BAB IV


TUJUAN YESUS: KASHMIR (3/7)

Yesus tinggal di Kashmir

Sekarang marilah kita pertimbangkan beberapa teks yang menjadi saksi bagi tempat tinggal sementara Yesus dan wafatnya di Kashmir. 

Mulla Nadiri, seorang ahli sejarah Muslim pertama Kashmir, yang menulis dalam bahasa Persi, mengatakan di dalam bukunya”Tarikh-i-Kashmir”, bahwa Yuza Asaf mengawali da’wah risalahnya di Kashmir pada tahun 54 (tepatnya tanggal yang dimaksudkan ini akan didiskusikan kemudian). Sebagian kutipan yang bersangkutpaut dengan masalah ini di antaranya sebagai berikut:

“Raja yang bernama Gopananda kemudian memulai aktifitasnya di Lembah Kashmir. Selama kekuasaannya, banyak sekali tempat peribadatan dibangun dan diperbaiki. Dia mengundang Sulaiman dari Persi untuk keperluan perbaikan Takhta (Nabi) Sulaiman di gunung. Orang-orang Hindu berkeberatan dengan mengatakan, bahwa karena dia bukan orang Hindu dan dia itu pengikut agama lain, maka dia tidak bisa memperbaiki makam suci itu.

Di masa periode itu Yuza Asaf tiba dari Palestina dan mulai mengaku dirinya sebagai Nabi di Lembah Kashmir. Dia melaksanakan tugasnya siang dan malam, dan dia sangat tawakal dan suci. Dia menyampaikan firmanfirman Tuhan kepada rakyat Kashmir. Banyak sekali orang yang insyaf dan menjadi pengikutnya. Raja memohon kepadanya untuk memimpin orangorang Hindu ke jalan yang benar.

Sulaiman memperbaiki Takhta Sulaiman dan membangun empat tiang utama dengan dibubuhi tulisan berukir yang berbunyi:

Para pembangun tiang-tiang ini adalah Bhisti Zargar, tahun 54.
Dan Khawaja Runkun, putera Miryan.
Yuza Asaf mendakwahkan dirinya sebagai seorang nabi. Tahun 54.
Dia adalah Yuzu, dari suku-suku Israel.

Tulisan-tulisan berukir itu masih tetap ada dan mudah dibaca ketika Khawaja Haidar Malik Chadura menulis buku sejarahnya “Tarikh-I-Kashmir”, selama kekuasaan Jahangir (lihat pula Pirzada Ghulam Hasan dalam bukunya “Tarikh-i-Kashmir”, vol. 3). Tempat suci itu dikenal sebagai Takhta Sulaiman yang terletak di atas sebuah bukit lebih ke timur lagi dari Srinagar, dan mempersembahkan panorama kota yang mengagumkan.


Pecakapan Yesus bersama Shalewahin

Di dalam buku: “Bhavisya Mahapurana” kuno, yang ditulis dalam bahasa Sansekerta pada tahun 3191 dari Zaman Laukika (115 M.) dan dianggap berasal dari Viyas, dalam ayat (17-32) kita diberi tahu bahwa raja Shalewahin pada suatu hari keluar untuk berjalan-jalan di pegunungan dan di Voyen dekat Srinagar, melihat seseorang yang berpakaian lain daripada yang lain, berbaju putih dan berwajah simpatik. Raja menanyakan namanya. Yesus menjawab, bahwa dia yang dikenal sebagai anak Tuhan dan lahir dari seorang perawan. Sang Raja merasa terkejut, tetapi Yesus lebih lanjut menjelaskan, bahwa dia ditunjukkan jalan yang benar dan missinya adalah untuk membersihkan agama. Ketika sang raja mengulangi pertanyaannya, Yesus mengatakan kepadanya, bahwa dia telah menda’wahkan kependetaannya di suatu negeri yang jauh di seberang Indus, dan orang-orang di sana telah membuatnya menderita. Dia telah mengajarkan cinta-kasih, menunjukkan jalan yang benar dan menjernihkan hati, dan karena hal inilah dia telah dikenal sebagai Masih.

Berikut ini adalah terjemahan ayat-ayat yang berhubungan dengan peristiwa itu:

“Shalewahin, cucu Bikramajit, memikul tanggungjawab pemerintahan.  Dia berperang dengan pasukan gerombolan China, Parthian, Scythian dan Bactrian. Dia menentukan perbatasan antara bangsa Arya dengan bangsa Amalekit, meminta mereka untuk tinggal di sisi lain sungai Indus. Suatu hari Shalewahin menuju Himalaya, dan di sana, di tengah-tengah negeri Hun, raja yang berkuasa itu melihat seseorang yang sangat berbeda sekali sedang duduk di dekat suatu bukit. Berwajah simpatik dan berpakaian putih. Raja Shalewahin bertanya kepadanya, siapakah gerangan orang itu. Dia menjawab dengan lemah lembut: “Saya yang dikenal sebagai anak Tuhan yang lahir dari seorang perawan”.

Sang Raja merasa terpesona dengan jawaban ini, kemudian orang suci itu melanjutkan: “Saya mengajarkan agama bangsa Amalekit dan mengikuti prinsip-prinsip kebenaran sejati”.

Sang Raja bertanya kepadanya mengenai agamanya dan dia menjawab:
“Wahai raja, saya menyeru dari negeri yang jauh, dimana kebenaran tidak bisa tinggal lama, dan kejahatan sudah merajalela tanpa batas. Saya muncul di negeri bangsa Amalekit sebagai Masih. Melalui sayalah orang-orang berdosa dan orang-orang bersalah menderita, dan saya juga menderita di tangan-tangan mereka”.

Sang Raja memohon kepadanya untuk menjelaskan perihal ajaran agamanya lebih banyak lagi, dan orang suci itu mengatakan kepadanya:

“Mengajarkan cinta-kasih, kebenaran dan kesucian hati. Membimbing manusia untuk mengabdi kepada Tuhan yang menjadi pusatnya matahari dan segala makhluk. Dan Tuhan beserta makhluk itu akan abadi”. 

Sang Raja kembali setelah berjanji akan setia kepada orang suci itu.