BAB III


KEHIDUPAN YESUS YANG KEDUA (2/5)

Mencari Suku-suku Israel Yang Hilang

Menurut berbagai Injil, missi utama Yesus adalah untuk memenuhi undangundang dan meyelamatkan keturunan Suku Yahudi yang hilang. Missi beliau kepada suku-suku tersebut adalah hal yang sangat menarik hati kita sekalian di bagian ini. 
 

Pada Injil Lukas 19:10 kita diberitahu, bahwa “Anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”, dan pada Lukas 22:29-30, Yesus berkata kepada para muridnya: “Dan aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapakku menentukan bagiku, bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan aku di dalam kerajaanku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi keduabelas suku Israel”. Pada Matius 10:5-6 beliau terutama menekankan: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria: Melainkan pergilah ke domba-domba yang hilang dari umat Israel”. Terbukti beliau sendiri pergi mencari suku-suku yang hilang tersebut, tetapi di manakah mereka itu?
 

Marilah kita kembali kepada sejarah bangsa Israel. Bebel memberitahukan kepada kita, bahwa Israel adalah nama yang diberikan kepada Ya’kub oleh seseorang yang misterius yang pernah bergelut dengannya di suatu malam di tepi sebuah anak sungai Yabok (Kejadian 32:22-32), atau oleh Tuhan ketika Dia menampakkan diri di hadapan Ya’kub di Bethel (Kejadian 35:9-10). Anak-anak atau Bani Israel adalah keturunan Ya’kub, Joshua-lah yang memimpin bangsa Israel ke Negeri Yang Dijanjikan setelah dikeluarkan dari Mesir, terbagilah negeri itu di antara duabelas suku, Judah dan Benyamin menempati bagian selatan, dan sisanya sepuluh suku menempati bagian utara dan timur tepi sungai Yordan. Setelah keadaan itu diperintah oleh para hakim untuk sementara waktu, dimana Joshua orang pertamanya, bangsa Israel memilih raja pertamanya, Saul. Dia digantikan oleh Daud yang menaklukkan dan membangun ibukota Yerusalem; dan Daud kemudian digantikan oleh puteranya, Sulaiman, yang di sana membangun sebuah tempat peribadatan yang indah untuk dipersembahkan kepada Yahweh atau Jehovah (nama Tuhan dalam Bebel). Ke sanalah akhirnya pemerintahan ditujukan. Sulaimanlah yang menekankan perluasan negeri itu, kemudian, ketika puteranya, Rehoboam, naik takhta, dan menjanjikan untuk memperluas negerinya lagi, akhirnya kerajaan terpecah menjadi dua dengan Judah dan Benyamin (Kerajaan Judah/Yudah), sebagian besar sisanya untuk Rehoboam, dan suku lainnya yang sepuluh itu membentuk Kerajaan Israel yang terpisah dengan ibukotanya di Samaria dan Jeroboam sebagai Raja pertamanya.
 

Sebagaimana biasa, hubungan kedua kerajaan itu menjadi retak, dalam beberapa tahun mereka terlibat peperangan, dan permusuhan itu terus berlanjut, berhenti untuk sementara waktu, hingga lama sekali yang akhirnya Israel membentuk Kerajaan yang berdiri sendiri. Raja yang kedua, Pekah, membentuk persekutuan dengan Rezin dari Syria, kemudian menyerbu Judah, ia mendapat kemenangan besar dan menangkap sejumlah besar tahanan perang. Pada waktu membalas kekalahan itu, Ahaz dari Judah membayar Tiglath Pileser dari Assyria yang datang untuk membantunya, akhirnya Pekah dan Rezin terbunuh. Karena Israel mulai runtuh di bawah jajahan bangsa Assyria, maka bangsa Assyria, menurut adat-istiadat mereka, mulai mengangkut rakyat yang ditaklukkannya berbondong-bondong untuk menempati daerah kekuasaan bersama-sama orang-orang dari daerah kekuasaan kekaisaran Assyria yang lain. Para pendatang baru itu akhirnya membentuk bangsa Samaritan, karenanya bangsa Yahudi – para penduduk Kerajaan Judah –menyebarkan rasa antipati yang dalam.
 

Walaupun demikian, satu setengah abad kemudian, Nebuchadnezzar dari Babylonia, yang pada waktu itu beruntung dapat mengatasi bangsa Assyria, ia dapat menaklukkan Yudah dan menghancurkan Yerusalem berikut tempat peribadatannya (Temple). “Dan mereka yang masih tinggal dan luput dari kibasan pedang, diangkutnya ke Babylonia dan mereka menjadi budaknya dan budak anak-anaknya sampai kerajaan Persia berkuasa” (II Tawarikh 36:20)
 

Dengan demikian, satu tahapan baru dimulailah dalam sejarah bangsa Yahudi. Suatu kali Cyrus menaklukkan Babylonia, dia memproklamirkan, bahwa bangsa Yahudi diizinkan kembali ke Yerusalem dan membangun kembali tempat peribadatan mereka di sana (Ezra 1:1-4). Namun demikian, yang pergi ke sana itu sedikit sekali jumlahnya dibandingkan yang tetap tinggal, oleh karena itulah harus diingat, yang tersisa ini menjadi obyek kekuasaan Persia termasuk bangsa Palestina.  Pengganti Cyrus adalah Darius yang kemudian dia memperluas kekaisaran, yang luasnya terbentang dari kepulauan Yunani sampai jauh ke India. Dariuslah yang telah mengerahkan kekuatan militernya yang begitu besar, sejak dari lautan Hindia sampai jauh ke utara, yakni: Bactria (Afghanistan). Kehancuran kekaisarannya disebabkan oleh bangsa Yunani, Bactrian, Scythian dan bangsa Parthian, yang telah meluaskannya jauh ke timur sampai ke sungai Jhelum di Kashmir. 
 

Walaupun Perjanjian Lama melukiskan bagaimana sisa bangsa Yahudi yang terasing itu kembali ke Palestina, di mana pun ia tidak membicarakan hal yang sama mengenai kembalinya sepuluh suku pembentuk Kerajaan Israel (berbeda dengan Yudah). Seperti Thomas Holditch menulis di dalam bukunya “The Gates of India”, dengan kehancurannya kekaisaran Assyria, sepuluh suku itu, yang lebih dari satu abad telah bercampur-baur dengan bangsa Mesopotamia dan Armenia, (rupanya) hilang dari penglihatan.
 

Walaupun begitu, sekalipun kitab-kitab yang menjadi kaidah Gereja, yakni:
Perjanjian Lama, tidak pernah membicarakan apa yang terjadi terhadap sepuluh suku setelah pengasingannya tersebut, kita diberitahu di dalam Injil yang tida resmi, yaitu pada 2 Edras 13:29-30, bahwa mereka tidak pernah kembali ke negeri asal mereka sendiri, tetapi terus mengembara ke Timur. Dikatakan pula di sana, bahwa mereka memakan waktu sampai satu setengah tahun untuk sampai ke tujuan tempat tinggal mereka yang dinamakan Asareth. Al-Hajj Khwaja Nazir Ahmad, seorang penulis yang benar-benar menggali penelaahan tersebut, di dalam bukunya “Yesus in Heaven on Earth” memaparkan kepada kita, bahwa di “Ta-baqat-i-Nasiri” dikatakan, bahwa pada waktu dinasti Shansabi, rakyat yang dinamakan Bani Israel (putera-putera Israel) tinggal di Asareth. Kemudian dia menyebutkan Thomas Ledlie, yang di dalam “More Ledlian”-nya (“Calcutta Review”, Januari 1898) di dalam membicarakan penduduk asli Afghanistan, mengingatkan bahwa Asareth ada hubungannya dengan Hazara, suatu daerah di Pakistan Utara. Daerah ini berbatasan dengan Kashmir, tetapi pada waktu dahulu terbentang sampai ke Indus hingga ke Chilas, yang sekarang ini termasuk daerah hukum teritorial bangsa Kahsmir.
 

Nazir Ahmad lebih jauh lagi menguraikan, yakni pada waktu itu, bangsabangsa penakluk sering menempati daerah kekuasaan baru dengan mencampurkan rakyat dari bagian kekaisaran lain, lalu membuka pusat-pusat kebudayaan dan perniagaan baru. Setelah membicarakan soal ini, dia memberi argumentasi bahwa hal itu benar-benar dapat dijalankan dengan baik, yakni Tiglagh-Pileser dan seorang atau lebih dari para penggantinya memindahkan sebagian bangsa Israel ke Timur. Hal ini perlu diperhatikan, bahwa para penakluk besar seperti (Tiglagh-Pilesser, Darius dan Iskandar Agung) menembus sejauh-jauhnya, tetapi kemudian tidak bisa menembus perbatasan India sebelah barat – yaitu tidak bisa sampai ke Punjab dan Lembah Indus, maka jika kelompok sepuluh suku bergerak ke Timur dengan kekuatan militer, atau tinggal di sebelah barat daerah tapal batas, kita bisa mendapatkan bukti bahwa memang mereka betul tinggal di daerah ini.
 

Kesimpulannya, Nazir Ahmad mengatakan, bahwa sangat beralasan sekali untuk dipercaya, sepuluh suku bangsa Israel yang hilang itu bisa didapati di Afghanistan, Gagh, Bukhara, Khurasan, Kokand, Samarkhan dan di Tibet, dan juga di sebelah barat China dan India, sebelah utara Pakistan, dan di Kashmir. Kebiasaan penduduk asli orang Ibrani berlangsung juga di Mesopotamia dan selanjutnya di barat; sedangkan orang-orang yang di Palestina, Arab, Turki, Mesopotamia dan di Persia mereka menyebut dirinya sebagai Yahudi, tetapi mereka yang tinggal di sebelah timur Persia menyebut dirinya sebagai Bani Israel, atau putera Israel. Dengan sendirinya hal ini sangat penting sekali.
 

Marilah kita pertimbangkan lagi beberapa naskah yang menyebutkan penduduk-penduduk asli bangsa Israel terhadap bangsa Afghanistan dan bangsa Kashmir.