KRITIK BIBEL

 

 

BAB I:
Metode Tafsir Bibel

(lanjutan)

 

< sebelumya

Sekarang akan dipaparkan secara ringkas bagaimana dalam keadaan yang seperti ini pikiran para nabi juga bisa dipahami melalui sejarah kritis kitab suci. Dalam hal ini kita harus mulai dari elemen-elemen yang pal ing umum, yaitu pertama-tama kita harus bertanya apa itu nabi, apa itu wahyu dan kandunqan utamanya dan apa itu mukjizat. Demikianlah kita telah memulai dengan hal-hal yang paling umum. Dari situ kita turun ke pembahasan yang sedikit lebih khusus yaitu pikiran-pikiran setiap nabi dan selanjutnya berturut-turut kita akan sampai kepada makna setiap wahyu yanq turun kepada seorang nabi, setiap penuturan dan setiap mukjizat. Sebelum ini sudah kita jelaskan dengan banyak contoh sikap hati-hati yang harus kita ambil untuk menghindari kemungkinan tercampurnya pikiran para nabi dengan pikiran para penutur dari satu sisi, serta pikiran roh kudus dan kenyataan yang sebenarnya dari sisi lain. Untuk itu kita tidak perlu menjelaskan lagi di sini. Tetapi ada satu hal yang harus kita perhatikan tentang makna wahyu, yaitu metode kita hanya mengajarkan bagaimana membahas hal-hal yang betul-betul dilihat dan didengar oleh para nabi, bukan hal-hal yang ingin mereka ungkapkan atau permisalkan dengan gambaran-gambaran inderawi. Hal-hal ini hanya bisa diduga-duga dan tidak bisa disimpulkan dari data data utama kitab suci.

Demikianlah kita telah memaparkan metode penafsiran kitab suci. Dalam waktu yang sama juga telah membuktikan bahwa metode itu adalah satu-satunya cara yang bisa digunakan. Dan ternyata juga merupakan cara yang meyakinkan untuk mengetahui maknanya yang hakiki. Kendati begitu kami tetap mengakui bahwa orang-orang yang mendengarkan perkataan atau penjelasan yang sebenarnya dari para nabi secara langsung, seperti yang diakui oleh Kaum Farisi, atau yang mempunyai paus yang maksum (tidak pernah salah) dalam menafsirkan kitab suci, seperti umat Katolik Roma ini mempunyai keyakinan yang lebih besar. Hanya saja, karena kita tidak bisa membuktikan kebenaran perkataan itu, juga tidak bisa membuktikan keabsahan otoritas paus, kita tidak bisa menjadikan keduanya sebagai landasan sama sekali. Bahkan umat Kristen generasi pertama mengingkari otoritas itu, sebagaimana sekte Yahudi terlama juga menolak tradisi ini.8) Jika kita memperhatikan jumlah tahun di mana orang-orang Farisi mentransmisikan dari imam-­imam mereka (belum yang lain), yaitu jumlah yang menyatakan bahwa tradisi ini bermula dari Nabi Musa kita mendapatkan kesalahan dalam hitungan, sebagaimana akan jelaskan dalam tempat lain. Atas dasar ini, kita harus meragukan tradisi ini sejauh mungkin. Sementara itu ada tradisi Yahudi lain menurut metodologi kita harus diduga terbebas dari pemalsuan. Tradisi itu adalah makna kata-­kata Ibrani karena kita dapatkan dari mereka. Jika tradisi pertama mengandung keraguan, makna kata-kata itu tidak bisa dirasuki oleh keraguan apa pun. Hal itu karena seseorang tidak bisa meraih keuntungan dari penggantiar makna kata, sementara itu sering kali mempunyai kepentingan dalam mengganti makna teks. Di samping itu, penggantian pertama juga sangat sulit. Orang yang ingin mengganti makna suatu kata dalam suatu bahasa dia harus menjelaskan semua orang yang menulis dalam bahasa ini dan semua orang yang menggunakan kata ini dalam maknanya yang turun-temurun sesuai dengan pola pikir dan wawasan masing-masing mereka. Atau jika tidak, maka dia harus membuktikan kepalsuan mereka dengan sangat hati hati. Selain itu, bahasa juga terus tersimpan di kalangan orang awam dan kalangan ulama, sementara para ulama saja yang menyimpan makna teks-teks kitab suci itu. Dengan demikian kita bisa membayangkan dengan mudah kemungkinan para ulama untuk mengganti atau menyelewengkan makna teks dalam buku langka yang hanya ada pada mereka. Sementara itu mereka tidak mungkin mengubah makna kata. Masih ada satu hal lagi, yaitu jika seseorang ingin mengubah makna suatu kata yang sudah biasa dia pakai, tidak akan mudah baginya untuk mematuhi makna baru itu dalam semua perkataan dan tulisan selanjutnya. Karena alasan itu semua, kita yakin seyakin-yakinnya bahwa tidak akan mungkin terdetik dalam benak seseorang untuk mengubah bahasa, sementara itu sangat sering terjadi distorsi pemikiran penulis dengan cara mengubah atau menyalahtafsirkan teks.

Jadi, selama metode kita -yang bertumpu pada kaedah yang menyatakan bahwa pengetahuan tentang kitab suci itu harus diambil dari kitab suci itu sendiri- adalah metode satu-satunya dan memang benar, kita tidak boleh menggantungkan harapan untuk mendapatkan sesuatu yang tidak diberikan oleh metode itu kepada metode lain demi mendapatkan pengetahuan menyeluruh tentang kitab suci.

Selanjutnya, kesulitan apa saja yang menghadang metode ini atau apa saja kekurangannya hingga bisa memberikan pengetahuan yang menyeluruh dan meyakinkan? Pertanyaan inilah yang akan kita jawab sekarang.

Pertama, ada kesulitan besar yang timbul karena metode ini menuntut pengetahuan yang sempurna tentang bahasa Ibrani. Mana pengetahuan kita tentang bahasa itu? Para ahli bahasa Ibrani terdahulu sama sekali tidak meninggalkan sesuatu yang berkaitan dengan dasar-dasar dan kaedah-kaedah yang melandasi bahasa ini. Atau paling tidak semua dasar dan kaedah yang mereka tinggalkan itu sudah tiada pada kita lagi. Tidak ada kamus, tidak pula buku tata bahasa atau retorika. Umat Yahudi benar-benar telah kehilangan sesuatu yang bisa membuat mereka terhormat dan bangga kecuali beberapa cuil bahasa dan sastra mereka saja. Hal ini tidaklah mengherankan jika kita memperhatikan banyaknya bencana dan penindasan yang menimpa umat itu. Misalnya, nama buah-buahan, burung, ikan dan banyak nama lain banyak hilang ditelan waktu. Arti kata benda dan verba yang kita temukan dalam Taurat pun juga banyak yang hilang, atau paling tidak dipersilihkan. Arti-arti itu perlu kita ketahui. Demikian juga dengan struktur-struktur khusus yang ada dalam bahasa ini. Tapi ng hampir seluruh ungkapan dan struktur khusus yang digunakan oleh orang-orang Ibrani itu telah dicabut dari ingatan manusia. Oleh karena itu kita tidak bisa, dengan seenak hati, mencari arti setiap kata menurut pemakaian yang berlaku dalam bahasa ini. Sebaliknya, kita banyak mendapatkan ungkapan yang dirangkai dari kata­kata yang betul-betul terkenal, tetapi artinya sangat kabur, tidak bisa diketahui sama sekali. Selanjutnya, selain pengetahuan yang sempurna mengenai bahasa Ibrani itu tidak bisa dicapai, struktur dan karakter bahasa itu juga menimbulkan masalah tersendiri. Di dalamnya banyak sekali kata yang ambigu hingga membuat kita mustahil untuk menemukan suatu jalan yang bisa menentukan arti teks-teks kitab suci secara pasti. Di samping sebab-sebab umum yang dipunyai oleh semua bahasa, bahasa Ibrani mempunyai sebab-sebab khusus yang menimbulkan banyak kata yang artinya tidak jelas itu. kira sebab-sebab itu perlu kita sebutkan di sini.

Pertama, kerancuan dan ketakjelasan arti teks dalam Taurat itu seringkali timbul dari digantinya huruf dalam kata dengan huruf lain yang mempunyai makhraj (artikulasi) yang sama. Orang-orang Ibrani membagi huruf­huruf abjad mereka ke dalam lima kelompok makhraj, sesuai dengan lima organ mulut yang digunakan untuk mengucapkannya, yaitu: dua bibir, lidah, gigi, tenggorokan dan pangkal tenggorokan. Misalnya, huruf (ahlef, Arab: alif), (jimel Arab: jim), (ayen, Arab: 'ain), (heh, Arab: ha') dinamai huruf-huruf tenggorokan. Seringkali salah satu dari huruf-huruf itu dipakai untuk mengganti yang lain seolah tidak ada bedanya. Paling tidak menurut yang kita tahu. Atas dasar ini kata (a-I) yang berarti "ke" dipakai untuk mengganti kata (`a-I) yang berarti di atas. Demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu seringkali ada sebuah kalimat yang tersusun dari kata-kata yang tak jelas artinya atau malah sekadar suara tanpa arti.

Sebab kedua dari ketakjelasan arti itu adalah banyaknya arti dari satu kata penghubung atau kata keterangan. Misalnya huruf (vav, Arab: waw) bisa dipakai untuk menghubungkan sekaligus memisahkan dua kata. Dengan demikian bisa berarti: dan, karena, meski begitu atau ketika itu...demikian seterusnya.

Ada sebab ketiga yang menimbulkan banyak ketakjelasan arti itu, yaitu bahwasanya verba dalam bahasa Ibrani tidak mempunyai bentuk yang menerangkan masa sekarang, masa lalu masih berlangsung, masa lalu sudah lewat dan masa-masa lain yang biasa terdapat dalam bahasa-bahasa lain. Sebetulnya ada kaedah-kaedah yang disimpulkan dari dasar-dasar bahasa ini yang bisa mengganti keterangan waktu dan bentuk-bentuk yang kurang dengan mudah. Bahkan mempunyai muatan retorika yang tinggi. Tapi ng para penulis terdahulu mengabaikannya sama sekali. Mereka pun memakai verba untuk masa depan untuk menunjukkan masa lalu dan masa kini tanpa pembedaan. Sebaliknya mereka juga menggunakan verba masa lalu untuk masa depan. Akhirnya kata dan ungkapan yang tak jelas artinya itu pun timbul dalam jumlah yang banyak sekali.

Selain tiga sebab ini, masih ada dua sebab lagi yang lebih penting. Pertama, orang-orang Ibrani tidak mempunyai huruf yang berfungsi sebagai hidup. Kedua, mereka tidak terbiasa memenggal perkataan tertulis mereka atau menekankan suatu arti dengan tanda baca. Tidak diragukan lagi bahwa dua kelemahan ini bisa ditutupi dengan pembubuhan titik dan harakat.9) Hanya saja kita tidak boleh mempercayai dua sarana ini, karena yang membuat dan menggunakannya adalah ahli bahasa yang datang jauh kemudian.10) Dengan demikian otoritas mereka tidak ada nilainya sama sekali. Adapun para pendahulu menulis tanpa titik (maksudnya tanpa huruf hidup atau harakat). Banyak bukti yang menyatakan bahwa titik-titik itu dibuat pada masa yang jauh kemudian. Yaitu ketika orang-orang sudah membutuhkan penafsiran Taurat. Dengan demikian, titik-titik yang ada sekarang, demikian juga dengan harakat tidak lain kecuali tafsir-tafsir baru yang tidak boleh kita percayai begitu saja dan tidak memiliki otoritas yang melebihi tafsiran-tafsiran lain. Yang tidak mengetahui hal ini tidak akan tahu kenapa kita harus memaafkan penulis Surat I<epada Orang Ibrani saat menafsirkan sebuah ayat dari Kitab Kejadian (47 : 31) dengan sesuatu yang berbeda dengan naskah Ibrani bertitik (lihat Ibrani 11:21). Seolah seorang sahabat (aposte1, hawary) harus memahami makna kitab suci dari para pemberi titik. sendiri melihat bahwa yang salah adalah orang-orang yang memberi titik itu. Lalu, agar setiap orang bisa membuktikan kebenaran hal itu dan dalam waktu yang sama juga mengetahui bahwa perbedaan itu disebabkan oleh tidak adanya huruf hidup, akan menyebutkan dua tafsiran itu sekaligus. Dalam naskah Ibrani bertitik ayat itu disebutkan dengan arti: "Lalu sujudlah Israel di atas kepala tempat tidurnya." Atau kalau huruf (ayen) pada kata ('a-l) diganti dg huruf (ahlef) hingga menjadi (a-l) maka ayat itu akan berarti: "Lalu sujudlah Israel ke kepala tempat tidurnya.” 11) Sedangkan penulis Surat Kepada Orang Ibrani membacanya dengan: "Lalu sujudlah lsrael di atas kepala tongkatnya" setelah mengganti kata mati (tempat tidur) dengan kata mita (tongkat) yang hanya berbeda pada huruf hidup saja.12) Karena konteks riwayat ini membicarakan masa tua Yakub, bukan sakitnya sebagaimana yang terdapat dalam pasal berikutnya, kemungkinan besar yang ingin dikatakan oleh si penutur adalah, "Yakub menunduk ke atas kepala tonqkatnya." Hal ini karena orang yang sudah lanjut usia untuk bertelekan memerlukan tongkat, bukan tempat tidur. Di samping itu, bacaan ini tidak memerlukan penggantian huruf. Selanjutnya, contoh ini sebut bukan untuk membuktikan keselarasan teks dalam Surat Kepada Orang Ibrani dengan teks dalam Kitab Kejadian saja, tetapi lebih dari itu ingin menjelaskan kadar lemahnya kepercayaan yang bisa kita berikan kepada titik dan harakat. Oleh karena itu barangsiapa ingin menafsirkan kitab suci tanpa pengaruh penilaian masa lalu hendaknya menaruh curiga kepada teks yang disempurnakan dengan cara semacam itu, kemudiar hendaknya meninjaunya kembali. Sekarang kita kembali ke pembicaraan semula. Yaitu jika memang seperti itu struktur dan karater bahasa Ibrani, kita akan memahami dengan mudah bagaimana seseorang menemukan teks-teks yang ambigu itu dalam jumlah yang sangat besar hingga tidak bisa ditemukan suatu jalan yang bisa menentukan maksud yang sesungguhnya. Penentuan maksud itu juga tidak bisa kita capai dengan membandingkan semua teks itu satu sama lain (dalam bagian terdahulu sudah kita jelaskan bahwa inilah satu-satunya jalan untuk mengetahui makna hakiki dari satu teks yang mempunyai arti banyak menurut pemakaian linguistik). Dari satu sisi perbandingan teks-teks itu tidak bisa menjelaskan suatu teks kecuali kebetulan. Hal ini karena seorang nabi tidak pernah menulis secara terus terang bahwa dia sedang menjelaskan kata-kata nabi lain atau kata-katanya sendiri. Dari sisi lain, kita tidak bisa menyimpulkan pikiran seorang nabi atau sahabat dari pikiran nabi atau sahabat lain kecuali dalam urusan-urusan kehidupan sebagaimana telah kita terangkan sebelum ini dengan jelas. Bukan dalam masalah-masalah spekulatif, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan mukjizat atau kisah. juga bisa membuktikan adanya banyak teks dalam kitab suci yang tidak bisa dijelaskan dengan beberapa contoh. Tetapi saat ini lebih memilih berhenti dulu dalam masalah ini dan berpindah ke catatan-catatan lain mengenai kesulitan metode yang benar dalam menafsirkan kitab suci dan kelemahan-kelemahan yang tidak bisa dia tutupi.

Ada kesulitan fain dalam metode ini, timbul dari keharusan tersedianya pengetahuan historis tentang situasi khusus yang menyertai kitab tertentu. Pengetahuan semacam ini biasanya tidak tersedia bagi kita. Bahkan sebenarnya kita sama sekali tidak tahu siapa yang menulis kitab-kitab itu. Atau kalau ingin lebih halus, kita tidak tahu siapa saja orang-orang yang menulisnya atau paling tidak, kita meragukan mereka, sebagaimana akan jelaskan nanti. Dari sisi lain, kita tidak tahu dalam kesempatan apa dan kapan kitab-kitab yang tidak diketahui penulis yang sebenarnya itu ditulis. Kita juga tidak tahu tangan siapa saja yang pernah dihinggapi dan dari siapa datangnya manuskrip-manuskrip asli yang terdiri dari beberapa versi bacaan yang berbeda, kemudian akhirnya kita juga tidak tahu jika di sana ada banyak versi bacaan lain yang berasal dari manuskrip-manuskrip yang berasal dari sumber lain. Di bagian lain dari buku ini telah jelaskan pentingnya semua situasi ini dan sengaja tidak ingin membahasnya lagi disini. Jika kita membaca sebuah buku yang berisi hal - hal yang tidak bisa dipercaya atau tidak bisa diketahui, atau membaca sebuah buku yang mengandung kata-kata yang sangat tidak jelas, akan sia-sia jika kita mencari maksudnya tanpa mengetahui penulisnya, waktu dan momen penulisannya. Kita tidak akan pernah tahu hal- hal- yang dimaksud atau yang mungkin dia maksud oleh penulis tanpa mengetahui semua situasi itu. Sebaliknya, jika kita mengetahui semua itu secara mendetail, kita akan menyusun pikiran kita sedemikian rupa, hingga terberbas dari semua penilaian masa lalu, yakni kita tidak akan memberikan kepada penulis kitab atau orang yang dituju oleh penulisan itu, lebih atau kurang dari yang semestinya. Di samping itu, kita tidak membayangkan adanya suatu tujuan selain yang mungkin diletakkan oleh penulis di depan kedua matanya. kira, ini sudah jelas bagi semua orang. Seringkali kita membaca beberapa cerita yang sangat mirip dalam beberapa buku yang berbeda. Meski begitu penilaian kita terhadap cerita-cerita itu sangat berbeda akibat pandangan kita yang berbeda tentang penulisnya. Di sini teringat pernah membaca dalam sebuah buku yang menceritakan seorang laki-laki bernama Orlando Furioso.13) Dia mempunyai kebiasaan mengendarai seekor naga berp dua yang terbang di angkasa dan melayang ke semua daerah yang dia kehendaki. Seorang diri, dia juga terbiasa memangsa manusia dan raksasa dalam jumlah besar. Cerita ini adalah jenis cerita fiksi yang tidak bisa dipahami oleh akal dari sisi mana pun. Meski begitu, jumlahnya sangat banyak. Dalam salah satu buku Ovid juga pernah membaca cerita yang mirip sekali dengan Persee.14) Cerita ketiga adalah cerita yang tersebut dalam kitab Hakim­Hakim tentang Simson (Samson). Dengan sendirian dan tanpa senjata, dia mampu membunuh seribu orang,15) juga cerita dalam kitab Raja-Raja tentang Elia yang terbang ke angkasa dan sampai di langit dengan mengendarai kuda dan kereta dari api.16) Cerita-cerita ini sangat mirip. Meski begitu penilaian kita terhadap masing-masing cerita itu sangat berbeda. Penulis pertama hanya bermaksud menuturkan kejadian-kejadian fiktif, yang kedua mempunyai tujuan politis, sedang yang ketiga bertujuan memaparkan hal-hal yang sakral. Satu-satunya alasan yana membuat kita meyakini hal ini adalah pandangan yang kita ciptakan terhadap para penulis itu. Sampai di sini kita telah membuktikan bahwa mengenal para penulis masalah masalah yang tidak jelas atau tidak masuk akal itu mutlak diperlukan, terutama untuk menafsirkan tulisan-tulisa mereka. Karena alasan-alasan ini juga, kita tidak bisa memilih versi bacaan yang betul dari berbagai macam versi dari sebuah teks yang mengandung cerita-cerita tak jelas kecuali dari pengetahuan kita tentang sumber manuskrip- manuskrip asli yang memuat versi-versi bacaan itu. Itu pun jika tidak ada versi bacaan lain dalam manuskrip- manuskrip lain yang ditulis oleh para penulis yang memiliki otoritas lebih tinggi.

Kesulitan terakhir dalam menafsirkan kitab dengan metode ini adalah bahwasanya kita tidak memiliki kitab-kitab itu dalam bahasa aslinya, yakni dalam bahasa penulisnya. Menurut pendapat yang berlaku, Injil Matius demikian juga dengan Surat Kepada Orang Ibrani telah ditulis dalam bahasa Ibrani. Namun naskah aslinya telah hilang. Selain itu juga ada tanda tanya mengenai bahasa yang dipakai dalam menuliskan Kitab Ayub. Dalam penjelasan-penjelasannya, Ibnu Ezra (Aben Ezra) memastikan bahwa kitab itu diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani dari bahasa lain. Dan inilah sebab ketakjelasan maksudnya. Selanjutnya tidak perlu lagi membicarakan kitab-kitab apokripa karena otoritasnya yang lebih rendah.

 

lanjut >


 

Catatan :

8). Spinoza berpendapat bahwa otoritas Paus dalam menafsirkan kitab suci tidak diakui dalam kalangan umat Kristen generasi pertama demikian pula dalam kalangan gereja-gereja timur. Selain itu, juga tidak ada satu teks pun dalam Perjanjian Baru yang memberikan hak menafsirkan kitab suci kepada Paus sebagaimana teks-teks dalam Perjanjian Lama yang memberi hak menafsirkan syariat kepada para imam. Karena sebab ini, Spinoza tidak mengakui otoritas Paus. Seandainya saja ada penjelasan-penjelasan dari Roma atas perkataan-perkataan para hawary yang diakui oleh semua orang, Spinoza pasti mempercayainya. Karena itu ada maka Spinoza memberikan kepada dirinya sendiri hak untuk menafsirkan kitab suci secara maknawi, sebagaimana dilakukan oleh Tolstoy di kemudian hari. Memang benar di sana ada penjelasan-penjelasan Perjanjian Lama untuk menafsirkan teks-teksnya, namun. menurut Spinoza, penjelasan-penjelasan itu kurang, tidak seperti yang diakui oleh para imam. Ada banyak pertikaian antara sekte-sekte keagamaan sebelum penghancuran kuil yang terakhir. Suatu hal yang menunjukkan bahwa otoritas para imam tidak diakui di semua kalangan. Kemudian masih  ditambah lagi dengan kekacauan keterangan waktu yang tersebut dalam teks, terutama yang berkaitan dengan jumlah tahun antara Musa dan Daud. Dengan demikian, Spinoza juga menolak otoritas Sinagoga Agung Yahudi (Kneset Hadgola) dalam menafsirkan kitab suci seperti penolakannya terhadap otoritas Paus itu (H.H.)

9). Maksudnya fat-hah, kasrah dan dhamnah seperti dalam  bahasa Arab

10). Dimulai pada abad ke-6 dan disempurnakan pada akhir abad ke-7 atau awal abad ke.-8 (Mausu'alul Yahud wal Yahudiah wash Shuhyunyyah, Abdul Wahhab AI-Masiry) (pen.)

11). Ini adalah catatan yang sangat bagus dari Spinoza terhadap naskah Ibrani dari Kitab Kejadian. Dalam Septuaginta disebutkan. tongkat, bukan tempat tidur, tetapi tongkat Yusuf bukan tongkat Yakub. Adapun Gunkel berpendapat bahwa kata itu berarti kepala tempat tidur yang dipakai sandaran Yakub untuk bersyukur kepada Allah setelah mendapatkan janji dari Yusuf akan dikuburkan di temat yang ia inginkan. (HH. )

12). Dua kata itu jika ditulis dengan abjad Ibrani tanpa 'illah (vokal) atau titik (harakat) malca akan sama, yaitu: (Pen.)

13).  Orlando Furioso (Rolan Si Pemarah) adalah epos puisi komedi karyd l'Arioste. Ditulis pada tahun 1516 M. untuk melengkapi epos Boirado (Boirado) yang ditulis pada tahun 1495 M. dan dibiarkannya kurang. Epos ini termasuk salah satu karya sastra pada zaman Renaissance.

14). Persee adalah salah satu tokoh mitologi Yunani. Putra Zeus dari Danae. Pernah memotong kepala Meduse, kemudian kawin dengan Andromede dan menjadi raja Tirynthe. Selanjutnya, dia mendirikan Mycenes.

15). Kemudian ia menemui sebuah tulang rahang keledai yang masih baru, diulurkannya tangannya, dipungutnya dan dipukulnya mati seribu orang dengan tulang itu. (Hakim-Hakim 15:15).

16). Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kara, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai. Ketika Elisa melihat itu maka berteriaklah ia: "Bapaku, bapaku! Kereta lsrael dan orang orangnya yang berkuda!" Kemudian tidak dilihatnya lagi, lalu direngutkannya pakaiannya dan dikoyakkannya menjadi dua koyakan. (II Raja-Raja 2:11-12)

 

 

 

KRITIK BIBEL