Kebebasan vs Takdir (2/2)

| Indeks Artikel | Tentang Penulis

 

PERTANYAAN (9) KEBEBASAN VS TAKDIR                     (2/2)
 
WILSON:
 
Ayat-ayat  yang  telah  anda  kutip  dari  Kitab Suci Qur'an
benar-benar  menunjukkan  bahwa  manusia   diberi   sejumlah
kebebasan yang cukup yang membuat dia bertanggung jawab, dan
patut menerima hadiah (ganjaran) atau  hukuman  tentang  apa
yang  diperbuat.  Akan  tetapi,  ada beberapa ayat-ayat yang
dikutip dari Qur'an yang menganjurkan takdir. Ayat-ayat  ini
menunjukkan bahwa tindakan manusia dikontrol oleh Tuhan.
 
Ayat-ayat itu sebagai berikut:
 
"Sesungguhnya,  inilah suatu peringatan, dan siapa yang mau,
hendaklah mengambil jalan kepada Tuhannya.
 
Dan tiadalah kamu mau,  melainkan  kalau  Tuhan  menghendaki
..." 76: 29-30.
 
"Hal  itu  adalah  ujian engkau, akan menyesatkan siapa yang
engkau kehendaki dan memimpin siapa yang engkau  sukai  ..."
7:155
 
Ayat-ayat ini menunjukkan pertentangan dengan ayat-ayat yang
anda kutip. Ini  menyebabkan  keragu-raguan  dan  melahirkan
sebuah dilemma (masalah).
 
CHIRRI:
 
Untuk seorang Muslim, Kitab Suci Qur'an adalah catatan ilham
(wahyu) yang teliti.  Qur'an  hanya  berisi  kebenaran,  dan
seluruh  isi-isi  Qur'an harus benar. Kebenaran tidak pernah
bertentangan dengan kebenaran yang lain.
 
Bila ada dua kelompok ayat-ayat Qur'an yang berlawanan  satu
dengan  yang  lain,  maka  harus  diperlakukan di dalam cara
tertentu.  Bila  salah  satu  kelompok-kelompok  menunjukkan
pertentangan mengenai sesuatu hal dengan kelompok yang lain,
kelompok yang lebih jelas akan diikuti. Kelompok  yang  lain
harus   diartikan   dalam  arti  terbatas  yang  tidak  akan
bertentangan dengan yang pertama.
 
WILSON:
 
Tuhan adalah pencipta dari seluruh alam semesta, dan seluruh
kejadian-kejadian. Tidak ada kejadian di dunia ini berada di
luar ciptaanNya. Kemauan manusia adalah satu  dari  kejadian
(peristiwa-peristiwa) yang mengambil bagian di dunia ini.
 
Karena itu manusia tidak berkeinginan bebas. (free will).
 
CHIRRI:
 
Bila   ini  adalah  benar,  kita  harus  menganggap  seluruh
ketidak-adilan-ketidak-adilan, dan kejahatan-kejahatan  yang
manusia perbuat disebabkan oleh Tuhan. Tetapi tidak ada yang
percaya  bahwa   Tuhan   membuat   kesalahan-kesalahan   dan
dosa-dosa  kita.  Yang  benar,  Tuhan  menciptakan pada diri
manusia kemampuan  memilih,  dan  ini  maksudnya  bahwa  Dia
menyumbangkan  pada  manusia bebas untuk berkeinginan. Tuhan
dapat mengarahkan keinginan manusia dan membuat dia  memilih
tujuan  tertentu  bila  Dia  mau,  tetapi  tidak  ada  bukti
menunjukkan bahwa  Tuhan  berbuat  demikian  dan  merintangi
kemauan/keinginan-keinginan kita.
 
Karena Dia menyumbangkan pada kita kemarnpuan untuk memilih,
kita akan mengharap Dia membiarkan kita tanpa campur-tangan.
 
Tuhan mengharamkan kita menggunakan  kekuatan  kita  memilih
dan membuat keputusan sendiri dan mempunyai pilihan sendiri.
 
WILSON:
 
Tuhan  mengetahui  masa  depan  kita, masa sekarang dan masa
lalu. Dia mengetahui apa yang akan saya lakukan di masa yang
akan datang yang masih jauh, seperti Dia mengetahui tindakan
saya  sekarang  yaitu  pada  ucapan   kata-kata   ini.   Dia
mengetahui sebelum kita dilahirkan apa tujuan yang akan kita
ambil setelah kelahiran kita dan masa-depan kita.
 
Segala sesuatunya diketahuiNya, seluruh tindakan kita  telah
ditentukan jauh sebelum kita berbuat.
 
Kita  tidak  akan  dapat  mengambil arah-arah yang baru yang
tidak diketahui  Tuhan, juga tidak dapat kita   menggagalkan
mengambil  tujuan  yang  telah ditentukan olehNya. Kegagalan
kita untuk mengambil setiap tujuan yang telah  Dia  ketahui,
akan  menjadi suatu kegagalan pada ilmuNya. Ilmu Tuhan tidak
pernah gagal.
 
CHIRRI:
 
Ilmu kita tidak menentukan kejadian-kejadian itu, juga  ilmu
kita tidak menyebabkan kejadiankejadian itu terjadi.
 
Saya   ambil   contoh:  Seluruh  pekerja  pada  pabrik  akan
makan-siang pada waktu siang. Ini tidak berarti  bahwa  ilmu
saya   atau   pengharapan   saya  telah  menyebabkan  mereka
makan-siang  pada  waktu  itu.  Tuhan,  tidak  boleh  tidak,
mengetahui  masa-depan  kita, tetapi ini tidak perlu berarti
bahwa seluruh  tindakan  masa  depan  kita  disebabkan  oleh
ilmuNya.   Masing-masing  dan  tiap  tindakan-tindakan  kita
mempunyai sebab-sebab  tersendiri,  dan  faktor  pokok  pada
setiap  tindakan  kita  adalah terutama kemauan manusia yang
memerlukan tindakan demikian.
 
Tuhan mengetahui bahwa saya akan melakukan sesuatu pekerjaan
tertentu  oleh  keinginan  saya  sendiri.  Karena ilmu Tuhan
tidak gagal, tindakan saya harus menjadi tindakan yang bebas
yang disebabkan oleh kebebasan keinginan saya.
 
Ilmu  Tuhan  tidak  pernah gagal, karena itu saya tidak akan
gagal  membuat  keputusan  saya  sendiri  dengan   kebebasan
keinginan saya sendiri (by my own free will).
 
WILSON:
 
Diskusi ini telah membuat masalah ini benar-benar jelas.
 
Pokok  terakhir  yang  anda terangkan adalah sangat penting.
Sebenarnya, alasan terakhir yang  saya  kemukakan  meragukan
iltnu  dari  suatu  kejadian  dengan  sebab-sebabnya, tetapi
setiap   kejadian   biasanya   mempunyai   penyebab-penyebab
sendiri.  Kita  tahu Tuhan mengetahui bahwa setiap perbuatan
kita menjadi hasil dari keinginan kita sendiri.  Dan  karena
Tuhan  telah memberikan pada kita kemampuan memilih, kemauan
kita harus merupakan hasil yang bebas  dari  kemampuan  itu.
Ilmu  Tuhan  tidak  akan pernah gagal, karena itu kita tidak
akan  gagal  memiliki   perbuatan-perbuatan   kita   sebagai
hasil-hasil dari kebebasan kemauan kita sendiri.
 
Bila  kita menyetujui azas-azas (doktrin) kebebasan manusia,
kita akan teguh dan kita  akan  selamat  dari  pertentangan.
Azas  keadilan  Tuhan  tidak  dapat  didamaikan  dengan azas
takdir. Kita tidak dapat mengatakan bahwa perbuatan  manusia
diperlukan  Tuhan, kecuali jika kita menolak keadilan Tuhan.
Karena kita tidak ingin meninggalkan  azas  keadilan  Tuhan,
juga kita tidak ingin percaya dalam pertentangan, kita harus
menolak dengan mutlak azas Takdir.


DIALOG TENTANG ISLAM DAN KRISTEN   Prof. Wilson & Muhammad Jawad Chirri Alih Bahasa: H.M. Ridho Umar Baridwan, S.H. Penerbit P.T. Alma'arif, Bandung, Cetakan Kelima, 1981  

| Indeks Artikel | Tentang Penulis