KRITIK BIBEL

 

 

BAB III:
Kodivikasi Vs Penulisan

(lanjutan)

 

< sebelumya

Sampai di sini jika masih ada orang yang menganggap bahwa kami hanya berbicara dengan cara yang sangat global dan tanpa dasar yang cukup, kami memohon kepadanya untuk sedikit memeras tenaga kemudian menunjukkan kepada kita susunan yang pasti dari riwayat-riwayat itu. Sebuah susunan yang bisa diikuti oleh para penutur dalam menulis sejarah sehingga tidak terjerumus ke dalam kesalahan yang cukup fatal. Setanjutnya, karena susunan itu pula, seseorang saat menafsirkan dan memadukan banyak riwayat, harus memperhatikan ungkapan, struktur, cara meghubungkan pembicaraan, lalu memberikan penjelasan yang bisa kita tiru dalam tulisan-tulisan kita.50)  Kami siap menunduk dengan khidmat untuk memberikan hormat kepada orang yang bisa mengemban tugas ini. Bahkan kami sanggup menyamakannya dengan Apolo sendiri. Tetapi ternyata tidak bisa menemukan orang yang melakukan usaha ini meskipun sudah kami cari dalam waktu yang cukup lama. Kami tambahkan juga bahwa kami menulis ini setelah perenungan yang panjang. Lalu, karena sejak kecil kami sudah kenyang dengan pendapat-pendapat yang umum mengenai kitab suci, mustahil rasanya bagi kami jika tidak sampai kepada kesimpulan yang sekarang kami capai. Terlepas dari itu semua, tidak ada alasan bagi kita untuk menganggurkan pembaca terlalu lama dan menantangnya untuk melakukan usaha yang mustahil dicapai. Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa kami harus menjelaskan apa yang akan terjadi dengan usaha itu agar bisa mengungkapkan pikiran kami dengan lebih jelas. Sekarang kami akan berpindah ke catatan-catatan lain mengenai nasib dari kitab-kitab ini.

Setelah menjelaskan sumber kitab-kitab ini, kita harus menyebutkan bahwa para penerus tidak menjaga kitab-kitab itu dengan sungguh-sungguh agar tidak dimasuki oleh suatu kesalahan. Para penyalin lama menemukan banyak versi bacaan yang meragukan. Belum lagi teks-teks terpotong yang tidak mereka sadari semuanya. Adapun permasalahan apakah kesalahan­kesalahan itu memiliki derajat kepentingan yang perlu dicermati oleh pembaca, sebenarnya, bisa dianggap kurang berarti. Paling tidak bagi orang yang membaca kitab suci dengan pikiran bebas. Bahkan dengan tegas kami nyatakan bahwa kami tidak mendapatkan suatu kesalahan atau perbedaan bacaan -khususnya dalam teks-teks yang berkaitan dengan ajaran etika- yang bisa membuatnya tak jelas atau menimbulkan keraguan.

Kendati begitu, sebagian besar ahli tafsir tidak mengakui adanya suatu distorsi dalam teks, hingga pada bagian-bagian lain. Mereka menyatakan bahwa Allah dengan pemeliharaan-Nya yang istimewa telah menghimdarkan seluruh kitab Taurat dari kemungkinan hilang. Perbedaan bacaan itu menurut mereka adalah sebuah tanda dari rahasia yang sangat dalam. Mereka bahkan mendiskusikan dua puluh detapan gambar bintang yang terdapat di dalam suatu paragrap, demikian juga dengan bentuk-bentuk huruf yang menurut mereka, mengandung rahasia besar. Kami tidak tahu apakah hal ini timbul dari gangguan akal, ketakwaan orang tua yang sudah pikun atau didorong oleh rasa sombong agar kita semua meyakini bahwa mereka sajalah penjaga rahasia Tuhan. Sebenarnya, kami tidak melihat adanya tanda-tanda sesuatu yang rahasia di dalam buku-buku mereka itu, sebaliknya yang kami lihat hanyalah pekerjaan anak-anak. Kami juga pernah membaca beberapa tulisan para penganut Kabbalah51)  dan bualan-bualan mereka. Rasa heran kami tidak pernah habis-habis.

Sampai di sini, kami yakin seyakin-yakinnya bahwa seseorang tidak akan meragukan terjadinya kesalahan dalam kitab suci -seperti telah kita katakan sebelum ini­jika dia memiliki sedikit saja daya penilaian yang sehat kemudian membaca ayat dari kitab I Samuel 13:1 yang telah kita sebutkan dalam bagian terdahulu.50)   Demikian juga dengan ayat 3 fasal 6 dari kitab II Samuel: Kemudian bersiaplah Daud, lalu berjalan dengan seluruh rakyat yang menyertainya dari bangsa Yehuda (Baalem-Yehuda) untuk mengangkut dari sana tabut Allah. 53)   Rasanya tidak mungkin tersembunyi dari benak seseorang bahwa tempat yang dituju oleh Daud untuk mengambil tabut itu, yaitu Kariatiarim54)  tidak disebutkan. Setelah itu, kita juga tidak bisa memungkiri bahwa ayat 37 fasal 13 dari kitab II Samuel telah diubah dan dipotong. Ayat berbunyi: Absalom telah melarikan diri dan telah pergi kepada Talmai bin Amihur, raja negeri Gesur. Dan Daud berdukacita berhari­hari lamanya karena anaknya itu. Absalom telah melarikan diri dan telah pergi ke Gesur; ia tinggal di sana tiga tahun lamanya. 55) Dalam bagian terdahulu kami telah menyebutkan ayat-ayat lain yang mirip dengan ini dan tidak perlu kami sebutkan lagi di sini.

Mengenai catatan-catatan pinggir yang kita temukan di sana-sini dalam Alkitab berbahasa Ibrani, seseorang tidak mungkin ragu untuk menganggapnya sebagai bacaan­bacaan yang diragukan, jika dia tahu bahwa sebagian besarnya disebabkan oleh kemiripan bentuk huruf-huruf Ibrani, terutama antara huruf khahf dan beht, antara huruf yohd dan vav, antara huruf dalet dan resh.....demikian seterusnya. Misalnya, kita mendapatkan ungakapan "Waktu kau mendengar" dan di pinggir setelah diganti beberapa huruf kita membaca "Ketika kau mendengar". Selain itu, banyak dari bacaan-bacaan yang meragukan itu disebabkan oleh penggunaan huruf-huruf yang kita namai dengan huruf pemberhentian. Huruf-huruf itu seringkali tidak diucapkan. Jika berdampingan, seseorang akan bingung. Misalnya dalam kitab Imamat (25:31) disebutkan: rumah-rumah di desa-desa yang tidak dikelilinqi paqar tembok sementara itu di pinggir kita mendapatkan ...berpagar.... demikian seterusnya.

Selanjutnya, meskipun catatan-catatan ini sudah jelas dengan sendirinya, kami tetap melihat perlunya membalas argumen-argumen orang-orang Farisi yang cenderung untuk membuktikan bahwa catatan-catatan pinggir ini bisa jadi dibubuhkan oleh para penulis kitab suci sendiri atau atas petunjuk mereka untuk mengungkapkan rahasia.

Yang pertama adalah alasan yang sebenarnya tidak begitu kami perhatikan. Diambil dari kebiasaan yang berlaku dalam membaca kitab Taurat. Mereka mengatakan, "Jika komentar-komentar itu diletakkan di pinggir karena perbedaan bacaan, yang mana generasi penerus tidak bisa memilih mana yang betul, mengapa maknanya terus dipertahankan? Juga mengapa makna yang ingin dipertahankan itu diletakkan di pinggir? Bukankah akan lebih baik jika teks itu ditulis dengan bacaan yang seharusnya daripada harus meletakkan makna dan bacaan yang lebih teruji di pinggir.

Alasan kedua yang tampaknya lebih serius diambil dari karakter benda itu sendiri. Mereka mengatakan, "Ada kesalahan dalam penulisan manuskrip-manuskrip tetapi terjadi secara kebetulan dan tidak disengaja. Karena tidak disengaja, maka seharusnya berbeda satu sama lain. Tapi kenyataannya kita mendapatkan kata Ibrani yang berarti perawan di dalam Pentateukh selalu ditulis tanpa huruf heh kecuali dalam satu teks. Suatu hal yang menyalahi kaedah. Sementara itu, di pinggir selalu dituliskan kata itu dengan benar menurut kaedah umum. Mungkinkah kesalahan ini berasal dari penulis? Ketentuan apa yang memaksa pena penulis untuk tergesa-gesa dengan cara yang sama setiap kali bertemu dengan kata ini? Sangat mudah sebenarnya untuk menambahkan satu huruf yang kurang itu kemudian meralat kesalahan ini demi menghormati tata bahasa. Selanjutnya, karena bacaan-bacaan ini tidak terjadi secara kebetulan dan sangat bisa jadi juga belum pernah dilakukan ralat terhadap kesalahan-kesalahan yang nampak ini, harus diakui bahwa kata-kata itu memang sengaja ditulis oleh para penulis awal seperti yang terlihat di dalam manuskrip­manuskrip untuk mengungkapkan maksud tertentu.

Terlepas dari itu semua, kita akan menjawabnya dengan mudah. Alasan pertama berdasar pada kebiasaan yang berlaku di kalangan orang Farisi. Namun demikian, kami tidak akan berhenti lama pada bagian sini. Kami tidak tahu sejauh mana takhayul itu merasuk ke dalam diri mereka. Kebiasaan ini bisa jadi timbul karena keyakinan bahwa dua redaksi itu semuanya betul atau diterima. Oleh karena itu, mereka ingin menjaga kedua-duanya. Yang pertama terbaca dan yang kedua tertulis. Sebetulnya, mereka takut memberikan kata akhir dalam masalah yang krusial seperti ini. Di waktu yang sama juga takut menganggap benar teks yang salah. Dari sini mereka tidak mau mengunggulkan salah satu teks dari yang lain. Padahal inilah yang seharusnya mereka lakukan jika saja mereka mensyaratkan tulisan dan bacaan harus mengikuti cara yang sama. Apalagi naskah-naskah yang dipakai dalam kebaktian-kebaktian tidak memuat catatan pinggir seperti itu.

Atau bisa jadi juga, kebiasaan itu terjadi karena mereka menginginkan beberapa kata yang tertulis - meskipun benar menurut kaedah penulisan- untuk dibaca dengan cara lain, yaitu seperti bentuk yang tertulis di pinggir. Demikianlah seterusnya, muncul kebiasaan membaca Taurat menurut catatan-catatan pinggir.

Adapun motif apa yang mendorong penulis untuk meletakkan beberapa kata yang secara terus dia inginkan untuk dibaca, akan kami jelaskan seperti berikut ini. Tidak semua catatan pinggir itu merupakan bacaan yang meragukan. Sebaliknya ada yang digunakan untuk meralat struktur kalimat yang tidak lagi digunakan, yakni kata-kata yang sudah ketinggalan zaman dan menurut etika sudah tidak pantas lagi untuk dipakai. Para penulis kuno -yang tidak pernah kenal dosa- biasa mengumkapkan segala sesuatu dengan nama aslinya tanpa memakai kata kiasan seperti yang terjadi di istana. Setelah kemewahan dan perbuatan buruk menyebar, orang-orang mulai melihat ungkapan yang menurut orang-orang terdahulu tidak kotor menjadi kotor. Namun demikian, hal itu belum cukup menjadi alasan untuk mengubah kitab suci. Kendati begitu, dalam pembacaan umum, muncul kebiasaan -demi menjaga perasaan orang awam- untuk menyatakan maksud nikah dan mengeluarkan mani dengan kata-kata yang lebih sopan, yaitu kata-kata yang tersebut di pinggir. Terakhir, apa pun sebab yang menimbulkan kebiasaan membaca dan menafsirkan kitab suci menurut catatan-catatan pinggirnya, hal ini tidak berarti hanya tafsir yang seperti itu sajalah yang benar. Belum lagi para imam sendiri dalam Talmud seringkali menghindari naskah Masorti. 56) Sebaliknya, mereka memiliki naskah-naskah lain yang menurut mereka lebih baik, seperti akan kami jelaskan sebentar lagi. Ada beberapa perubahan di pinggir yang tidak sesuai dengan kaedah penggunaan bahasa yang berlaku. Misalnya sebuah ayat dalam kitab II Samuel (14:22) menyebutkan: "karena raja telah mengabulkan permohonan hambanya".57)  Ungkapan ini betul menurut bahasa dan sejalan dengan alur ayat 15 dari fasal yang sama.58) Sementara itu, di pinggir tertulis: "hambamu". Kata ini tidak sesuai dengan verba (mengabulkan) dalam ayat yang memakai kata ganti orang ketiga. Hal yang sama juga terjadi dalam ayat terakhir dari fasal 16 dari kitab yang sama. Di situ disebutkan: "meminta petunjuk Allah" sementara itu di pinggir ada tambahan kata "seseorang" sebagai pelaku dari verba meminta. Tambahan ini tidak diperlukan. Dalam bahasa Ibrani verba yang tidak mengandung unsur pribadi biasa digunakan untuk orang ketiga dalam kalimat transitif. Para ahli bahasa megetahui hal ini dengan baik. Demikianlah, ada banyak catatan yang tidak bisa diunggulkan dari lafal naskah utama.

Adapun alasan kedua orang-orang Farisi dengan demikian akan mudah dijawab setelah penjelasan yang baru saja kita paparkan ini. Tadi sudah kita katakan bahwa para penulis menemukan adanya kata-kata yang tidak lagi dipakai di samping adanya bacaan-bacaan yang meragukan. Tidak diragukan lagi, bahwa banyak kosa kata dalam bahasa Ibrani, sebagaimana halnya dalam bahasa lain, yang tidak lagi dipakai dan usang. Kami mendapatkan kata-kata seperti ini di dalam Taurat ditemukan seluruhnya oleh para penulis generasi akhir sehingga bacaan umumnya menjadi sesuai dengan pemakaian yang berlaku pada zaman mereka. Misalnya, ibu kota orang Ibrani dulu dinamakan Ursyalim bukan Ursyalaim. Demikian juga dengan kata ganti dia (maskulin) dan dia (feminin). Ada kebiasaan mengganti huruf yohd dengan vav (penggantian yang sangat umum dalam bahasa Ibrani) untuk menyatakan feminin. Sementara itu pada zaman yang lebih kuno lagi, orang-orang terbiasa membedakan feminin dan maskulin dalam kata ganti ini hanya dengan huruf vokal. Terakhir, bentuk-bentuk verba tak teratur pada gilirannya juga berubah dari zaman ke zaman. Di samping itu, orang-orang dulu, demi keindahan yang menjadi ciri khas zaman mereka, banyak menggunakan huruf-huruf tambahan berupa: heh, ahlef, mem, non, tev, yohd, dan vav. Sebetulnya kami masih bisa memberikan contoh yang lain lagi, tapi kami tidak ingin mengambil waktu pembaca dengan menyajikan masalah-masalah yang berat-berat seperti ini. Jika ada yang bertanya kepadaku, "Dari mana kamu mengetahui semua itu?" akan kami jawab dengan mengatakan bahwa kami sering menemukan hal itu pada para penulis paling kuno, yaitu dalam Taurat. Sementara itu, orang-orang baru tidak mau mengikuti kebiasaan ini. Inilah satu-satunya sebab munculnya kata-kata yang tidak digunakan lagi dalam bahasa-bahasa lain termasuk bahasa yang sudah mati.

Sampai di sini, barangkali masih ada yang bersikeras mengatakan, "Jika kami mengakui bahwa sebagian besar catatan pinggir itu adalah bacaan-bacaan yang diragukan, mengapa tidak ada lebih dari bacaan untuk teks yang sama? Mengapa pula tidak tiga bacaan atau lebih? Juga barangkali ada yang menyanggahku dengan mengatakan bahwa suatu teks terkadang jelas-jelas menyalahi tata bahasa, sementara yang tertulis di pinggir benar. Dengan demikian kecil kemungkinan jika para penulis bimbang dan pasrah terhadap dua bacaan itu. Sanggahan ini amat mudah dijawab.

Untuk menjawab sanggahan yang  pertama kami katakan, "Sebagian bacaan telah dihapus dan yang lain dipertahankan tetapi tidak diberitahukan oleh manuskrip­manuskrip yang tersedia pada kita. Dalam Talmud misalnya ada redaksi-redaksi yang diabaikan oleh Masorti. Dalam banyak paragrap perbedaan antara dua teks sangat jelas hingga membuat editor Taurat Bomberg59)  yang tenggelam dalam takhyul dalam mukadimahnya terpaksa mengaku tidak tahu bagaimana memadukannya. Untuk dia mengatakan, "Satu-satunya jawaban yang bisa diberikan di sini adalah jawaban yang kita sampaikan sebelum ini, yaitu bahwasanya Talmud memang biasa berselisih dengan Masorti:" Dengan demikin tidak ada alasan untuk menolak adanya lebih dari satu redaksi untuk satu paragrap. Kendati  begitu, kami mengakui dengan mantap -ini adalah pendapat pribadi kami- bahwa tidak pernah ada lebih dari dua redaksi untuk satu teks. Hal itu karena dua alasan:

Sumber perubahan teks itu, sebagaimana kita jelaskan tadi, tidak memungkinkan adanya lebih dari dua redaksi karena biasanya timbul dari kemiripan bentuk beberapa huruf. Dengan demikian, keraguan itu selalu ditujukan kepada masalah "huruf yang mana dari dua huruf itu yang harus ditulis": beht atau khahf, yohd atau vav, dalet atau resh... demikian seterusnya. Namun seringkali juga masing-masing dari dua huruf itu, menyatakan maksud yang benar. Selain itu, panjang dan pendeknya ayat atau penggalan bergantung pada huruf-huruf yang kita sebut dengan huruf pemberhentian. Terakhir, tidak semua catatan itu merupakan bacaan yang meragukan, tetapi sebagian besarnya malah untuk penghalus atau penjelasan kata-kata kuno yang sudah tidak dipakai lagi.

Alasan kedua dari pendapat kami ini adalah bahwasanya para penulis hanya memiliki sedikit naskah asli saja. Barangkali tidak lebih dari dua atau tiga. Buku Para Penulis60) (fasal enam) hanya menyebutkan dua penjelasan yang diduga berasal dari masa Ezra. Menurut keyakinan yang beredar, Ezra inilah yang menulis catatan-catatan itu. Apapun yang terjadi, jika mereka memiliki tiga sumber, dengan mudah kita bisa membayangkan adanya kesepakatan dua di antaranya dalam satu paragrap. Akan betul-betul aneh, jika satu paragrap yang sama mempunyai tiga redaksi berbeda dalam tiga sumber. Selanjutnya, nasib apakah yang menyebabkan minimnya jumlah refrensi setelah masa Ezra? Jika membaca fasal pertama dari kitab I Makabe atau fasal lima, buku dua belas dari Sejarah Yahudi Kuno karya Yusuf, kami rasa, seseorang tidak akan heran lagi. Bahkan merupakan suatu keajaiban, naskah yang sedikit itu bisa disimpan setelah terjadinya penindasan yang sangat panjang ini. Menurut kami, siapa saja yang mau membaca sejarah ini dengan sedikit perhatian tidak akan meragukan hal ini. Jadi inilah sebab-sebab yang membuat kita tidak menemukan lebih dari dua bacaan di mana pun letaknya. Selanjutnya, dari jumlah yang sedikit itu -dua bacaan saja- kita tidak bisa mengatakan bahwa paragrap-paragrap dalam Taurat yang dijelaskan dengan catatan-catatan pinggir itu sengaja ditulis secara salah untuk menunjukkan rahasia tertentu.

Demikianlah, jawaban terhadap sanggahan pertama itu telah selesai. Selanjutnya, akan kita jawab sanggahan yang mengatakan bahwa teks itu terkadang memang benar­benar salah hingga membuat kita tidak ragu-ragu untuk menganggapnya telah menyalahi kaedah pemakaian dari masa ke masa. Dengan demikian, masalahnya sangat simpel, yaitu koreksi teks, bukan membubuhkan catatan pinggir. Alasan ini tidak terlalu kami hiraukan. Kami tidak ingin tahu jenis semangat keagamaan apa yang menghalangi para penulis untuk membetulkan teks. Barangkali hal itu mereka lakukan karena dorongan kejujuran. Untuk itu mereka mentransmisikan Taurat persis seperti yang tertulis dalam sedikit sumber kepada generasi penerus. Mereka ingin menyampaikan pesan bahwa pertentangan yang terjadi antara naskah-naskah sumber itu adalah aneka ragam redaksi dan bukan bacaan-bacaan yang meragukan. Sebenarnya, kami menganggapnya bacaan-bacaan meragukan hanya karena seringkali tidak mengetahui bacaan mana yang lebih baik.

Selain bacaan-bacaan yang meragukan itu, para penulis -dengan meninggalkan spasi kosong di tengah­tengah paragrap- menemukan banyak paragrap yang kurang. Menurut penghitungan kelompok Masorti ada dua puluh delapan paragrap yang semacam ini. Kami tidak tahu apakah menurut mereka jumlah ini sendiri juga menunjukkan rahasia tertentu. Yang pasti, karena dorongan takwa, orang Farisi memperhatikan ukuran spasi yang kosong itu. Ada satu contoh -karena kami hanya ingin memberikan satu contoh- dalam kitab Kejadian (4:8). Di situ disebutkan: "Kain berkata kepada Habel saudaranya...ketika berada di padang, Kain...' 61) Tentu saja, kita tidak tahu apa yang dikatakan Kain kepada saudaranya, Habel. Di sini ada bagian yang hilang. Kasus semacam ini jumlahnya banyak. Para penyalin kitab suci, menyebutkan ada dua puluh delapan bagian semacam itu yang hilang, selain yang telah kita sebutkan di atas. Kendati begitu, kekurangan ini tidak akan tampak jelas kalau saja spasi kosong itu ditinggalkan. 62)  Tetapi, pembahasan tentang masalah ini kita cukupi sekian saja.

 


 

Catatan :

50). Jika tidak, kita akan lebih banyak membetulkan kitab suci daripada menjelaskannya. (Sp)

51). Lihat catatan kaki pengantar

52). Saul berumur tahun saat memerintah, dan memerintah orang Israel selama dua tahun

53). Dalam Alkitab terjemahan resmi bahasa Indonesia, ayat ini disebutkan demikian: Kemudian bersiaplah Daud, lalu berjalan dari

Baale-Yehuda dengan seluruh rakyat yang menyertainya, untuk mcngangkut dari sana tabut Allah.

54). Tempat ini dinamakan Kariatiarim atau Baal-Yehuda. Inilah yang menyebabkan Kimhi dan lain-lain menduga bahwa kata Baalem­ Yehuda yang kami terjemahkan bangsa Israel itu adalah nama kota. Mereka salah, karena kata baal yang tersebut di sini berbentuk plural. Jika ayat dalam kitab Samuel ini kita bandingkan dengan ayat yang ada di kitab I Tawarikh kita akan mengetahui bahwa Daud tidak pergi dari Baal tetapi pergi ke sana. Selanjutnya, jika si penulis kitab Samuel ingin menunjuk kepada tempat Daud membawa tabut, pasti akan mengatakan dalam bahasa Ibrani, "Daud berdiri dan pergi... dari Baal­-Yehuda. Dari sana dia membawa tabut Allah." (Sp)

Kitnhi adalah Moses ben Joseph Kimhi. Ahli tafsir dan ahli bahasa. Kakak tertua sekaligus guru dari David Kimhi. Hidup bersama saudara dan orang tuanya di Narbonne. Meninggal sekitar tahun 1190 M. Karya terpentingnya yang masih tertinggal adalah tafsir kitab Amsal, Ezra, Nehemia, Ayub dan tata gramatika bahasa Ibrani.

55). Yang memaksakan diri untuk menjelaskan teks ini, telah membenarkan teks itu demikian: Absalom telah melarikan diri dan pergi kepada Talmai bin Amihur, raja negeri Gesur dan tinggal di sana tiga tahun lamanya. Daud berdukacita setiap waktu karena anaknya itu. Inilah yang dinamakan tafsir. Jika penyampaian kitab suci membolehkan kita untuk mengubah ungkapan dengan menambah atau mengurangi, kami katakan dengan terus terang bahwa kita juga diizinkan untuk menyelewengkan kitab suci dengan memberinya bentuk-bentuk yang kita sukai, seolah sepotong lilin. (Sp)

56). lihat catatan kaki pengantar

 

57). Dalam Alkitab terjemahan resmi bahasa Indonesia ayat ini disebutkan demikian: Lalu sujudlah Yoab dengan mukanya ke tanah dan menyembah sambil memohon berkat bagi raja. Dan Yoab berkata: "Pada hari ini hambamu mengetahui hahwa tuanku raja suka kepada hamba, karena tuanku telah mengabulkan permohonan hambamu ini. "

58).  II Samuel 14:15: Maka sekarang, aku datang mengatakan perkataan ini kepada tuanku raja karena orang banyak itu telah menakut-nakuti aku. Sebab itu pikir hambamu ini: baiklah aku berbicara dahulu dengan raja, mungkin raja mengabulkan permohonan hambanya ini.

59). Taurat Bomberg adalah Taurat yang dicetak oleh Daniel Bomberg. Meninggal di Venecia pada tahun 1549 M. Bomberg adalah penerbit buku-buku Yahudi yang paling terkenal. Taurat yang dia terbitkan itu terkenal dengan Biblia Rabbinica.

60). Surat Para Penulis sepertinya adalah salah satu surat yang membahas para penulis Yahudi. Para penulis inilah yang secara tekun mengkaji Taurat atau karya-karya mereka.

61). Dalam Alkitab terjemahan resmi bahasa Indonesia ayat ini disebutkan demikian: Kata Kain kepada Habel, adiknya: ("Marilah kita pergi ke padang.") Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia.

62). Maksudnya tidak disalin seperti apa adanya

 

 

KRITIK BIBEL