BAB IV


TUJUAN YESUS: KASHMIR (1/7)

Sekarang marilah kita kembali kepada Yesus. Kita telah melihat bukti, bahwa beliau hidup terus setelah penyaliban dan muncul kepada para muridnya dalam bentuk jasmaniah, orang-orang yang tidak percaya sewaktu beliau menunjukkan badan beliau yang sama seperti sebelum penyaliban, beliau sekali lagi menunjukkan kepada mereka yang menyangkanya hantu, berulangkali beliau menunjukkannya dengan jelas bahwa beliau bukan hantu. Jelas sekali, sekalipun beliau tidak dapat tinggal di Palestina yang tidak menentu (karena suatu hal, yakni bahaya pengkhianatan yang kedua kali), maka tidak lama kemudian beliau pergi untuk menyempurnakan missinya dengan menjumpai sepuluh suku Israel yang hilang di Kashmir.
 

Di dalam kitab “Kanzul-Ummal” jilid 2, Abu Hurairah menerangkan kepada kita, bahwa Tuhan memberi petunjuk kepada Yesus supaya keluar dari Yerusalem, maka dengan begitu beliau pasti tidak akan diketahui dan dikejar-kejar. Setelah itu beliau pergi ke Galilea, dan demi memutuskan kesulitan yang dihadapi, dimana para pengikutnya selalu mengenalinya ketika beliau muncul di hadapan mereka (contohnya, lihatlah penjelasan pada Yahya 20:14-16, Lukas 21:13-31 dan pada Yahya 21:1-7), maka seringkali beliau menyamar.
 

Menurut Imam Abu Ja’far Muhammad al-Tabari dalam kitabnya yang termasyhur: “Tafsir Ibnu Jarir at-Tabari” menjelaskan bahwa “Yesus dan bundanya, Mariam, telah meninggalkan Palestina dan berangkat ke negeri yang jauh, berkelana dari satu negeri ke negeri lainnya” (Vol. 3, hal. 197). Dalam hubungan ini, sangat menarik sekali, bahwa dikala Yesus meninggalkan makam, beliau pergi ke Galilea, karena letak kota ini adalah rutenya para kafilah untuk pergi ke Syria, dan dari sana, dengan menembus Belukar yang Rimbun, beliau menuju ke arah Timur. 
 

Andaikata Yesus pergi sepanjang rute ini, maka tak dapat diingkari lagi bahwa beliau pasti mengunjungi Damaskus (Damsyik). Memang, hanya dua mil saja jauhnya dari kota, di sana ada satu tempat yang dinamakan “Maqam-i-‘Isa, yang artinya (“tempat di mana Yesus pernah tinggal”). Berbagai keterangan mendukung pandangan tersebut bahwa Yesus pernah tinggal beberapa lama di Damaskus; dan akan ingat kembali, bahwa dalam perjalanannya menuju Damaskus itulah Yesus pernah muncul kepada Saul dari Tarsus, yaitu orang yang pernah menganiaya orangorang Kristen dan menjadi rasul Paulus. Apabila hipotesa kami benar, maka mungkin sekali Yesus benar-benar pernah tinggal di Damaskus pada waktu itu, dan beliau dengan sengaja keluar untuk menemui Saul dalam perjalanannya ke kota dan berusaha menobatkannya.
 

Kita diberitahu, bahwa selama tinggalnya di Damaskus, Yesus menerima sepucuk surat dari Raja Nisibis yang memberitahukannya bahwa raja sedang menderita sakit keras dan ia memohon pertolongan beliau. Yesus mengirim balasan dan mengatakan, bahwa beliau pasti mengirimkan seorang muridnya dan beliau sendiri akan datang belakangan (“Biblioteca Christiana Ante-Nicena”, Vol.20 – Syrian Documents, 1). Beliau mengetahui, bahwa beberapa suku yang hilang tinggal di Nisibis – hal ini juga disebutkan oleh Josephus (“Antiquities”, XVIII, 9)- dan benar, bahwa waktu untuk meninggalkan Damaskus telah tiba. Tobatnya Saul itu membuat bangsa Yahudi berang, dan mereka berencana untuk menangkapnya. 
 

Mohammed bin Khavendshan bin Mahmud, yang biasanya dikenal sebagai Mir Khwand, menulis di dalam bukunya yang termasyhur: “Rauzat-us-Safa”, yang telah menjadi kebanggaan di antara karya-karya sejarah bangsa Persi, bahwa Yesus dan Mariam terbengkalai di kota, kemudian mereka pergi ke Syria (Vol. 1, hal.134).  Keadaan Yesus dan Mariam di saat-saat demikian ini diperkuat oleh pernyataan buku sejarah “Jami-ut-Tawarikh”-nya Faqir Muhammad yang juga mengatakan, bahwa Yesus pergi berjalan kaki dan membawa sebuah tongkat. Sumber yang sama (Vol. 2) memberitahukan kepada kita, bahwa beliau terus menuju Nisibis, di sana beliau berkunjung kepada raja dan mengajar; dan dari sana beliau melanjutkan perjalanannya ke Mashag, yang di sana terdapat makam Shem, putera Nabi Nuh. 
 

Buku sejarah “Nasikh-ut-Tawarikh” memberikan pernyataan yang sama, tetapi baik yang ini maupun dua sumber yang terakhir itu, tidak menjelaskan, mengapa Yesus tidak tinggal lama di Nisibis.Namun demikian, menurut “Tafsir Ibnu Jarir at-Tabari”, sebab orang-orang Nisibis menunjukkan ketidak senangan terhadap Yesus dan mereka ingin membunuhnya.
 

Nazir Ahmad memberi keterangan kepada kita, bahwa pada waktu Yesus di sana ada tiga kota yang dikenal seperti Nisibis (Nasibain); satu di antara Mosul (pusat perniagaan yang terbesar di atas sungai Tigris) dan Syria; satu di tepi sungai Euphrates (Eprat); dan satu lagi di dekat Jalalabad di Afghanistan. Di dalam “Majmaul-Buldan” Vol.8, hal. 1207 (oleh Shaikh-ul-Imam Shahabuddin Abi Abdullah Ya’qub bin Abdullah al-Hamdi al-Rumi al-Baghdadi) ia menyatakan, bahwa yang pertama itu terletak enam hari perjalanan dari Mosul, sepanjang rute kafilah besar dari Laut Tengah ke Teluk Persi dan terus ke Timur. Uraian ini pasti cocok dengan Nusaybin modern, yang terletak di Turki, dekat perbatasan Syria. 
 

Di waktu meninggalkan Nisibis, Yesus rupanya selama perjalanannya menggunakan nama “Yuz Asaf”, yang dihubungkan dengannya oleh tulisan-tulisan dan ceritera-ceritera adat-istiadat setempat yang langsung pernah dilalui oleh beliau. Buku sejarah “Farhang-i-Jahangiri” dan “Anjuman-i-Arae Nasiri” dari Raja Quli (xxiv, kolom 1) membicarakan Asaf sebagai seorang besar dari negeri-negeri Arab, sementara di dalam buku “Burhan-i-Qate” (XXXIV, kolom 2) Asaf adalah suatu nama yang diberikan kepada anak Barkhia, salah seorang yang terpelajar dari Bani Israel. Yuz, bagian nama lain, dinyatakan oleh Muhammad Badshah di dalam bukunya “Farhang-i-Anand Raj” (vol.8) sebagai “yang berkuasa” atau “pemimpin”. 
 

Gambaran yang jelas dari arti nama Yuz Asaf tersebut dilengkapi oleh buku “Farhang-i-Asafia” (vol.1) yang mengatakan bahwa Hazrat ‘Isa (Yesus) adalah “penyembuh penyakit kusta”; dan yang pernah membebaskan dari segala penyakit disebut “Asaf”. Jadi, jika “Yuz” artinnya “Pemimpin”, maka “Yuz Asaf” artinya sesuatu seperti “pemimpin penyembuh penyakit kusta”, yang sudah pasti sangat cocok sekali dengan nama Kristus. Hal ini menguatkan sekali, bahwa dua nama tersebut menandakan pribadi yang sama. “Faizi”, satu sya’ir dari istana Akbar, menandakan Yesus itu sebagai “Ai Ki Nami to: Yus o Kristo” (“Kamu itu yang bernama Yuz atau Kristus”).
 

Dalam melanjutkan perjalanannya, Yesus datang ke Iran. Adat-istiadat setempat memberitahukan kepada kita, bahwa seseorang yang disebut Yuz Asaf datang ke sana dari suatu negeri di barat, kemudian dia mengajar dan banyak menobatkan orang. Lagi, adat-istiadat ini secara terperinci menjelaskan bahwa Yuz Asaf adalah Yesus (Contohnya lihatlah Agha Mustafai dalam bukunya “Ahwali Ahalian-i-Paras”). Begitu juga jejak-jejak Yesus bisa didapati di Afghanistan: sebelah barat, dan di Ghazni dan Jalalabad di sebelah timur. 
 

Menjelajahi jejak-jejak Yesus di Timur, kita dapati adat-istiadat bahwa beliau pernah melalui daerah Taxila, kini Pakistan. (Pada tahun 1981, saya pernah meninjau daerah Taxila ini. Di tempat ini terdapat berbagai candi tua dan puingpuing peninggalan agama Buddha yang sudah tidak terurus lagi dan terletak di bukitbukit kecil yang tandus. Taxila ini adalah salah satu rute yang dilalui perjalanan Yesus kedua kalinya dari Palestina ke Kashmir, dan dari sini beliau terus mendaki perbukitan yang sekarang dinamakan “Bukit Muree” dimana Bunda Yesus, Maria, dikebumikan di bukit ini karena beliau tidak mampu lagi melanjutkan perjalanannya menuju Lembah Kashmir. Ceritera mengenai Bunda Yesus ini, bisa dilihat di dalam buku: “Khiyaban Murre” dalam bahasa Urdu oleh Latief Kashmiri, yang pernah saya jumpai dan wawancarai, dan kata beliau, buku ini sedang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk disebar-luaskan di Eropa dan Amerika. Sedikit menyinggung buku ini dan demi memperkuat fakta sejarah bahwa Yesus pernah melalui kota kuno Taxila dan Bukit Muree ini, di sini sedikit saya kutip keterangan dari buku tersebut:
 

“Bukit Muree ini dibenarkan oleh sejarah adalah tempat singgah serombongan pengembara yang datang dari daerah Barat yang sedang menuju “Lembah Kashmir” melalui Afghanistan dan kota kuno “Taxila”, India (sekarang termasuk daerah Propinsi Balucistan, Pakistan)(“Khiyaban Muree” halaman 11-12). Juga, demi menguatkan fakta, bahwa Yesus pernah melalui daerah ini, di mana di daerah ini banyak sekali penduduk keturunan bangsa Yahudi, hal ini pernah ditulis oleh Ghulam Ali Khan di dalam “Mingguan Bilal” tanggal 8 Juli 1981, yang diterbitkan oleh “Murraka Dera Ghari Khan” dalam bahasa Urdu, yang juga dikatakan di sana, bahwa di Propinsi Balucistan ada kota kecil yang bernama “Isa Kheli” yang artinya “Kota ‘Isa” yang menunjukkan bahwa ‘Isa as. pernah singgah di kota ini sebelum melanjutkan perjalanannya menuju Kashmir melalui Taxila”. Adapun “Bukit Muree”, kini di sekitarnya telah banyak dibangun Gereja-gereja dan sekolah-sekolah Kristen berikut biara-biaranya, dan tepat di sebelah makam Bunda Maria, kini telah dibangun Menara Pemancar Televesi untuk daerah Rawalpindi, Islamabad dan sekitarnya, dan Bukit Muree itu jauhnya dari kedua kota tersebut kurang-lebih 50 km, dan makam tersebut terletak di puncak bukit yang kini bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor melalui jalan berkelok-kelok dan jurang-jurang yang curam di kanan kirinya. –penj.).  Taxila ini tidak jauh dari perbatasan Kashmir (India). Menurut Injil yang tidak resmi yakni “Actae Thomae” (Kisah Perbuatan Thomas), Thomas pernah ada di sana sewaktu menghadiri pernikahan putera Gad, saudara Raja Gondafras, dan setelah upacara pernikahan itu usai:

 

“…… Thomas meninggalkan tempatnya. Mempelai laki-laki itu menarik tirai yang memisahkannya dari mempelai perempuan, dan ia melihat Thomas, seakan-akan ia sukar sekali untuk berkata kepadanya. Tiba-tiba ia berkata kepadanya: “Mengapa anda ada di sini? Bukankah saya melihat anda sudah pergi?” Dan Tuan itu menjawab: “Saya bukan Judas Thomas, tetapi saudaranya”.
(Actae Thomae dalam “Biblioteca Christiana Ante-Nicena”
Vol. 20. Lihat juga V.A. Smith, Early History of India, hal. 219). 

 

Yang penting dalam hal ini ialah Yahya, pada Yahya 20:24, Thomas diberi nama Didymus, yang dalam bahasa Yunaninya sama dengan bahasa Aramic “Ioma” artinya “Kembar”, dan diperkirakan Thomas dilahirkan jasmaninya lebih kuat, tidak seperti Yesus.
 

Lebih penting lagi, walaupun “Actae Thomae” telah menempatkan Thomas dan Mariam serta Yesus di Taxila, dan tidak dengan para muridnya di Yerusalem.  Menurut riwayat kuno ini, Thomas telah menemani Yesus ke Kashmir melalui Damaskus dan Magdonia (Nisibis) (lihat “Rauzat-us-Safa”, vol. I hal. 124); ada di Kashmir menjelang wafatnya Yesus (lihat Shaikh Al-Sa’id-us-Sadiq dalam “Kamalud-Din”); kemudian setelah menelusuri jejak-jejaknya ke Taxila, melanjutkan perjalanannya ke Kerala, di India selatan, dan wafat serta mayatnya dibakar di Milpore, Madras.