BAB IV


TUJUAN YESUS: KASHMIR (6/7)

Para Pejabat yang menetapkan penyerahan Rozabal

Penjaga makam Yesus itu memegang surat tua ketetapan pembangunan yang menetapkan pembangunan makam Yuz Asaf atau Yesus. Ketetapan itu dijamin atas kuasa Rahman Mir dengan ditandatangani oleh lima mufti (hakim) dari Srinagar. Itu ditandatangani dan dicap oleh mereka bertanggalkan 1766. Teks lengkapnya sebagai berikut:

Pada kerajaan ini, di Departemen Pendidikan dan Agama dan di Dewan Kehakiman, Rahman Mir, putera Bahadur Mir, mengumumkan, bahwa para bangsawan, para menteri, para raja, para pejabat tinggi dan masyarakat umum datang dari setiap penjuru ke bangunan suci Nabi Yuz Asaf yang dirahmati Tuhan, untuk menyampaikan rasa hormat dan sesembahan; dan dia menyatakan, bahwa dia diberi kuasa penuh untuk menerima dan memanfaatkan sesembahan tersebut, dan tidak ada orang lain yang diberi hak, dan semua orang lain harus mencegah dari campur tangan terhadap yang berhak ini.

Setelah menguatkan pernyataan itu, maka dibangunlah pada zaman kekuasaan raja Gopadatta, yang pernah memperbaiki bangunan di atas Bukit Sulaiman dan banyak membangun tempat peribadatan (kuil-kuil), seseorang yang bernama Yuz Asaf datang. Dia seorang pangeran besar dan meninggalkan semua keduniawian, mengaku dan menjadi seorang pembuat undang-undang. Dia biasa melaksanakan sembahyang siang dan malam kepada Tuhan, dan melalui masa yang lama menyepi dan bermeditasi. Ini terjadi setelah banjir besar di Kashmir ketika rakyat merelakan dirinya untuk menyembah segala berhala. Yuz Asaf telah diutus sebagai seorang Nabi untuk mengajar bangsa Kashmir. Dia mengajarkan Keesaan Ilahi hingga menjelang wafatnya dan kemudian meninggal dunia. Dia dimakamkan di Mohall Khanyar di tepi danau, di tempat yang dikenal sebagai “Rauzabal”.  Pada tahun 1451, Sayyid Naziruddin Rizvi, seorang keturunan Imam Moosa Ali Raza, telah dimakamkam berdampingan dengan Yuz Asaf. 

Karena tempat itu selalu dikunjungi oleh setiap orang, baik itu orang pangkat maupun orang rendah, dan Rahman Mir, yang tadi disebutkan, dia berhak menerima segala sesembahan yang diberikan di sana, dan tidak seorang lain pun yang dibenarkan atau berhubungan dengan sesembahan itu. 

Dikuasakan oleh kami, pada hari yang ketujuh Jumadil-ats-Tsani, 1184 Hijriah (1766 M).

Cap dan tandatangan:

Cap dan tandatangan:

Mulla Fazl, Mufti Azam

Muhammad Akbar, Khadim

Abdul Shakur, Mufti Azam

Raza Akbar, Khadim

Ahmadullah, Mufti

KhizarMuhammad, Khadim

Muhammad Azam, Mufti

Habibullah, Khadim.

Hafiz Ahsanullah, Mufti.

 

 
Ladakh, negeri Yesus dan Kristen

Ini hanya perbandingan saja. Ladakh, yang terletak di bagian timur pemerintahan Jammu dan Kashmir serta salah satu daerah tempat tinggal tertinggi di muka bumi, mulai membuka pintunya yang ajaib. Inilah suatu negeri yang seakanakan bumi dan langit bertemu, suatu negeri yang berpadang pasir luas dan himpitan gunung-gunung batu yang gelap. Ibukota negeri itu Leh, yang terletak hanya beberapa mil saja dari Biara Hemis, dimana Nicolai Notovich mendapatkan sejumlah manuskrip yang membicarakan perjalanan pertama Yesus ke Timur, ke India, Ceylon dan Kashmir.
 

Lady Henrietta Merrick, di dalam bukunya: “In the World’s Attic” (“Di Atap Langit Dunia”) (halaman 215) menguatkan, bahwa kependetaan (biara) Hemis memiliki berbagai dokumen yang ditulis dalam bahasa Tibet dan Pali yang membicarakan hari-hari Yesus ketika ada di Leh, dimana beliau diterima dengan sukacita dan pernah mengajar.
 

Ladakh dan tetangganya, Tibet, adalah negeri-negeri pilihan kaum Kristen permulaan. Di Tankse, kira-kira enampuluh mil dari Leh, di sana ada beberapa batu yang bertuliskan kaligrafi (ukiran) yang ditulis oleh orang Kristen Nestarian zaman dahulu, orang-orang mistik pun datang dari Syria kemudian tinggal di Tankse. Di sebelah tulisan berukir tersebut ada pahatan salib St. George. 
 

Sangat berharga sekali untuk ditelaah, mengapa orang-orang Kristen Nestorian, para pendiri sekte Nestorian, para pemimpin Constantinople permulaan pada tahun 428 sampai 431 Masehi, mereka sampai dan tinggal di sini. Kaum Kristen Nestorian yakin, bahwa Yesus memiliki dua sifat, sifat kemanusiaan dan sifat ketuhanan, dan sifat ketuhanannya “tertanam” dalam sifat kemanusiaannya. Dengan ciri khas yang sama, para Nestorian itu mengakui, bahwa Mariam hanyalah ibu manusia, bukan ibu Tuhan, yakni Yesus. Doktrin ini telah dikukuhkan oleh Dewan Ephesus pada tahun 431, tetapi menjadi di bawah kepemimpinan Katholikos, gereja kenegaraan Persia. Tambahan pula, ia telah sukses luar biasa di India, di mana para Nestorian itu telah mengembangkan mata-rantai kaum Kristen St. Thomas, baik itu yang ada di Turkistan, di Cina maupun di berbagai bangsa Mongol. Namun demikian, karena harus membayar hutang kepada tuntutan yang diderita akibat tangan-tangan Tamburlaine (yang sebenarnya Timur i Leng) pada abad keenambelas, Chaldean Nestorian bergabung dengan Gereja Roma, dan pada tahun 1914-1917 kaum Nestorian akhirnya menderita tuntutan hukuman mati yang mengerikan di tangan-tangan bangsa Turki. Orang-orang yang hidup terus dari tuntutan hukuman mati itu, mungkin bisa ditemukan di sebelah utara Irak. 
 

Tulisan mengenai Nestorian itu di dalam bukunya “Les Religions du Tibet 1974, Marcelle Lalou mengatakan, bahwa selama abad pertengahan sekte Nestorian pasti berhubungan dengan suku-suku bangsa Tibet yang berkemah di Asia Tengah, dimana mereka berusaha membangun kekaisaran. Jean Dauvillier menunjukkan tulisan Cina yang diukir pada lembaran sebuah batu dan sekarang disimpan di Ueno Museum di Tokyo, yang menggambarkan, bahwa orang-orang Cina pada umumnya adalah penganut Kristen Nestorian yang mengikuti upacara agama Chaldean, yang berusaha merobah suku bangsa Tibet yang memerintah antara tahun 656 dan 661. 
 

 Jejak-jejak Kristen menurut upacara Chaldean telah ditemukan di Tibet, dan tepatnya di Drang-tse, dekat Danau Pang-Kong, pada rute kafilah yang menuju Lhasa. Tulisan ukiran pada batu di sana terdapat tiga tulisan Chaldean bersilang yang didampingi tulisan berukir dari berbagai bahasa. Yang berbahasa Tibet sekarang tak dapat dibaca, tetapi satu yang berbahasa Sogdian (bahasa kuno dari daerah Samarkand) meliputi nama Yesus dan bertanggal, kira-kira 825 sampai 826 Masehi. 
 

Masyarakat Chaldean dari Tibet pasti penting sekali artinya, sebagaimana di dalam dua suratnya (bertanggal antara 792 dan 798) Patriach Timothy I menyebutkan kaum Kristen bangsa Tibet dan menyatakan dirinya ingin memetropolitankan bishop besar “untuk negeri bangsa Tibet”. Ini menggambarkan pendirian kuat para pendeta dan beberapa bishop di Tibet.
 

Khusus ada bukti yang amat menarik, bahwa Marcell Lalou mendapati Kristen yang percaya pada manuskrip-manuskrip Buddha yang penting yang ditemukan oleh Pelliot di ribuan goa Buddha di Ten-huang. Manuskrip tersebut “Petunjuk Jalan Kematian: Petunjuk kepada Kesucian Singgasana Tuhan”, bertanggal dari periode tahun 800 sampai 1035, tetapi berupa kutipan ulang dari teksteks terdahulu. Ia meliput keselamatan orang mati langsung melalui sembahyang dan do’a atau seruan kepada Bodisatwa, dan begitulah ia menunjukkan kepada belas kasih dan pengampunan terhadap hukum Karma yang kejam, yakni perbuatan seseorang di dalam hidup yang telah dipastikan untuk masa depannya setelah mati. Marcelle Lalou mengakui, bahwa “diwaktu menelaah dokumen ini, mustahil sekali kalau tidak melihat jejak-jejak kepercayaan Kristen dalam hal penebusan dosa”. Selanjutnya, untuk membandingkan antara Buddha dan Kristen, akan didiskusikan dalam bab belakangan.


Penyaliban Sandiman

Mengungkap tabir sejarah India yang panjang, hanya satu saja yang tercatat mengenai penyaliban yang terjadi di sana, dan ini sangat penting sekali artinya, dan dikatakan itu terjadi di Srinagar. Kejadian itu diceriterakan di abad keduabelas dalam buku Rajatarangini yang ditulis dalam bahasa Sansekerta oleh Pandit Kalhana dan kejadian itu ada hubungannya dengan Yesus.
 

San Issana (Yesus) tinggal di Ishbar di tepi danau Dal di Kashmir. Dia adalah seorang yang termashur kesucian dan kemuliannya, setiap orang mendengarkan khotbahnya, dan dia mempunyai sejumlah pengikut. Salah seorang muridnya yang utama ialah Sandiman (yang dikenal juga sebagai Sandimati) telah dipenjara selama sepuluh tahun. San Issana merawatnya dan melihat tiga kalimat yang ditulis di depan Sandiman:
 

1.   Orang ini akan hidup sederhana.
2.   Dia akan disalib setelah sepuluh tahun dipenjara
3.   Dan, setelah kebangkitannya, ia akan menjadi raja.
 

Sandiman disalib di papan pagar, dan banyak sekali orang yang menyaksikan penyaliban itu. Di waktu malam, seorang perempuan suci mendekatinya dan mengelilingi tubuhnya. San Issana menjadi sedih; dia pergi ke tempat itu dan pada hari yang ketiga Sandiman hidup kembali. Orang-orang datang merasa heran melihatnya lalu ditawarkannya mahkota Kashmir kepadanya. Dia menolak tawaran tersebut, tetapi orang-orang itu tidak mau meninggalkannya, dan akhirnya dia setuju menjadi raja.
 

Pengarang itu lebih jauh lagi mengatakan, bahwa peristiwa penyaliban yang luar biasa itu hanya terjadi satu kali saja di dalam sejarah kuno Kashmir, benar atau tidaknya kiranya hal ini perlu diperhatikan karena ada kemiripan persamaan dengan sejarah penyaliban Yesus.
 

Jelas sekali, dia katakan, San Issana si orang yang termasyhur itu tiada lain adalah Yesus itu sendiri. Ini perlu diperhatikan juga bahwa Issana itu tinggal di Ishbar, yang artinya “Tempat Issa”, dan dengan perantaraan dialah Sandiman bisa bangkit. Kisah ini juga terdapat di berbagai sejarah Kashmir.