Nabi Muhammad (2/2)

| Indeks Artikel | Tentang Penulis

 

PERTANYAAN (12). NABI MUHAMMAD                         (2/2)
 
WILSON:
 
Ini   sedikit  membingungkan.  Nabi-nabi  sebelum  Muhammad,
seperti  Musa  dan  Isa  diberi  keajaiban  dan   kesaktian,
sedangkan Muhammad tidak menunjukkan atau tidak menyandarkan
pada kejadian-kejadian yang ajaib. Dia membuktikan  kenabian
dengan Qur'an.
 
Mengapa  dia  tidak  menunjukkan keajaiban yang sama seperti
Yesus (Isa) dan Musa?
 
CHIRRI:
 
Ada  dua  alasan  untuk  membedakan  antara  keajaiban  tipe
Muhammad    dengan    keajaiban-keajaiban   Nabi-nabi   yang
mendahuluinya:
 
1. Keajaiban Yesus dan Musa adalah benar dan sangat  menarik
perhatian,   tetapi  kenyataan  menunjukkan  bahwa  meskipun
mereka  menunjukkan   keajaiban,   tetapi   tidak   membikin
masyarakat pada waktu itu percaya kepada Nabi-nabi itu, atau
mengikuti ajaran-ajarannya.
 
Sejarah menunjukkan Bani Israel tidak mengikuti  Nabi  Musa,
walaupun   dia   sudah   menunjukkan   pada  mereka  seluruh
keajaibannya.
 
Misalnya, setelah menyeberangi laut  dengan  berjalan  kaki,
mereka  toh  tidak  setia  kepada  ajaran Musa. Setelah Musa
pergi   ke   gunung   untuk   menerima    perintah-perintah,
sekembalinya  malah  mendapatkan  Bani  Israil tersesat dari
jalan Tuhan.
 
Yesus (Isa) diikuti oleh sejumlah besar orang-orang,  tetapi
bila  kegawatan  datang,  dia ditinggalkan sendirian, bahkan
juga oleh murid-muridnya.
 
Rakyat,  pada  umumnya,  tidak  pernah  bisa  dibujuk   oleh
keajaiban-keajaiban untuk mengikuti ajaran-ajaran yang baik.
 
Bila  mereka  menyaksikan  pertunjukan  yang ajaib, sebagian
besar   mereka   mengatakan    bahwa    pelaku-pelaku    itu
penipu-penipu dan tukang-tukang sihir.
 
Andaikata  keanehan  yang  sama diulang pada waktu Muhammad,
hal itu tidak akan mempunyai hasil lebih baik daripada  yang
sebelumnya.
 
Maka  dari  itu,  cara menunjukkan keajaiban-keajaiban telah
diganti.
 
2. Kelihatannya keanehan-keanehan (keajaiban-keajaiban) Musa
&   Isa(Yesus)   adalah   sangat   produktif.  Kenyataannya,
keajaiban Musa dan Isa bersifat tidak  permanen.  Tidak  ada
perbuatannya   yang   dapat  dilihat  dua  kali,  tidak  ada
perbuatannya yang langgeng. Membuat orang buta dapat melihat
atau membuat orang mati hidup kembali memang suatu perbuatan
yang ajaib, tetapi jika perbuatan itu hilang  (tidak  tampak
lagi)  maka  orang  pun  tidak  setia  lagi.  Segera setelah
perbuatan keajaiban itu  diselesaikan,  maka  hal  itu  akan
menjadi   sejarah.  Orang-orang  yang  tidak  melihat  harus
percaya pada saksi (kesaksian) dari orang-orang  yang  telah
melihat hal itu.
 
Dengan  Muhammad, hal ini berbeda. Dia adalah Nabi terakhir.
Dia tidak dapat percaya pada setiap  perbuatan  yang  ajaib,
sebab  tidak ada perbuatan keajaiban dapat berlangsung cukup
lama hingga dapat dilihat  oleh  generasi-generasi  berikut.
Memang  dia  harus percaya kepada beberapa keajaiban, tetapi
keajaibannya harus dari jenis  (tipe)  yang  berbeda.  Yaitu
keajaiban  yang  bisa diuji oleh generasi-generasi yang akan
datang sama baiknya dengan pada masa keajaiban itu terjadi.
 
Pada suatu waktu bila  tidak  ada  kamera  atau  film  untuk
merekam  satu kejadian yang dapat disaksikan pada waktu yang
berbeda-beda, kita tidak  dapat  membayangkan  setiap  jenis
dari keajaiban apapun kecuali dengan ucapan.
 
Bila  suatu  ucapan dicatat di dalam sebuah buku, keunggulan
itu dapat disaksikan dan diuji pada  setiap  saat  dan  pada
setiap  generasi.  Bila itu tidak dapat ditandingi, itu akan
ditinggal selamanya, dan  keunggulannya  dapat  dikaji  oleh
seluruh  generasi-generasi.  Ini adalah jenis keajaiban yang
pantas dipunyai seorang  Nabi  terakhir,  dan  itu  sebabnya
mengapa  Muhammad  dilengkapi  dengan  Kitab  Suci Al-Qur'an
sebagai suatu bukti dari kebenarannya.


DIALOG TENTANG ISLAM DAN KRISTEN   Prof. Wilson & Muhammad Jawad Chirri Alih Bahasa: H.M. Ridho Umar Baridwan, S.H. Penerbit P.T. Alma'arif, Bandung, Cetakan Kelima, 1981  

| Indeks Artikel | Tentang Penulis