BAB II


"DARI SALIB KE KASHMIR" (2/4)

Yesus Tidak Wafat Di Kayu Salib

Di dalam Kitab Ibrani 5:7, Yesus menunjukkan: “Dalam Hidupnya sebagai manusia, …. Ia memanjatkan do’a dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, Yang sanggup menyelamatkannya dari maut, dan karena kesalehannya, ia telah didengarkan”. Ini dapat menuntaskan perkataan, bahwa Yesus tidak wafat di kayu salib; tetapi untuk memperkuat bukti, kita harus melihat sumber lainnya. 
 

Pertamakali harus kita renungkan: Yesus tidak lama tergantung di kayu salib, beliau dipaku dan diturunkan pada hari itu juga setelah dilaksanakannya hukuman tersebut, sebagaimana diterangkan di atas, bahwa si tersalib harus segera diturunkan sebelum Hari Sabath tiba. Sekarang, penyaliban sudah dipastikan bukanlah suatu penyebab kematian yang cepat, tetapi hal itu adalah suatu penyiksaan yang berkepanjangan sampai berhari-hari. Kematian semacam itu bisa terjadi akibat kelaparan, haus, cuaca buruk atau diserang burung-burung pemakan bangkai atau juga diterkam oleh binatang-binatang buas lainnya. Kadang-kadang kematian semacam itu dapat dipercepat dengan mematahkan kaki-kaki si terhukum; dan di waktu-waktu yang lain, pelaksanaan hukuman itu hanya menggantungkan si terhukum di atas kayu salib lalu dianggap selesai dan kemudian si korban itu segera diturunkan kembali dan begitulah dia diperbolehkan hidup lagi. Apabila luka-luka akibat penyaliban itu dirawat dengan seksama, maka luka-luka tersebut bisa sembuh seperti sedia kala.
 

Harus diingat! Yesus disalib bersama dua orang penjahat, hal ini dapat kita baca di dalam Injil Lukas 23:30-40, dimana mereka sama-sama menderita seperti Yesus:

 

“Salah seorang penjahat yang disalib itu menghujat dia, katanya: Jika engkau Kristus, selamatkanlah dirimu dan kami.
 

“Tetapi yang seorang lagi menegur dia, katanya: Tidak takutkah engkau kepada Tuhan, sedangkan engkau mendapat hukuman yang sama? 

 

Seperti telah dijelaskan, Yesus dan para pencuri itu telah diturunkan dari kayu salib pada waktu yang sama dan pada saat itu pula para pencuri itu masih hidup.  Jadi, mereka pun sama-sama mengalami penderitaan seperti halnya yang dialami Yesus; namun ada yang tidak sama karena Yesus nampak sudah wafat, terutama tidak lama setelah beliau “berteriak dengan keras sekali, katanya: “Eli! Eli! Lama sabakhtani! Artinya: “Tuhan! Tuhan! Mengapa Kau tinggalkan daku!”
 

Hal lain yang harus diingat bahwa, BIbel memberitahukan kepada kita, ketika Yusuf Arimathea, mengajukan permohonan kepada Pilatus untuk meminta jasad Yesus, Pilatus, orang yang sangat berpengalaman, tahu bahwa kematian akibat penyaliban pasti memakan waktu yang cukup lama. “ia merasa heran kalau Yesus ketika itu sudah wafat” (Markus 15:44). Lagi pula, sewaktu seorang prajurit Romawi menombak lambung Yesus dengan lembing, untuk mengetahui apakah beliau sudah wafat atau belum, “tiba-tiba mengalirlah darah dan air dari luka itu” (Yahya 19:34).  Jika Yesus sudah wafat, maka hanya darah kentallah yang pasti keluar dari luka itu.  Hal ini erat sekali hubungannya dengan suatu hal yang sangat menarik, yaitu penemuan-penemuan mutakhir tentang Kain Kafan yang ada di Turin yang terkenal itu, dimana tubuh Yesus dibungkus atau dikafani dengan kain itu ketika beliau dibawa ke pemakaman yang berbentuk goa.