BAB III


KEHIDUPAN YESUS YANG KEDUA (1/5)

“Jikalau Yesus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami, dan sia-sialah juga iman kamu”.
 

“Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan bahwa Ia telah membangkitkan Kristus –padahal Ia tidak membangkitkannya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan” (I Korintus 15:14-15).

 

Sekarang akan kita lihat, bagaimana Yesus yang telah disembuhkan lukalukanya dan telah meninggalkan makam, kemudian melarikan diri dari para musuhnya dan memulai fase baru dalam kehidupanya di bumi ini. Sebagaimana Bebel sendiri memberitahukan kepada kita, Yesus, yang menjelajahi pengembaraannya setelah meninggalkan makam dalam wujud manusia biasa dan bukan dalam bentuk roh, muncul di hadapan para muridnya. Ketika beliau meninggalkan makam itu, beliau telah menggulingkan batu yang melintang di pintu masuk, dan beberap hari kemudian beliau berjumpa dengan para muridnya, pergi ke Galilea, makan roti dan ikan, memperlihatkan luka-luka di badannya, dan, kita akui, beliau terhindar dari putusan hukuman Pilatus secara rahasia, kemudian berimigrasi ke Timur.
 

Walaupun demikian keadaannya, pertamakali kiranya patut direnungkan tujuan Kenaikan Yesus itu dengan mempertimbangkan keterangan yang bertalian dengan masalah itu demi untuk menentukan, apakah hal itu terjadi atau tidak, dan bagaimana hal itu bisa dimengerti? Agar penyajiannya seobyektif mungkin, maka saya akan mulai dengan mengutip langsung artikel yang berkaitan dengan Kenaikan itu dari “Bibel-Lexicon” (Kamus Bebel)-nya Dr. Herbert Haag (1951):

 

”Jasmani Kristus naik dari Gunung Zaitun, empatpuluh hari setelah kebangkitannya kembali, ini diceriterakan oleh Lukas pada permulaan Injil Kisah Perbuatan Rasul-rasul dan diikhtisarkan pada akhir Injilnya sendiri (Lukas 24:51). Pernyataan-pernyataan yang pertama tak mungkin untuk ditelaah, sebab belakangan ditambah-tambah, sebagaimana diakui oleh para kritikus. Juga karena susunan literatur Kisah Perbuatan Rasul-rasul 1:1-11 itu, sesuai dengan teori, semuanya adalah tulisan Lukas. Begitu pula, Kisah Perbuatan Rasul-rasul 1:2 dan Lukas 24:51 tidak bisa diakui karena semuanya sudah pasti tidak mengandung petunjuk Kenaikan, faktanya adalah, Keluarga Barat sudah pasti menghilangkan manuskrip-manuskrip itu oleh karena adanya tambahan-tambahan tersebut. Oleh sebab itu, dan dialah yang memberitahukan kepada kita, yakni pada Injil Kisah Perbuatan Rasulrasul, perihal empatpuluh hari mondar-mandir di antara Kebangkitan dan Kenaikan, setelah menyebutkan Kenaikan secara singkat pada akhir Injilnya.  Perpetaan yang jelas yang dia kemukakan mengenai gambaran peristiwa di Gunung Zaitun itu (Kisah Perbuatan Rasul-rasul 1:12), di dekat Bethany (Lukas 24:50), jelas sekali memberi pengertian kepada kita, bahwa baginya kisah itu menjadi kenang-kenangan sejarah yang istimewa. Adat-istiadat setempat dengan sendirinya memperkuat peristiwa di puncak gunung itu, yang dimulai pada awal abad keempat, tempat itu dihormati sebagai tempat suci.

 

Meskipun demikian, hanya Lukas sendirilah, salah seorang penulis Perjanjian Baru, yang menyajikan kisah Kenaikan Kristus ke langit dengan badan jasmaninya dan dapat diketahui dalam ruang dan waktu. Para penulis Perjanjian Baru lainnya mereka merasa puas hati dengan meng-iya-kannya demi memperkuat itu, karena akibat terburu-burunya Kebangkitan tersebut, yakni, Kristus bangkit dan naik ke langit – di sana dia menempatkan dirinya di sisi kanan tangan Tuhan, dalam keagungan, mengatasi segala kekuatan malaikat -, dan dari sana dia harus kembali lagi pada kedatangannya yang kedua kali. Tinggalnya di langit ini setelah mengalami kehidupan yang wajar di bumi mengingatkan kembali kenaikan Kristus, walaupun pada umumnya dibiarkan dalam kebisuan; dan bahkan ada orang-orang tertentu membicarakan hal itu melebihi suatu tingkatan keimanan daripada sekedar gambaran phenomena yang telah mereka saksikan.
 

Kesaksian Lukas yang ganjil itu telah mempengaruhi Kristen tradisi permulaan, yang rupanya pada permulaannya mereka itu pun ragu dan tidak yakin. Tidak sampai pada abad keempat kita dapat mengetahui, bahwa pernyataan itu tertera di Injil Kisah Perbuatan Rasul-rasul yang secara luas diketahui oleh para pendeta di seluruh dunia. Sebelum itu, banyak orang tidak menyebut-nyebut sama sekali hal itu seperti Clement dari Roma, Didache, Ignatius dari Antioch, Polycarp, Hermas dan lain-lain dan bahkan orang-orang yang membicarakan hal itu tidak mengakui bahwa hal itu sebagai suatu kejadian yang wajar dan pasti. Pada kenyataannya, hanya beberapa orang saja yang berusaha membicarakan rincian Kenaikan itu secara wajar, kemudian hasil usaha mereka yang begitu itu disangkal oleh pembuktian sejarah. Banyak sekali yang memberi kesaksian tanggal Kenaikan itu, tapi di sini juga banyak catatan yang menyimpang. Lukas 24:51 dan Yahya 20:17 memunculkan peristiwa itu pada Hari Paskah, sebagaiman juga yang dikemukakan Injil St. Peter 56, Barnabas 15:29 dan Apology Aristides 15:2. Lain-lainnya menempatkan peristiwa itu delapanbelas bulan belakangan (Kenaikan Isaiah 9:16, dan Valentinian serta Ophites, menurut Irenaeus I 3:2, 30:14) dan bahkan duabelas tahun belakangan (Sophia Pistis 1:2, Kitab Jeu 44). Beberapa pendeta permulaan, bahkan seperti Justin, Tertullin, Eusebius dan Jerome, menempatkan penanggalan Kenaikan itu pada hari Kebangkitan itu juga, dan kadangkadang empatpuluh hari belakangan.
 

Banyak para kritikus telah melihat berbagai penyimpangan tersebut terjadi pada umat Kristen tradisi permulaan tentang sifat Kenaikan serta penanggalanya tersebut akibat adanya ceritera kuno atau legenda yang bermunculan belakangan, seperti sejenis kepercayaan baru mengenai keagungan Kristus di sorga yang setahap demi setahap berkembang terus.  Menurut teori ini, kehabatan Kristus yang dapat mengatasi kematian itu, pada awalnya sih bisa dipahami secara pengertian rohani murni, sebab yang berpengaruh itu hanya rohaninya saja, dan itu dilakukan segera setelah kematiannya. (Injil St. Peter 1:9) Hanya belakangan saja, dan jarang dibenarkan, dicoba dibuat agar keunggulan itu mendapat Bentuk yang kongkrit, dengan diikut sertakannya dan dihadirkannya tubuh Kristus itu agar bisa diterima akal pikiran serta bisa makan dan minum. Dari sini terus diikuti legenda makam yang kosong, dan akhirnya, kisah badan wadag yang dapat dilihat naik ke langit.
 

Terpisah dari fakta, teori semacam itu tidak bisa dibenarkan oleh nilai sejarah Perjanjian Baru, mereka jatuh ke legenda seperti itu karena mereka menduga gagasan itu akan abadi yang bisa melebihi bangsa Yunani maupun Arab. Bagi bangsa Yahudi, dan begitu pula bagi para rasul Paus, keunggulan Kristus yang dapat melebihi kematian itu, tak dapat dipahami tanpa keunggulan jasmaninya, karena mereka melihat bahwa kematian itu sebagai hukuman dosa, dan dosa itu bisa mempengaruhi jasmani sesuai dengan jiwanya itu sendiri, atau lebih baik lagi pengaruh jiwa itu melalui jasmani. Perbuatan penebusan dosa Kristus itu bisa mengatasi dosa, dan dengan cara ini dia mengembalikan jiwa dan raganya kepada keadaan semula. Tak ragu lagi jika para pengikut pertamanya percaya sepenuhnya kepada kehebatan Kristus dalam mengatasi dosa dan kematian, maka mereka percaya pula akan kehebatan badan wadagnya, di dalam kebangkitannya maupun masuknya ke dalam keagungan Tuhan – suatu kepercayaan yang selanjutnya tak dapat dihindari memunculkan kepercayaan kebangkitan Kristus dalam bentuk badan wadagnya. Lebih dari itu, kepercayaan akan kebangkitan tubuh Kristus yang naik ke langit dalam keadaan luar biasa tersebut, hal itu tidak lebih daripada akibat hasil kepercayaan tambahan yang tak dapat dielakkan lagi dari akibat kepercayaan Kebangkitan tadi. 
 

Karenanya, jika hal itu benar bahwa ketidak pastian Perjanjian Baru dan umat Kristen permulaan tidak membenarkan disertasi negatif yang diajukan oleh para pengeritik, sekalipun begitu baik buruknya perhatian mengajak seseorang untuk menembus misteri lebih dalam lagi. Dalam masalah ini, maka akan muncul dua keadaan yang harus kita bedakan benarbenar:

(a)  ketinggian Kristus di sisi Tuhan, yakni Bapak di Sorga sana; dan
(b)  manifestasi kenaikan jasmani Kristus dari Gunung Zaitun.

  1. Ketinggian atau kemuliaan di langit adalah suatu bagian fasal keimanan yang tak dapat dipisahkan. Masuknya jasmani Kristus ke dalam keagungan alam ketuhanan, berhasil menyuguhkan ganjaran terbaik, kesanggupan dan bahkan penyebab kemuliaan yang kita miliki, dan dari sinilah penentuan keselamatan kita. Ia membentuk benih pergantian dunia baru bergenerasi bahkan dalam inti fisiknya dengan pengorbanan Kristus – suatu dunia dimana keagungan jasad Yesus yang telah terangkat itu seolah-olah sebagai sel inti, seperti penyebab utama pergantian generasi para pengikut Kristus, dan dengan melalui itu, ia langsung masuk ke alam raya. Tak cukup sampai di situ, jasad Kristus harus segera muncul dari makam dalam keagungan; itu pun harus masuk ke alam dunia ketuhanan; yang masuknya itu menjadi pengantar kita semua. Dunia ini adalah untuk segala waktu, dan untuk angan-angan semua manusia yang tak dapat dihindari, yakni dunia di atas langit sana. Tetapi masuknya ke dalam keagungan ini sepenuhnya supernatural (gaib), dan demikianlah, hal itu tak dapat dialami oleh akal pikiran – yang itu menjadi alasan para penulis Injil Perjanjian Baru, termasuk Lukas yang sangat cenderung melukiskannya --. Sekalipun demikian, hal itu benar-benar peristiwa bersejarah, yakni sesuatu yang terjadi pada saat tertentu saja di waktu itu. Buktinya, di saat-saat itu tak ada peristiwa apa-apa kecuali Kebangkitan itu sendiri.

    Segera setelah badan wadag Yesus meninggalkan makam, dengan perantaraan Ruh Suci, langsung menjadi milik alam ketuhanan yang agung dan memasukinya dengan penuh ketulusan. Hal ini betapa jelas berhubungan dengan teks-teks Perjanjian Baru, dimana kebangkitan Kristus dan penempatannya di sisi kanan Tuhan disajikan sebagai dua aspek, aspek utama yang tak dapat dipisahkan, dan satu lagi aspek keunggulan yang agung. Demikianlah risalah Yahya 20:17, dimana Kristus membuat pernyataan yang meragukan kepada Maria Magdalena bahwa dia tidak akan lama lagi keadaannya akan pulih kembali seperti sebelumnya, ketika Maria boleh menyentuhnya secara bebas; dan dia memerintahkannya untuk memberitahukan kepada para muridnya, bahwa kenaikannya sudah dekat pada waktunya. Sungguh ini jelas sekali, bahwa ketika dia muncul di hadapan para muridnya (Yahya 20:19-20) setelah kenaikannya; yakni setelah kembali kepada Bapak-nya yang telah memperkuat keabadiannya. Dari risalah ini seseorang dapat menyimpulkan, bahwa antara Kebangkitan dan Kenaikan di sana, lebih banyak mondar-mandir sebentar, sudah cukup jelas diuraikan oleh maksud dialog ilmu pendidikan (Injil – penj.) tersebut.
     

  2. Perwujudan jasmani di atas Gunung Zaitun itu samasekali tidak bertentangan dengan keutamaan dan keunggulan yang menentukan itu, yang telah menempatkannya pada Hari Paskah. Sungguh, sebagaimana pernyataan Lukas menunjukkan, keadaanya benar-benar berbeda. Jauh dari niat untuk melukiskan kepada kita perihal keunggulan yang masuk ke dalam keagungan samawi, sebagaimana para penyembah berhala zaman purba tentang pribadi-pribadi leluhur atau mereka yang setengah dewa (Romulus, Hercules, Mithras dan sebagainya), dan Injil yang tak resmi pun menyatakan tentang Kenaikan Kristus itu. Lukas hanya ingin menceriterakan keberangkatan Kristus yang terakhir itu secara persis. Kehatihatiannya dan ceritera tradisionalnya mencoba berusaha untuk menyampaikan bahwa pada waktu untuk bercakap-cakap dengan Yesus secara akrab berakhir dan dia tak dapat kembali lagi hingga kedatangannya yang kedua kali nanti. Kata-kata malaikat dan para muridnya serta awan – suatu khayalan adat-istiadat dalam perwujudan alam ketuhanan (lihat Lukas 21:27; Markus 14:62;

    Wahyu 1:7-11, 12
    dan 14:14 dan I Tesalonika 4:17) -–tidak memberikan arti lain. Begitu juga empatpuluh hari itu dapat diperkirakan sebagai suatu unsur adat-istiadat dan tidak usah diambil terlalu harfiah. Barangkali, Lukas berpikir, bahwa selama empatpuluh hari itu Kristus telah mencurahkan waktunya di padang pasir sebelum memulai tugas sucinya (Lukas 4:2), karena secara prinsip, apa yang memaksanya mengenai kebangkitan jasmani Kristus yang terakhir itu adalah keberangkatannya ini, yang mendahului dan dipersiapkan untuk hari Pantekosta, ketika limapuluh hari setelah Kebangkitan, Ruh Suci memancar keluar dan menyebarkan Kerajaan Tuhan di bumi yang telah diresmikannya. Melihat cara ini, kemunculan Kristus di Gunung Zaitun itu, yang dilukiskan oleh Lukas sendiri, tidaklah bertentangan dengan kenaikan yang pertama dan utama kepada keagungan, yang terjadi pada hari yang sama seperti Kebangkitan.

    Sebaliknya, hal itu merupakan pelengkap dan penuntasnya. Oleh karena itu, Kristen tradisi secara prinsip pada upacara Gerejanya sepenuhnya membenarkan perihal melihat perbuatan kehidupan lahiriah Yesus, sebagaimana perwujudan yang terakhir itu dapat mengatasi kematian dan hadir serta agung di langit sana, seperti hari Paskah, juga seperti menantikan curahan karunia pada hari Pantekosta”.

“Bibel Lexikon” edisi bahasa Spanyol yang ditulis oleh Professor R.P.  Seraphin de Ausejo, yang menyimpulkan pandangan-pandangan mengenai kenaikan itu mengatakan, bahwa “Terjadinya kenaikan ke langit pada hari yang sama seperti Kebangkitan itu adalah sesuatu yang gaib, tidak bisa diterima oleh akal pikiran manusia, tetapi sungguh, nyata dan bersejarah”. Ditinjau dari satu segi pandangan yang obyektif, betapapun tak seorang manusia dapat menguatkan perihal: “sungguh, nyata dan bersejarah”, apakah arti: “tidak bisa diterima oleh akal pikiran manusia” itu?
 

Setelah membaca dan membaca lagi berulangkali penganalisaan yang dikemukakan di atas, saya sampai kepada kesimpulan, bahwa “kebahagiaan” yang diperlukan oleh manusia berakhir kepada penjelmaan yang misteri yang dituntut oleh Kristus, yakni Kebangkitan yang diikuti oleh Kenaikan, maka pindahlah tempat tinggal Kristus dari bumi ke langit. Memang, tanpa adanya kenaikan, maka Kebangkitan itu tidak ada arti apa-apanya, karena sudah logis, bahwa adanya awal itu pasti mengakibatkan adanya akhir. Karenanya, kenaikan itu samasekali bukanlah suatu bukti perbuatan nyata, tetapi hanya merupakan suatu phenomena yang diciptakan oleh suatu proses kesimpulan yang ada dalam akal pikiran manusia saja. 
 

Di lain pihak, Kristus tidak bisa naik jika beliau sebelumnya tidak dibangkitkan, dan beliau tidak bisa dibangkitkan, seperti kita akui, jika beliau tidak wafat di kayu salib. Sehubungan dengan ini, kiranya patut untuk mengutip apa yang dikatakan “Bibel Lexikon” tersebut mengenai Kebangkitan itu. 

“Dalil kebangkitan Yesus itu – yakni intisari ajaran Injil yang menjadi ketetapan kaum Kristen – hanya didapati dari sumber-sumber Kristen saja.  Injil yang empat tidak menunjukkan kenaikan yang sesungguhnya, yang mana telah kita bicarakan, bahwa tidak ada saksi mata duniawi yang menyaksikan peristiwa itu, tetapi hanya mendapati makam yang kosong, dan terutama mendapati kebangkitan Kristus yang muncul di hadapan para muridnya. Kisah-kisah seperti ini menjadi problem saat ini, menunjukkan sedikit kesamaan dan berisi sejumlah pertentangan yang mendetail.  St. Thomas berkata, bahkan para muridnya juga, kebangkitan itu telah ditampakkan hanya melalui tanda-tanda kepercayaan tertentu (seperti dikemukakan oleh Perjanjian Lama dan para rasul) dan bukti-bukti lahiriah lainnya yang tidak menunjukkan kenaikan itu sendiri, tetapi mengenyampingkan ayat-ayat yang asli; keimanan orang-orang Kristen sudah didasari oleh apa yang diajarkan oleh para rasul tadi. Demikianlah, kebangkitan itu nyata, tetapi, sebagaimana satu kepercayaan misteri, ia bukanlah sesuatu yang dapat diperlihatkan oleh metode-metode ilmu sejarah yang sesungguhnya. Hanya keimanan para muridnya saja mengenai kebangkitan itu yang dapat membuktikan kebersejarahannya”. 

Mari kita kembali dan mengikuti jejak Yesus setelah keberangkatannya dari makam itu. Pertama, beliau berjumpa dengan Maria Magdalena dan para sahabatnya, yang dengan cara mereka sendiri memberitahukan kepada para murid Yesus bahwa mereka telah menjumpai makam yang kosong dan mereka telah diberi tahu oleh seorang malaikat, bahwa Yesus telah bangkit (bangun) dan sedang dalam perjalananya menuju ke Galilea.

 

“Dan mereka segera pergi dari makam itu dengan takut dan sukacita yang sangat, dan berlari-lari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada muridmurid Yesus. Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: “Salam bagimu”. Mereka mendekatinya dan memeluk kakinya serta menyembahnya.  “Maka kata Yesus kepada mereka: Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudaraku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat aku” (Matius 28:8-10).

 

Perlu dicatat, perempuan-perempuan itu nampak takut, dan Yesus berusaha menenangkannya. Rupanya mereka takut kalau-kalau Yesus pasti akan ditemukan lagi.
 

Kemudian Yesus pergi ke luar sejauh enampuluh mil perjalanan ke Galilea.  Setelah itu, dalam beberapa kesempatan, beliau muncul kepada para muridnya; tetapi beliau selalu ada di tempat di mana mereka tidak berada, hal ini agar beliau tidak dijumpai. Semua ini menggambarkan bahwa Yesus tetap dalam bentuk manusia biasa seutuhnya, dan beliau masih tetap dalam kesukaran untuk menghindar agar jangan sampai ditemui dan ditangkap kembali.

Apa bukti lain bahwa Yesus di sana itu bukan dalam bentuk ruhnya saja?

Pernyataan yang jelas dibuktikan oleh Lukas 24:36-39:

 

“Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu”. Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi ia berkata kepada mereka: Mengapakah kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?  Lihatlah tanganku dan kakiku: Aku sendirilah ini; rabalah aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada padaku”.

 

Dua ayat berikutnya, tiba-tiba Yesus menunjukkan rasa laparnya – sesuatu yang benar-benar tak bisa dimengerti atau suatu yang sangat mustahil jika itu dalam bentuk alam ketuhanan ataupun itu dalam bentuk alam kerohanian:

 

“Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah ia kepada mereka: Adakah padamu makanan di sini? Lalu mereka memberikan kepadanya sepotong ikan goreng. Lalu ia mengambilnya dan memakannya di depan mereka” (Lukas 24:41-43).

 

Pada Injil Yahya kita baca bahwa Yesus menunjukkan luka-lukanya dan beliau mengizinkan Thomas untuk menyentuhnya:

 

“Kemudian ia berkata kepada Thomas: Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganku, ulurkanlah tanganmu dan cobloskanlah ke dalam lambungku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah. Dan Thomas menjawabnya: Ya Tuhanku, Ya Allah” (Yahya 20:27-28)

 

Jelaslah, jika teori kita benar, maka cepat atau lambat Yesus meninggalkan Palestina, karena di sana beliau dalam keadaan bahaya. Memang, rupa-rupanya bahkan beliau sampai berlindung kepada penyamaran, karena menurut Markus 16:12:  “Sesudah itu ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota”. Rupa-rupanya hal yang sangat masuk akal untuk mempertimbangkan Yesus selama masa itu sebagai manusia lahiriah dan manusia jasmaniah yang sebenarnya. Sekarang, baginya mengungsi itu hanya satu-satunya pilihan.
 

Walaupun begitu, sebagaimana akan kita lihat pada bagian berikutnya, beliau masih memiliki sebagian missinya untuk dipenuhi, yakni, mencari dan menyelamatkan suku-suku Israel yang hilang. Andaikata beliau wafat di kayu salib, maka missi beliau pasti belum disempurnakan; dan demikianlah, setelah meninggalkan para muridnya terakhir kali, beliau pergi menuju ke arah Timur.