BAB VI


PERSAMAAN SIFAT-SIFAT YESUS DAN BUDDHA
 

Di dalam buku ini kami telah mengemukakan penelaahan-penelaahan bahwa Yesus telah melakukan dua pengembaraan ke India; yang pertama ketika masa mudanya, pada periode yang boleh dikatakan pada masa belajarnya; dan yang kedua, - sehubungan dengan pengungsiannya dari Palestina dan kepergiannya mencari sukusuku Israel yang hilang – setelah penyalibannya, yang kita akui bahwa beliau hidup terus. Dalam hubungan ini perlu kiranya bahwa sejumlah persamaan antara Yesus dan Buddha, dan antara ajaran mereka masing-masing bisa diketahui. 

Pada tahun 1897, di Jerman muncul satu buku yang berjudul: “Vergleichende Ubersicht der vier Evangelien” (Studi perbandingan empat Injil) oleh S.E.Verus.  Verus mencatat, bahwa catatan Bebel mengenai kehidupan Yesus berisi banyak sekali persamaannya dengan kehidupan Buddha, yang berhubungan dengan itu adalah, bahwa dia itu sebagai penjelmaan Tuhan; dia digambarkan dan dilahirkan dalam keadaan yang luar biasa; berita akan kelahirannya telah diumumkan; dewadewa dan raja-raja menyembah si jabang bayi dan memberinya hadiah-hadiah; seorang Brahmin tua segera mengenal sang bayi itu sebagai salah seorang yang pasti akan terbukti menjadi penyelamat dari segala kejahatan, dan dengan perantaraan orang itu kedamaian dan kebahagiaan akan muncul di muka bumi; yang di masa mudanya dia akan terkena ancaman hukuman mati, dan kemudian dia selamat dengan cara yang ajaib dan berkhidmat hadir di kuil, yang ketika pada usia duabelas tahun kedua orang tuanya mencari-carinya dengan cemas dan mendapatkannya di antara para pendeta; yang kecerdasannya menonjol dan melebihi para gurunya dalam hal kebijaksanaan; dan yang berpuasa dan tergoda; bahwa dia mensucikan dirinya dengan mandi di sungai suci; dan beberapa muridnya dari seorang Brahmin yang bijaksana menjadi pengikutnya ketika dia memberitahukan kepadanya: “Ikutilah aku”, yang di antara para pengikutnya ada tiga model yang menyatu dan satu menindas yang lain; yang asal nama para pengikutnya setelahnya berubah; dan yang setelah mengajar mereka, dia mengutus para muridnya berdua-dua untuk mengajar ke seluruh dunia.

Lebih dari itu, kita dapati bahwa Buddha muncul dengan membawa kabar gembira dan ajarannya sangat menyerupai ajaran Yesus. Dia menyukai perkataan kalam-ibarat, bekerja keras, menyingkiri kekayaan duniawi, dan membela rasa kemanusiaan dan perdamaian, mengampuni salah seorang musuhnya, hidup membujang dan bertapa. Miskin dan tak berwarga-negara, dia mengembara dari satu tempat ke tempat lain, sebagai tabib, penyelamat, penolong, para musuhnya mendekatinya seperti lebih menyukai menemani orang-orang berdosa. Ketika dia menghadapi sakaratul-maut, dia berkata bahwa dia akan pulang ke rumah, ke langit, dan dalam ucapan selamat tinggalnya, dia menasihati para muridnya untuk mengumumkan akan kehancuran dunia ini. Kematiannya ditandai oleh tanda-tanda ajaib: bumi berguncang, di penjuru dunia yang jauh berkelebatan kilat, matahari menjadi gelap, dan meteor pun jatuh dari langit. Segala hal-ihwal itu sehubungan dengan pernyataan kehidupan Buddha, dan semua itu sangat dekat sekali persamaannya dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Yesus.

Pada tahun 1899 muncullah penelaahan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad yang luar biasa: “Masih Hindustan Mein”, yang mengemukakan secara terperinci persamaan atara Buddha dan Yesus. Semua itu bagaikan dihakimi oleh pernyataan kehidupan mereka, banyak sekali didapati, dan penulis itu menggambarkan perhatian yang sangat serupa antara nama-nama yang berhubungan dengan Buddha dan yang berhubungan dengan Yesus. “Buddha” (nama aslinya ialah Sidharta Gautama) artinya “seseorang yang menerangi”, dan begitu pula Yesus memanggil dirinya sendiri “Cahaya Dunia” (Yahya 8:12). Yesus dipanggil “Guru” oleh para pengikutnya, dan Buddha pun dipanggil “Sasata” yang artinya sama. Kedua-duanya sama-sama dipanggil “pangeran dan “raja”. Yesus dipanggil “pelindung si lemah”. Buddha “pelindung orang yang tak mempunyai perlindungan” (Asarn Sarn). Masih banyak lagi corak yang saling berhubungan seperti itu.

Rhys David, di dalam buku “Buddhism”, mencatat bahwa ibunya Buddha dikatakan seorang perawan ketika dia melahirkannya, dan perempuan yang memiliki keluhuran dan kesucian. Di dalam Injil kita diberitahu akan kemuliaan yang sama pada diri Mariam, bunda Yesus.

Ia rupanya sama, kata Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, karena orang-orang Buddha di dalam kitab-kitabnya memproduksi kembali apa-apa yang terkandung di dalam Injil yang empat. Jelas seakali, bahwa persamaan antara apa yang dikemukakan Buddha dan apa yang dikemukakan Yesus adalah berlipat ganda; tetapi apa kesimpulannya yang dapat kita gambarkan dari sini? Secara alami pendapat itu bisa berbeda; sedangkan beberapa orang melihat Yesus telah dipengaruhi oleh agama Buddha (selama pengembarannya yang pertama ke India), lainnya lagi melihatnya seperti dialah yang mempengaruhinya.

Di antara golongan yang belakangan ialah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Dia dan orang-orang yang sependapat mengakui, bahwa ketika Yesus tiba di India, mungkin pada waktu itu para pendeta Buddha mereka mengira al-Masih itu seperti kemunculan Buddha baru. Gelar Yesus dan ajarannya menyerupai Buddha, dan dia berkulit putih bersih, sebagaimana Buddha Gautama menyatakan bahwa penggantinya nanti pasti akan begitu.

Atau apakah gela-gelar dan “ramalan-ramalan” yang belakangan itu suatu hal yang baru? Sejarah kehidupan Buddha tidak pernah mulai ditulis hingga zaman Yesus, maka menurut teori, para pendeta pun pasti dapat menjelaskan perihal Buddha apa pun yang mereka sukai. Sudah tentu banyak sekali ajaran akhlak agama Buddha sebelum periode ini; tetapi kata mereka yang mengakui pengaruh Kristen pada agama Budhha, aspek-aspek kehidupan sang Buddha dan ajarannya, sbagaimana dikisahkan dalam Injil, pokok utamanya pasti berasal dari masa tinggalnya Yesus di India.  Semua itu, kata mereka: Kepergian Buddha ke Benares, di sana dia mengamalkan mukjizat-mukjizat, khutbah di gunung menyerupai Yesus. Ada berbagai perumpamaan, di mana pokok pembicaraan masalah rohani diuraikan setiap hari, dan bahkan pernah membicarakan sepuluh perintah, yang ini mengingatkan kembali akan Sepuluh Perintah Nabi Musa. Ayat-ayat ajaran Buddha (lihat Sir Monier Williams, dalam “Buddhism”, hal. 126) seperti berikut:

  1. Janganlah kamu membunuh binatang yang hidup.

  2. Janganlah kamu suka mencuri.

  3. Janganlah kamu suka melakukan zina.

  4. Janganlah kamu suka berbohong.

  5. Janganlah kamu suka minum minuma keras kelewat batas.

  6. Kamu harus makan hanya di waktu yang sudah ditentukan saja.

  7. Janganlah kamu suka memakai kalung, perhiasan dan wangi-wangian.

  8. Janganlah kamu suka tidur ditempat yang tinggi, di tempat tidur yang mewah, namun tidurlah di atas lantai yang digelari tikar.

  9. Janganlah kamu suka menari, menyanyi, bermain musik atau menghadiri pertunjukkan yang bersifat duniawi.

  10. Janganlah kamu menumpuk-numpuk emas dan perak dalam bentuk apa pun dan jangan pula suka menerima itu.

Naskah-naskah Buddha mengatakan, bahwa Buddha Gautama meramalkan bahwa dia menjadi pengganti Maitreya. Banyak sekali ramalan-ramalan yang mengarah kepada Maitreya (nama orang yang terdiri dari “mitra” yang artinya “kawan”) tempat tibanya di bagian jauh di masa depan, tetapi itu menunjukkan, bahwa dia telah menanti sekitar 500 tahun setelah kematian Gautama. Ini pasti telah membawa kepada waktu kita ketika, sebagaimana telah kami lukiskan, Yesus sampai di Kashmir setelah pengembaraan ke Timur yang kedua kali. Ramalan-ramalan mengenai Maitreya yang terdapat di dalamnya, di antara karya-karya lainnya, “Langgawati Sutatta”, “Pitakkatayan” dan “Atha Katha”. Dia membicarakan seperti “Bagwa Maitreya” – “Maitreya Putih”, yang menunjukkan bahwa dia berkulit bersih, seperti Yesus. Dikatakan juga bahwa dia akan datang dari luar negeri. 

Nama Maitreya mungkin asal-usulnya berhubungan dengan bahasa Ibrani Mashiahh (“Messiah” – “Masih” artinya “meminyaki” atau “mengurapi”). Dalam hubungan ini, penting sekali untuk dicatat, bahwa dalam buku-buku agama Buddha berbahasa Tibet yang sudah tujuh abad lamanya berisi nama Mi-Shi-Hu, nampaknya ini menunjukkan pada Yesus. Data yang lebih konkrit lagi mengenai teks-teks buku atau kitab tersebut bisa didapati di dalam “A Record of the Buddhist Religion”, oleh I.  Tsing.

Di dalam bukunya: “Buddhism”, Sir Monier Williams menulis (halaman 45), dikatakan bahwa enam murid Buddha ada seorang yang dinamakan Yasa – satu nama yang muncul dengan kata lain dari “Yasu” (Yesus). Begitu pula, Doktor Hermann Oldenberg di dalam bukunya: “Buddha”, mengatakan, bahwa di dalam bab pertamanya buku “Mahawaga” dikatakan bahwa pengganti Buddha pasti seorang yang bernama Rahula, yang juga dilukiskan sebagai seorang pengikut. “Rahula” serumpun dengan “Ruhullah” yang di dalam bahasa Ibrani adalah salah satu gelar Yesus.