Mengapa Kita Perlu Nabi-nabi (3/3)

| Indeks Artikel | Tentang Penulis

 

PERTANYAAN (11) MENGAPA KITA PERLU NABI-NABI?          (3/3)
 
WILSON:
 
Sejarah  membuktikan  banyak  orang   yang   mempunyai   hak
kenabian.
 
Individu-individu  ini muncul di berbagai masa, dan beberapa
dari mereka masih hidup. Kita mengetahui bahwa beberapa dari
mereka adalah Nabi-nabi yang benar, dan beberapa dari mereka
adalah tidak benar.
 
Bagaimana kita dapat membedakan antara Nabi-nabi yang  benar
dan yang tidak benar?
 
CHIRRI:
 
Seorang  Nabi  adalah pesuruh Tuhan. Dia adalah utusan Tuhan
untuk  manusia.  Seorang   utusan   mesti   memiliki   surat
kepercayaan,  beberapa  tanda yang menunjukkan kebenarannya.
Tak seorangpun akan diterima sebagai seorang  utusan  karena
keinginannya   sendiri.   Karena   itu,  kita  dapati  bahwa
Perorangan-perorangan itu yang dipercaya  menjadi  Nabi-nabi
dilengkapi dengan beberapa kekuatan-kekuatan yang luar biasa
yang tidak  terdapat  pada  orang-orang  lain.  Musa  diberi
kelebihan  oleh  Tuhan  untuk  mengubah  tongkatnya  menjadi
seekor ular, merubah air menjadi darah,  dan  membelah  laut
dengan  pukulan  tongkatnya.  Yesus  diberi  kelebihan untuk
menyebutkan orang sakit tanpa obat, membuat orang buta dapat
melihat,  menghidupkan  orang  mati, dan, menurut kitab Suci
Al-Qur'an dapat berbicara sewaktu dia dalam ayunan (buaian).
Muhammad   dilengkapi  ucapan  yang  mulia  (sangat  baik),
Al-Qur'an, dalam bahasa Arab.
 
WILSON:
 
Haruskah seorang Nabi  itu  manusia  atau  mungkinkah  Tuhan
mengirim pesuruh yang bukan manusia?
 
CHIRRI:
 
Seorang  Nabi  adalah contoh untuk manusia. Dia akan berbagi
dengan mereka sifat-sifat yang sama, kemampuan yang sama dan
keterbatasan  yang  sama.  Harus  mampu  memberi contoh yang
baik. Harus mempunyai kesanggupan menarik orang-orang  untuk
mengikuti  ajarannya.  Bila  Nabi  mempunyai sifatsifat yang
"biasa," orang-orang tidak akan mengikuti contohnya.
 
Kesempurnaan  yang  ditunjukkan  oleh  seorang   Nabi   akan
memungkinkan diikuti oleh pengikut-pengikutnya.
 
Bila  seseorang  menujukkan pada saya tingkat kebajikan yang
tinggi, saya akan terpikat untuk  mencoba  mencapai  tingkat
itu.  Dia dan saya adalah manusia apa yang mungkin untuk dia
adalah mungkin untuk saya. Tetapi bila malaikat  menunjukkan
pada saya tlngkat moral yang tinggi, saya tidak akan mencoba
mengikuti contohnya. Apa yang mungkin untuk  dia  barangkali
tidak  mungkin  untuk  saya,  karena  dia tidak berasal dari
sifat dasar yang sama.
 
Ada  alasan  lain  untuk  mempercayai  bahwa  manusia   akan
menerima Nabi-nabi dari jenis manusia. Kita telah tahu bahwa
seorang Nabi diharapkan mewujudkan  kebenaran  dengan  jalan
menunjukkan pada orang-orang suatu perbuatan (prestasi) yang
luar biasa. Dengan demikian, orang-orang akan tahu bahwa dia
dlberi  kuasa  oleh Tuhan, sebab apa yang ia lakukan di luar
kemampuan orang biasa.
 
Ini tidak akan berakibat apa-apa bila  Nabi  bukan  manusia,
misalnya malaikat.
 
WILSON:
 
Apakah kepercayaan terhadap Kenabian termasuk pandangan yang
penting dalam Islam.
 
CHIRRI:
 
Kepercayaan pada Kenabian, dalam pandangan  Islam,  mencakup
sebagai hal-hal sebagai berikut:
 
1.  Percaya  pada Kenabian Muhammad. Muhammad adalah seorang
Nabi yang tidak hanya diutus untuk sebagian  bangsa,  tetapi
untuk seluruh manusia.
 
Kata Kitab Suci Qur'an:
 
"Katakanlah:  Hai  manusia  sesungguhnya  aku  adalah utusan
Tuhan  buat  kamu  selurahnya  yaitu  Tuhan  yang  mempunyai
kerajaan langit dan bumi. Tak ada Tuhan selain dari padaNya,
yang menghidupkan dan yang mematikan.  Sebab  itu  hendaklah
kamu beriman kepada Allah dan UtusanNya.
 
Nabi    yang    ummi   yang   percaya   kepada   Allah   dan
perkataan-perkataanNya. Ikutilah Dia  supaya  kamu  mendapat
petunjuk?" 7: 158.
 
2.  Percaya  kepada  Kenabian  seluruh Nabi-nabi yang datang
sebelum  Muhammad,  sebab  mereka  diakui  oleh  Kitab  Suci
Qur'an:
 
"Katakan:  Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan
kepada kami, dan apa  yang  diturunkan  kepada  Ibrahim  dan
Ismail  dan  Ishak dan Ya'qub dan anak-anaknya, dan apa yang
diberikan kepada Musa dan Isa, dan apa yang diberikan kepada
Nabi-nabi dari  Tuhannya,  kami tidak membedakan  seorangpun
di antara mereka dan kami patuh kepadaNya." 2:136
 
3. Percaya Muhammad sebagai Nabi terakhir.
 
"Muhammad itu  bukan  bapak  seorangpun  dari  laki-laki  di
antara  kamu,  tetapi  dia  Rasul Allah dan penutup Nabi dan
Tuhan itu Maha Tahu atas segala sesuatu." 33:40
 
Nabi Muhammad berkata pada saudara sepupunya, Ali:
 
"Posisimu terhadap saya sama dengan  posisi  Harun  terhadap
Musa tetapi tidak akan ada Nabi setelah saya."


DIALOG TENTANG ISLAM DAN KRISTEN   Prof. Wilson & Muhammad Jawad Chirri Alih Bahasa: H.M. Ridho Umar Baridwan, S.H. Penerbit P.T. Alma'arif, Bandung, Cetakan Kelima, 1981  

| Indeks Artikel | Tentang Penulis