BAB V


MUSA DIMAKAMKAN DI KASHMIR (1/2)

“Dan dikuburkannyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburannya sampai hari ini” (Ulangan 34:6).

“Beritahukanlah aku, bukankah jasad Musa dibaringkan di suatu tempat yang jauh di Timur?” (St. John Chrysostom, Homily 25, pada Ibrani 3).

Menurut pernyatan Kitab Ulangan, Musa, yang memimpin bangsa Israel dari Mesir, tidak diizinkan untuk memasuki Negeri yang Dijanjikan:

“Pada hari itu juga Tuhan berfirman kepada Musa: “Naiklah ke atas pegunungan Abarim, ke atas gunung Nebo, yang di tanah Moab, di tentangan Yerikho, dan pandanglah tanah Kanaan yang Kuberikan kepada orang Israel menjadi miliknya, kemudian engkau akan mati di atas gunung yang akan kau naiki itu, supaya engkau dikumpulkan kepada kaum leluhurmu, sama seperti Harun, kakakmu, sudah meninggal di gunung Hor dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya – oleh sebab kamu telah berubah setia terhadap Aku di tengah-tengah orang Israel, dekat mata air Meriba di Kadesy di padang gurun Zin, dan oleh sebab kamu tidak menghormati kekudusanKu di tengah-tengah orang Israel. Engkau boleh melihat negeri itu terbentang di depanmu, tetapi tidak boleh masuk ke sana, ke negeri yang Kuberikan kepada orang Israel”.  (Ulangan 32:48-52).

Para sarjana Bibel tidak tetap menentukan beberapa tempat yang berhubungan dengan kematian Musa; Peak, di dalam bukunya “Commentary on the Bible”, menyatakan dengan pasti, bahwa mereka tidak tahu. Sungguh menarik hati, nama-nama yang cocok muncul di Kashmir. Di sana, sebagaimana akan kita lihat, ada “Makam Musa”; dan nama-nama tempat di sana menunjukkan sangat mirip dengan salah satu yang diterangkan di dalam Bebel.

 

“Bethpeor” (Ulangan 4:46; 34:6) artinya “rumah (tempat) terbuka”(Lihat Cruden’s Concordance). Sungai Jhelum, yang dinamakan Behat di dalam bahasa Persi dan Venath di dalam bahasa Kashmir, mengalir dari Danau Wular dekat Bandipur atau Bandipoor, yang akhirnya dikenal sebagai Behatpoor (“Rajatarangini” VIII).
 

Heshbon” (ulangan 4:46) telah termashyur karena kolam-kolam ikannya (nyanyian Sulaiman 7:4). Di kashmir ada sebuah kota kecil bernama Hashaba (Hazbal), yang sangat termasyhur karena danau-danaunya yang kaya dengan ikannya, dan terletak kurang lebih duabelas mil sebelah timur-laut Bandipur. 
 

Pisgah” (Ulangan 4:49) disebutkan karena sumber mata airnya. Kota Pisgah atau Pishnag kurang lebih satu mil ke arah timur-laut dari Aham Sharif, satu kota kecil di kaki gunung Niltoop atau Nebo. Airnya termasyhur karena mengandung obat yang berkhasiat.
 

Dataran “Moab” pasti ada hubungannya dengan dataran “Movu”, kurang lebih empat mil ke arah timur laut dari gunung Nebo.
 

Gunung “Nebo” dan gunung “Abarim” (Ulangan 32:49) diperkirakan satu dan sama, tetapi pasti (lihat Dummelow dalam bukunya “Commentary on the Holy Bible” , hal. 115) gunung Nebo itu yang sebenarnya satu puncak dengan gunung Abarim. Di Kashmir ada gunung Niltoop (Baal Nebu) kurang lebih delapan mil sebelah timur-laut Bandipur. Newall, di dalam bukunya “The Highland of India”, vol.  2 menyebut-nyebut Bukit Naboo. Tidak berapa jauh dari gunung Ablu maupun dari gunung Neltoop ada sebuah panorama yang mentakjubkan di atas Lembah Kashmir yang dapat dinikmati keindahannya.
 

Perincian terakhir ini begitu penting, sebagaimana dari Abaria atau Nebo, Musa telah melihat Tanah Yang Dijanjikan – “suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya”, “negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah” dan “mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit” (Ulangan 11:9, 11). Di Palestina sebenarnya ada gunung Abarim, tetapi pemandangan yang benar-benar mempunyai panorama yang luas dan tanah yang subur, dari gunung Ablu itulah sebenarnya.
 

Mohammad Yasin, penulis buku “Misteries of Kashmir” yang mempunyai sub-judul “Kashmir: Tanah Yang Dijanjikan”, mengatakan, bahwa dari Palestina ke arah timur, di sana tidak ada negeri yang banyak sumber mata air dan sungaisungainya, demikian pula berlimpah dengan buah dan bunga-bunganya, atau demikian indah padang rumput serta lembah hijaunya seperti di Kashmir, yang tepat sekali dia terangkan dengan sebutan “Jannat-to-Duniya” (Sorga Dunia) dan “Bagh-i- Jannat” (“Taman Sorga”).


Makam
Nabi Musa

Ceritera kuno bangsa Kashmir, baik berupa tulisan maupun lisan menguatkan, bahwa Musa datang ke Kashmir dan dimakamkan di sana. Di dalam “Hashmat-i-Kashmir”, oleh Abdul-Qadir, halaman 7, kami baca, bahwa “Musa tiba di Kashmir dan orang-orang mendengarkan khutbahnya. Sebagian ada yang beriman kepadanya dan sebagian lagi tidak.Dia wafat dan dimakamkan di sana. Orang-orang Kashmir menamakan makam itu sebagai “Tempat Suci Nabi Ahli Kitab”. 

Makam yang ditunjukkan di sini adalah satu makam yang terletak di puncak bukit Niltoop, yang dikatakan telah dihormati sejak 3.500 tahun yang silam. Dari sana dapat dilihat tempat-tempat yang telah dibicarakan di berbagai bab di muka, dan di dekat tempat itu ada beberapa tempat yang dikenal sebagai “Muqam-i-Musa”: “Tempat Musa”. “Musa” ialah bahasa Arab yang bahasa Inggrisnya Moses. 

Nabi Muhammad bersabda, bahwa ketika dia merasa bahwa ajalnya sudah dekat, dia berdo’a kepada Tuhan agar mengizinkannya untuk melihat Negeri Yang Dijanjikan. Do’anya dikabulkan. Abu Hurairah menerangkan kepada kita (Bukhari, vol. 2), bahwa Nabi Muhammad lebih lanjut bersabda: “Musa wafat di sana. Saya katakan di sana, saya dapat nyatakan makamnya dekat jalan kecil yang mendaki di sebuah bukit yang amat tinggi”. Makam Musa yang disebutkan itu terletak di bukit Niltoop, kurang lebih tigapuluh mil sebelah barat-laut Srinagar, persis di tempat yang disebutkan itu.

Pendakian ke makam itu dari Aham Sharif memakan waktu kurang-lebih dua jam. Ini adalah pendakian yang menyiksa, karena harus melalui lembah-lembah curam pada waktu mulai mendakinya, dan jalan-jalan tangganya sangat licin. Di sana tak ada petunjuk jalan, maka seseorang harus berhati-hati sekali jangan sampai tergelincir.

Di dekat makam itu, hampir di puncak gunung, di sana ada sedikit masyarakat bangsa Yahudi. Rakyat yang tinggal di sana benar-benar terisolasi dari penduduk daerah lain, dan merekalah yang bertanggungjawab merawat makam pemimpin nenek moyang mereka itu, yakni Musa. Ketika itu penjaga makam tersebut adalah seorang Wali Reshi.

Tidak jauh dari jalan kecil utama itu dan dekat kampung itulah letaknya lokasi makam. Tembok rendah mengelilingi sekitarnya, dan pintu masuknya berupa pintu gerbang kayu. Di pintu gerbang ini terpampang ukiran nama-nama penjaga makam berturut-turut, yang dikatakan oleh Wali Reshi, itu telah turun-temurun dari keluarganya sejak 900 tahun yang silam. Dia juga memberitahukan kepada kami, bahwa di sana ada empatpuluh-lima keluarga di kampung itu, dan mereka tidak akur dengan orang-orang Aham Sharif karena merasa takut bahwa mereka akan menghancurkan kelestarian daerah itu, dan mereka tidak mau makam itu disebar luaskan beritanya.

400 tahun yang silam, Hazrat Makhdoom Shaikh Hamza dari Kashmir, yang pernah berdo’a selama empatpuluh hari di makam, di sana dia telah menanam dua pohon, yang satu bersebelahan dengan makam itu. Kedua pohon itu sekarang sudah sungguh besar sekali, dan menjadikan makam itu memiliki kesan tersendiri (terasa angker). Makam itu membujur ke arah timur-barat, sesuai dengan kebiasaan bangsa Yahudi; tetapi di sekitar makam itu ada tiga makam lainnya, semuanya membujur ke arah utara-selatan, menurut kebiasaan Muslim. Itu adalah makamnya Sang Bibi, seorang pertapa pengikut Shaikh Noor-ud-Din Reshi, dan Nakraez Reshi serta Navroz Reshi, semuanya pengikut Sang Bibi.

Literatur bangsa Kashmir berisi sejumlah referensi kehadiran Musa di Kashmir. Di dalam buku “Tarikh-i-‘Azami” oleh Khwaja Muhammad Azam, kami baca: “Sang Bibi juga termasyhur sebagai pertapa dan sangat luar biasa menjalani meditasi dan sembahyang. Di dekat makamnya, di sana ada satu tempat yang dikenal sebagai makam Musa, Nabiyullah, dan mereka yang tahu akan hal itu meyakinkan kami, bahwa tempat itu adalah suatu sumber yang banyak sekali karunianya”. Buku “Guldata-i-Kashmir” (oleh Pandit Har Gopal), mengatakan: “Orang-orang Muslim menyebut tempat ini (Kashmir) “Sorga yang tercipta di atas bumi” dan “Taman Sulaiman”. Banyak sekali tempat suci di negeri ini. Mereka mengatakan, bahwa Hazrat Sulaiman datang ke sini, Musa juga datang ke sini dan wafat di negeri ini”.  Referensi yang serupa juga terdapat di dalam “Wajee-ut-Tawarikh” oleh Khaniyari (Vol. 1, halaman 28) dan di dalam “Tarikh-i-Hasan” oleh Pirzada Ghulam Hasan (Vol. 1).

Lebih dari itu, sejumlah pengembara dan penulis Eropa menyebutkan kisah kuno yang memata-rantaikan Musa dengan Kashmir. Di antara yang paling terkenal adalah Francis Bernier dalam bukunya “Travel in India”, halaman 174 dan George Moore di dalam bukunya “The Lost Tribes” halaman 137.