BAB V


MUSA DIMAKAMKAN DI KASHMIR (2/2)
 

Nama-nama di Kashmir yang memperkuat nama Musa

Di Kashmir, Musa (Moses) pada umumnya adalah nama laki-laki. Terpissah dari ini, oleh karenanya, banyak sekali nama-nama tempat yang berkaitan dengan nama Musa.
 

Di Awantipur, di sana ada Gund-i-Khalil atau Gund-i-Musa, dan Sir Aurel Stein menyebutkan Khon-i-Musa di dekat Shadipur dan Rampur (“Hajataraughi, Vol. 1 hal. 70, dan “The Ancient Geography of Kashmir” halaman 166). Nasir Ahmad menyatakan, bahwa di sana paling sedikit ada empat tempat yang disebut Muqami-Musa (Tempat peristirahatan Musa) di Kashmir. Satu di dekat Auth Wattu (di Hadwara Tehsil), yang juga disebut Ayat-Maula, “Tanda Allah”, satu lagi di dekat Pisgah dan satunya lagi di dekat Bandipoor, dan satu lagi ada di pertemuan (kuala) sungai Jhelum dan Sindh, di dekat Shadipur. Tempat ini dikenal juga sebagai Kohnai-Musa (salah satu yang ditunjukkan oleh Sir Aurel Stein), dan “batu karang Musa”.  Batu karang ini pasti tidak lain daripada “Batu Musa” yang nanti akan kami terangkan dalam bab berikutnya.


“Batu Musa”

Rakyat di Bijabhara, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya sebelah selatan Srinagar, sejak waktu yang sudah tidak bisa diingat lagi yang sudah turun-temurun menjaga apa yang dinamakan “Batu Musa” (Sang-i-Musa) yang lebih dikenal dengan; Ka Ka Pal.
 

Batu tersebut beratnya kurang-lebih 108 pound. Adat-istiadat mengatakan, bahwa jika sebelas orang masing-masing meletakkan jari-jari tangannya ke ujung batu yang paling bawah dan bernyanyi bersama-sama: “ka ka ka ka ka ka ……”, maka batu itu akan terangkat; tetapi jika ada beberapa orang lainnya lagi melakukan itu, maka tak akan terjadi apa-apa. Jumlah sebelas itu, dikatakan begitu, sebagai simbol dari sebelas suku yang menerima dan memelihara batas tanah yang diwariskan di Israel. (Lewi dan Simeon tidak termasuk, tetapi kedua suku itu berasal dari Yusuf – termasuk suku Manaseh dan Ephraim. Di sana seluruhnya ada tigabelas suku, dan sebelas suku dari padanya memiliki daerah kekuasaan tertentu. Lewi, suku yang paling alim, adalah salah satu yang pada umumnya telah hilang dalam perhitungan jumlah suku-suku tersebut).
 

Pada bab 1, Vol. 2, dari karya sejarah bangsa Persi, yakni: “Rauza-us-Saufa”, asal-muasalnya “Batu Musa” itu dijelaskan seperti di bawah ini:
 

“Dikatakan, bahwa Musa begitu malu dan tak mau menunjukkan tubuh telanjangnya dan tak pernah memperlihatkannya sekali pun. Telanjang badan tidak dilarang di antara para putera Israel, dan tidak menjadi persoalan jika bertelanjang di depan orang lain. Tetapi, karena Musa tidak mau melakukan ini, maka banyak sekali orang yang bermaksud jahat di antara rakyatnya yang mulai mendesas-desuskan bahwa dia mempunyai penyakit yang menjijikan. Desa-desus itu menjadi begitu kuat, karenaya Tuhan, dengan maksud supaya menunjukkan ketidak sadaran Musa, memerintah batu untuk bergeser, di mana Musa menyimpan bajunya di sana sementara dia mandi.  Ketika Musa melihat batu itu bergerak menjauh dan pakaiannya masih di sana, dia serentak melompat dengan telanjang bulat dari air dan mengejarnya. Karena begitu sangat memperhatikan pakaiannya, maka ia tak sadar bahwa banyak orang yang menyaksikannya hingga dia melewati mereka. Mereka yang melihatnya acuh tak acuh terhadapnya kecuali benarbenar kagum akan kebersihan tubuhnya, dan hal itu membuat mereka jadi lebih berhati-hati untuk mendesas-desuskan yang bukan-bukan, dan mengajak mereka untuk mengakui kembali akan kebersihan jasmani dan rohaninya. Setelah kejadian ini, Tuhan memerintahkan Musa untuk memelihara batu itu, yang nanti pasti akan dia butuhkan kembali. Dikatakan bahwa batu itu mempunyai empat permukaan, dan itulah yang dipukul-pukul dengan tongkat, empat aliran air mengalir dari arah masing-masing. Pertamatama air itu hanya menetes, tetapi sedikit demi sedikit aliran itu bertambah besar dan menjadi cukup untuk persediaan seluruh suku Israel”.

Ini mengingatkan kembali akan pernyataan Bebel yang tertera pada Kitab Bilangan 20:2-13. Di dalam ayat-ayat 2-6 kita mendengar, bagaimana bangsa Israel mengeluh karena tidak ada air, dan bagaimana Musa dan Harun mempersoalkan hal itu di hadapan Tuhan. Ayat-ayat 7-13 terbaca:

“Tuhan berfirman kepada Musa: “Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya”.

Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan Tuhan, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya.

Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?  Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.

Tetapi Tuhan berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekuasaan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan kuberikan kepada mereka”.

Itulah mata air Meriba, tempat orang Israel bertengkar dengan Tuhan dan Ia menunjukkan kekudusan-Nya di antara mereka”.

 

Sajian ini sugguh menarik hati sama dengan apa yang dinyatakan di dalam “Rauzat-us-Saufa”.
 

Batu yang ada di Bijibhara letaknya kira-kira hanya limabelas yard dari aliran deras sungai, yang menurut ceritera legenda asal-muasal batu itu, katanya tidak jauh dari tempat di mana Musa mandi. Di dekat batu itu ada satu tempat suci Hindu, di mana di tengah-tengah serambim itu, di sana mantra-mantra pujian suka dipersembahkan. Ini terdiri dari sebelas lingam (Lingam adalah phallus atau lambang kemaluan laki-laki umat Hindu, lambang Siwa), dikelilingi lambang kesuburan.  Sebelas lingam ada kaitannya dengan sebelas jari yang dibutuhkan untuk melakukan terangkatnya batu secara ajaib, dan beberapa jenis upacara kesuburan itu sangat dikhayalkan sekali.
 

Akhirnya, dengan menunjukkan kepada nyanyian tadi, dinyanyikannya lagu itu untuk membantu agar batu itu bisa terangkat, hal ini sangat menarik untuk dicatat, bahwa nama Musa itu telah dikenal di Ladakh, dan bahwa para petani di daerah itu memberikan julukan kepada orang yang lebih tua dan suci sebagai Ka Ka.


“Tongkat Musa” – juga dikenal sebagai “Tongkat Isa”

Di Aishmuqam (tempat peristirahatan Yesus), yang telah kita pelajari di muka dalam hal melintasi jejak rute Yesus ke Kashmir, dipelihara satu tongkat berwarna coklat tua yang dibuat dari kayu zaitun. Panjang tongkat itu delapan feet tiga inci, dan garis tengahnya berbeda dari seperampat hingga tigaperempat inchi.
 

Tongkat ini dikenal milik berdua sebagai “Tongkat Musa” (Asa-i-Musa) dan sebagai “Tongkat Yesus” (Asa-i-‘Isa), tetapi para pemeliharanya mengaku, bahwa benda itu milik Musa sendiri, dan tongkat itu biasa digunakan untuk mengalirkan air dari “Batu Musa”, telah dibicarakan di bagian muka. Tongkat itu disimpan dan dikunci, dan dibawa ke luar hanya pada waktu ada bencana alam besar seperti, musim kemarau, wabah penyakit dan sebangsanya. Diceriterakan bahwa tongkat itu bisa mendatangkan hujan di waktu musim-musim kemarau dan telah terbukti juga manjur menangkal bencana-bencana lainnya, katanya. Oleh sebab itu ia dikenal juga sebagai Balagir (yakni bisa menyerang dan menghindar dari musibah). Menurut adat-istiadat bangsa Kashmir, tongkat itu berpindah-pindah tangan beberapa waktu sebelum datang kepada pemiliknya yang suci, Hazrat Zainuddin Wali di Aishmuqam.