BAB I


APAKAH SI ANAK KECIL YESUS & YESUS KRISTUS ORANGNYA SAMA? (2/2)

Perjalanan Yesus yang pertama ke India

Salah satu bagian terpenting dari kehidupan Isa ini adalah dalam hal perjalanan pertamanya ke India. Risalah berikut ini dimulai dari ayat 5, bagian ke 4 dari biografinya yang dikisahkan oleh Notovich dari naskah-naskah di Hemis itu sebagai berikut:

 

“Tidak lama setelah itu, seorang anak yang molek dilahirkan di negeri Israel:

Tuhan sendiri langsung berbicara kepada anak ini, menerangkan kurang berartinya lahiriyah dan mulianya rohani”.

“Kedua orang tua anak itu miskin, dan termasuk keluarga yang terhormat karena kesalehan mereka dan mereka telah lupa akan keturunan yang mulia di bumi, memahasucikan Sang Pencipta dan memberkahi mereka yang malang, yaitu agar mereka dianugrahi”.

“Agar keluarga ini diberi ganjaran karena selalu memperingatkan kepada jalan yang benar, maka Tuhan mengkaruniakan kelahiran bayi pertama kepada mereka dan memilihnya untuk menyelamatkan orang-orang yang terjerumus ke dalam lumpur dosa dan untuk menyembuhkan orang-orang yang menderita.” “Anak yang diberkahi, yang kepadanya mereka berikan nama Isa, mulai membicarakan keesaan dan ketauhidan Ilahi sejak masa kanak-kanak. Ia memperingatkan orang-orang yang sesat untuk bertobat dan membersihkan dosa-dosa mereka.”

“Orang-orang datang dari mana-mana untuk mendengarkannya dan mereka terpesona akan kebijaksanaan yang mengalir dari bibirnya yang masih sangat muda itu; orang-orang Israel menjaga Roh Suci yang bersemayam di anak ini.” “Ketika Isa mencapai usia tigabelas tahun, yang pada usia itu bangsa Israel biasanya memungut isteri, di satu rumah di tempat kedua orang tuanya mencari nafkah yang menjadi tempat pertemuan orang-orang kaya dan terhormat, ada yang menginginkan Isa untuk menjadi menantunya karena diskusi-diskusinya yang menggugah keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan karena kemasyhurannya yang sudah tersebar luas”.

“Pada waktu itu juga Isa secara rahasia sudah menghilang dari rumah orang tuanya. Dia meninggalkan Yerusalem dan menuju Sind, bersama para kafilah pedagang, berniat untuk memperbaiki dan menyempurnakan dirinya dalam mencari pengertian Ilahi dan untuk mempelajari hukum-hukum Sang Buddha yang mulia”.

 

Ayat-ayat tersebut adalah bagian akhir dari bab keempat dari naskah yang menceriterakan kehidupan Isa.
 

Sebagaimana telah saya kemukakan pada ‘Kata Pengantar’, “Isa” sama dengan “Yesus”. Maka di dalam mengikhtisarkan kelanjutan manuskrip yang disalin oleh Notovich, saya akan kembalikan kepada Yesus apabila naskah (manuskrip) tersebut menunjukkan Isa.
 

Manuskrip tersebut terus menceriterakan kehidupan Yesus dengan mengatakan, bahwa pada usia empatbelas tahun beliau melintasi Sind dan menetapkan dirinya untuk memilih daerah ber-Tuhan. Kemasyhuran beliau tersebar luas ke seluruh daerah utara Sind, dan, ketika beliau menjelajahi Ainjab, suatu daerah yang mempunyai lima sungai, para penyembah Tuhan Jaina memohon dengan sangat kepada beliau untuk tinggal bersama mereka. Tetapi beliau meninggalkan mereka dan berjalan terus menuju Jagannath di negeri Orissa, di sana telah tinggal Vyasa-Krishna. Di sana beliau diterima dengan suka-cita oleh para pendeta Brahma, kemudian mengajarkan beliau untuk membaca dan mempelajari Kitab Weda, untuk menyelamatkan dirinya langsung dengan sembahyang, untuk menerangkan Kitab Suci kepada orang-orang dan untuk mengusir roh jahat dari jasad manusia dan mengembalikannya kepada bentuk wujud manusia yang seutuhnya. Yesus tinggal di Jagannath, Rajagriba, Benares dan di kota-kota suci lainnya selama enam tahun; setiap orang menyukai beliau, dan beliau tinggal dalam kedamaian bersama para Waisya dan Sudra, beliau mengajarkan Kitab Suci kepada mereka. 
 

Yesus membuat musuh pertamanya ketika beliau membicarakan masalah persamaan umat manusia, karena para Brahmana menganggap bahwa para Sudra itu sebagai budak dan menetapkan bahwa hanya kematianlah yang akan membebaskan mereka. Para Brahmana mengajak beliau untuk meninggalkan para Sudra itu dan memeluk agama Brahmin, tetapi Yesus menolak dan bahkan mengajarkan kepada para Sudra untuk menentang para Brahmin dan Kesatria, memberantas penyembahan berhala dan membicarakan ketauhidan dan segala kemaha-kuasaan Tuhan. Beliau dengan keras sekali mengutuk ajaran yang memberikan kekuasaan kepada orang untuk merampok orang lain yang baik, dan bahkan mengajarkan bahwa Tuhan tidak mengajarkan perbedaan di antara anak-anak-Nya, semua sama-sama dicintai.  Karenanya para pendeta Brahmin membencinya dan berniat untuk menangkap dan membunuhnya, mereka mengirim para tukang jagal mereka untuk mencarinya. Tetapi Yesus telah diperingatkan oleh para Sudra akan bahaya yang mengancam itu. Beliau meninggalkan Jagannath di waktu malam, maka akhirnya sampailah di pegunungan dan menetapkan dirinya untuk pergi ke negeri Gautama, di mana di sana Sanghiyang Buddha dilahirkan, di antara para penyembah Tuhan Yang Maha Esa yakni Sang Brahma.

 

Setelah benar-benar mempelajari bahasa Pali, beliau mencurahkan waktunya untuk mempelajari gulungan-gulungan naskah kitab suci Sutra, dan dalam masa enam tahun beliau telah cakap menerangkan kitab suci tersebut. Kemudian beliau meninggalkan Nepal dan pegunungan Himalaya, turun ke lembah Rajputana dan pergi menuju arah Barat, kemudian mengajarkan keesaan dan hanya satu-satunya Tuhan serta menganjurkan orang-orang untuk membasmi perbudakan dan melarang menyembah berhala.
 

Ketika beliau memasuki negeri Persi, para pendeta di sana memperingatkan rakyat dan melarang mereka untuk mendengarkan ucapan-ucapan beliau; tetapi rakyat masih saja mendengarkan beliau, maka para pendeta menangkap beliau dan membawanya ke hadapan mereka. Kemudian mereka berbicara bersama beliau lama sekali, dan Yesus mencoba meyakinkan mereka agar tidak mendewakan matahari dan tidak mendewakan Tuhan yang Baik dan Tuhan yang Jahat, menjelaskan kepada mereka bahwa matahari itu hanyalah benda ciptaan Tuhan, dan Tuhan Yang Mahakuasalah yang benar-benar Tuhan dan hanya satu-satunya dan tidak ada Tuhan yang jahat.
 

Para pendeta mendengarkan beliau dan memutuskan untuk tidak menganiaya beliau; tetapi di waktu malam hari, sementara orang-orang sedang tidur nyenyak, mereka menangkap beliau dan membuangnya ke luar tembok kota, dan membiarkannya di sana dengan harapan supaya diterkam binatang-binatang buas.  Tetapi Yesus melanjutkan perjalanannya dengan aman dan segar bugar, hingga akhirnya sampai kembali di Israel ketika beliau berusia duapuluh sembilan tahun. 
 

Pada bagian berikutnya dari kehidupan Yesus di dalam versi berbahasa Tibet, sebagaimana dikisahkan oleh Notovich, lebih banyak persamaannya dengan Bebel mengenai kependetaan Yesus. Jadi, apa yang dipersembahkan manuskrip-manuskrip berbahasa Tibet, dalam hal ini, adalah suatu keterangan yang dapat diterima akal mengenai segala kegiatan Yesus selama masa mudanya dan pada masa mendekati dewasanya, di mana dalam hal ini Bebel benar-benar tidak mengatakan apa-apa. 
 

Selama kami tinggal di Kashmir, kami tidak bisa mengunjungi Leh dan Biara Hemis, karena pada waktu itu bulan April dan jalan-jalan di sana benar-benar terkurung salju. Walaupun begitu, kesaksian Notovich berkenaan dengan manuskripmanuskrip yang ada hubungannya dengan masalah itu dan studi kami mengenai bukti-bukti – yang diambil dari ceritera-ceritera kuno dan adat-istiadat serta latar belakang sejarah dan lain sebagainya, -- hal itu dapat meyakinkan kami untuk mengambil patokan bahwa Yesus hidup dan wafat di kaki pegunungan Himalaya. 
 

Pada bab-bab berikut ini, ada bukti suatu hipotesa yang bisa disajikan dan memberikan pandangan kepada kemungkinan bahwa Yesus masih tetap hidup setelah mengalami cobaan di atas kayu salib, dan suatu ketika luka-luka beliau sembuh, kemudian pergi pada pengembaraannya yang kedua menuju Kashmir. Sebagaimana akan kita lihat, di sana ada sejarah dan alasan-alasan Bebel yang meyakinkan bahwa Kashmir telah ditempati oleh suku-suku Israel yang hilang, yang, jika hipotesa ini benar, maka menjadi kenyataanlah akhir ke-Masih-an beliau di dunia fana ini.