BAB IX


PERNYATAAN SAYA PRIBADI
 

Di dalam menyimpulkan makalah ini, di sini saya kemukakan pendapat saya sendiri dalam masalah yang telah dibicarakan, dan, sebagaimana di dalam Kata Pendahuluan buku ini dinyatakan, bagaimana saya sampai menulis buku ini.
 

Pada mulanya, dan seperti kebanyakan orang lain, saya mendengar desasdesus: bahwa Yesus tidak wafat di kayu salib, dan beliau mengungsi serta mungkin sekali dikuburkan di Timur. Semua hal-ihwal tersebut pertama kali tak saya pedulikan samasekali, dan tidak lama setelah saya mendengar kabar bahwa di Spanyol ada foto makam Yesus di Kashmir yang beritanya telah tersebar, maka perhatian saya benar-benar timbul kembali.
 

Setelah meminta foto tersebut, saya mulai mengumpulkan beberapa faktafakta yang mendasar. Dikala saya sedang memproses pekerjaan itu, seorang teman menunjukkan satu artikel dalam majalah Stern (Jerman) yang membicarakan penelaahan mengenai pengungsian Yesus ke, bahkan akhirnya wafat di Kashmir, dan menggaris bawahi masalah-masalah teori yang disajikan ini. Setelah membaca artikel tersebut saya segera menghubungi penulisnya, Klaus Liedtke, di kantor Majalah Stern, New York, dan photographer, Jay Ullal, di kantor majalah tersebut di Hamburg. Semua informasi dan bahan-bahan itu dikirimkan kepada saya dengan sangat baik sekali.
 

Hal ini mendorong saya untuk membuat hubungan dengan Gerakan Ahmadiyah di Jerman, dan kemudian ke Pusat Gerakan tersebut di Pakistan. Ini pun mendorong saya untuk pergi menjumpai Professor Fida Hassnain, seorang sarjana terkemuka bangsa Kashmir yang sedang menelaah persis apa yang telah dibicarakan di dalam artikel majalah Stern tersebut; dan kemudian menjumpai Sahibzada Basharat Saleem, yang boleh jadi beliau ini salah seorang keturunan Yesus. 
 

Seraya penelaahan-penelaahan saya berjalan terus, saya menyadari, bahwa saya tidak sedang melangkah di jalan yang tidak diketahui, tetapi sebaliknya, hal ini telah siap menerima perhatian yang begitu besar, dan bukan hanya dari Gerakan Ahmadiyah saja. Pada penghujung akhir abad yang lalu, satu buku telah terbit di Paris yang ditulis oleh Nicolai Notovich, seorang pengembara Rusia; dan belakangan, di bawah judul: The Unknown Life of Jesus Christ”, dalam edisi bahasa Inggris telah terbit pula. Buku ini membicarakan kemungkinan bahwa Yesus telah mengunjungi India di masa mudanya.
 

Pada tahun 1938-1939, Mingguan Lahore: The Sunrise telah terbit dalam bentuk serial buku “Masih Hindustan Mein” (aslinya terbit tahun 1908) oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Pendiri Gerakan Ahmadiyah. Karya ini mengemukakan masalah, apakah Yesus benar-benar wafat di kayu salib atau tidak, dan telah ditemukan begitu meyakinkan oleh rektor Universitas Al-Azhar di Cairo, Mesir, yang beliau catat dalam “Fatwa” (Keputusan) yang menyatakan bahwa, menurut Qur’an Suci, Yesus wafat secara wajar.
 

Lebih-lebih, pada waktu belakangan ini, berbagai artikel yang mematarantaikan Yesus dengan Kashmir, dan menceriterakan masalah-masalah itu, telah meuncul di sejumlah majalah. Lagipula, artikel di majalah Stern – “Jesus starb in Indien” (Yesus wafat di India), yang muncul tahun 1973 – telah terbit, misalnya; artikel J.N.Sadbu: “Is Jesus Christ Buried in Kashmir?” (Apakah Yesus dimakamkan di Kashmir?) telah terbit di Mingguan The Illustrated Weekly of India, bulan April 1972; dan satu artikel di Weekend (London) Juli 1973; begitu pula Fluchtete Jesus nach Indien (Apakah Yesus mengungsi ke India?) dan Das Geheimnis des Grabes von Srinagar (Makam Rahasia di Srinagar) yang kedua-duanya ditulis oleh Erich von Daniken dan diterbitkan di Mingguan Jerman Horzu telah tersebar luas. Von Daniken mendengar makam tersebut ketika dia sedang mengunjungi daerah itu pada musim panas tahun 1975.
 

Dengan menilik berbagai artikel tersebut dan lamanya waktu yang telah berlalu sejak penyelidikan Notovich dan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad muncul, hal itu sangat menarik perhatian, bahwa perkara apakah Yesus pergi ke India pada masa mudanya, hidup terus setelah penyaliban, dan setelah mengadakan perjalan yang kedua kali ke Timur, beliau wafat secara wajar di Kashmir, yang dikabarkan bahwa beliau dikebumikan di sana, bukan menjadi masalah perdebatan umum lagi.  Sungguh, kiranya masih ada sedikit masyarakat yang masih menyadari bahwa kemungkinan-kemungkinan itu tetap ada.
 

Dari sudut pandang saya pribadi, ini artinya bahwa hanya dengan cara yang harus saya putuskan sendiri terhadap apa yang menjadi keragu-raguan saya yang melekat itu, yaitu saya harus pergi sendiri ke Kashmir. Maka akhirnya saya dan isteri saya, Mercedes, menumpang pesawat Jet Air India ke Bombay. 
 

Dari Bombay kami terbang ke New Delhi, di sana kami menggunakan petapeta dan buku-buku petunjuk yang meliputi sejarah, monumen-monumen dan ceritera-ceritera kuno mengenai India, khususnya Kashmir, dan dari Delhi kami terbang ke Srinagar. Selama bagian perjalanan terakhir dari kunjungan kami ini, kami mendapat pandangan-pandangan penting mengenai Himalaya, dan mulai sadar bahwa kami pasti akan menjumpai Kashmir suatu dunia yang terpisah, asing dan tersendiri dari India.
 

Gambaran itu menjadi kuat setelah kami menginjakkan kaki kami di lapangan terbuka yang tidak begitu luas di Srinagar dan tinggal beberapa hari melihat sekeliling dan berbincang-bincang dengan bangsa Kashmir, sebagian masyarakat luas mereka lebih menyukai Kashmir bergabung dengan kaum Muslimin negara Pakistan.  Banyak sekali ketegangan-ketegangan antara India dan Pakistan di daerah ini sebagaimana terlihat dengan banyaknya polisi perbatasan di jalan-jalan perbatasan. 
 

Sekalipun mayoritas bangsa Kashmir itu Muslim (meskipun, seperti kami akui, keturunan Israel), di sana sedikit sikap acuh tak acuh terhadap agama-agama lain. Muslim, Yahudi, Hindu, Buddha dan Kristen mereka hidup bersama dalam suasana saling hormat-menghormati dan toleransi, walaupun pengaruh keagamaan bergelora kuat. Di sini, seperti di mana-mana, para pemimpin yang berkuasa memainkan peran dalam kehidupan masyarakat, tetapi tetap harmonis. 
 

Pada hari-hari pertama kami tinggal di Srinagar, kami tinggal di Hotel kelas utama (first class) yang bertaraf internasional. Namun karena kami ingin dekat bersentuhan dengan rakyat dan ingin tahu mereka, hotel itu kami tinggalkan dan pindah ke salah satu rumah terapung tepat di tengah-tengah Danau Nagin. Kami segera bercampur-baur dengan sebagian masyarakat yang cukup makmur. 
 

Seraya kami tinggal di sana berjalan terus, maka keyakinan kami tumbuh terus karena keadaan itu benar-benar cocok. Kami tidak hanya melihat makam yang dikatakan Yesus dibaringkan di sana, tetapi lebih dari itu kami pun melihat makam Musa. Kami mendapati adat-istiadat yang kuat akan kehadairan Musa dan Isa di Kashmir berikut sejumlah nama-nama yang menunjukkan nama-nama mereka.
 

Untuk memperkuat ini, ada bantuan yang sangat berharga yang kami terima dari Professor Hassnain, Direktur Perpustakaan dan Perawatan arsip-arsip dan monumen-monumen Kashmir, seorang professor dari tiga universitas di Jepang, yaitu archaeologist (ahli ilmu kepurbakalaan), anthropologist (ahli ilmu pengetahuan manusia), dan ahli penelaahan yang berdedikasi. Beliau tak pernah berhenti berkeliling negeri untuk membuktikan hal-hal tersebut kepada orang-orang yang dijumpainya, dan, dengan pengecualian Nazir Ahmad, penulis Jesus in Heaven on Earth (1952), seorang penelaah yang sangat seksama dan menelaah melalui bukti dan adat-istiadat yang membuat seseorang benar-benar serius dan takjub apakah di sini, di jantung Kashmir, Yesus dikebumikan.
 

Juga selama kami tinggal, kami mengalami suatu kebiasaan yang tidak seperti biasanya berjabat tangan yang mengharukan dan berbincang-bincang dengan senang sekali serta lama dengan seseorang yang boleh jadi keturunan langsung dari Yesus, yakni Sahibzada Basharat Saleem.
 

Halaman-halaman yang telah disajikan di muka adalah hasil dari pembicaraan-pembicaraaan itu, beberapa hubungan dan wawancara-wawancara lain pun telah kami lakukan sehubungan dengan penyelidikan-penyelidikan kami, dan kunjungan-kunjungan kami sendiri ke tempat-tempat yang ada hubungannya dengan kisah kuno yang menceriterakan bahwa Musa telah datang ke Kashmir, yaitu bagian dari sepuluh suku Israel yang hilang dan tinggal di sana, dan yang kemudian Yesus tinggal dan wafat di sana, telah kami kunjungi pula. Kesimpulan yang paling mengagumkan kami dari semua ini adalah, bahwa di sana sangat ramah sekali dimana adat-istiadat yang berbeda itu semuanya ada hubungannya dengan pernyataan-pernyataan di dalam Bebel, dan mereka benar-benar menolong untuk menjelaskan dan sekaligus melengkapi kisah Bebel.
 

Semua itu saya saksikan dan saya dapati di sana, di sini saya merasa puas.  Saya puas karena “Rozabal”, makam Yuz Asasf (atau, mungkin sekali, Yesus) benar ada, dan saya telah mengunjunginya. Saya merasa puas karena saya melihat dan bahkan menyentuh “Batu Musa”. Saya mengaku bahwa saya telah pergi ke Yusmarg, “Padang Rumput Yesus”, yang dikatakan dari sana beliau akan memasuki Kashmir.  Saya bersumpah bahwa saya telah mengunjungi Aishmuqam, “Tempat Peristirahatan Yesus”, tempat yang dikatakan bahwa tongkat Yesus atau Musa ada di sana. Saya bersumpah bahwa rakyat di sana menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan sepenuh kejujuran hatinya – beberapa orang mencoba meyakinkan bahwa itu milik Yesus dan Musa, lain-lainnya lagi menyatakan bahwa itu Yuz Asaf dan Musa yang ada di sana-.  Para penjaga makam, yang dikatakan makam Musa, mereka bersumpah, bahwa tempat itu dalam pemeliharaan mereka sejak 3500 tahun yang silam. Orang-orang itu, kami catat sepintas saja, telah menjadi begitu terputus atau terisolasi dari dunia luar yang mereka percaya bahwa Hitler adalah seorang raja besar dan agung, dan tidak mengerti bahwa sebenarnya dia sudah sekian lama telah mati setelah melakukan pembantaian yang mengerikan terhadap orang-orang yang mana mereka sendiri termasuk sisanya. Kebodohan dunia terasing itu adalah ciri khas orang-orang pedalaman yang telah kami bicarakan mengenai sejarah dan adat-istiadatnya, dan mnunjukkan bahwa ceritera-ceritera kuno mereka mengenai Yesus (Yuz Asaf) dan Musa sangat mungkin sekali, terlihat betapa cocok mereka menghubungkan kisah orang-orang tersebut dengan isi kisah yang ada di Bebel yang menceriterakan mereka, diperoleh dari pendapat yang murni. Sungguh, betapa berbagai tradisi itu memiliki dasar yang kuat terhadap kenyataan tersebut. 
 

Kesimpulan ini pun diperoleh oleh Professor Hassnain setelah diselidiki secara teliti selama bertahun-tahun. Beliau mungkin juga bisa salah dalam beberapa hal, tetapi itu tidak disengaja, dan hal itu benar sekali bahwa kepercayaannya mengenai teori-teori yang mendasar yang dikemukakan di buku ini dengan tulus diakui dan pasti terdapat.
 

Begitu pula Sahibzada Basharat Saleem, beliau sepenuhnya memberikan keterangan kepada kami tanpa ragu-ragu lagi dan tidak ada tanda ketidak-tulusan bagi beliau terhadap apa yang dibicarakan kepada kami. Beliau menceriterakan tradisi keluarga beliau yang sudah diwariskan oleh ayahnya kepada beliau, dan menyarankannya sedapat mungkin jangan menyebar-luaskan mengenai keturunan Yesus.
 

Setelah pergi ke Kashmir, memeriksa naskah-naskah, ceritera-ceritera kuno dan makam-makam tersebut, dan setelah berbicara kepada Professor Hassnain, kepada Basharat Saleem dan bahkan kepada banyak lagi bangsa Kashmir lainnya, maka pendapat saya sendiri mengenai penelaahan dua perjalanan Yesus ke India dan Kashmir, penelaahan mengenai wafatnya dan pemakamannya di sana, dan penelaahan kematian Musa dan pemakamannya di negeri yang sama, hal itu sangat mungkin sekali benar. Bukti yang definitif tentu masih kurang, dan oleh karena itu saya percaya bahwa makam-makam yang dipermasalahkan tersebut pasti tetap terbuka bagi penyelidikan yang lebih ilmiah lagi. Lebih dari itu, saya usulkan, yakni agar penyelidikan itu lebih objektif lagi dan agar mencapai kebenaran yang lebih ilmiah lagi, maka kongres dunia para sarjana Bebel, para ahli bahasa, para orientalis dan para sarjana Islam serta ahli sejarah kepurbakalaan, berembuklah!. Hanya dengan cara inilah kiranya akan mencapai suatu kekuatan yang kokoh, yakni suatu keputusan yang tidak berat sebelah.
 

Tujuan buku ini dikemukakan karena sebagian besar masyarakat pembaca mungkin sekali mengenai masalah-masalah ini anda sekalian masih belum cukup mengetahuinya lebih luas lagi, mengingat betapa besar sekali pengaruh sikap yang dimiliki atas kepercayaan-kepercayaan terhadap Yesus, yang seseorang itu sukar sekali untuk disangkal, akibat pengaruh berbagai paham Kristen, yang ternyata sangat kuat sekali mempengaruhi perkembangan kebudayaan Barat. Buku ini adalah suatu dokumen penting terhadap apa yang dibicarakan, diketahui dan dipercayai pada saat ini mengenai kemungkinan sekali Yesus tidak wafat di kayu salib dan tidak naik ke langit secara lahiriah.
 


Lokasi tempat-tempat penting dan monumen-monumen yang berhubungan dengan Srinagar

Makam Musa

Terletak kira-kira 37 mil sebelah barat laut dari Srinagar, dengan melalui jalan Shalateng, Shadipur, Sumbal, danau Manasbal, Safapur dan Bandipur. Dari Bandipur hanya beberapa mil saja ke Aham Syarif, di mana jalan ke makam dimulai.  Pendakian ke makam memakan waktu kurang lebih dua jam.
 

Batu Musa, atau Ka Ka Pal

Terletak di Bijbihara, kira-kira 27 mil sebelah tenggara dari Srinagar. Rute dari Srinagar langsung melalui Pandrattan, Pampur, Awantipur, Sethar dan Sangam.  Batu itu terletak dekat sungai kira-kira 50 yard dari jalan (sebelah kiri).
 

Aishmuqam

Terletak kira-kira 45 mil sebelah tenggara dari Srinagar, dengan melalui jalan Bijbihara (rute yang disebutkan di atas), Khanabal, Anantnag dan Bewan. Tempat keramat di mana “Tongkat Musa disimpan, terletak duapuluh menit perjalanan kaki dari jalan, dengan melalui jalan berlereng yang curam dan kemudian melalui jalan bertangga yang panjang.
 

Yusmarg, atau padang rumput Yesus

Terletak kira-kira 25 mil sebelah tenggara dari Srinagar, dengan melalui jalan Naugam dan Nilnag.
 

Pahalgam

Terletak kira-kira 60 mil dari Srinagar, dengan melalui jalan Bijbihara (rute yang disebutkan di atas) dan Salar.
 

Makam Maria, Bunda Yesus

Terletak di Bukit Murree (Pakistan) kira-kira 100 mil sebelah barat Srinagar.  Sementara perbatasan Kashmir-Pakistan masih tertutup, maka perlu melalui jalan berputar melalui Amritsar melintasi perbatasan India-Pakistan, kemudian menuju Murree melalui jalan Lahore, Rawalpindi (Lahore-Rawalpindi kurang lebih 300 km, dan dari Rawalpindi ke Murree kurang lebih 50 km melalu jalan berkelok-kelok, mendaki dan penuh jurang curam yang cukup berbahaya tapi berpanorama indah, dan bila musim dingin daerah ini selalu dipenuhi salju). Makam tersebut terletak di puncak bukit kecil, di tempat yang dikenal sebagai Pindi Point (yang kini di sebelah makan tersebut telah dibangun menara televisi dan dikelilingi oleh Gereja-gereja berikut sekolah-sekolah Kristen dan biara-biara, - penj.)