BAB I


APAKAH SI ANAK KECIL YESUS & YESUS KRISTUS ORANGNYA SAMA?
(1/2)

Injil Yang Membisu

Setelah menceriterakan panjang-lebar berbagai peristiwa yang berhubungan dengan kelahiran Yesus, empat Injil Canonic (yang disyahkan oleh Gereja-gereja), benar-benar tak banyak bicara mengenai segala peristiwa kehidupan beliau sampai pada waktu beliau berusia tigapuluh tahun. Mereka hanya memperkirakan di antara tahun-tahun yang diberikan oleh Lukas 2:39-52 (Semua catatan Bebel diambil dari versi King James, yang masih banyak tersebar luas):

 

Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. 


Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada padanya.
 

Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. 

Ketika Yesus telah berumur duabelas tahun, pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu.
 

Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tuanya.
 

Karena mereka menyangka bahwa ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka.
 

Karena mereka tidak menemukan dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari dia. Sesudah tiga hari mereka menemukan dia dalam Bait Allah; ia sedang duduk di tengah-tengah alim-ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.
 

Dan semua orang yang mendengar dia sangat heran akan kecerdasannya dan segala jawab yang diberikannya.
 

Dan ketika orang tuanya melihat dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibunya kepadanya: “Nak mengapakah engkau berbuat demikian terhadap kami?  Bapakmu dan aku dengan cemas mencari engkau”.
 

Jawabnya kepada mereka: Mengapa kamu mencari aku? Tidakkah kamu tahu bahwa aku harus berada di dalam rumah Bapakku”? Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakannya kepada mereka. Lalu ia pulang bersamasama mereka ke Nazaret. Dan ibunya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.
 

Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatnya dan besarnya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

 

Peristiwa kehidupan Yesus berikutnya banyak diceriterakan oleh Yahya pada usia tigapuluhan, dimana pada waktu itu beliau memulai kependetaannya (Lihat Lukas 3:23). Ini terjadi delapanbelas tahun setelah ada peristiwa di kuil, yang banyak meninggalkan sejumlah besar jurang kehidupan Yesus menurut perkiraan Bebel. Kita harus merasa tidak cukup puas dengan kebisuan ini, dan, sungguh boleh bertanya sebebas-bebasnya jika orang yang tampil di kehidupan masyarakat luas di usia tigapupuh tahunan itu benar-benar sama seperti anak yang lahir di Bethlehem.


Penemuan Nicolai Notovich
 

Pada waktu kunjungan pertama kami kepada Professor Hasnain, di rumahnya di Srinagar, beliau menceriterakan kepada kami mengenai kepercayaanya yang sudah turun-temurun, bahwa Yesus telah pergi ke Kashmir. 
 

Pada suatu Januari yang menyedihkan dia terkurung salju di Leh, ibu kota Ladakh, suatu daerah pegunungan antara Kashmir dan Tibet. Demi membunuh waktu, dia mulai menelaah lembaran-lembaran tua dan naskah-naskah yang disimpan dan dipelihara di perpustakaan kependetaan (biara) di Leh, dan tatkala dia membukabuka lembaran itu, dia menemui catatan-catatan harian yang disimpan oleh missionaris Jerman, dokter Marx dan dokter Francke, suatu jama’ah missionaris agama yang pernah mengunjungi bagian-bagian pelosok dunia. Mereka tidak pergi ke kota-kota besar seperti Srinagar atau New Delhi, tetapi pergi ke daerah-daerah terpencil seperti ke Leh di Ladakh itu. Catatan-catatan harian itu berisi empatpuluh jilid dan bertanggalkan 1894. Professor Hasnain yang tidak bisa membaca bahasa Jerman, dimana catatan-catatan itu ditulis, beliau penasaran dan ingin tahu mengenai isi manuskrip-manuskrip itu, kemudian beliau mulai memeriksa halamanhalamannya.  Di dalam halaman-halaman itu beliau melihat suatu nama yang ditulis dengan tinta merah: “-San Issa-“ dan berhadapan dengan nama Nicolai Notovich.  Karena beliau tidak bisa membaca teks-teks itu, lalu beliau foto saja teks itu sebanyak dua halaman (halaman 118 dan 119) dan setelah beliau pulang ke Srinagar naskah tersebut diterjemahkan. Beliau dapati, bahwa naskah tersebut menunjukkan kepada sejumlah naskah yang ditemukan oleh Notovich di Biara Hemis, duapuluh mil sebelah tenggara Leh. Menurut naskah-naskah tersebut, Yesus telah berada di India dan kebanyakan di daerah utara Tibet dan Ladakh, persis selama usia delapanbelas tahunan yang hal itu tidak dikatakan apa-apa oleh Bebel. Dua orang missionaris Jerman itu tidak percaya akan keterangan Notovich, dan tidak juga kepada keterangan-keterangan Gerakan Ahmadiyah; tetapi Professor Hasnain yakin akan keaslian kesaksian atau bukti Notovich tersebut dan yakin pula bahwa Yesus bukan saja pernah mengembara ke Kashmir pada usia mudanya, tetapi juga beliau selamat dari kematian di kayu salib dan setelah itu mengungsi ke Kashmir.
 

Namun begitu, marilah kita uji teks Notovich itu. Nicolai Notovich adalah seorang pengembara Rusia yang pada penghujung akhir abad yang lalu menyelidiki suatu daerah kecil yang dikenal sebagai “Tibet Kecil” yang berbatasan antara Kashmir dan Ladakh. Setelah mengunjungi Leh (ibu kota Ladakh), Notovich melanjutkan perjalanannya sejauh-jauhnya sampai ia menjumpai Biara Hemis, salah satu daerah biara dan perumahan perpustakaan buku-buku keagamaan yang sangat penting. Sewaktu berbicara kepada pemimpin pendeta Tibet di sana, Notovich menyebutkan bahwa baru-baru ini ia mengunjungi pendeta Moulbeck, yang tinggal di antara puncak tertinggi di atas kota Wakha, sangat tergerak sekali hatinya setelah diceriterakan mengenai seorang Nabi yang disebut Isa. 
 

Lama (pendeta agama Buddha) itu menceriterakan kepadanya bahwa nama Isa itu sangat dihormati di kalangan orang-orang Buddha, tetapi hanya itu saja aktifitas Nabi yang dikenal oleh para pendeta yang membaca gulungan naskah yang berhubungan dengan kehidupannya. Di sana ada 84.000 gulungan naskah tentang para Nabi, yang salah satunya itu adalah Isa, dan hanya beberapa orang saja yang pernah membaca itu sampai seratus bagian dari berbagai jilid yang tercatat itu.  Karenanya ada satu kebiasaan bahwa masing-masing murid atau pendeta yang mengunjungi Lhasa, ibu kota Tibet, selalu menghadiahkan satu copy atau lebih gulungan naskah miliknya kepada biara yang ada di sana. Pendeta Buddha Hemis telah membangun satu perpustakaan besar untuk menyimpan gulungan-gulungan naskah tersebut, dan di antaranya ada yang menguraikan tentang kehidupan Nabi Isa, yang dikatakan telah menyebarkan ajaran-ajaran suci di India dan di antara Bani Israel.
 

Pendeta itu lebih jauh menerangkan bahwa gulungan-gulungan naskah yang mengisahkan kehidupan dan karya Nabi Isa telah dibawa ke Tibet dari India dan Nepal. Naskah-naskah aslinya ditulis dalam bahasa Pali dan disimpan di Lhasa, tetapi lembaran-lembaran yang berbahasa Tibet ada di Hemis. Ini tidak diketahui oleh umum, karena sebagian para tokoh pendeta di sana mempersembahkan seluruh hidupnya dicurahkan untuk mempelajari seluk-beluk yang berhubungan dengan kehidupan Isa, jadi setiap orang banyak yang mengetahui tentang Isa. Karena ajarannya bukanlah bagian penting dari ajaran Buddha, dan sebagaimana para penyembah Isa, yakni umat Kristen, tidak bisa menerima ajaran Dalai Lama, maka Isa, seperti juga Nabi-nabi yang lain, tidak dikenal oleh kalangan Buddhis sebagai salah seorang guru suci mereka.
 

Dalam hal ini Notovich bertanya kepada pendeta Buddha itu apabila hal itu sesuatu yang aneh apakah diizinkan untuk melihat naskah-naskah yang menyangkut Isa tersebut yang ada pada pendeta, dan sebagai jawabannya, pendeta itu berkata, bahwa apa yang dimiliki Tuhan, juga dimiliki oleh manusia, dan kewajibannyalah untuk membantu menyebar-luaskan naskah-naskah suci tersebut. Namun begitu, ia lebih jauh mengatakan, bahwa ia benar-benar tidak tahu di perpustakaan mana gulungan-gulungan naskah itu disimpan, tetapi jika Notovich akan berkunjung kembali kepada pendeta, maka ia siap untuk memiliki gulungan-gulungan naskah tersebut dan dengan segala senang hati akan memperlihatkannya kepadanya. 
 

Notovich kemudian kembali ke Leh, tetapi ia memutuskan agar mendapat perkenan untuk kembali lagi ke Hemis, dan tidak lama setelah itu ia menghadiahkan sebuah jam weker dan sebuah thermometer kepada pimpinan pendeta di sana dengan satu pesan bahwa, mungkin sekali ia akan berkunjung kembali sebelum mengakhiri tinggal di Ladakh dan ia mengharap bahwa pendeta suka memperlihatkan gulungangulungan naskah tersebut kepadanya sebagaimana telah dibicarakan. Ia merasa khawatir tidak bisa menggugah kecurigaan pendeta dengan memperlihatkan kembali gulungan-gulungan naskah yang sangat penting itu, namun ia mendapat akal kembali.  Di dekat pegunungan Pittah, di mana Biara itu terletak, kudanya tersungkur, akibatnya Notovich terhempas ke tanah dan kakinya terkilir. Ia tidak berniat untuk kembali ke Leh, tapi bahkan menyuruh para pembantunya untuk membawanya ke Hemis, di sana ia disambut dengan baik dan dirawat.
 

Sementara ia tidak bisa bergerak, seorang anak muda selalu mengalunkan nyanyian-nyanyian do’a di samping tempat tidurnya, dan seorang pendeta tua selalu menyuguhkan ceritera-ceritera yang sangat menarik hati kepadanya. Bahkan dia seringkali membicarakan jam weker dan thermometer, menanyakan kepada Notovich, bagaimana cara menggunakannya dengan benar. Notovich pada gilirannya, tak bosan-bosannya bertanya tentang Isa, dan akhirnya sang pendeta itu pun menyerah juga, lalu ia membawa dua paket besar kepadanya yang berisi kitab-kitab yang lembaran-lembarannya sudah menguning karena tuanya. Kemudian dia membacakan biografi Isa kepada Notovich, yang segera saja ia mengambil catatan untuk mencatat keterangan yang telah diterjemahkan untuknya. Dokumen yang menakjubkan ini ditulis dalam bentuk ayat-ayat, dan kalau bukan berbentuk ayat, seringkali langsung dengan bentuk kisah-kisah.