BAB IV


TUJUAN YESUS: KASHMIR (4/7)

Yesus, Keluarga Manusia

Bab ini pasti akan lebih banyak menimbulkan bantahan dalam buku ini, karena meliputi hal-hal yang pelik, yakni apakah Yesus Selama di Kashmir itu mempunyai isteri dan anak atau tidak. Proffesor Hasnain dan Sahibzada Basharat Saleem, orang yang mungkin langsung dari keturunan Yesus, kedua-duanya mengatakan kepada saya, bahwa itu benar, tetapi jawaban-jawaban yang mereka berikan atas pertanyaan-pertanyaan saya dalam masalah ini condong untuk dielakkan, walaupun berproses dari pertanyaan-pertanyaan yang murni. Keduanya mengemukakan masalah ini dengan penuh kehati-hatian dan arah yang pasti demi mencegah kisah ini menjadi kegaduhan dan penyalah-gunaan. 
 

Sebagaimana niat saya di dalam buku ini untuk meriwayatkan segala aspek apa yang disebut “Kehidupan Kedua” Kristus, saya harus meriwayatkannya sebenar benarnya. Namun karena hormat saya kepada kedua orang yang saya hormati tersebut, yang telah memberikan informasi kepada saya, kedua-duanya sungguh baik dan menunjukkan akhlak yang mulia. Saya mohon kepada hakim yang adil yakni para pembaca yang budiman, agar jangan melebih-lebihkan maupun membesarbesarkan sesuatu yang terdapat di baris-baris berikut ini.
 

Diwaktu mendengar ada keturunan Yesus tinggal di Srinagar, saya dapat mewawancarainya; tetapi, karena saya tidak tahu bahwa ada beberapa naskah yang menyatakan bahwa Yesus mempunyai anak, saya pertamakali menghubungi Professor Hassnain yang tak ada sangkut pautnya dengan masalah tersebut. Beliau mengatakan kepada saya, bahwa sepengetahuannya, sumber yang ditulis dalam masalah ini adalah dari: “Negaris-Tan-i-Kashmir” satu buku tua berbahasa Persi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Urdu, dan ia menceriterakan bahwa raja Shalewahin (yakni Raja yang pernah bertemu dan berbincang-bincang dengan Yesus di suatu perbukitan) mengatakan kepada Yesus bila ia butuh seorang perempuan untuk merawatnya, dan dia menawarkannya atas pilihannya pada seorang perempuan yang berusia limapuluh tahun. Yesus menjawab, bahwa beliau tidak memerlukan siapa pun dan juga tidak memerlukan orang yang harus membantu pekerjaannya, tetapi Raja tetap berusaha hingga Yesus menyetujuinya seorang perempuan untuk membantunya memasak, mengurus rumah dan mencuci bajunya. Professor Hassnain memberitahukan kepada saya bahwa nama perempuan itu adalah Maryan, dan buku yang sama itu pun menyatakan bahwa perempuan itu melahirkan anak-anak Yesus. 
 

Sahibzada Basharat Saleem menerima kami di rumahnya di Srinagar. Beliau adalah seorang fotografer yang lincah dan seorang pencinta seni dan syair. –ringkasnya, beliau adalah seorang yang halus perasaannya. Ketika kami tanyakan kepada beliau, apakah benar beliau ini keturunan Yesus, beliau menjawab, bahwa kapan saja beliau menanyakan perihal itu kepada ayahnya, ayahnya selalu menjawab, bahwa kakeknya dari kakek (yakni nenek moyangnya yang jauh) adalah seorang Nabi yang bernama Yuz Asaf. Beliau juga selalu berkata, bahwa di dekat makam nenek-moyang tersebut, di distrik Khanyar, ada satu tempat suci yang di sana dibaringkan jenazah seorang yang suci dan agung di Kashmir, dihormati oleh seluruh penduduk Srinagar. Orang suci ini begitu dihormati dan begitu penting di Kashmir, ayah beliau menyatakan kepada beliau, bahwa dia benar-benar tak ada bandingannya dengan Nabi yang dikuburkan di makam yang dikenal sebagai “Rozabal” tersebut. 
 

Sahibzada Basharat Saleem juga memberitahukan kepada kami bahwa, kapan saja bila ayah beliau ditanya, apakah dia seorang keturunan Yesus, jawabannya adalah: “Ya sungguh benar, tetapi kami memanggilnya Yuza Asaf”. 
 

Sahibzada Basharat Saleem adalah anak Sahibzada Ghulam Mohiyudin, anak dari Sahibzada Abdul Ahad, putera Sahibzada Abdus Samad, putera Sahibzada Abubekr – dan seterusnya hingga sampai ke Yuz Asaf atau Yesus. Sahibzada Basharat Saleem memiliki daftar silsilah yang mendetail tentang keturunannya sampai kepada Yesus. Ketika ditanyakan mengenai nama perempuan yang melahirkan anak-anak Yesus, beliau menguatkan, bahwa nama itu adalah Maryan (Mirjan atau Marjon) dan dikatakan perempuan itu datang dari suatu kampung penggembala, yang cantik rupawan di lembah Pahalgam yang subur, di Kashmir. 
 

Riwayat kuno lain mengenai Yesus yang sangat menarik hati di dalam tulisan ini adalah karya sejarah yang berbahasa Persi, yaitu “Rauzat-us-Safa”, yang ada hubungannya ialah (Bagian I, Vol.2, halaman 182-183) “dikatakan bahwa, setelah dia turun dari dunia atas sana, Isa (Yesus) akan hidup lebih dari empatpuluh tahun, akan menikah dan mempunyai anak, akan memerangi musuh-musuh kaum Muslimin, dan akan menghancurkan semua bangsa yang mengikuti agama-agama lain”. Sementara kemunculannya ini sehubungan dengan kedatangannya yang kedua kali, hal ini begitu penting karena ia berisi sesuatu yang menyangkut tradisi pernikahan Yesus.
 

Kembali kepada Sahibzada Basharat Saleem, kiranya patut dicatat, bahwa keduanya, ayahnya dan kakeknya dikenang di Kashmir sebagai orang-orang yang memiliki kekuatan menyembuhkan. Basharat Saleem yang sudah dikenal setiap orang di Srinagar, memberitahukan kepada kami, bahwa pada suatu hari ada seseorang, yang telah mengenal putera siapa beliau ini, berlutut di hadapannya dan mengatakan kepadanya bahwa ia punya seorang anak laki-laki yang sedang sakit keras yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter. Dia memohon kepada ayah Basharat Saleem untuk mendo’akan demi kesembuhan anak itu, lalu beliau mengatakan bahwa beliau akan berdo’a demi kesembuhan anak yang sakit tersebut dan orang itu pun harus melakukan yang sama setelah ia kembali pulang ke rumahnya. Sekalipun sedang menghadapi sakaratul-maut, pada tengah malam tiba-tiba anak itu meminta susu, dan di pagi hari anak itu segar-bugar dan bangun sehat kembali. 
 

Basharat Saleem juga berceritera lagi bahwa ada seorang perempuan yang sedang sakit dimana para dokter sudah menyerah seperti putus asa, lalu si pasien itu didatangi ayahnya di rumahsakit dan memintanya untuk dipindahkan dari rumahsakit dan dirawat di rumah saja. Setelah beberapa hari, perempuan itu sembuh seperti sediakala.
 

Berbicara mengenai kehidupan beliau sendiri, Basharat Saleem mengatakan kepada kami, bahwa sebelumnya beliau pernah terjun dalam bidang politik, tetapi beliau dapati bahwa orang-orang berpolitik itu rata-rata curang. Beliau yakin, bahwa seseorang dapat menolong orang yang miskin apabila seseorang itu memiliki kekuasaan, tetapi para politikus pada umumnya menggunakan kekuasaan mereka akhirnya hanya untuk kepentingan diri-pribadinya saja. Basharat Saleem suka menulis sya’ir, tetapi keuntungan finansialnya bukan untuk kepentingan sendiri; beliau suka mendermakan uangnya untuk keperluan kaum pakir-miskin. 
 

Beliau juga mengatakan kepada kami, bahwa sudah menjadi tradisi, anak yang tertua dari masing-masing generasi dari keluarganya harus memelihara kelestarian “Rozabal”, suatu bangunan di Srinagar yang menaungi Jasad Yesus.  Saudaranya tinggal di sekitar bangunan tersebut. Basharat Saleem telah mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk membantu mengatur taman di sekeliling bangunan itu, tetapi sayang, ditolak. Kesukaran pribadi untuk memelihara bangunan tersebut menjadikan penghalang, tetapi beliau membayar seorang pekerja untuk melakukan hal itu dan untuk melayani para pengunjung serta keluarga dalamnya yang kadang-kadang datang untuk berziarah ke makam tersebut. 
 

Sahibzada Basharat Saleem, keturunan Yesus, telah terdaftar dalam suatu edisi Asian “Who’s Who” yang dikatakannya bahwa beliau lahir tanggal 14 Agustus 1934 di Srinagar; beliau pernah menjadi editor salah satu Koran Harian, dan sekarang menjadi pemilik hotel; karena beliau pernah menjadi pimpinan politik, maka beliau pernah ditangkap dan dipenjara beberapa kali. Yang terakhir, ini terjadi pada tahun 1965, selama konflik Indo-Pakistan.
 

Pada hari sebelum kami meninggalkan Kashmir, di waktu senja kami banyak berbincang-bincang dengan Basharat Saleem, dan di malam harinya kami makan bersama di rumah Professor Hassnain. Tiga jam kemudian, setelah membagi-bagikan makanan menu Muslim yang baik, kami ingat bahwa camera kami tertinggal di belakang Basharat Saleem. Pada waktu kami kembali ke sana, kami diberitahu, bahwa beliau sedang mencari-cari kami dengan membawa camera kami, lalu kami kembali lagi menuju taksi kami yang kehabisan bensin sekitar satu seperempat mil jauhnya. Diwaktu demikian itu kebetulan kami berjumpa dengan Basharat Saleem yang sedang menuju pulang dengan camera kami masih di tangannya. Rupanya beliau telah berputar-putar mencari dan tidak menemukan kami yang sedang diam di sebuah rumah terapung di atas Danau Nagin, beliau pergi bejalan kaki (seperti kebanyakan orang-orang Kashmir, beliau tidak memiliki kendaraan) dan beliau mencari-cari kami di sepanjang Danau Nagin dan Danau Dal, berdayung dari perahu ke perahu lainnya di bawah curahan hujan selama empat jam. Setelah mengalami segala kesulitan dengan tanpa hasil, beliau pulang kembali ke rumah dengan niat, nanti akan mengembalikan camera itu dengan titipan kapal udara, dan bila perlu, ke pelabuhan udara sendiri yang jaraknya sangat jauh sekali dari kota. Memperhatikan hal demikian, ini menunjukkan bahwa, bahkan dalam perkara kecil seperti itu pun, beliau itu perwujudan akhlak nan bijaksana yang sangat indah dipandang dari kebanyakan orang-orang istimewa.
 

Kesimpulannya, kiranya patut untuk dicatat bahwa Basharat maknanya “Risalah” dan Saleem maknanya “Baik”, dengan kata lain bahwa kehidupan keturunan Yesus ini dikenal lebih pantas lagi ialah dengan nama “Berita Gembira”.