" atau "Anak Manusia" bukanlah sebuah gelar seperti "Al Masih" yang dapat diberikan kepada sebarang nabi, kepala pendeta, dan raja yang secara sah telah diurapi, tetapi bahwa sebutan ini adalah sebuah kata nama diri (proper noun) yang merupakan milik khusus Nabi Terakhir. Para Penglihat Masa Depan (semacam para normal), para sofi (semacam ahli falsafah bukan ahli tasawuf) dan para ahli wahyu (apocalyptist) melukiskan "Anak Manusia" yang akan datang pada waktunya seperti telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa untuk menyelamatkan orang-orang Israel dan Jeruzalem dari penindasan kaum kafir dan untuk mendirikan kerajaan "Orang-orang suci dari Yang Maha Tinggi" yang permanen. Para penglihat masa depan, para sofi meramalkan bangkitnya seorang Penyelamat Yang Sangat Berkuasa; mereka melihat dia - hanya dalam suatu visi, wahyu dan keimanan - dengan segala kuasa dan kemuliaannya. Tidak ada Nabi atau Sofi yang pernah berkata bahwa dia sendiri adalah "Anak Manusia" itu, dan bahwa dia "akan datang lagi pada Hari Akhir untuk mengadili baik orang-orang yang pandai ("quick") dan yang sudah mati, seperti dituliskan dalam Dekrit Nicea yang seakan-akan itu dilakukan atas kuasa Jesus Kristus.

Penggunaan yang sering oleh para penginjil atas sebutan yang kita persoalkan ini menunjukkan, dengan sangat pasti, pengenalan mereka dengan Wahyu Yahudi (Jewish Apocalypses), seperti juga suatu keyakinan yang mantap dalam otentisitas dan asal muasalnya yang suci. Sangat jelas bahwa Wahyu yang memuat nama-nama nabi Enoch (Idris), Musa, Baruch, dan Ezra telah ditulis jauh sebelum Injil; dan bahwa nama "B arnasha" yang disebut di dalamnya itu dipinjam oleh para pengarang Injil; jika tidak demikian maka penyebutan gelar itu yang sering dilakukan akan menjadi misterius dan tidak dapat dimengerti sama sekali - jika bukan suatu penemuan baru yang tidak memiliki arti apapun. Karena itu diikuti dengan bahwa Nabi Jesus itu: atau beliau mempercayai dirinya adalah "Anak Manusia" seperti tersebut dalam Wahyu; atau beliau mengetahui bahwa "Anak Manusia" itu adalah seseorang yang berbeda sama sekali daripada dirinya sendiri. Jika beliau meyakini dirinya adalah "Anak Manusia" itu, maka berikutnya ialah atau Jesus itu atau para Ahli Wahyu itu yang melakukan kesalahan; dan dalam hal manapun dari kedua alternatif itu semua argumen dengan sangat pasti akan bertentangan dengan Jesus Kristus. Karena kesalahan beliau mengenai dirinya sendiri serta misinya adalah sama buruknya dengan ramalan yang keliru dari para Ahli Wahyu yang beliau yakini sebagai orang-orang yang mendapat ilham suci. Sudah barang tentu penalaran yang dilematik ini akan membawa kita pada kesimpulan akhir yang tidak menguntungkan bagi diri beliau sendiri. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Nabi Jesus dari ketidak hormatan ini ialah untuk memandang beliau sebagaimana diungkapkan oleh Al Qur'an kepada kita; dan sesuai dengan itu memberikan tanggung jawab semua pernyataan yang bertolak belakang serta tidak koheren mengenai diri beliau di dalam Injil itu kepada para pengarang Injil itu sendiri atau para redaktirnya.

Sebelum membicarakan lebih lanjut tentang subyek "Anak Manusia" sebagaimana digambarkan dalam Wahyu Yahudi, beberapa fakta harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Pertama, Kitab-kitab Wahyu itu bukan saja tidak termasuk dalam kanon Injil Ibrani, bahkan kitab -kitab itu tidak pula termasuk dalam Apocrypha atau yang disebut kitab-kitab Perjanjian Lama yang "Deutro-canonical". Kedua, pengarang kitab-kitab itu tidak diketahui. Kitab-kitab itu mencantumkan nama Enoch, Musa, Baruch, Ezra, namun pengarang atau editor yang sesungguhnya tampaknya telah mengetahui pemusnahan final atas Jeruzalem dan berseraknya orang-orang Yahudi di bawah pemerintah Romawi. Nama-nama pseudo ini telah dipilih, bukan dengan tujuan penipuan, tetapi karena motif kealiman oleh para sofi atau ahli penglihat masa depan yang telah menyusun kitab-kitab itu. Bukankah Plato telah mengatas namakan pandangannya dan dialektikanya itu pada sang guru Socrates? Ketiga, "kitab-kitab" ini menurut Rabbi Agung Paul Haguenauer adalah "dalam bentuk yang bertolak belakang, misterius, supernatural, mencoba untuk menerangkan rahasia alam, asal muasal (sic) Tuhan, masalah baik dan buruk, keadilan dan kebahagiaan, masa lalu dan masa yang akan datang. Terhadap semua masalah itu kitab Wahyu (Apocalypse) itu mengungkapkan beberapa hal yang melampaui pengertian manusia pada umumnya. Pribadi-pribadi utamanya ialah Enoch, Musa, Baruch, Ezra. Tulisan-tulisan ini jelas sekali produk dari masa derita dan bencana dari Judaisme (Munuel de Litterature Juivre Nancy, 1927). Konsekuensinya ialah kitab-kitab itu tidak sepenuhnya dapat lebih dimengerti lagi daripada wahyu yang memakai nama apostel St Yohanes. Keempat, wahyu-wahyu ini telah diinterpolasi (ditambahi atau disisipi) oleh orang-orang Kristen. Dalam kitab Enoch "Anak Manusia" itu juga disebut "Anak Perempuan" serta "Anak Tuhan", dengan begitu ada interpolasi teori inkarnasi gereja; sangat pasti sekali bahwa tidak akan mungkin ada orang Yahudi yang akan menulis "Anak Tuhan". Kelima, akan dicatat bahwa doktrin mengenai al masih ini adalah sebuah perkembangan kemudian dari ramalan-ramalan kuno tentang Nabi Allah Yang Terakhir sebagaimana telah diramalkan oleh Yacob dan Nabi-Nabi lainnya. Bahwa "Penyelamat Terakhir" ini diklaim sebagai dari turunan Daud hanyalah terdapat dalam Apocrypha dan Apocalypse, dan khususnya dalam tulisan para Rabbi (pendeta Yahudi). Benar bahwa ada ramalan sesudah penangkapan oleh orang Babilonia, dan bahkan sesudah deportasi atas Sepuluh Suku Bangsa ke Asiria, mengenai "Anak Daud" yang akan datang untuk mengumpulkan kembali orang-orang Israel yang tersebar itu. Namun semua ramalan itu telah tergenapi hanya sebagian saja di bawah Zorobabel - seorang dari turunan Raja Daud. Kemudian sesudah invasi orang Yunani ramalan yang sama telah diungkapkan dan diumumkan, dan kita hanya melihat Judah Maqbaya yang berjuang dengan sedikit keberhasilan melawan Antiochus Epiphanes. Tambahan lagi, sukses ini bersifat sementara dan tidak bernilai permanen. Kitab wahyu (apocalypse) yang membawakan visinya dari masa sesudah pemusnahan Jeruzalem oleh Titus dan Vespasian, meramalkan "Anak Manusia" yang akan muncul dengan kekuasaan dan kekuatan besar untuk membinasakan kekuasaan Romawi dan musuh-musuh orang Israel lainnya. Dua puluh abad telah berlalu sebelum Kekaisaran Romawi dibinasakan dalam abad ke 5 S.M. oleh seorang maharaja Turki - Atilla - seorang Hun yang musyrik - dan akhirnya oleh seorang Turki Muslim, Fatih Muhammad II. Namun kekuasaan itu telah dibinasakan secara menyeluruh dan untuk selamanya di tanah yang dijanjikan kepada Ismail oleh Sultan para Nabi, Muhammad al-Mustapha.

Kini tinggal ada dua observasi yang saya tidak dapat mengingkarinya dalam kaitan ini. Kalau saja saya ini seorang Zionist yang penuh semangat, atau seorang Rabbi yang paling terpelajar, pastilah saya sekali lagi akan mempelajari masalah ke - almasihan ini seintensif dan seadil mungkin (tidak berpihak) yang dapat saya lakukan. Dan kemudian saya akan menganjurkan dengan sangat rekan-rekan seagama saya orang-orang Yahudi untuk menghentikan dan meninggalkan harapan (akan datangnya al masih - pen.) ini selama-lamanya. Bahkan seandainya "Anak Daud" menampakkan diri di atas bukit Zion, dan meniup trompet, dan mengklaim dirinya "Al Masih", saya akan menjadi orang pertama yang akan mengatakan kepada mereka dengan garang: "Maaf tuan-tuan, anda telah terlambat! Jangan ganggu keseimbangan di Palestina! Jangan tumpahkan darah! Jangan biarkan para malaikat anda mencampurkan diri dengan racun yang mengerikan ini! Apapun keberhasilan yang mungkin anda peroleh dari petualangan anda, saya khawatir keberhasilan itu tidak akan melampaui keberhasilan nenek moyang anda Raja Daud, Zorobabel, dan Judah Maccabaeus (Maqbaya)!" Penakluk Agung dari Ibrani bukanlah Daud tetap Jesus bar Nun (Joshuah); dia adalah almasih yang pertama, yang bukannya mengkonversikan orang-orang musyrik penyembah berhala dari suku bangsa Kanaan yang telah begitu banyak menunjukkan keramahan dan kebaikan kepada Nabi Ibrahim, Ishak dan Yacob, namun bahkan tanpa ampun telah membunuh semuanya. Dan Joshuah tentu saja adalah seorang Nabi dan Al Masih pada waktunya. Setiap Hakim Israel selama kurun waktu tiga abad atau lebih adalah seorang Al Masih dan Penyelamat. Dengan demikian kita dapati bahwa selama masa bencana nasional, terutama sebuah katastrofi, seorang Al Masih telah diramalkan, dan seperti biasanya penyelamatan itu selalu terwujud segera setelah bencana itu dan dalam tingkat yang sangat kurang memadai. Merupakan sifat yang aneh bangsa Yahudi bahwa hanya mereka sendiri sajalah dari seluruh bangsa-bangsa, melalui penaklukan-penaklukan yang mentakjubkan oleh seorang Anak Daud, menginginkan dominasi universal atas seluruh penduduk dunia. Kesemrawutan dan kelambanan mereka itu sangat sesuai dengan keyakinan mereka yang tidak tergoyahkan akan kebangkitan "Singa dari Judah". Sementara mereka menanti Moshiakh yang di dalam Islam disebut sebagai "Massiekh, ad-dajjal" yang berarti yang anti Kristus atau almasih palsu. Dan barangkali itulah alasan mengapa mereka itu memusatkan seluruh sumber daya, enerji dan kekuatan nasional mereka serta melakukan usaha bersama untuk menjadi orang yang memerintah dirinya sendiri (bangsa merdeka). Ini ialah introduksi dari kesimpulan tentang munculnya mahluk yang anti kristus dan munculnya cicit dari Nabi Muhammad saw, Al Mahdi, melalui puteri beliau Fatimah yang dipercayai baik oleh kaum Sunni maupun Syi'ah. Al Mahdi akan memerangi mereka yang anti kristus, kemudian Jesus akan turun dan membunuh anti kristus itu di bawah pohon yang menghadap ke danau Tiberias yang telah menjadi kering untuk masa yang panjang, tetapi kini telah berisi air kembali.

Nah kini orang-orang Kristen yang mengklaim Jesus adalah Anak Manusia yang diramalkan itu, saya ingin memberanikan diri untuk berkata: Jika beliau itu benar Sang Penyelamat bangsa Israel pastilah beliau telah menyelamatkan bangsa itu dari kekuasaan Romawi, tidak peduli apakah orang Yahudi mempercayai beliau apa tidak. Penyelamatan yang utama, terima kasih dan kesetiaan kemudian; dan bukan sebaliknya. Pertama-tama orang harus dibebaskan dari kaum penakluknya dengan membunuh atau menakuti mereka, dan kemudian diharapkan mereka menunjukkan keterikatan dan kesetiaannya kepada sang penyelamat. Orang-orang Yahudi bukanlah pasien dari sebuah rumah sakit yang harus dikunjungi para dokter dan perawat; mereka praktis adalah tawanan yang terikat dan perlu ada seorang pahlawan untuk memerdekakan mereka. Keyakinan mereka kepada Tuhan dan kepada hukumNya adalah sesempurna para nenek moyangnya di kaki bukit Sinai ketika Dia menurunkannya kepada Nabi Musa. Mereka tidak memerlukan seorang nabi penyihir; seluruh sejarah bangsa itu telah terjalin erat dengan hal-hal yang mentakjubkan serta keajaiban. Hidupnya lagi Lazarus yang telah mati, terbukanya mata buta Barimaeus, atau penyembuhan penderita lepra yang telah tersingkir, tidaklah pernah akan memperkuat keyakinan mereka dan tidak pula akan memuaskan kehausan mereka akan kebebasan dan kemerdekaan. Orang-orang Yahudi itu menolak Jesus bukan karena beliau itu bukan "Anak Manusia" yang diramalkan atau Al Masih - bukan pula karena beliau itu bukan seorang Nabi, karena mereka mengetahui dengan pasti bahwa beliau tidak mengklaim dirinya sebagai "Anak Manusia" yang diramalkan itu, dan bahwa beliau itu benar seorang Nabi, tetapi karena mereka membenci Jesus disebabkan perkataan beliau: "Al Masih itu bukan keturunan Nabi Daud (Anak Daud), tetapi Al Masih itu adalah Tuan (Lord) beliau (Matius xxii. 44-46; Markus xii. 35-37; Lukas xx. 41-44).

Sangat jelas sekali karena itu bahwa penerimaan atau penolakan oleh orang-orang Yahudi atas Jesus itu bukan suatu syarat sine qua non untuk menentukan sifat dari misinya. Jika beliau itu seorang Penyelamat Yang Terakhir pastilah beliau telah membuat orang-orang Yahudi itu tunduk patuh kepadanya, nolens volens, seperti yang telah diperbuat oleh Nabi Muhammad saw. Namun kontras antara dua keadaan yang dijumpai oleh masing-masing dari dua orang Nabi itu sendiri, dan hasil karya mereka, tidak mengenal dimensi dan batas. Cukup kiranya untuk mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw telah menkonversikan sekitar sepuluh juta orang Arab yang penyembah berhala itu menjadi bangsa yang memiliki keyakinan yang sangat tulus dan bergairah kepada Tuhan yang sebenarnya, dan hampir sama sekali mencabut akar kemusyrikan di negeri di mana kemusyrikan itu telah berurat berakar. Hal ini beliau lakukan, karena di satu tangan beliau memegang Hukum dan di tangan lainnya Tongkat Kekuasaan (Sceptre); yang pertama ialah Al Qur'an dan yang kedua ialah lambang kekuasaan dan pemerintahan. Beliau dibenci, dicaci maki, ditindas oleh orang-orang Arab dari puak yang paling terhormat di mana beliau itu berasal, dan terpaksa lari untuk menyelamatkan diri; namun dengan berkat Kekuasaan Allah beliau telah berhasil membuat karya terbesar bagi jalan agama yang benar yang tidak ada Nabi lainnya sebelum beliau yang pernah bisa mewujudkannya.

Kini saya akan melanjutkan untuk menunjukkan bahwa Anak Manusia yang diramalkan itu tidak lain ialah Nabi Muhammad al-Mustapha.

  1. Bukti yang paling absah dan penting bahwa Barnasha yang diramalkan itu ialah Nabi Muhammad saw diberikan dalam deskripsi yang indah dalam visi Nabi Daniel (vii) yang telah dibicarakan dalam artikel terdahulu. Dengan cara apapun tidak mungkin menemukan Barnasha seperti digambarkan di dalam visi Nabi Daniel pada siapapun pahlawan orang-orang Maqbaya (Makabi) atau pada diri Nabi Jesus; tidak pula mungkin bahwa Binatang yang mengerikan yang telah dibunuh dan dibinasakan oleh Anak Manusia itu seorang prototipe Antiochus Epiphanes atau kaisar Romawi Caesar, Nero. Kejahatan terpuncak dari Binatang yang mengerikan itu ialah "tanduk Kecil" yang mengucapkan hujatan terhadap Yang Maha Tinggi dengan menyekutukan ZatNya dengan tiga pribadi suci yang sama-sama abadi dan penindasan terhadap mereka yang tetap menyakini Keesaan Tuhan. Constantine Agung adalah manusia yang dilambangkan sebagai Tanduk Kecil yang tersembunyi itu.

  2. Kitab Enoch (Apocalypse of Enoch) (*) meramalkan kehadiran Anak Manusia pada saat ketika sekelompok kecil domba, meskipun dipertahankan dengan mati-matian oleh seekor domba jantan, akan diserang dengan hebat oleh sekawanan burung pemangsa dari atas dan oleh binatang-binatang buas pemakan daging di daratan. Di antara musuh-musuh kelompok kecil domba itu tampak terlihat banyak kambing-kambing jantan dan domba lainnya yang telah tersesat. Tuan dari kelompok itu, seperti halnya seorang gembala yang baik, tiba-tiba muncul dan menghantam bumi dengan tongkat kekuasaannya (sceptre); bumipun membuka dan menelan musuh yang menyerang itu; mengejar dan mengusir pergi dari padang gembalaan sisa-sisa dari burung dan orang-orang biadab. Kemudian sebuah pedang diberikan kepada kelompok itu sebagai lambang kekuasaan dan senjata pemusnah. Sesudah itu kelompok itu tidak lagi dipimpin oleh domba jantan tetapi oleh sapi putih dengan dua buah tanduk besar berwarna hitam.

    (*)
    Catatan Prof. Keldani :
    - Saya menyesal untuk mengatakan bahwa "Jewish Apocalypses" tidak bisa saya peroleh. Buku-buku ensiklopedi hanya memberikan suatu konpendium dari masing-masing kitab, yang tidak memuaskan maksud saya untuk meneliti teks itu. Saya tahu bahwa archbishop Laurence dari Irlandia telah menterjemahkan apocalypse ini ke dalam bahasa Inggris, namun sayang itupun tidak bisa saya peroleh)


    Visi yang parabolik ini cukup transparan. Dari Nabi Yakub ke bawah "orang-orang terpilih" itu diwakili secara simbolis oleh kelompok domba. Keturunan Esau digambarkan sebagai babi. Orang-orang da suku-suku bangas kafir lainnya dalam visi itu diwakili oleh, sesuai dengan karakteristik masing-masing, sejenis gagak (ravens), rajawali (eagles), burung hering (vultures) dan jenis-jenis kejam yang berbeda-beda, semua haus untuk menghisap darah domba atau lapar untuk mengganyang mereka. Hampir semua pakar Injil setuju bahwa visi itu menunjuk pada masa derita dan orang-orang Maqbaya dan perjuangan berdarah mereka melawan tentara Antiochus Epihanes hingga kematian John Hurcanus dalam tahun 110(?) S.M.. Cara menafsirkan visi ini adalah sama sekali salah, dan mengurangi arti dari seluruh kitab menjadi nol. Bahwa seorang Nabi dari masa sebelum banjir besar (antediluvian) atau seorang Penglihat Masa Depan harus mengilustrasikan sejarah manusia dari sudut pandang agama, mulai dari Adam, di bawah lambang Sapi Putih, dan berakhir dengan John Hurcanus atau saudara laki-lakinya Judah Maccabacus (Maqbaya) sebagai Sapi Putih Terakhir, dan kemudian meninggalkan kelompok "orang-orang beriman" untuk diganyang lagi oleh orang-orang Romawi, orang-orang Kristen, dan orang-orang Islam hingga kini, adalah sangat tidak masuk akal dan mengejutkan. Pada kenyataannya, perang Maqbaya dan konsekuensinya tidak begitu berarti dalam sejarah agama Tuhan untuk menjadi yang akhir titik perkembangannya. Tidak seorangpun orang Maqbaya yang menjadi nabi, tidak juga mereka para pendiri apa yang disebut "pemerintahan Mesianik" yang Injil menyebutnya sebagai "Kerajaan Tuhan". Tambahan lagi, interpretasi visi ini tidak konsisten dengan karakter yang diwakili dalam drama di bawah lambang figuratif tuan dari kelompok, tongkat kekuasaan di tangan, Domba jantan, dan Sapi Putih; dan kemudian dengan sebuah pedang besar yang diberikan kepada para penggembala dengan mana mereka membunuh atau mengenyahkan binatang dan burung-burung yang berdosa itu. Selanjutnya, interpretasi ala Kristen atas kitab ramalan Enoch tidak menerangkan transplantasi yang mistikal atau pemindahan Jeruzalem yang ada di bumi itu ke suatu negeri yang lebih ke selatan; dan arti apa dapat diberikan kepada Rumah Tuhan yang baru itu yang dibangun di tempat yang lama, lebih besar dan lebih tinggi daripada bangunan terdahulu yang sakral, ke mana kelompok-kelompok bukan saja dari orang-orang beriman - orang-orang Yahudi yang setia - tetapi juga berbagai bangsa-bangsa kafir yang telah memeluk agama Anak Manusia yang telah membinasakan musuh dengan tongkat kekuasaan! Karena semua perbuatan dan representasi khusus dilihat dan digambarkan di dalam visi yang dramatis ini. Rantai yang menghubungkan semua peristiwa yang dilukiskan dalam bahasa figuratif itu bermula dari Nabi Adam dan berakhir pada diri pribadi Nabi dari Mekkah! Ada beberapa argumen yang otoritatif untuk membuktikan claim ini,

  1. pembagian menjadi dua atas domba itu menunjuk pada orang-orang ahli Kitab, apakah itu orang Yahudi atau orang Kristen, yang diantara mereka terdapat orang yang beriman kepada Satu Tuhan, dan juga orang-orang yang menjadi Nabi Jesus dan Roh Suci sama dan sezaman (sama-sama ada) dengan Tuhan. Para ahli penglihat masa depan membedakan orang-orang beriman dengan orang-orang yang ingkar (apostate). Injil menyebutkan bahwa pada Hari Pengadilan Akhir "domba itu akan dipisahkan dari kambing" (the sheep will be separated from the goats) - Matius xxv. 32-46. dsb. - yang menunjukkan kesamaan pandangan. Tentang "ram" (sejenis kambing jantan) yang simbolis, mungkin bisa kita artikan sebagai Arius atau beberapa pemimpin kaum Unitarian bagi kaum Nasrani, dan Rabbi Kepala untuk orang-orang Yahudi yang beriman - karena mereka keduanya memiliki musuh yang sama. Bila kita mengidentifikasikan Constantine dengan Tanduk yang jahat, secara adil kita boleh mengidentifikasikan Arius dengan "Ram". Sebenarnyalah Arius berhak atas kehormatan ini karena dia mengepalai kelompok yang lebih besar dalam Konsili Nicea dan dengan gigih mempertahankan agama sejati terhadap doktrin Tinitas yang mengerikan dan gereja-gereja Sakramen. Dari sudut pandang Muslim yang lurus, maka orang Yahudi sejak dari saat penolakan mereka dan penghukuman hingga mati atas Jesus Kristus telah berakhir bagi mereka sebutan "sebagai orang-orang yang terpilih", dan bahwa gelar kehormatan itu hanya boleh disandang oleh orang yang beriman kepada kerasulan Nabi Jesus.
     

  2. "Anak Manusi" yang telah menyelamatkan kelompok domba dari berbagai macam musuhnya yang telah dibenamkan ke dalam perut bumi dengan menghantamkan secara bersemangat kedudukannya yang pastoral kepada musuh itu dan memberikan pedang yang kuat kepada domba untuk membantai orang-orang biadab dan burung-burung pemangsa yang kafir, secara pastilah Nabi Muhammad saw. Tongkat Kerajaan (sceptre, atau shebet dalam bahasa Ibrani,) adalah lambang kedaulatan, jurisdiksi, dan pemerintahan. Sceptre kecil yang diberikan Tuhan kepada suku Judah (Genesis xlix. 10) telah diambil kembali, dan sceptre yang lebih kuat dan besar diberikan kepada Nabi Allah (("Shiloah") sebagai gantinya. Sesungguhnya sangat menakjubkan betapa visi kenabian dari para Penglihat Masa Depan dengan secara harfiah telah tergenapi ketika sceptre yang di tangan Nabi Muhammad saw menjadi lambang kedaulatan Muslim atas seluruh negara-negara Mesir, Asiria, Kaldea, Siria dan Arabia - di mana hamba-hamba Tuhan ditindas oleh kekuatan kaum musyrikin yang ada di negeri itu, dan oleh kekuatan asing (luar negeri) yang kafir dari Medo Persi, Yunani dan Romawi! Alangkah mulianya penggenapan ramalan itu ketika domba-domba itu, yang selama bertahun-tahun telah dihadapkan pada paruh dan cakar burung pemangsa yang tidak memiliki rasa belas kasih dan pada gigi-gigi dan cakar yang tajam dan mengerikan dari binatang-binatang, kini telah dilengkapi dengan sebuah pedang besar untuk mempertahankan diri yang dilakukan oleh kaum Muslimin hingga darah para Syuhada secara sama telah tertebus (Rev. vi. 9-11).
     

  3. Sapi Jantan Putih. Hingga zaman Nabi Ismail, semua Nabi dilambangkan sebagai sapi jantan putih; namun semenjak Nabi Yakub dan selanjutnya ke bawah para pangeran dari orang-orang terpilih muncul dalam bentuk "ram" - sejenis kambing jantan. Agama yang universil telah diperkecil menjadi agama nasional; dan Kaisar telah menjadi seorang Kepala kecil saja. Sekali lagi di sini ada penggenapan visi yang menakjubkan dalam zaman Islam. Para pemimpin atau para patriarch dari agama internasional dilambangkan sebagai sapi jantan putih, dan para pemimpin Muslim dari orang-orang beriman juga sebagai sapi jantan putih, dengan hanya satu perbedaan bahwa sapi jantan putih yang belakangan itu (pemimpin-pemimpin Muslim) mempunyai tanduk hitam yang besar sebagai lambang kekuasaan ganda, spiritual dan temporal. Di antara semua binatang menyusui yang murni tidak ada satupun yang lebih cantik dan mulia selain daripada sapi jantan putih, dan lebih begitu lagi terutama bila sapi jantan putih itu kepalanya dihiasi dengan sepasang tanduk hitam yang besar. Sapi itu tampak paling anggun sebagai raja dan penuh dengan keelokan! Sangat patut dicatat bahwa para Imam dari orang-orang beriman, apakah itu seorang khalifah atau seorang Sultan, atau memiliki kedua gelar tersebut, sangat terkemuka dan siang serta malam selalu disnari oleh kemurnian iman dan amalnya serta oleh kemantapan kekuatan dan kekuasaan atas orang-orang beriman yang begitu tak terhitung banyaknya yang terdiri semua jenis suku bangsa dan bahasa! Dengan secara tegas visi itu menyatakan dengan tulus masuknya dan penerimaan orang-orang yang berpindah agama (apostates) serta orang-orang yang tidak beriman ke dalam kelompok domba - orang Yahudi, beribu-ribu daripada mereka - orang-orang Kristen, dan Sabiin, begitu juga jutaan orang Arab dan bangsa-bangsa lain yang kafir, telah meyakini akan Keesaan Allah dan memeluk Islam. Dalam hubungan ini patut dicatat bahwa semua darah yang tertumpah dalam perang Badr, Uhud, dan ekspedisi lain-lainnya yang dipimpin secara pribadi oleh Nabi Muhammad saw, tidaklah dapat melebihi seperseratus dari darah yang tertumpah oleh Nabi Joshua. Namun tidak sepercik apapun kekejaman atau ketidak adilan dapat dituduhkan kepada Nabi Allah. Beliau adalah pengasih, mulia, pemurah, dan pemaaf. Itulah sebabnya mengapa hanya beliau sendiri saja "Anak Manusia" di antara semua ummat manusia yang diperlambangkan dalam berbagai visi para Nabi seperti halnya manusia pertama sebelum kejatuhannya!
     

  4. "Anak Manusia" itu mendirikan Kerajaan Damai, yang ibukotanya bukan lagi Jeruzalem, tetapi Jeruzalem baru - "Daru 's-Salam" atau "kota atau istana Perdamaian". Para Sofi atau para Penglihat Masa Depan dalam visi yang indah ini menceriterakan bagaimana Jeruzalem yang di bumi itu diangkat dan ditanamkan kembali di sebuah negeri di Selatan; tetapi sebuah Rumah Tuhan yang baru, lebih besar dan lebih tinggi daripada yang semula, dibangun di atas reruntuhan bangunan yang terdahulu! Tuhan Yang Maha Pengasih! betapa indahnya semua ini telah diwujudkan oleh NabiMu yang paling terkemuka dan suci Muhammad saw! Tidak lain dan tidak bukan Jeruzalem yang baru itu adalah Mekkah, karena kota ini tertelak di sebuah negeri di Selatan, dua bukitnya, "Marwa" dan "Sapha" menyandang nama yang sama dengan Moriah dan Zion, dari akar kata serta arti yang sama tetapi secara orisinil lebih dahulu adanya. "Irushalem" atau "Urshalem" dari masa lalu menjadi kota "Cahaya dan Perdamaian". Untuk alasan ini jugalah mengapa Mekkah sebagai tempat kedudukan Ka'aba yang suci menjadi Kiblat - arah yang orang-orang Muslim menghadapkan mukanya ketika bersholat. Di sini setiap tahun puluhan ribu (kini jutaan! - pen.) ummat Islam berhajji dari seluruh penjuru dunia berkumpul, mengunjungi Ka'aba yang suci, menunaikan korban, dan memperbaharui iman mereka kepada Allah dan berjanji menjalani hidup baru sebagai seorang Muslim yang taat. Bukan saja hanya Mekkah, tetapi juga Medina dan wilayah yang mengitarinya telah menjadi tanah suci dan tidak boleh melakukan pelanggaran di dalamnya, dan terlarang bagi setiap non Muslim, laki-laki atau perempuan! Juga hal ini ada dalam penggenapan visi Nabi Idris atau Enoch, bahwa khalifah kedua Omar bin Khatab r.a. membangun kembali Mesjid Suci di Jeruzalem di atas bukit Moriah, di tempat kedudukan Rumah Tuhan Solomon! Semua ini membuktikan dengan sangat indah bahwa visi yang dilihat oleh para Penglihat Masa Depan adalah karena ilham Tuhan, yang melihat peristiwa-peristiwa Muslim dalam masa datang yang jauh di depan. Dapatkah Roma dan Byzantium mengklaim dirinya sebagai Jeruzalem Baru? Dapatkah Paus atau Patriarch yang menghujat (kelompok dissident) mengklaim dirinya sebagai Sapi Jantan Apokaliptikal dengan dua buah tanduk yang besar? Dapatkah agama Kristen mengklaim dirinya sebagai Kerajaan Perdamaian (Islam="Shalom") sementara agama itu menjadikan Nabi Jesus dan Ruh Suci sezaman dan bersama ada dengan Tuhan Yang Maha Esa yang mutlak? Jawabannya seratus persen pasti tidak!!!
     

  5. Dalam bagian-bagian lalu yang berhubungan dengan Kerajaan Damai, Al Masih disebut Anak Manusia, tetapi dalam Pengadilan Akhir Zaman yang mengikuti akhir dari Pemerintahan Islam atau Perdamaian disebut sebagai "Anak Perempuan" dan "Anak Tuhan" dan dijadikan hadir besama Tuhan dalam Pengadilan Dunia. Para pakar semuanya mengakui bahwa pernyataan yang berlebihan dan tidak masuk akal ini tidak berasal dari orang Yahudi, tetapi berasal dari imajinasi orang-orang Kristen, disisipkan dan diinterpolasikan oleh orang Kristen.

Ramalan-ramalan (apocalypses) yang lain yang menyandang nama Musa, Baruch, Ezra, the Jubilees dan Oracula Sibylliana harus dipelajari secara tidak memihak, karena hanya dengan cara itu maka seperti halnya dengan ramalan Daniel dan Enoch, bukan saja ramalan itu bisa dimengerti tetapi juga membuktikan bahwa ramalan itu digenapi hanya oleh Nabi Muhammad saw.

 

 

 


Catatan kaki

 


 

pakdenono@yahoo.com