.
AJARAN KRISTEN

Perjalanan dari Kenyataan ke Khayalan
.

 

1. Kedudukan Yesus Kristus sebagai Anak Tuhan
(2/2)

Apa yang disebut Mukjizat?

Dengan terbuka lebar kemungkinan terjadinya kelahiran dari seorang perawan, hal itu bukannya tidak mungkin sama sekali dan di luar hukum alam. Mana yang perlu diselidiki, sebuah penjelasan di luar hukum alam terdapat kelahiran Yesus, ataukah lebih jauh dari itu; yakni kepercayaan yang sangat melampaui batas tentang kelahiran seorang "Anak" hakiki Tuhan melalui manusia? Apabila berbagai gejala, sebagaimana diuraikan di atas, telah disimpulkan sebagai suatu kejadian alam, mengapa sulit untuk mempercayai bahwa kelahiran Yesus Kristus adalah sebuah gejala alamiah terselubung, yang ditampilkan oleh suatu hikmah khusus dari Tuhan? Sesuatu telah terjadi pada Maryam sehingga memberikan sebuah kelahiran yang bersifat mukjizat bagi anak itu, tanpa adanya seorang laki-laki pernah menyentuhnya. Ini adalah kepercayaan Muslim Ahmadiyah, bahwa demikianlah yang sebenarnya telah terjadi. Kepercayaan kami ini tidak tergoyahkan sebab tidak ada ilmuwan yang dapat menolaknya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal atau bertentangan dengan hukum-hukum alam yang telah diketahui.  

Dalam Islam, mukjizat-mukjizat tidak dipandang sebagai kejadian-kejadian di luar hukum alam, melainkan sebagai gejala alamiah yang masih terselubung dari pengetahuan manusia pada suatu jangka waktu tertentu. Jika tidak, maka akan timbul banyak pertanyaan yang menentang kebijakan Tuhan. Jika Tuhan memang telah menciptakan sendiri hukum-hukum alam, Dia seharusnya telah menciptakan beberapa ketentuan yang tanpa melanggarnya Dia dapat memberikan pemecahan-pemecahan yang diinginkan terhadap suatu permasalahan.

Tidak semua hukum [alam] telah diketahui oleh manusia. Berbagai jenis hukum sedang berlaku sedemikian rupa, seolah-olah berada dalam jajaran yang berbeda dan dalam bidang yang berlainan. Kadang-kadang hukumhukum tersebut telah diketahui oleh manusia di satu bidang dan pandangan manusia tidak mampu menembus jauh di baliknya. Beriringan dengan berjalannya waktu, pengetahuan manusia bertambah dan demikian pula daya tembus pandangan manusia serta kemampuannya untuk mengamati hukum-hukum tersebut yang hingga saat itu masih belum terbuka. Bersesuaian dengan berkembangnya ilmu pengetahuan penemuan-penemuan baru telah memberikan cahaya yang lebih terang terhadap hukum-hukum semacam itu yang tampaknya bekerja dalam kelompok-kelompok. Jadi, fungsi serta pengaruh timbal-balik mereka dengan hukumhukum lainnya telah dipahami dengan lebih baik.  

Hal-hal yang tampil sebagai mukjizat pada zamanzaman sebelumnya, tidak lagi dianggap demikian. Mukjizatmukjizat itu adalah hal-hal yang hanya berkaitan dengan pengetahuan manusia dalam suatu jangka waktu tertentu. Ketika penerapan khusus terhadap kekuasaan Tuhan ditampilkan, tampak seolah-olah sebuah hukum telah dilanggar. Namun, itu tidaklah demikian; pada hakikatnya seluruh hukum terselubung memang sudah ada di sana dan hanya dia tampil dalam pelaksanaan berdasarkan perintah Tuhan. Orang-orang pada zaman itu tidak dapat memahami hukum tersebut dan tidak pula mereka kuasa untuk mengendalikannya. Misalnya daya magnetis belum diketahui oleh manusia beberapa ribu tahun lalu. Jika seseorang secara tidak sengaja telah menemukannya dan membuat sebuah alat yang melalui itu dia dapat mengangkat/menarik bendabenda [logam] tanpa suatu sebab yang kelihatan oleh mata telanjang mengagetkan setiap orang, dia dapat saja menyatakan, "Lihat, suatu mukjizat telah terjadi". Zaman sekarang, tipuan-tipuan semacam itu sudah dianggap umum dan sepele. Ilmu pengetahuan manusia terbatas, sedangkan pengetahuan Tuhan tidak terbatas. Jika suatu hukum diberlakukan dan berada di luar batas pengetahuan manusia, dia tampak seperti sebuah mukjizat. Namun, dengan peninjauan kembali terhadap hal-hal semacam itu melalui kajian ilmu pengetahuan yang telah diperoleh sejak saat itu, kita dapat menggugurkan segala sesuatu yang disebut pelanggaran-pelanggaran hukum alam sebagai gejala alam semata yang belum dipahami sepenuhnya oleh manusia pada zaman tersebut. Inilah sebabnya mengapa saya mengatakan, bahwa pasti ada suatu gejala alamiah yang bertanggung jawab bagi kelahiran Yesus Kristus dari seorang ibu saja, yang tidak diketahui oleh manusia pada zaman itu; bahkan juga belum diketahui oleh manusia pada zaman sekarang. Namun, ilmu pengetahuan sedang berkembang maju ke arah itu dan banyak hal yang telah dipahami. Suatu masa akan tiba, ketika tidak seorang pun akan mampu mengatakan bahwa kelahiran Yesus tidaklah alamiah. Mereka akan sependapat, bahwa hal itu adalah suatu kejadian alamiah tetapi langka, begitu langkanya sehingga hal itu sangat jarang terjadi dalam pengalaman hidup manusia.  

 
Apakah Yesus Anak Tuhan?

Banyak lagi permasalahan-permasalahan lainnya yang terkait dengan pemahaman orang-orang Kristen tentang Yesus, sifat-sifatnya dan hubungannya dengan Tuhan. Dari penelaahan kritis dan analitis terhadap ajaran Kristen, yang tampil ialah adanya "Anak Tuhan" yang memiliki sifat-sifat sebagai seorang manusia sempurna dan juga sebagai suatu tuhan sempurna. Walau bagaimana pun, hendaknya diingat, menurut ajaran Kristen, Tuhan-Bapak tidaklah sama sepenuhnya dengan Tuhan-Anak. Tuhan-Bapak adalah suatu Tuhan sempurna dan bukan seorang manusia sempurna, sedangkan Tuhan-Anak merupakan seorang manusia sempurna dan juga Tuhan sempurna. Dalam kasus ini terdapat dua kepribadian yang terpisah dengan sifat-sifat yang berbeda.

Harus disadari, bahwa sifat-sifat ini. tidak dapat dipindahkan. Memang ada sifat-sifat pada zat-zat tertentu yang dapat dipindahkan. Misalnya, air dapat menjadi salju dan juga menguap, tanpa menimbulkan suatu perubahan dalam zat atau susunan air itu. Namun perbedaan-perbedaan dalam sifat-sifat Tuhan dan Kristus, di mana sifat-sifat tertentu telah ditambahkan kepada salah satu di antara mereka, tidaklah dapat didamaikan/disatukan. Tidaklah mungkin bagi salah satu di antara mereka untuk mengalami perubahan ini dan masih tetap tidak dapat dibedakan dari yang lainnya. Hal ini kembali menjadi suatu permasalahan, dan suatu persoalan serius bagi perkara tersebut, yakni apakah Yesus Kristus merupakan suatu tuhan sempurna sebagaimana dia merupakan seorang manusia sempurna? Jika dia memiliki kedua sifat tersebut secara bersamaan, maka dia pasti berbeda dari Tuhan-Bapak yang bukan seorang manusia sempurna dan bukan pula sesuatu yang tidak sempuma. Hubungan macam apa namanya ini? Apakah "Tuhan-Anak" lebih agung daripada "Tuhan-Bapak"? Jika sifat tambahan itu tidak membuat "Tuhan Anak" lebih agung, berarti itu merupakan suatu cacat. Dalam kondisi demikian seorang "Anak-Tuhan" yang cacat tidak hanya bertentangan dengan pengakuan-pengakuan ajaran Kristen, tetapi juga bertentangan dengan pemahaman universal tentang Tuhan. Sebab, bagaimana mungkin seseorang memahami ajaran Kristen yang saling bertentangan itu yang membuat kita percaya, bahwa "Satu dalam Tiga" dan "Tiga dalam Satu" adalah sama, dan tidak memiliki perbedaan apa pun? Hal ini hanya akan dapat terjadi, apabila pondasi dasar suatu kepercayaan dibangun, tidak di atas landasan kenyataan, melainkan di atas dongeng belaka.  

Selain itu ada permasalahan lain lagi yang harus dipecahkan: Apabila Yesus telah menjadi "Anak Tuhan" sebagai dampak kelahirannya melalui rahim Maryam, maka apa pula kedudukan Yesus sebelum itu? Jika Yesus secara azali (sejak sebelumnya) sudah merupakan "Tuhan Anak" tanpa harus dilahirkan oleh Maryam, maka kenapa dia harus dilahirkan dalam bentuk manusia? Jika hal itu memang harus, berarti nilai kedudukannya sebagai "Tuhan Anak" tidaklah azali; hal itu hanya merupakan sifat tambahan setelah Yesus dilahirkan, dan hal itu lenyap ketika beliau meninggalkan tubuh beliau lalu kembali ke surga. Jadi, banyak sekali kerumitan timbul dari.kepercayaan itu, yang ditolak oleh akal sehat. Saya kembali mengajak anda untuk menerima sebuah skenario yang jauh lebih mulia dan realistis; yaitu mempercayai kelahiran Yesus Kristus sebagai suatu penciptaan istimewa yang dilakukan Tuhan, yang telah mengaktifkan beberapa hukum alam yang terselubung. Yesus adalah anak kiasan Tuhan, Yang Dia cintai dalam suatu corak khusus, tetapi tetap sebagai seorang manusia sepenuhnya. Kedudukan beliau sebagai "Tuhan Anak" telah dibubuhkan pada sifat beliau sekitar 300 tahun kemudian, untuk tetap menghidupkan legenda tentang beliau – hal ini akan dibahas belakangan.  

Bentuk hubungan perkawinan antara Tuhan Bapak dengan Maryam adalah suatu masalah yang orang enggan membicarakannya secara terang terangan. Walaupun demikian suatu upaya untuk memahami peran Maryam sebagai perantara antara Tuhan Bapak dengan Tuhan Anak, adalah suatu momok yang tidak dapat dihindari. Mungkin pertanyaan yang sama inilah yang telah mengganggu Nietzsche sedemikian rupa sehingga dia mengungkapkan ketidak-puasannya, paling tidak, dalam katakata sebagai berikut:

Akan tetapi tidak lama setelah Zarathustra membebaskan dirinya dari tukang sihir, dia kembali melihat seseorang duduk di sisi jalan yang dia lalui: jangkung, berkulit hitam dengan wajah pucat dan cekung; orang itu membuatnya kesal. ‘Aduh', dia katakan pada hatinya, penderitaan terselubung menghadang di situ, dia tampaknya semacam pendeta: apa yang mereka inginkan dalam kerajaanku?'... 'Siapa pun engkau wahai pengelana,' dia berkata, 'tolonglah orang yang tersesat, orang tua yang mungkin dapat mencelakakan di sini!' Dunia di sini aneh dan jauh bagi saya, dan saya mendengar gonggongan binatang-binatang buas; dan orang yang dapat memberikan perlindungan pada saya sudah tidak ada lagi. Saya mencari orang saleh terakhir, seorang suci dan petapa, yang tinggal sendirian di hutan dan belum mendengar apa pun yang diketahui oleh seluruh dunia masa kini. Apa yang diketahui seluruh dunia masa kini? Tanya Zarathustra. Mungkin ini: bahwa Tuhan kuno yang pernah diimani oleh seluruh dunia, sudah tidak hidup lagi? Itulah tampaknya, jawab si orang tua dengan sedih. Dan saya telah mengkhidmati Tuhan kuno itu hingga saat-saat akhir-Nya. Akan tetapi sekarang, saya berhenti mengkhidmati, tanpa majikan, dan kendatipun demikian saya belum juga bebas, tidak pula saya gembira walau untuk satu jam, kecuali dalam kenangan. Itulah sebabnya saya mendaki gunung-gunung ini, supaya saya dapat paling tidak merayakannya satu kali lagi, sebagaimana saya telah menjadi seorang biarawan tua dan tetua gereja: supaya diketahui, saya adalah biarawan terakhir! - suatu perayaan bagi kenangan-kenangan suci dan pengkhidmatan-pengkhidmatan samawi. Namun kini dia sendiri sudah mati, orang yang paling saleh, si orang suci di tengah hutan yang selalu secara rutin menyanjung Tuhan-nya dengan nyanyian dan komat-kamit.' Ketika aku menemukan gubuknya aku tidak mendapatkannya lagi, tetapi aku menemukan dua ekor serigala dalamnya, menggonggongi kematiannya — sebab seluruh binatang mencintainya. Kemudian saya cepat-cepat pergi.' Apakah sia-sia saja saya datang ke hutan belantara dan gunung-gunung ini? Kemudian kalbuku memutuskan untuk mencari yang lain, yang paling saleh dari segenap orang yang tidak mempercayai Tuhan — untuk mencari Zarathustra! Demikianlah kata orang tua itu dan menatap dengan pandangan yang menembus ke arahnya, yang berdiri di hadapannya; Zarathustra kemudian mengambil tangan biarawan tua itu dan memperhatikannya cukup lama dengan kagum.' Lihat, wahai orang mulia, katanya kemudian, Betapa panjang dan indahnya tangan ini! Ini adalah tangan yang selalu membagi berkat-berkat. Namun, sekarang tangan ini sedang memegang dengan erat orang yang dicarinya, aku, Zarathustra.' Ini aku, Zarathustra yang tak bertuhan, orang sama yang mengatakan: Siapa yang lebih tak bertuhan daripadaku, sehingga aku akan gembira dalam ajarannya?' Demikianlah Zarathustra berkata dan dengan pandangannya menembus pemikiran-pemikiran serta keberatan-keberatan biarawan tua itu. Akhirnya yang berikut pun mulai: Orang yang paling banyak mencintai dan memilikinya, dia pulalah yang paling banyak kehilangannya:' Lihat, tidakkah diri saya sendiri lebih tidak bertuhan di antara kita sekarang? Namun, siapa pula yang bisa gembira dalam hal itu!' Engkau mengkhidmatinya sampai akhir,' tanya Zarathustra dengan penuh renungan, setelah suatu keheningan mendalam, ‘Apakah engkau tahu bagaimana dia mati? Apakah benar yang mereka katakan bahwa rasa kasih-sayang telah mencekiknya,' ‘Yakni dia melihat bagaimana manusia digantung di tiang salib dan tidak tahan terhadap hal itu, yakni kecintaan terhadap manusia telah menjadi nerakanya sendiri dan pada akhirnya kematiannya?' Sang biarawan tua tidak menjawab, tetapi memandang ke tempat lain dengan malu dan dengan raut wajah yang pedih serta muram. ‘Biar aku pergi,' kata Zarathustra setelah suatu renungan panjang, di mana dia terus menerus menatap langsung ke mata orang tua itu. 'Biarkan dia pergi, dia sudah selesai. Dan walaupun hal itu mendatangkan kehormatan bagi engkau bahwa engkau hanya membicarakan hal-hal baik tentang tuhan yang mati tersebut, engkau sudah tahu sebagaimana saya mengetahui siapa dia; dan bahwa dia mengikuti jalan-jalan yang aneh.' Di antara kita sendiri, kata sang biarawan tua, lebih ceria, atau, dapat saya katakan, berbicara di bawah mata (sebab satu matanya buta) dalam hal-hal samawi saya lebih banyak tahu daripada Zarathustra sendiri — dan semoga demikian adanya.' ‘Kecintaanku mengkhidmatinya bertahun-tahun; keinginanku menuruti seluruh keinginannya. Seorang khadim yang baik, mengetahui segala sesuatu, dan juga banyak hal yang disembunyikan oleh majikannya dari dirinya sendiri.' ‘Dia adalah tuhan 'yang terselubung, penuh rahasia. Sungguh, dia bahkan menjelma dalam bentuk seorang anak, tidak melalui cara lain kecuali dalam makna-makna rahasia dan tidak langsung. Pada pintu keimanan dalam dirinya berdiri perzinahan.' ‘Siapa saja yang menghormatinya sebagai tuhan cinta, tidak memikirkan cukup tinggi mengenai cinta itu sendiri. Apakah Tuhan ini juga memang tidak akan dinilai? Namun si pencinta mencintai tanpa pertimbangan ganjaran dan hukuman.' ‘Ketika dia muda, tuhan yang berasal dari timur ini, dia keras dan penuh dendam serta telah membangun bagi dirinya sebuah Neraka demi kesenangan para kesayangannya.' ‘Namun, lama kelamaan dia menjadi tua dan lemah serta lembut, dan sangat merasa kasihan melebihi dari seorang kakek daripada seorang ayah, lebih menyerupai seorang nenek yang terhuyung-huyung.' ‘Kemudian dia duduk, meringkuk di sudut cerobong asapnya, bersungut-sungut tentang kaki-kakinya yang lemah, letih akan dunia, penat akan keinginan, dan suatu hari dia tercekik karena rasa kasih-sayangnya yang berlebihan.'

(Thus Spoke Zarathustra, oleh Friedrich Nietzsche,. h.271-273. Terjemahan Bahasa Inggris diterbitkan oleh Penguin Books,1969).


 

< KEMBALI

DAFTAR ISI

LANJUT >

sumber:ahmadiyyah.or.id

DEPAN

kompilasi chm : pakdenono.com