KRITIK BIBEL

 

 

BAB I:
Metode Tafsir Bibel

(lanjutan)

 

< sebelumya

Sampai di sini telah dipaparkan semua kesulitan yang timbul dalam metode penafsiran kitab suci dengan penelitian historis terhadap data-data sejarah yang berkaitan dengannya. Kesulitan-kesulitan itu dianggap sangat serius. Oleh sebab itu, tidak ragu-ragu untuk mengatakan bahwa banyak sekali teks kitab suci yang tidak kita pahami maksudnya atau kita pahami, tetapi secara global dan tidak mengandung unsur keyakinan. Namun demikian, ingin mengulangi kata-kata bahwa yang bisa dilakukan oleh kesulitan-kesulitan itu adalah menghalangi kita dalam memahami pikiran para nabi tentang hal-hal yang hanya bisa kita bayangkan dan tidak bisa kita ketahui. Berbeda dengan hal-hal yang bisa kita ketahui dengan akal dan bisa kita buat gambarannya dengan mudah. Yang demikian ini, karena hal-hal yang menurut wujudnya bisa diketahui dengan mudah, pengungkapannya tidak akan sulit hingga tidak bisa dipahami. Ada peribahasa yang mengatakan: Satu kata sudah cukup untuk orang yang paham. Atas dasar ini, sangat mudah menjelaskan kata­kata Euclides kepada semua orang. Dalam bahasa apa pun. Yang ditulis hanya sedikit, selain itu juga sangat masuk akal. Untuk mengetahui idenya dan memahami arti yang sesungguhnya, seseorang tidak perlu mengetahui secara sempurna bahasa yang dia pakai untuk menulis. Cukup tahu sekadarnya saja, tidak lebih dari pengetahuan anak-anak. Di samping itu, juga tidak ada gunanya mengetahui riwayat hidup penulis, tujuan yang ingin dia capai, kebiasaan-­kebiasaannya, bahasa yang dia pakai untuk menulis, untuk siapa dia menulis, kapan menulis, kondisi-kondisi yang meliputi buku itu, nasibnya, versi-versi yang ada dan siapa saja yang memutuskan untuk menghimpunnya. Semua yang dikatakan mengenai Euclides ini juga berlaku bagi semua orang yang menulis dalam masalah-masalah yang bisa dipahami berdasarkan wujudnya. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa dengan hal-hal yang bisa kita capai dari pengetahuan historis terhadap kitab suci itu, kita bisa mengetahui konsep kitab suci mengenai ajaran-ajarar etika. Ajaran-ajaran itu bisa kita ketahui dengan pasti. Hal ini karena ajaran-ajaran yang berkenaan dengan takwa yang sebenarnya diungkapkan dengan kata-kata yang paling banyak beredar karena sangat populer dimasyarakat, sangat sedikit dan mudah dipahami. Disamping itu, berhubung keselamatan yang hakiki dan kebahagiaan rohani berada di dalam ketenangan jiwa sedang ketenangan yang hakiki tidak bisa didapatkan kecuali dari hal-hal yang kita ketahui dengan sanga terang, sepertinya kita akan bisa mengetahui secara pasti konsep kitab suci yang berkenaan dengan masalah-masalah pokok dan inti dari keselamatan dan kebahagiaan rohani. Dengan demikian kita tidak perlu mengkhawatirkan masalah-masalah lain. Hal ini, karena seringkali kita tidak bisa memahaminya dengan akal dan nalar, maka sebaiknya kita anggap saja hal-hal itu lebih pantas dimasukkan ke dalam bab hal-hal aneh daripada hal-hal yang bermanfaat.

Sampai di sini sepertinya sudah menjelaskan metode yang benar dalam menafsirkan kitab suci, juga sudah menjelaskan dengan cukup cara untuk memroses masalah ini. Selanjutnya, tidak ada keraguan lagi pada diri bahwa saat ini setiap orang sudah tahu bahwa metode ini tidak memerlukan cahaya selain cahaya naluri. Hal itu karena karakter dan sifat inti dari cahaya ini terbatas pada pembahasan hal-hal yang tak jelas kemudian memecahkannya berdasarkan kesimpulan yang sah dari hal-hal yang sudah diketahui atau hal-hal yang didata sebagai hal-hal yang diketahui. Metode kita memang tidak menuntut sesuatu yang lebih dari ini. Selanjutnya, kita mengakui bahwa metode ini tidak cukup untuk menjelaskan semua yang dikandung oleh Taurat. Tetapi hal itu tidak disebabkan oleh kekurangan yang ada dalam metode, tetapi karena jalan benar dan lurus yang diserunya belum pernah diikuti dan dilalui oleh orang, sehingga dengan perjalanan waktu menjadi terjal, kasar dan hampir tidak bisa dilewati. kira sudah menjelaskan hal itu dengan cukup pada saat menyebutkan kesulitan-kesulitan yang ada.

Sekarang, kita tinggal meneliti pendapat-pendapat yang bertentangan dengan pendapat kita. Ada orang yang menyangka bahwa cahaya natural tidak mampu menafsirkan kitab suci. Untuk itu harus ada cahaya yang melampaui batas alam. Adapun seperti apa cahaya yang harus ditambahkan kepada cahaya natural itu, mereka sendirilah yang harus menjelaskannya. pribadi hanya bisa menduga bahwa dengan pendapat itu, sebetulnya mereka - dengan menggunakan ungkapan yang lebih samar- ingin mengakui ketidak yakinan mereka terhadap makna hakiki dari banyak teks dalam kitab suci. Hal ini tampak dari tafsiran-tafsiran mereka yang sama sekali tidak mengandung sesuatu yang melampaui batas alam. Sebaliknya, tafsiran-tafsiran itu hanya dugaan-dugaan. Jika kita bandingkan dengan tafsiran-tafsiran orang-orang yang jelas-jelas mengaku hanya memiliki cahaya natural, kita akan mendapatkan kemiripan. Kedua-duanya adalah karya manusia. Kedua-duanya adalah hasil olah pikir. Adapun yang mereka katakan mengenai ketidak cukupan cahaya natural itu sudah pasti salah. Dari satu sisi, kesulitan-kesulitan dalam menafsirkan kitab suci itu - sebagaimana telah kita jelaskan sebelum ini- tidak timbul dari cahaya naluri, tetapi dari kelambanan -jika bukan kebrengsekan- orang-orang yang meremehkan pencarian pengetahuan historis kritis tentang kitab suci di waktu mereka mampu melakukan hal itu. Dari sisi lain, cahaya yang melampaui batas alam (yang memang diakui oleh semua orang kecuali orang-orang yang keliru) ini adalah anugerah yang hanya diberikan oleh Allah kepada kaum mukminin. Padahal yang biasa dinasihati oleh para nabi dan sahabat itu bukan hanya kaum mukminin, tetapi orang­orang kafir dan fasiq juga. Dengan demikian, dua kelompok terakhir ini juga harus mampu memahami pikiran para nabi dan sahabat. Jika tidak, maka para nabi dan sahabat seolah menasihati anak-anak kecil dan bukan orang dewasa yang sudah akil balig. Undang-undang Musa pun akan sia­sia karena hanya bisa dipahami oleh kaum mukminin yang sebenarnya tidak memerlukan undang-undang sama sekali. Jadi, menurut , mereka yang mencari cahaya yang melampaui batas alam untuk memahami pikiran para nabi dan sahabat itu tidak mempunyai cahaya natural dan dalam waktu yang sama, juga sangat jauh dari kemungkinan mendapatkan anugerah ilahi yang melampaui batas alam.

Ibnu Maimun mempunyai pendapat lain yang sangat berbeda. Dia berkeyakinan bahwa setiap teks dari kitab suci mempunyai banyak arti, bahkan banyak arti yang saling bertentangan. Kita semua tidak bisa mengetahui makna hakiki dari sebuah teks kecuali sebatas yang kita tahu - menurut tafsiran kita- bahwa teks itu tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan akal. Jika dia menafsirkan sebuah teks secara harfiah dan hasilnya bertentangan dengan akal, teks itu harus diberi tafsiran lain meskipun sebetulnya sudah sangat jelas. lnilah yang dia ungkapkan dengan sangat terang dalam fasal 25 jilid 2 dari bukunya Moreh Nebuchim 17) dengan kata-katanya:

"Ketauhilah bahwasanya kita tidak mau menerima konsep kelamaan (qidam) alam karena teks-teks dalam kitab suci tentang penciptaannya. Teks-teks ini tidak jauh berbeda dengan teks-teks yang menyatakan bahwasanya Allah adalah tubuh. Sementara itu tidak ada yang menghalangi kita untuk menakwilkan teks-teks yang menyatakan penciptaan. I<ita pun tidak akan ragu-ragu menakwilkannya sebagaimana dulu telah kita lakukan terhadap beberapa teks saat menolak bahwa Allah memiliki tubuh. Bahkan penafsiran dalam kasus pertama itu lebih mudah dan lebih sedikit tenaga yang harus dikeluarkan. Menerima kelamaan alam itu lebih mudah daripada penolakan kita terhadap ketubuhan Allah yang kita sembah dalam penjelasan kita terhadap kitab suci. Meski begitu tidak mau melakukan penafsiran ini dan menolak akidah kelamaan alam karena dua alasan:

Bisa dibuktikan dengan jelas bahwa Allah itu bukan tubuh. Oleh karenanya semua teks yang arti harfiahnya bertentangan dengan maksud ini harus ditafsirkan. Lain halnya dengan akidah kelamaan alam. Akidah ini tidak mempunyai bukti yang kuat. Dengan demikian tidak perlu dilakukan penakwilan kitab suci secara serampangan agar sesuai dengan sebuah pendapat yang dangkal. Maksudnya pendapat yang membuat kita mempunyai alasan untuk memilih pendapat lain yang berlawanan dengannya.

Keyakinan bahwa Allah itu bukan tubuh tidak bertentangan dengan dasar-dasar syariat... sebaliknya keyakinan bahwa alam itu lama, seperti yang diyakini oleh Aritoteles telah merobohkan pondasi syariat."

Itulah kata-kata Ibnu Maimun yang menampakkan dengan jelas hal-hal yang telah kita katakan. Seandainya saja dia mempunyai dalil aqli atas kelamaan alam niscaya tidak akan segan-segan menakwilkan dan menafsirkan kitab suci secara serampangan hingga membuat akidah itu seolah berasal dari kitab suci itu. Ketika itu dia akan yakin seyakin-yakinnya bahwa kitab suci itu mengisyaratkan kelamaan alam, meskipun dalam hal itu dia berbeda dengan kitab suci. Jadi, dia tidak bisa mempercayai maksud yang sebenarnya dari kitab suci meskipun amat jelas selama terus meragukan hakikat yang dikatakan oleh kitab suci dan selama hakikat itu menurut pandangannya tidak bisa dibuktikan dengan dalil yang kuat. Di sini lain selama tidak ada dalil yang membuktikan hakikat ini kita tidak akan pernah tahu apakah kitab suci itu sejalan dengan akal atau bertentangan dengannya. Selanjutnya, kita juga tidak akan tahu apakah makna harfiah itu benar atau salah. Jika cara penafsiran ini benar, mengakui sepenuhnya bahwa kita semua memerlukan cahaya lain selain cahaya natural. Hal ini karena tidak semua kandungan kitab suci bisa dibuktikan dengan data-data yang kita dapatkan melalui cahaya naluri (seperti telah kita jelaskan sebelumnya). Dengan demikian, cahaya natural itu tidak mampu membuktikan segala sesuatu yang berhubungan dengan bagian terbesar dari kandungan kitab suci, selanjutnya juga tidak mampu membuktikan makna yang benar dari kitab suci dan ide-ide yang ada di dalamnya. Saat itu kita akan membutuhkan cahaya lain. Di samping itu, jika metode Ibnu Maimun ini benar, niscaya masyarakat awam yang biasanya tidak mengenal dalil-dalil dan tidak mampu menelaahnya tidak akan menerima apa pun yang berkaitan dengan kitab suci jika tidak berpegang kepada otoritas para filosof atau kesaksian-kesaksian mereka, tetapi sebelum itu dia harus menganggap para filosof terlindung dari kesalahan dalam menafsirkan kitab suci. Hal ini berarti telah muncul kekuasaan gereja baru, kependetaan baru dan sejenis kepausan. Suatu hal yang lebih banyak mengundang cemoohan orang awam daripada membangkitakan rasa hormat di dalam jiwa mereka. Memang benar, metode penafsiran kita juga memerlukan pengetahuan tentang bahasa Ibrani yang tidak bisa dipelajari oleh masyarakat awam. Namun demikian kritikan itu tidak bisa diajukan kepada kita. Kenapa? Karena umumnya orang Yahudi dan bukan Yahudi yang didakwahi oleh para nabi dan sahabat baik secara lisan maupun tulisan, memahami bahasa mereka dan dengan demikian juga memahami ide-ide mereka. Sementara itu mereka tidak mengetahui dalil-dalil hakikat ajaran-ajaran yang diserukan oleh para nabi dan sahabat itu. Padahal, menurut Ibnu Maimun, dalil-dalil itu harus mereka ketahui dulu jika ingin memahami ide para nabi. Jadi netode kita tidak mengharuskan masyarakat awam untuk bersandar pada kesaksian para ahli tafsir. Masyarakat awam yang maksud ini adalah mereka yang mengetahui bahasa para nabi dan sahabat. Sementara Ibnu Maimun tidak mengakui adanya orang awam yang mengetahui sebab-sebab segala sesuatu dan selanjutnya bisa memahami ide para nabi dengan itu. Adapun mengenai orang-orang awam yang ada pada zaman kita sekarang ini sudah kita jelaskan dalam bagian terdahulu bahwa mereka bisa mengetahui unsur ­unsur dasar dari keselamatan dengan mudah melalui bahasa apapun, meski tidak mengetahui dalil-dalil yang melandasinya. Dengan syarat unsur-unsur itu populer dan mudah diungkapkan dengan bahasa sehari-hari. Kepada pengetahuan inilah -bukan kepada kesaksian para ahli tafsir- orang awam bersandar. Sedangkan dalam masalah­masalah lainnya, nasib orang awam tidak lebih buruk daripada nasib para ulama. Bagaimana pun juga kita harus kembali membahas pandangan Ibnu Maimun. Pertama­tama dia menyangka bahwa para nabi sepakat satu sama lain dalam semua masalah, di samping itu, mereka adalah para filosof dan teolog besar yang mempunyai kemampuan untuk menyimpulkan karena mengetahui hakikat yang sebenarnya. Kedua dia menyangka bahwa maksud kitab suci tidak bisa dijelaskan dengan kitab suci itu sendiri. Hakikat segala sesuatu yang diserukannya tidak bisa dibuktikan dengan kitab suci itu sendiri. Kitab suci tidak membuktikan apa pun, tidak pula mengenalkan masalah­masalah yang dia bahas melalui definisi-definisi dan sebab­sebab pertama. Dengan demikian menurut pendapat Ibnu Maimun, maksud yang sebenarnya dari kitab suci itu adalah sesuatu yang tidak bisa dibuktikan dan tidak bisa disimpulkan darinya. Dalam fasal ini tampaklah kesalahan penyimpulannya itu. Tadi kita telah kita jelaskan dengan pembuktian dan contoh bahwa makna kitab suci itu tidak bisa dijelaskan kecuali dengannya, tidak pula bisa disimpulkan kecuali darinya saja, meskipun kitab itu berbicara tentang hal-hal yang diketahui oleh cahaya natural. Terakhir, Ibnu Maimun menduga bahwa kita boleh menafsirkan dan menakwilkan kitab suci dengan cara yang dipaksakan, sesuai dengan penilaian penilaian masa lalu kita. Secara sengaja dia menolak arti harfiah dan menggantinya dengan arti lain meskipun arti harfiah itu adalah arti yang paling jelas dan paling mendekati akal. Pembolehan seperti ini tampak ekstrim dan sembrono didepan semua orang, di samping sangat bertentangan dengan hal-hal yang telah kita buktikan dalam fasal ini. Tetapi, biarlah kita menerima kebebasan luas ini, apakah yang dia lakukan? Dia tidak melakukan apa-apa. Kita tidak bisa mengetahui dengan akal masalah-masalah yang tidak bisa dibuktikan, padahal masalah-masalah itu adalah bagian terbesar dari kandungan kitab suci, sebagaimana juga tidak bisa dijelaskan dan ditafsirkan dengan metode Ibnu Maimun. Sebaliknya, dalam banyak kesempatan kita bisa menjelaskannya dengan metode kita dengan penuh rasa yakin sebagaimana telah kita jelaskan dengan dalil dan contoh. Mengenai hal-hal yang bisa diketahui menurut karakternya tanpa memeras tenaga, maksudnya bisa dicapai dengan mudah melalui konteksnya saja, sebagaimana telah kita jelaskan sebelum ini. Dengan demikian metode Ibnu Maimun tidak bermanfaat sama sekali. Di samping juga melenyapkan keyakinan terhadap makna yang sesungguhnya dari kitab suci. Padahal makna itu bisa dicapai oleh orang awam dengan menggunakan metode penafsiran lain. Jadi kita menolak metode Ibnu Maimun karena rusak, tidak bisa diterapkan dan tidak bermanfaat.

Mengenai tradisi yang berlaku di kalangan orang­orang Farisi sebagaimana telah kita sebutkan dalam bagian terdahulu tidak disepakati dalam disepakati di dalam kalangannya ini. Sedang otoritas Paus Roma masih memerlukan dasar hukum yang lebih kuat. Karena ini alasan ini juga menolaknya. Sebenarnya, jika ada orang yang bisa membuktikan kepada kita dengan kitab suci itu sendiri bahwa otoritas paus Roma berlandaskan dalil yang mempunyai kadar kekuatan yang sama dengan dalil otoritas imam-imam Yahudi masa lalu, keyakinan mengenai hal itu tidak akan tergoyahkan oleh kebrengsekan sebagian paus yang fasiq dan kafir. Di antara imam-imam Ibrani itu pun ada juga yang kafir dan fasiq. Kedudukan imam itu mereka capai dengan cara-cara jahat. Meski begitu berdasarkan pesan-pesan kitab suci mereka tetap memiliki otoritas mutlak dalam menafsirkan Alkitab (lihat Ulangan 17:11-12, 32:10 dan Maleakhi 2:8).18) Tetapi karena tidak ada dalil yang semacam ini, keraguan terhadap otoritas paus Roma pun tetap berlaku. Agar orang-orang tidak tertipu oleh sejenis robi kaum Ibrani ini, juga agar tidak berkeyakinan bahwa agama Katolik juga memerlukan seorang robi, kita harus menyebutkan bahwa syariat Musa adalah undang-undang umum sebuah negara. Dengan demikian memerlukan penguasa umum yang menjaganya. Jika setiap orang mempunyai kebebasan menafsirkan syariat sekehendak hati, negara itu tidak akan bertahan, sebaliknya akan pecah dan undang-undang umum itu akan menjadi undang-undang pribadi. Dalam kasus agama, urusannya sangat berbeda. Basis agama bukan amalan-amalan lahir, tetapi kesehatan jiwa. Dari situ dia tidak tunduk kepada undang-undang atau lembaga umum. Seorang manusia tidak bisa dipaksa dengan kekerasan atau undang-undang untuk mendapatkan kebahagiaan rohani. Yang diperlukan dalam masalah itu adalah nasihat-nasihat yang baik, pendidikan yang benar dan sebelum itu semua adalah hak penilaian yang bebas dan sehat. Dengan demikian, karena setiap orang memiliki hak mutlak dalam kebebasan berpikir, termasuk dalam masalah-masalah agama dan mustahil rasanya untuk mencabut hak ini dari seorang manusia, maka setiap orang mempunyai hak dan kekuasaan penuh untuk menilai agama. Setelah itu juga berhak menjelaskan dan menafsirkannya untuk dirinya sendiri. Sebetulnya, satu-satunya alasan yang mejadikan para hakim memiliki kekuasaan tertinggi dalam menafsirkan undang-undang yang berkenaan dengan aturan umum adalah karena ada keterkaitan dengan aturan umum itu sendiri. Karena alasan ini pula setiap orang mempunyai wewenang penuh dalam menafsirkan dan menilai agama karena termasuk dalam lingkup undang-undang pribadi. Atas dasar ini, jika imam umat Ibrani mendapatkan wewenang untuk menafsirkan undang-undang negara, kita sama sekali tidak boleh menyimpulkan bahwa paus Roma juga memiliki wewenang untuk menafsirkan agama. Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya. Dari institusi robi bangsa Ibrani ini dengan mudah bisa ditarik kesimpulan bahwa setiap individu mempunyai kebebasan penuh dalam urusan agama. Selain itu, kita juga bisa menarik kesimpulan dari keterangan terdahulu bahwa metode kita dalam menafsirkan kitab suci adalah lebih baik. Hal itu karena kekuasaan tertinggi dalam menafsirkan kitab suci berada pada setiap individu, maka tidak diperlukan landasan penafsiran lain kecuali cahaya natural yang dimiliki oleh semua orang. Tidak ada cahaya super natural (di atas alam) dan tidak pula ada kekuasaan luar. Jadi metode ini tidak boleh terlalu sulit hingga menjadi monopoli para filosof yang cerdas saja, tetapi juga harus bisa dipahami oleh tingkat kecerdasan dan kemampuan biasa yang dipunyai oleh semua orang. Pada bagian terdahulu sudah kita jelaskan bahwa metode kita seperti itu. Dan betul-betul terbukti bahwa kesulitan-kesulitan yang kita dapatkan itu timbul karena kesembronoan orang bukan karena metode itu sendiri.

 


 

Catatan :

17).  Moreh Nebuchim adalah versi Ibrani dari buku berbahasa Arab Dilalat al-Ha'irin. Munk menerjemahkan buku ini dengan judul Guide des egares. Sedangkan terjemahan Latin klasik berjudul Doctor perplexorum.

18). Ulangan 17:11, 12: Menurut petunjuk yang diberikan mereka kepadamu dan menurut keputusan yang dikatakan mereka kepadamu haruslah engkau berbuat; janganlah engkau menyimpang ke kanan atau ke kiri dari keputusan yang diberitahukan mereka kepadamu. Orang yang berlaku terlalu berani dengan tidak mendengarkan perkataan imam yang berdiri di sana sebagai pelayan TUHAN. Allahmu, ataupun perkataan hakim, maka orang itu harus mati. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel.

Ulangan 32:10: Mereka mengajarkan peraturan-peraturan-Mu kepada Yakub, hukum-Mu kepada Isrrael; mereka menaruh ukupan wangi-wangian di depan-Mu dan korban yang terbakar seluruhnya di atas mezbah-Mu.

Maleakhi 2:8: Tetapi kamu ini menyimpang dari jalan; kamu membuat banyak orang tergelincir dengan pengajaranmu; kamu merusakkan perjanjian dengan Lewi, firman TUHAN semesta alam.

 

 

  

 

 

 

 

KRITIK BIBEL