KATA PENGANTAR


KATA PENGANTAR

“Apakah sebabnya kamu mencari Yang Hidup di antara yang mati” (Lukas 24:5).

Yesus disalib pada suatu Jum’at sore, dan sebelum matahari terbenam, pada hari itu juga tubuh beliau diturunkan dari kayu salib dan dibaringkan dimakamnya Joseph dari Arimathea. Sebuah batu besar menutup pintu masuk makam itu. Pada hari Minggu, jasad beliau menghilang dari makam itu. Ramalan Bebel telah dipenuhi:
 

Yesus bangkit dari kematiannya. Tidak lama setelah beristirahat sebentar dengan para muridnya di bumi, kemudian ia naik ke langit untuk duduk di samping kanan tangan Tuhan.
 

Inilah dogma yang diterima Kristen. Tetapi ini bukan kisah yang menyeluruh, karena jasad Yesus dikatakan terbaring di makam “Rozabal” di Khanyar, daerah Srinagar, ibu-kota Kashmir (India).
 

Bagaimana ini mungkin terjadi jika Bebel menganggap penyaliban dan kematian serta kebangkitan Yesus itu benar? Faktanya adalah, tidak ada bukti sejarah bahwa Yesus wafat di kayu salib, dan tidak ada catatan, bahwa seseorang telah menyaksikan kebangkitan itu. Namun ada bukti yang harus dipertimbangkan bahwa ada seseorang yang ajaran-ajaran dan filsafatnya sama seperti Yesus yang berangkat ke arah Timur persis pada waktu itu dan meninggalkan jejak-jejak bukti kehidupan dan karyanya. Orang ini melakukan perjalanan ke Kashmir, di sana dia tinggal hingga akhir hayatnya.
 

Bukti inilah yang menjadi dasar hipotesa saya yang saya letakkan di dalam buku ini: “bahwa Yesus tidak wafat di atas kayu salib; ketika luka beliau akibat penyaliban itu sembuh, beliau pergi ke arah Timur untuk mencari sepuluh suku Israel yang hilang, yang tinggal ribuan mil di sebelah timur Palestina. Saya berpendapat, bahwa beliau berangkat dari Palestina bersama ibunda beliau, Maryam, dan muridnya, Thomas, yang menemani beliau selama perjalanannya menuju Kashmir, yakni sebuah negeri yang dikenal sebagai “Sorga di Bumi”. 
 

Maryam tidak bisa melanjutkan perjalannya berhubung mendapat kesukaran dalam penyesuain dengan iklim, beliau wafat (kini) di Pakistan, dekat perbatasan Kashmir (India-Pakistan – penj.). Nama makam di sana masih tetap menjadi ceritera turun-temurun, bahwa tempat itu sebagai tempat dimakamkannya Bunda Yesus. Yesus tinggal di Kashmir, memulai kehidupan baru, dan akhirnya wafat secara wajar pada usi6 lanjut. Thomas yang tinggal bersama Yesus, ketika beliau wafat, kembali berziarah ke makam Maryam, kemudian melanjutkan perjalanannya ke India selatan, dan di sana ia sampai meninggal dunia. 
 

Sejumlah ceritera kuno, adat-istiadat serta tulisan-tulisan kuno menunjukkan, bahwa Yesus datang ke Kashmir dari Palestina dan wafat di sana. Berbagai keterangan itu juga menyatakan, bahwa beliau menjadi ayah beberapa anak di Kashmir. Salah seorang yang sekarang tinggal di Srinagar, Sahibzada Basharat Saleem, memiliki satu daftar silsilah keturunan yang menelusur keturunannya langsung dari Yesus.
 

Ada lagi bukti, bahwa Yesus mengunjungi Kashmir selama masa mudanya, di mana Bebel pada hakikatnya tidak lain hanya mengatakan bahwa Yesus mengunjungi Yerusalem ketika beliau berusi6 duabelas tahun. Pada akhir abad yang lalu, Nicolai Notovich, seorang pengembara Rusia, telah menemukan sejumlah lembaran-lembaran naskah dokumentasi kuno di Biara Hemis, di Ladakh, dekat perbatasan Kashmir dan Tibet. Selama berabad-abab naskah itu dipelihara oleh para pendeta Himalaya, yang mencatat perjalanan Yesus pertama ke India, diperkirakan persis pada usia delapanbelas tahunan dari kehidupan beliau, di mana dalam hal ini Bebel tidak menyatakan apa-apa. Jika kita hanya menerima versi Bebel belaka mengenai kehidupan Kristus, maka akan terdapat kekosongan sejarah yang menimbulkan kesangsian serius, apakah anak yang disebutkan dan orang yang bernama Yesus itu sama orangnya?
 

Tidak hanya Perjanjian Baru saja, tetapi Perjanjian Lama pun sama-sama mempunyai mata-rantai dengan Kashmir. Suatu masyarakat kecil Yahudi di dekat Danau Wular mengakui telah memelihara makam nenek moyang mereka, Musa, selama 3500 tahun yang silam.
 

Tradisi ini pun menolong untuk menjembatani jurang di dalam kisah Bebel, sejak ditetapkannya Kitab Ulangan, bahwa tidak ada seorang pun yang tahu persis di mana Musa dimakamkan. Lebih dari itu, keterangan Bebel mengenai kematian Musa tidak menyebutkan di daerah Palestina, tetapi justru nama-nama itu didapati yang ada hubungannya dengan tempat-tempat dekat makam yang dinamakan “Makam Musa” di Kashmir.
 

Begitu pula, di Kashmir, ada sejumlah tempat yang nama-nama itu ada kesamaannya dengan nama-nama Yesus dan Musa. Hal ini menjadi saksi bahwa Yesus dan Musa ada di sana.
 

Tidak ada yang baru sebetulnya, karya sejarah bangsa Persi dan Kashmir serta adat-istiadat bangsa Kashmir membuat petunjuk kepada masalah ini, dan satu golongan terakhir pada akhir abad ini (Gerakan Ahmadiyah) telah mengambil suatu peranan penting dalam mengungkap masalah makam Yesus di Srinagar itu, dan telah menerbitkan sejumlah karya tulis penting mengenai mata-rantai Yesus dengan Kashmir. Ditambah lagi, seorang ahli purbakala yang termasyhur, Professor Fida Hasnain, Direktur Perpustakaan dan Perawatan arsip-arsip dan monumen-monumen yang diangkat oleh Pemerintah Kashmir, telah menyelidiki dengan seksama, dan masih tetap menyelidiki perkara itu, baik itu mengenai mata-rantai yang berhubungan dengan Musa dengan daerah tersebut.
 

Walaupun persoalan itu masih diterima dengan pandangan remeh, kebanyakan masyarakat luas tidak tahu apa-apa akan hal yang penting ini. Saya rasa sekaranglah saatnya untuk memberi tahukan kepada dunia luas, bahwa sangat mungkin sekali Yesus tidak wafat di kayu salib, dan beliau wafat secara wajar setelah mencapai usia tua, setelah berkelana ke Timur dari Palestina untuk menjumpai dan mengajar suku-suku Israel yang hilang, di Kashmir.
 

Pada lembaran-lembaran berikut, saya mencoba menyusun dokumen ringkas yang sangat penting, semuanya mengenai kehidupan Yesus yang “kedua” dan mengenai kemungkinan, bahwa Musa wafat di Kashmir. Oleh karenanya, buku ini mencoba untuk melengkapi Kitab Suci dengan mempersembahkan keterangan yang bisa diterima akal untuk mengemukakan dan menjelaskan bagian-bagian dari ceritera Bebel.
 

Harus dicatat, bahwa nama-nama Yusu, Yuza, Yuz Asaf, Issa, Isa dan seterusnya, yang ada di bangsa Kashmir dan pada sumber-sumber di Timur, semuanya adalah senilai dengan nama Yesus. Jadi, apabila saya menunjukkan Yesus, saya bisa menterjemahkannya kepada salah satu dari sekian banyak macam-macam nama tersebut. Kata-kata yang diawali demikian itu, seperti Yus -, Ish -, atau Aish, juga menunjukkan kepada Yesus; dan Musa adalah nama bahasa Arab yang mana Musa ini dikenal juga di Kashmir.
 

Saya rasa, harus saya tekankan duduk persoalan ini, bahwa buku ini bukan risalah Ahmadiyah, dan dijamin keasliannya bukan dari suatu sekte, jama’ah maupun dari suatu gerakan. Ini semata-mata hanya hasil dari segala usaha saya pribadi demi menyelidiki berbagai fakta yang mungkin bisa memancarkan cahaya baru kepada segala aspek atau pandangan yang misterius mengenai kehidupan Yesus.

A.F.K.

Juli 1976.