BAB II


"DARI SALIB KE KASHMIR" (1/4)

Pilatus sangat simpati kepada Yesus

Sebagaimana telah diketahui, Pontius Pilatus, Gubernur Yudea, pada waktu penyaliban, berbantah mengenai hukuman mati terhadap Yesus. Ayat-ayat berikut ini dari Yahya dan Matius yang diikhtisarkan di dalam Bebel mengenai upaya Pilatus mengatakan:

 

“Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: Jikalau engkau membebaskan dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar”. (Yahya/Yohanes 10:12).
 

“Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya dan berkata: Jangan engkau mencampuri perkara orang yang benar itu, sebab karena dia aku sangat menderita dalam mimpiku tadi malam”. (Matius 27:19).
 

“Ketika pilatus melihat bahwa segala usahanya akan sia-sia, maka timbullah huru-hara, kemudian ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: Aku suci dari darah orang yang benar ini; hal itu urusan kamu sendiri” (Matius 27:24).

 

Suatu keterangan yang menarik hati tentang kisah Pilatus yang simpati kepada Yesus Kristus ini adalah sebuah surat yang dia tulis untuk Kaisar Tiberius pada tahun 32 Masehi. Surat yang asli itu kini disimpan di Perpustakaan Vatikan di Roma, dan mungkin bisa memperoleh salinan-salinan (copy) surat tersebut pada Perpustakaan Kongres di Washington, Amerika Serikat. Surat itu berbunyi:

 

Kepada Kaisar Tiberius:

 

“Seorang pemuda muncul di Galilea, dan dengan nama Tuhan Yang telah mengutusnya, ia mengkhotbahkan undang-undang baru dengan penuh kerendahan hati. Pertamakali saya pikir dia berniat untuk menggerakan rakyat agar memberontak bangsa Roma. Segala kecurigaan saya segera lenyap . Yesus dari Nazaret itu banyak berbicara sebagai teman orang-orang Romawi dari pada kawan-kawan bangsa Yahudi lainnya.  Pada suatu hari saya memperhatikan seorang pemuda di antara kerumunan orang banyak, dia bersandar di bawah pohon dan berbicara dengan tenang sekali kepada orang yang yang mengurumuninya. Mereka mengatakan kepada saya bahwa orang itu Yesus. Ini jelas, karena perbedaan yang mencolok di antara dia dan orang-orang yang mengerumuninya. Rambut dan janggut yang terurai memberi kesan bahwa dia seorang perwujudan Ilahiyah. Usianya sekitar tigapuluh tahunan; dan sebelumnya saya tak pernah melihat orang yang begitu menyenangkan dan berwajah simpatik.
 

Alangkah jauh bedanya antara dia yang berwajah tulus dengan mereka yang berjanggut hitam yang sedang asyik mendengarkan khutbahnya. Karena saya tak ingin mengganggunya, maka saya melanjutkan perjalanan saya sendiri, namun saya berpesan kepada sekretaris saya untuk bergabung dengan kerumunan itu dan ikut mendengarkan.
 

Belakangan, sekretaris saya mengatakan kepada saya bahwa ia belum pernah membaca karya-karya para ahli filsafat yang sebanding dengan ajaran-ajaran Yesus, dan ia tidak pernah memimpin orang-orang ke arah pendurhakaan dan tidak pula menghasut. Oleh karena itu mengapa kami memutuskan untuk melindunginya. Dia bebas berbuat, berbicara dan mengumpulkan orang banyak. Kebebasan yang tak terbatas ini yang menimbulkan kemarahan bangsa Yahudi dengan berangnya, ia tidak pernah menghina kaum miskin tetapi membuat sakit hati orang-orang kaya dan berkuasa.
 

Kemudian saya membuat surat untuk Yesus memintanya untuk berbicara di Majelis. Dia datang. Ketika orang Nazaret itu muncul, waktu saya sedang berjalan-jalan di pagi hari, dan ketika saya memandangnya, saya terpukau.  Kaki saya seperti terbelenggu rantai besi di lantai marmer; sekujur tubuh saya menggigil bagaikan seseorang yang berbuat dosa, padahal dia tenang sekali. Tanpa bergerak, saya memuji orang yang istimewa ini untuk beberapa saat. Tidak ada yang tidak menyenangkan dari penampilan dan budi-pekertinya. Pada saat kehadirannya saya merasa sungguh-sungguh hormat kepadanya. Saya katakan kepadanya bahwa dia memiliki cahaya gemerlap di sekitarnya, dan kepribadiannya penuh dengan kesederhanaan yang mengagumkan dan membuatnya melebihi para ahli filsafat maupun guru-guru besar di zaman kita. Dia memberikan kesan yang sangat dalam bagi kami semua karena budi-pekertinya yang menyenangkan, sederhana, lemah lembut dan penuh kasih sayang. Ini semua, paduka yang mulia, segala tingkah laku yang menyangkut pribadi Yesus dari Nazaret, dan saya telah lama ingin memberi tahukan kepada paduka lebih jauh lagi mengenai hal ini. Menurut hemat saya, orang inilah yang mampu merobah air menjadi anggur, menyembuhkan orang yang sakit, menghidupkan kembali orang yang mati dan menenangkan gelombang laut yang gemuruh, dia tidak bersalah dan tidak mempunyai tindakan yang jahat. Sebagaimana orangorang lain mengatakan, kita harus mengakui, bahwa dia itu benar-benar seorang anak Tuhan.

 

 

Hambamu yang setia,
 

Pontius Pilatus.

 

 

Terbukti Pilatus tidak menginginkan kematian Yesus, tetapi orangorang Yahudi menyatakan, bahwa Yesus seorang pemberontak yang ingin menjadi raja, kemudian mereka memperingatkan Pilatus bahwa, apabila dia membebaskan Yesus, maka dia sendiri yang akan dinyatakan khianat terhadap Kaisar. Pilatus tidak berani membahayakan pangkatnya yang tinggi itu, dan memang tidak pantas baginya menjadi musuh Kaisar dengan cara apa pun, yang orang-orang Yahudi pasti segera menyatakan itu apabila ia membebaskan Yesus. Kemudian apa yang dia harus perbuat? Berbeda sekali dengan apa yang dikehendaki orang-orang Yahudi, dia hanya memilih satu-satunya jalan untuk melaksanakan hukuman mati tersebut dengan demikian rupa, yakni, Yesus sedapat mungkin harus hidup terus tanpa diketahui oleh para musuhnya. Sehubungan dengan ini, suatu hal yang sangat menarik hati bahwa dia mempersiapkan pelaksanaan penyaliban tersebut yang benarbenar dekat kepada saat mulainya “Hari Sabath”-nya kaum Yahudi, yaitu – Hari Jum’at sebelum matahari terbenam--, dimana menurut undang-undang Yahudi, para penjahat tidak boleh dibiarkan tergantung di kayu salib apabila Hari Sabath mulai tiba. Mengingat hal itu, maka kedua penjahat yang disalib bersama Yesus, mereka masih hidup ketika para prajurit mematahkan kaki-kaki mereka kemudian menurunkannya dari kayu salib., maka tidak mungkin pula pada saat itu Yesus sudah wafat. Juga perlu dicatat, bahwa Yusuf Arimathea, seorang saudagar kaya dan murid Yesus yang tidak kentara, tiba-tiba muncul di tempat penyaliban tersebut, dan, dengan idzin Pilatus, ia mengambil Yesus untuk dibawa ke tempat pemakaman pribadinya.
 

Demikian perincian-perincian yang cocok dengan kemungkinan bahwa Yesus masih tetap hidup setelah mengalami ujian berat di atas tiang salib. Sekarang marilah kita periksa lagi bukti-bukti yang lebih mendetail.